Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 13 Ludwig V. B


__ADS_3

Aku, Azuro, dan Aras duduk melingkar. Kami masih di tepi pantai. Azuro dan Aras membebat kepalaku agar pendarahan di kepalaku berhenti. Azuro lalu mengeringkan pakaian kami dengan membuang air yang meresap di pakaian. Bajuku terasa lembab tapi itu lebih baik daripada memakai baju yang benar-benar basah.


“Dimana teman-teman yang lain? Apa kalian melihat mereka?” tanyaku.


“Kita terpisah. Saat membawa kalian menepi ke daratan, aku hanya menemukanmu dan Aras di laut. Aku rasa mereka tidak jatuh,” jawab Azuro.


Syukurlah mereka tidak jatuh. Semoga mereka baik-baik saja. Tapi buruknya kami sekarang terpisah.


“Kita harus segera bergerak. Apa kau mengenal daerah ini, Azuro?” tanya Aras.


Azuro tidak langsung menjawab pertanyaan Aras. Aku memperkirakan dia sedang mencoba mengenali daerah sekitar.


“Kalau tidak salah ini adalah salah satu daerah Klan Biru, Jadnew.”


Ada jeda ketika Azuro menjawab pertanyaan Aras. Tiba-tiba dia berseru. “Kita beruntung sekali di sini. Ada seseorang yang bisa membantu kita. Semoga saja dia ada di sini.”


 


Kami bertiga berdiri. Aras menggandeng tanganku agar aku tidak kebingungan. Kami pun mulai berjalan.


Jalan yang kami lewati sepertinya padang rumput yang jarang ditumbuhi pohon. Aku bisa merasakan rerumputan yang cukup tinggi menggesek kakiku.


“Azuro, siapa yang kau maksud akan membantu kita?” Aras bertanya dalam perjalanan.


“Dia adalah sepupuku. Namanya Ludwig. Dia juga seorang galur murni dan keistimewaannya adalah penyembuh.”


Aku merasa senang mendengar ucapan Azuro. Itu berarti aku masih ada harapan untuk sembuh.


Kami berjalan cukup lama. Aku tidak bisa bergerak cepat seperti biasanya. Aku masih menyesuaikan diri dengan keadaanku sekarang. Azuro dan Aras juga memperlambat laju mereka. Mereka menyamakan kecepatan denganku.


“Pakai tudung kalian. Sebentar lagi kita akan melewati pemukiman penduduk.” Azuro memberitahu.


Aku dan Aras segera memakai tudung kami. Kami lalu kembali berjalan. Perlahan, aku mulai mendengar hiruk piruk desa. Suara anak-anak yang sedang bermain, hewan-hewan ternak, perempuan yang sedang bersenandung, laki-laki yang tertawa keras. Aku juga mencium aroma sabun. Mungkin perempuan-perempuan yang bernyanyi itu sedang mencuci.


Kami mendekati suara yang lebih ramai. Aku rasa itu pasar. Aku mendengar banyak orang sedang tawar menawar. Beberapa kali, kami juga ditawari barang dagangan mereka.


Aku, Aras, dan Azuro sudah keluar dari daerah pemukiman. Kami melewati padang rumput lagi. Tidak terlalu lama, kami berhenti lagi.


“Kita sudah sampai?” tanyaku.


“Ya.”


Aku mendengar suara deritan tangga.


Naik, ya.


Aku mengangkat kakiku untuk menaiki tangga. Perkiraanku tepat. Aku menaiki tangga satu persatu. Ada pegangan di tepi tangga. Aku memeganginya walaupun Aras masih menggandengku. Ada tiang di ujung tangga. Aku mulai bisa membayangkan bentuk rumah ini.


“Aku harap dia ada di sini. Dia adalah orang yang sibuk. Waktunya biasa dihabiskan di ibukota,” kata Azuro.


Kriett…


“Ketuk pintu dulu, Azuro.” Aras memperingatkan.


“Tidak perlu.” Azuro tidak menghiraukan. “Ayo masuk.”


Aku dan Aras mengikuti Azuro masuk ke dalam rumah. Begitu aku masuk, aku mencium udara kotor di rumah ini.


“Walaupun aku tidak melihatnya, aku yakin rumah ini sangat berdebu.” Aku menutup hidungku yang terasa gatal.


