Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 21


__ADS_3

 


Aku, Aras, Azuro, dan Tiha tidak menonton konser Ludwig hingga selesai. Kereta kami berangkat pukul delapan malam. Pukul setengah delapan kami sudah pergi dari Teatro La Vienna ke stasiun kota Vienna.


Aku menyandarkan punggung di bangku kereta yang nyaman. Kereta mulai berjalan. Aku menatap kota Vienna dari jendela. Kota ini indah tapi tidak akan bertahan lama jika misi pemilik galur murni gagal.


Aku memejamkan mataku. Istirahat adalah hal penting. Sekuat apapun seseorang, dia akan tetap butuh istirahat. Aku bisa memanfaatkan perjalanan di kereta untuk memulihkan tenagaku.


 


*****


Aku terbangun karena getaran kereta yang cukup keras. Aku melihat keluar jendela. Masih gelap. Ada aroma asin dan suara gelombang.


“Kita ada di selat Dover. Dua jam lagi kita tiba di Dumbrige.” Azuro belum tidur. Dia duduk sambil membaca buku.


“Kau tidak tidur?” tanyaku.


“Aku tidak terbiasa tidur di kereta. Kau tidur saja,” jawab Azuro.


“Kau bisa bangunkan aku jika terjadi apa-apa,” pesanku.


Azuro mengangguk.


Aku kembali bersandar ke kursi lalu menutup mataku.


Aku kembali terbangun ketika mendengar peluit kereta. Aras sudah bangun. Tiha dan Azuro masih tertidur sambil bersandar di kursi.


Aku menatap Azuro yang tertidur. Anak ini bilang dia tidak biasa tidur di kereta. Tapi akhirnya dia tertidur. Misi ini pasti melelahkan untuk bangsawan sepertinya.


Aku dan Aras membangunkan Tiha dan Azuro. Peluit kereta itu tanda bahwa kereta sebentar lagi akan tiba di stasiun Dumbrige. Tiha dan Azuro mengerjapkan mata beberapa kali. Ini masih jam dua dini hari. Wajar saja jika mereka masih mengantuk.


Kereta sudah berhenti sempurna di stasiun Dumbrige. Kami melangkah keluar dari kereta. Keadaan stasiun sepi. Hanya penumpang kereta kami saja yang ada di sini.


“Tuan Muda, kereta kuda sudah menjemput.” Blue tiba-tiba datang entah dari mana. Padahal seharusnya dia masih ada di Vienna.


Azuro mengangguk. Kami lalu mengikuti Blue menuju kereta kuda.


“Bukankah harusnya dia masih berada di Vienna?” Aku berbisik kepada Azuro.


Azuro memandang punggung Blue. “Memang.”


“Lalu bagaimana dia bisa di sini?” Tiha rupanya tertarik dengan percakapanku dan Azuro.


“Blue pelayan pribadiku. Dia bisa melakukan apa saja yang aku perintahkan,” jawab Azuro.


Aku dan Tiha diam mendengar jawaban Azuro. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Semuanya bisa terjadi.


Kota Dumbrige adalah kota paling besar dan maju diantara semua kota yang aku kunjungi di Klan Biru. Banyak bangunan tinggi di pinggir jalan dengan arsitektur yang rumit dan mewah. Karena ini masih pagi buta, suasana di kota masih sepi.


Rumah Azuro tidak berada di pusat kota. Kereta berjalan melewati bukit dan hutan. Setelah melewati hutan, barulah terlihat rumah Azuro. Rumah sebesar istana yang memiliki danau serta kebun bunga yang luas.


“Wah, rumahmu besar sekali.” Tiha kagum melihat rumah Azuro.


“Kenapa tidak ada rumah lain di sekitar sini?” tanyaku.


“Kalian lihat bukit itu?” Azuro menunjuk bukit yang tadi kami lewati. Bukit itu berjajar hingga belakang jauh di belakang rumah Azuro, mengelilingi rumahnya. “Rumahku dibatasi oleh perbukitan itu. Jadi rumah orang lain baru ada di balik bukit.”


Aku dan Tiha tercengang mendengarnya. Aras yang yang terbiasa hidup di istana sebagai raja pun terlihat terkejut. Azuro bisa membuat kota dengan tanah seluas itu.


“Bagaimana bisa rumahmu seluas ini?” Tiha memandang hamparan rerumputan yang kami lewati. Dia takjub.


“Wangsa Geerginlik adalah wangsa yang menguasai Dumbrige, York, dan sebagian Llundain. Kakek buyutku adalah earl yang suka hidup mewah. Dia tidak suka ada bangunan yang lebih besar dan lebih indah dari rumahnya, meskipun itu adalah istana Doncer, istana Klan Biru. Jadi, dia membuat rumah ini dengan sebagian besar kekayaannya di Dumbrige.


“Ambisi bangsawan Klan Biru memang luar biasa. Bagaimana bisa pemimpin klanmu saat itu membiarkannya.” Aras menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mengerti. Menginginkan rumah yang lebih besar dari istana klan itu tidak dilarang tapi mereka harus bersiap dengan kemarahan pimpinan klan.


“Ketika rumah ini selesai dibangun, kakek buyutku yang seorang earl dibuat kesusahan oleh keluarga kerajaan. Bangsawan lain juga merecoki kami karena iri dengan rumah kami. Wangsa Geerginlik saat itu sangat kesusahan. Karena sudah kesal dengan perlakuan dari bangsawan lain, kakek buyutku menghabisi mereka dan mengancam keluarga kerajaan. Setelah itu tidak ada yang mengganggu wangsa kami lagi. Dan setelah kakek buyutku meninggal, istana melakukan perombakan besar-besaran untuk memperluas dan memperindah bangunannya.”


“Kakekmu pasti sangat mengerikan sampai bisa menekan keluarga kerajaan.” Tiha berkomentar.


 


"Yah, begitulah."


Kereta kuda berhenti di depan kediaman wangsa Geerginlik. Blue membukakan pintu. Satu persatu kami keluar dari kereta. Setelah kami semua turun, Blue menuntun kami menuju pintu utama.


Pintu utama terbuka. Barisan pelayan menyambut kami.


“Selamat datang kembali Tuan Muda. Selamat datang di kediaman Geerginlik.”


 


*****


Tok tok


Seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku melirik jam. Ini sudah pukul sebelas malam. Siapa orang yang mencariku di jam segini?


Aku membuka pintu kamar.


“Blue? Ada apa?” Aku mendapati Blue, pelayan pribadi Azuro di depan pintu kamarku.


“Tuan Muda memerintahkan kepada saya untuk menyampaikan pesan kepada Nona Violet bahwa Ratu Marine mengundang Anda ke Istana Doncer besok pagi bersama Tuan Muda, Tuan Aras, dan Nona Tiha. Selain itu Tuan Muda memberikan ini kepada Anda.” Blue menyerahkan sebuah kotak berukir.

__ADS_1


Kotak itu cukup berat ternyata. Setelah memberikan kotak, Blue pamit undur diri.


Aku membawa kotak itu masuk ke dalam kamarku lalu meletakkannya di meja. Rasanya seperti de javu. Beberapa waktu lalu aku mendapat undangan jamuan makan malam dari Kaisar Icus. Hari ini Ratu Marine ganti mengundangku.


“Apa ini?” Aku memandang kotak pemberian Azuro. Apa mungkin pakaian seperti yang aku dapat dulu.


Aku membuka kotak itu.


“Pedang?”


Kotak itu berisi pedang besar bermata dua. Ini pedang jenis spatha. Aku mengangkat pedang itu. Cukup berat. Spatha harus membutuhkan kedua tangan untuk menggunakannya.


Ada sebuah kertas kecil di dalam kotak.


'Sebagai ganti pisaumu.'


Aku tersenyum membacanya. Azuro selalu memperhatikan orang lain dengan caranya sendiri. Aku mengangkat spatha baruku lalu mengayunkannya.


“Kualitas setingkat bangsawan.” Aku menyentuh mata pedang dengan jariku. “Terima kasih, Azuro.”


*****


Seorang pelayan mengantarkan sebuah gaun untukku. Pelayan itu bilang jika gaun ini khusus dibuat untuk pertemuan bersama ratu. Gaun ini cantik dan sopan, berlengan panjang. Berwarna ungu tua dengan renda dan pita putih.


Pelayan itu tidak langsung pergi. Selain mengantar pakaian, dia bertugas menata rambutku. Sesuai dengan kebiasaan di Klan Biru, rambutku disanggul dengan jalinan pita ungu yang senada dengan gaunku.


Aku diantar menuju ruang tamu. Di sana sudah ada Tiha, Azuro, dan Aras.


“Wah, lihatlah siapa yang baru datang.” Tiha berkacak pinggang. “Hari ini aku lebih cepat darimu.”


“Gaun ini lebih merepotkan dari yang aku bayangkan. Aku memerlukan waktu lebih untuk memakainya.” Aku membela diri. “Lho rambutmu tidak disanggul?”


Tiha menggeleng. Rambutnya dikucir dua seperti biasa.


“Aku sudah bilang untuk menyanggul rambutnya karena hari ini kita bertemu ratu. Tapi dia keras kepala,” kata Azuro.