Azuro juga sudah bersin-bersin. Aku jadi tidak yakin ada orang yang tinggal di rumah ini.


“Ah, itu dia,” seru Azuro.


Aku mendengar suara tepukan. Setelah itu terdengar suara laki-laki yang asing.


“Azuro?”


“Ya, ini aku, Ludwig.”


“Aku tidak menyangka kau akan mengunjungiku di sini. Kau membawa teman baru?” Ludwig sudah menyadari keberadaanku dan Aras. “Aku senang akhirnya kau punya teman.”


Azuro menghela napas pelan. “Mereka adalah Aras dan Violet.”


Ada tangan yang meraih tangan kananku lalu diajaknya bersalaman.


“Aku Ludwig.”


Rupanya itu tangan Ludwig. “Violet.”


Ludwig gantian bersalaman dengan Aras.


“Kenapa rumahmu sangat kotor. Apa pelayanmu tidak membersihkannya?” gerutu Azuro.


“Tidak ada pelayan di sini. Aku juga tidak membawanya,” jawab Ludwig.


“Kau selalu seperti itu.”


“Bagaimana kalau kita mengobrol di taman? Di sana lumayan bersih.”


Kami mengiyakan. Ludwig pun menuntun kami ke taman belakang. Kami berempat duduk melingkari sebuah meja.


“Ah, tunggu sebentar.” Ludwig pergi meninggalkan kami. Tak lama kemudian aku mencium bau kue yang manis. “Aku baru saja membelinya di kafe kesukaanku di Jadnew. Silahkan.”


Aku meraba meja untuk menemukan garpu dan pisau. Belum sempat aku menemukan garpu dan pisau, tiba-tiba ada orang yang menyuapkan potongan kue ke mulutku.


“Bagaimana rasanya? Apa kau menyukainya?” tanya Ludwig. Dia sepertinya orang yang menyuapiku.


“Ya, ini enak.”


Kue ini memang benar-benar enak. Begitu masuk ke dalam mulut, coklatnya langsung cair dan menyelimuti kue.


“Maaf, ya. Aku tidak memiliki banyak alat makan di rumah ini karena aku biasa sendiri di sini. Kau tidak masalah, kan?”


“Tidak apa-apa. Kita bisa bergantian,” kataku.


“Kau pasti tidak suka aku menyuapimu tadi, ya?” Suara Ludwig terdengar sedih.


“Bukan begitu. Aku hanya tidak terbiasa.” Wajahku terasa panas. Semoga saja wajahku tidak menjadi merah.


Azuro berdehem.


“Sebenarnya kami ingin minta tolong padamu,” kata Azuro kepada Ludwig.


“Hmmm?”


“Violet baru saja kehilangan penglihatannya. Aku ingin kau menyembuhkannya dengan keistimewaanmu.” Azuro menerangkan.


“Begitu, ya.” Ludwig menyuapiku lagi. Aku yakin dia juga memperhatikan mataku.


Ludwig mengusap mataku. Dia lalu membuka bebatan luka di kepalaku. Dia ganti mengusap luka kepalaku.

__ADS_1


“Aku akan berusaha. Aku harap ini tidak memerlukan waktu yang lama. Kalian bisa tinggal di sini selama aku menyembuhkan Violet.”


*****


Ludwig mengantarku ke kamar.


“Kau bisa tidur di sini.”


Aku meraba sekitar untuk mengenali kamar baruku.


“Tunggu sebentar.” Ludwig berlari keluar kamar. Tak lama kemudian dia kembali.


“Pakailah ini. Ini akan membantumu.” Ludwig memberiku sebuah tongkat.


“Terima kasih.”


“Kalau kau butuh apa-apa, kau bisa memberitahuku.”


Aku mengangguk.


“Kalau begitu, aku pergi dulu.” Ludwig keluar dari kamarku.


Aku duduk di kasur. Aku meraba pinggangku. Rapierku tidak ada. Begitu pula senjataku yang lainnya. Barang-barangku sepertinya hanyut di laut.


Aku menjatuhkan diri ke kasur.


“Maaf, ya, Vender.”


Aku menghilangkan rapierku. Padahal itu adalah pemberian Vender, sekaligus satu-satunya kenangan dari Vender yang selamat dari kebakaran.


Aku bangkit dari kasur lalu melongok ke keluar jendela. Udara masih terasa hangat. Sekarang masih sore. Terlalu dini untuk tidur. Aku sudah mengenali rumah ini. Jadi, aku tidak kesulitan untuk keluar rumah.


Aku berdiri di rerumputan. Aku mengangkat tongkatku lalu mengayunkannya seolah tongkatku ini adalah pedang. Aku menyabit, menusuk, lalu bergerak memutar. Aku tidak ingin keterbatasanku menumpulkan kemampuan bertarungku.


Aku terus berlatih. Tapi jika tanpa lawan seperti ini, aku tidak bisa mengasah kemampuan responku. Tiba-tiba aku mendengar suara gonggongan anjing di belakangku. Suaranya tidak terdengar ramah. Aku langsung memutar dan mengambil posisi bertahan. Bisa saja anjing ini menyerangku.


Dan benar saja, anijng itu menubrukku. Aku menahan anjing itu. Dia lalu berdiri dan mencakar bahuku. Aku tidak sempat mengelak. Anjing itu berhasil merobek bajuku. Darah sedikit merembes keluar.


Aku mendorong anjing itu hingga dia terlepas dariku. Aku hanya sempat terbebas sebentar. Beberapa detik kemudian, dia menyerangku dari samping.


Aku hanya bisa mengandalkan suara dan hembusan angin untuk mengetahui posisi lawanku. Itu juga tidak terlalu akurat. Aku bisa mencegah beberapa serangan anjing itu tapi aku sama sekali tidak bisa menyerangnya. Anjing itu berpindah dengan sangat cepat.


Aku terus diserang hingga tersungkur di tanah. Tongkatku sudah jatuh entah dimana. Aku meremas rerumputan di tanganku lalu mencabutnya. Aku berteriak frustasi. Aku kesal pada diriku sendiri. Aku merasa begitu lemah.


Aku menunggu anjing itu menyerangku lagi tapi tidak ada pergerakan apapun. Sepertinya anjing itu sudah pergi atau dia bosan melawanku yang tidak bisa apa-apa. Aku meraba sekitar, mencari tongkatku. Seingatku, tongkatku terlempar ketika aku didorong ke samping kanan. Berarti seharusnya tongkatku ada di sebelah kiriku.


“Ini dia.”


Aku berhasil mendapatkan tongkatku. Aku lalu berjalan kembali rumah. Udara terasa lebih dingin, hari sudah malam.


Tunggu.


Aku berhenti berjalan. Aku tidak tahu dimana arah rumah Ludwig. Entah di depanku, belakangku, samping kanan, atau samping kiri.


Aku menarik napas. Aku berkonsentrasi merasakan angin malam yang menerpaku. Angin di depanku tidak sekuat dari arah lain. Angin itu terasa agak lemah pasti karena dihalangi rumah Ludwig. Aku rasa aku sudah mengambil arah yang benar.


Tiba-tiba terdengar suara hentakan kaki orang yang sedang berlari. Orang itu berlari dengan lambat ke arahku.


“Violet!” Itu suara Ludwig.


Ludwig memelukku. “Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini. Aku sudah menyiapakan kue dan teh untuk makan malam. Ya ampun, kau terluka. Ayo masuk rumah. Aku mengobatimu.”


Ludwig melepaskan pelukannya. Aku menyentuh kepalanya. Rambut Ludwig panjang sebahu dan bergelombang.


“Jangan-jangan kau seumuran dengan Azuro?”


“Tidak sopan. Aku ini lebih tua tujuh tahun darinya. Umurku dua puluh tahun.”


Aku terperangah mendengarnya. Suaranya memang lebih berat dari Azuro tapi sikapnya masih sangat kekanak-kanakkan untuk umur dua puluh tahun.


“Apa orang-orang tahu kau berumur dua puluh tahun?”


Ludwig mendengus kesal. “Selain pendek, wajahku juga terlihat seperti anak kecil. Orang-orang mengira aku seumuran dengan Azuro. Bahkan paling parah, mereka mengira aku perempuan”


Aku tertawa. Ludwig lucu sekali. Andai aku bisa melihat wajahnya.