“Aku tidak akan dihukum ratu hanya karena tidak menyanggul rambutku, Azuro.” Tiha beralih ke Aras. “Bagaimana jika ada tamu yang menemuimu dan tidak menyanggul rambutnya? Apa kau akan menghukumnya Raja Aras?”


“Tidak, tapi seharusnya dia sadar sopan santunnya bertemu raja,” jawab Aras.


Tiha cemberut mendengarnya. “Aku tidak peduli. Aku menyukai gaya rambutku.”


“Aras, bukankah itu baju kebesaran raja? Bagaimana kau mendapatkannya?” tanyaku.


Aras tidak menggunakan pakaian seperti Azuro. Dia memakai baju kebesaran raja Klan Hitam. Lengkap dengan bros dan jubah raja.


“Ini tidak asli. Tadi malam Blue mengukurku dan bertanya tentang baju kebesaran raja Klan Hitam. Aku kira hanya untuk apa. Ternyata pagi harinya aku mendapatkan baju ini. Aku kagum dengan pembuatnya. Dia bisa mengerjakan semua ini dalam waktu yang singkat dan hasilnya sangat mirip,” jawab Aras.


“Ratu mengundang kalian sebagai utusan klan. Tidak perlu menyembunyikan identitas asli kalian. Lagi pula jika ada yang macam-macam, kita memiliki surat undangan resmi dari ratu.” Azuro menunjukkan undangan dari Ratu Marine.


Kami menaiki kereta kuda menuju Istana Doncer. Istana Doncer berada di kota Llundain, ibukota Klan Biru Barat. Selama di perjalanan, Azuro menerangkan apa saja yang boleh dan tidak diperbolehkan dilakukan di depan ratu. Dia juga memberi gambaran tentang bagaimana sosok Ratu Marine.


“Ratu Marine adalah pemimpin terlama Klan Biru. Dia telah menjadi ratu sejak berumur dua puluh tahun dan sekarang ratu berumur delapan puluh tahun.”


Aku mendengarkan penjelasan Azuro dengan resah. Aku bisa merasakan keringat dingin menetes dari kepalaku. Istana Doncer sudah terlihat. Sejujurnya, aku tidak ingin pergi ke istana. Tempat itu memiliki sejarah kelam untukku. Aku menyadari Aras sedang menatapku dengan khawatir.


“Apa kau baik-baik saja?” tanyaku.


Istana Doncer juga bagian dari masa lalu Aras. Banyak kenangan buruk yang dia dapatkan di sini.


“Justru kau yang membuatku khawatir. Apa kau yakin akan masuk ke sana? Kemungkinan besar kita akan bertemu dengannya,” kata Aras.


Aku diam. Aku memeras kuat tanganku. Aku harap aku tidak bertemu dengan masa lalu kelamku di sana.


Kereta berhenti di depan pintu utama istana. Seorang prajurit membukakan pintu. Istana ini jauh lebih indah dari terakhir kali aku melihatnya. Tampak jelas kejayaan Klan Biru Barat.


Enam prajurit mengantar kami menuju ratu. Aku menghela nafas panjang. Apapun yang terjadi itu hanya masa lalu. Aku tidak boleh takut berada di sini hanya karena masa lalu. Aku melangkah yakin mengikuti para prajurit.


Kami masuk ke dalam ruangan besar. Di sana aku melihat Ratu Marine duduk di depan meja bulat menghadap kami.


“Yang Mulia, Raja Aras, Tuan Azuro Geerginlik, Nona Violet, dan Nona Tiha telah datang.”


Aras maju ke depan. Dia memimpin penghormatan kepada ratu. Aras berdiri lebih dulu. Ratu Marine ganti memberi hormat kepada Aras. Bagaimanapun juga Ratu Marine dan Aras adalah sesama pemimpin klan. Status mereka sejajar.


“Silahkan duduk,” Kata Ratu Marine.


Kami duduk melingkari meja. Para prajurit keluar dari ruangan, meninggalkan kami berlima.


“Bagaimana kabar kalian?” tanya Ratu Marine.


“Kami dalam keadaan baik,” jawab Aras.


“Bagaimana dengan perkembangan misinya? Aku dengar kalian terpisah?” tanya Ratu Marine.


“Benar dan itu adalah bagian terburuknya. Tapi kami juga mendapat kemajuan yang pesat,” jawabku.


“Syukurlah kalau begitu.” Ratu Marine menyesap tehnya. “Kalian masih muda. Seumuran dengan cucu-cucuku. Aku khawatir dengan keadaan kalian. Mencari permata klan jelas bukan misi yang mudah.”


“Terima kasih atas kepedulian Anda, Yang Mulia,” kata Azuro.


Ratu Marine meletakkan cangkir tehnya. Wajahnya berubah serius.