Andai


Aku jadi merasa sedih.


“Ayo, masuk.” Ludwig menggandengku masuk ke dalam rumah.


*****


Aku duduk di kursi. Di sekelilingku sudah ada Aras dan Azuro. Ludwig sedang pergi ke dapur untuk mengambil makan malam.


“Ini dia. Selamat makan.” Ludwig menaruh kue dan teh di atas meja. Dia lalu duduk di kursinya.


“Kenapa kue lagi? Apa kau tidak ada makanan yang lain?” Azuro protes.


“Hmm.” Ludwig tidak langsung menanggapi Azuro. Dia memakan sepotong kue dulu.


“Aku suka kue. Jadi, aku hanya punya kue. Aku tidak mengira akan ada tamu di sini.”


“Apa kau tidak punya uang untuk membelinya?” tanya Azuro.


“Aku tidak bawa uang sepeser pun ke sini.” Ludwig menjawab dengan polosnya.


“Hah?!” Saking kagetnya, Azuro sampai tersedak makanannya.


“Violet, Aras, apa kalian masih memiliki uang?” Azuro beralih kepadaku dan Aras.


“Semua barangku jatuh ke laut,” jawab Aras.


“Aku juga. Bahkan senjataku hilang.” Aku ganti menjawab.


Azuro mendesah kesal. “Barang-barangku juga jatuh ke laut.”


“Jarak Jadnew ke rumahku di Dumbrige lumayan jauh. Kita harus menggunakan kereta kuda ke Venicea. Lalu dari sana kita menaiki kereta ke Dumbrige. Itu menghabiskan uang yang tidak sedikit.”


“Apa kau tidak menyimpan uangmu di sini? Keluargaku biasanya menyimpan harta kami di berbagai tempat.” Klan Ungu dan Klan Biru agak mirip. Ada perbedaan status diantara masyarakat Klan Ungu maupun Klan Biru. Hanya saja kasta dalam Klan Biru memang terlihat jelas. Jadi, aku pikir kebiasaan Klan Biru dan Klan Ungu hampir sama.


“Jadnew bukan daerah kekuasaan Geerginlik. Ini juga bukan daerah yang strategis. Kami tidak membuat apapun di sini,” jawab Azuro.


“Kau bisa mengirim pesan ke Dumbrige untuk meminta bantuan.” Aras memberi usul.


“Alat komunikasi di Klan Biru sudah dimatikan sejak lama. Kami sekarang biasa mengirim surat secara langsung, melalui pos atau burung. Itu akan memerlukan waktu yang lama.”


“Ah, aku ada burung di sini. Kau bisa mengirim pesan ke Dumbrige,” seru Ludwig.


“Bagus. Aku akan menulis pesan nanti,” kata Azuro.

__ADS_1


“Tapi aku pikir kita tidak bisa hanya mengandalkan pesan itu. Ada kemungkinan pesan itu tidak sampai.” Aras berpendapat.


“Kau benar.” Ludwig menyutujuinya.


“Kita harus mencari uang. Kita harus bekerja,” kata Aras.


 


“Ada kafe di sini. Aku mungkin bisa bekerja di sana,” kata Ludwig. “Aku pasti akan mendapatkan bonus kue setiap hari.” Ludwig mulai membayangkan kue-kue manis di kafe.


“Aku tidak tahu ada apa saja di sini. Tapi aku tadi melihat ada pembangunan gedung. Mungkin aku bisa bekerja bersama mereka,” kata Aras.


“Aku mencium bau bunga di sekeliling rumah ini. Aku juga sudah merasakan beberapa bunga. Aku bisa memetik bunga-bunga itu lalu menjual di pasar,” kataku.


“Silahkan saja jika kalian mau bekerja. Aku tidak mau. Tidak mungkin seorang bangsawan sepertiku bekerja di kafe atau menjual bunga atau pekerjaan lainnya. Aku tidak mau.” Azuro menolak. “Dan kau Aras. Kau adalah Klan Hitam. Mana mungkin ada yang mau menerimamu bekerja di sini. Violet juga. Dengan keadaanmu sekarang, kau akan kesulitan bekerja.”


Aku, Aras, dan Ludwig diam. Yang dikatakan Azuro memang ada benarnya.


“Kalau begitu, bagaimana jika kita minta bantuan ke Baron Durham? Tempat tinggal mereka ada di kota ini.” Ludwig member usul.


“Tidak. Dimana harga diriku meminta tolong kepada bangsawan yang lebih rendah.” Azuro masih saja menolak.


“Bagaimana dengan Marquess Orchid? Jadnew adalah daerah kekuasaan Wangsa Orchid.” Ludwig memberi usul lagi.


“Hah? Wangsa itu? Apa kau lupa dengan apa yang mereka lakukan kepada keluarga kita?” Azuro menolak usul Ludwig mentah-mentah. “Bisa-bisa dia malah menjebloskan kita ke penjara atau membunuh Violet dan Aras.”


“Tapi Azuro. Kalau kita tidak bekerja atau meminta bantuan ke wangsa lain, bagaimana kita mendapatkan uang?” Ludwig membujuk Azuro.


Azuro berdecak kesal. Dia memukul meja


“Sudahlah, terserah kalian.” Azuro meninggalkan meja makan.


Kursi berderit. Ludwig menyandarkan tubuhnya ke kursi.


“Azuro keras kepala. Dia terlalu mementingkan harga dirinya.”


“Apa dia memang seperti itu?” tanyaku. Walaupun Azuro masih kecil, dia selalu berusaha menjadi orang yang terhormat.


“Azuro sebenarnya anak yang baik. Sayangnya dia agak sombong dan itu kelemahan terbesarnya,” kata Ludwig. “Tapi kalau dengan Marquess Orchid…”


Ludwig tidak melanjutkan perkataannya.


“Ah, sudahlah. Lupakan saja.” Ludwig mengalihkan pembicaraan. “Aras, aku mau minta tolong padamu.”


Aras duduk diam, siap mendengarkan.


“Ada tanaman yang bisa mempercepat penyembuhan Violet. Kebetulan namanya juga violet,” kata Ludwig.


“Maksudmu bunga violet?” Aras memastikan.


Aku tidak mendengar jawaban dari Ludwig. Aku rasa dia hanya mengangguk atau menggeleng.


“Ada bunga violet spesial di puncak gunung Jadnew. Bunga itu mekar setiap matahari terbenam. Aku ingin kau membawakan untukku. Apa kau bisa?” tanya Ludwig.


“Tentu saja.” Aras menjawabnya dengan yakin.


“Syukurlah. Kalau begitu aku bisa istirahat dengan tenang.” Kursi Ludwig bergerak. “Aku istirahat dulu, ya.”


Aku menyusul Ludwig untuk beristirahat. Aras sepertinya masih duduk di tempatnya karena aku tidak mendengar suara kursinya yang bergerak.


Aku sebenarnya tidak mengantuk. Aku juga tidak ingin tidur. Aku hanya duduk di bingkai jendela sambil menikmati angin malam yang berhembus pelan. Suasana seperti ini membuatku memikirkan banyak hal. Bagaimana keadaan teman-teman yang lain? Bagaimana kelanjutan misi kami? Apakah keistemewaanku bisa kembali? Apa aku bisa melihat kembali?


Aku juga memikirkan sikap Aras akhir-akhir ini. Dia baik seperti dulu saat kami masih kecil. Walaupun aku merasa dia agak lebih sentimental. Aku tidak tahu dia hanya berpura-pura atau tidak. Dulu aku merasa sangat mengenalnya tapi setelah banyak peristiwa terjadi, aku menjadi tidak yakin apakah aku benar- benar mengenalnya.


Tiba-tiba aku mendengar suara piano. Suara itu dari ruangan samping, kamar Ludwig.


“Dia belum tidur,” gumamku.


Suara piano itu terdengar lebih indah. Permainan Ludwig benar-benar bagus.


Aku ingin mendengar permainan piano Ludwig dengan lebih jelas lagi. Aku memutuskan untuk keluar kamar. Tanganku meraba dinding untuk menemukan pintu kamar Ludwig.


“Eh?” Aku berhasil menemukan pintu kamar Ludwig tapi aku tidak menyangka pintu kamarnya tidak tertutup dengan benar. Pintu kamar Ludwig terdorong dan membentur dinding dengan keras.


“Violet?” Ludwig berjalan menghampiriku.


“Maafkan aku. Kau pasti kaget.” Suara benturan tadi sangat keras. Ludwig pasti terkejut mendengarnya.


“Tidak masalah. Aku tidak mendengarnya, kok.”


Aku mengernyit. Tidak mungkin Ludwig tidak mendengarnya. Aku yakin suaranya benar-benar keras.


“Mumpung kau di sini, aku ingin kau mendengarkan laguku. Ini lagu baru. Jadi, aku ingin memastikannya dengan telingamu.” Ludwig menuntunku masuk ke dalam kamarnya. Dia mendudukkanku di sebuah kursi.


“Aku mulai, ya.”


Suara piano mulai mengalun. Bagian awal terasa lembut. Makin lama suara permainan Ludwig makin keras, seperti perasaan yang berdentum-dentum. Keras tapi bisa membuat semua orang terpana. Permainan piano Ludwig menghipnotisku hingga akhir.


“Sangat hebat. Aku belum mendengar permainan piano sehebat ini.” Pujiku setelah Ludwig menyelesaikan lagunya.


“Apa tidak terlalu keras?”


“Bagian awal lagu terdengar lembut. Setelah itu menjadi kuat. Lagunya memang terkesan keras tapi kau menjadikan lagumu bisa dinikmati pendengarnya.”


“Mungkin aku harus mengganti beberapa bagian.” Ludwig belum puas dengan lagunya.


Aku mendengar suara kertas yang bergesekkan. Sepertinya Ludwig merapikan kertas not-nya.


“Ada apa, Violet? Kenapa kau ke kamarku?” tanya Ludwig.


“Ah, tidak ada apa-apa. Aku hanya mendengar suara pianomu dari kamarmu. Tapi aku malah tidak sengaja mendorong pintu kamarmu terlalu keras.”


“Maaf, Violet. Kau pasti terganggu, ya?”


Aku menggeleng.”Suara piano yang kau mainkan sangat bagus.”


“Seharusnya aku menutup jendela dan pintu kamarku. Aku tidak bisa mendengar suara piano. Jadi, aku tidak sadar jika memainkannya terlalu keras. Aku biasa sendiri, sih.”


“Tidak bisa mendengar?” Aku tidak mengerti. Apa maksud Ludwig? Jika dia tidak bisa mendengar, bagaimana dia bisa menciptakan lagu sebagus itu.


“Azuro sepertinya belum memberitahumu, ya?”


Aku menggeleng tidak mengerti.


“Aku tuli, Violet.”


Aku terdiam.


Ludwig melanjutkan ucapannya. “Ketika aku lahir, aku bisa mendengar. Dari kecil aku suka bermain musik. Tapi semejak umur tujuh tahun, telingaku terganggu. Karena aku seorang penyembuh, aku bisa memulihkannya dengan cepat. Tapi ternyata itu tidak bertahan lama. Telinga menjadi tuli sebagian. Aku pun menggunakan keistimewaanku untuk menyembuhkannya. Awalnya sembuh seperti sebelumnya tapi beberapa waktu kemudian telingaku malah sakit lagi dan makin parah. Umur dua belas tahun aku tuli total.”


Ludwig menghela nafas panjang. “Saat itu aku benar-benar putus asa. Aku sangat menyukai musik tapi kenapa aku malah tuli. Padahal pendengaran adalah indera terpenting dalam bermain musik. Selama satu tahun, aku mencoba bunuh diri. Hingga datang seseorang kepadaku. Dia adalah musikus genius. Dia mengajakku untuk bermain musik lagi. Perlahan aku bangkit dari keputusasaanku dan bermain musik lagi.”

__ADS_1


“Memang sulit pada awalnya. Tapi ketuliaanku ini menjadi anugerah bagiku. Entah kenapa semenjak aku tuli, suara musik terus menggema di telingaku. Aku bersyukur bisa bermain musik lagi, walaupun aku tuli. Yah, meskipun kadang aku masih kesal karena tidak bisa mendengarkan musik dari musikus lain.”


Ludwig meraih tanganku. “Aku yakin kau bisa, Violet. Walaupun kamu buta, kamu tetap bisa menjadi ksatria yang hebat, bahkan lebih hebat.”


__ADS_2