 

__ADS_1


“Sebenarnya undangan hari ini berkaitan dengan misi kalian. Seperti yang kalian tahu, Klan Biru memiliki dua sapphire. Tapi Klan Biru Timur mengambil sapphire terkuat sehingga keseimbangan Klan Biru terganggu.”


“Beberapa hari yang lalu, aku mendapat sebuah surat dari ratu Klan Biru Timur. Mereka memberitahu bahawa ratu Klan Biru Timur akan mengembalikan kembali sapphire. Itu adalah berita bagus jika mereka memang benar akan mengembalikannya.”


“Jenderal masuklah.”


Pintu ruangan terbuka. Aku menegang ketika melihat siapa yang datang. Jantungku berdegub kencang.


“Dia adalah panglima jenderal Klan Biru, Jenderal Pasifik.” Ratu Marine memperkenalkan. “Selain aku, dia adalah orang yang tahu tentang misi ini.


Aku menarik nafas dalam. Aku berusaha memandang wajah Jenderal Pasifik. Tapi setiap aku melihat wajahnya, aku teringat peristiwa memilukan yang aku alami.


“Jenderal, coba kau jelaskan surat itu,” kata Ratu Marine.


“Dalam surat itu ratu Klan Biru Timur mengundang Klan Biru Barat ke pesta ulang tahun Ratu Mai. Di sana mereka akan mengembalikan sapphire tanpa syarat apapun. Kami pun berencana untuk mengirim utusan untuk mengambil sapphire di Klan Biru Timur,” jelas Jenderal Pasifik.


“Sangat mencurigakan, Jenderal.” Aras menyela.


Jenderal Pasifik mengangguk. “Kami tahu. Oleh karena itu, kami berencana mengirim kalian ke sana menjadi utusan Klan Biru Barat.”


“Kau ingin merubah ancaman menjadi peluang, strategi yang menarik,” komentar Aras.


Di pertemuan ini Aras banyak bicara. Dia tidak terlihat takut. Padahal orang yang menyiksanya dulu ada di sini. Apa dia sudah melupakan kejadian di istana ini?


“Tapi apa tidak terlalu beresiko mengirim kami? Kami bukan manusia Klan Biru,” tanya Aras.


“Anda dan pemilik galur murni lain adalah orang terpilih yang mengemban misi ini. Kalian bisa memanfaatkan peran kalian untuk mendapatkan sapphire. Selain itu walaupun kalian bukan manusia Klan Biru, kalian tetap bisa melakukannya. Geerginlik pasti bisa mengatasinya.” Jenderal Pasifik menatap Azuro.


“Akan aku usahakan, Jenderal.” Azuro menyanggupi.


Ratu Marine meletakkan sebuah surat di meja. “Ini menjadi bukti bahwa kalian adalah utusan Klan Biru Barat. Pertemuan kali ini cukup sampai di sini. Aku mengharapkan jasa kalian. Jenderal, antarkan mereka ke gerbang istana.”


Jenderal Pasifik mengangguk. Dia memandu kami menuju gerbang istana. Aku berjalan di belakang sendiri bersama Aras. Jantungku masih berdegub kencang.


Aras menggengam tanganku. Aku menatapnya kaget.


“Tenanglah, Violet.”


Aku menarik nafas panjang lalu mengangguk.


Blue sudah menunggu kami bersama kereta kudanya.


“Hati-hati di perjalanan,” kata Jenderal Pasifik.


“Terima kasih, Jenderal.” Azuro masuk ke dalam kereta.


Tiha menyusul Azuro masuk ke dalam kereta. Setelah itu giliranku.


“Lama tidak bertemu kalian. Klan Biru Barat berhutang besar padamu, Violet,” bisik Jenderal Pasifik ketika aku lewat di depannya.


Aku tercengang mendengarnya. Aku berusaha tidak menghiraukan Jenderal Pasifik. Tapi badanku gemetar, bahkan setelah kereta melaju meninggalkan istana Doncer.


“Jenderal Pasifik berbicara apa padamu tadi, Violet?” tanya Tiha.


Aku menggeleng.


“Tapi sepertinya aku tadi melihatnya,” kata Tiha.


“Kau salah lihat, Tiha. Jenderal Pasifik tadi berbicara padaku bukan pada Violet.” Aras menghindarkanku dari pertanyaan Tiha.


“Apa iya?” Tiha masih belum yakin tapi dia tidak bertanya lagi.


*****


Aku, Aras, Azuro, dan Tiha berkumpul di kediaman Geerginlik. Sehabis pertemuan tadi, kami perlu membicarakan rencana untuk pergi mengambil sapphire di Klan Biru Timur.


“Tuan Muda, saya membawakan yang Anda minta.” Blue muncul sambil membawa sebuah kotak.


“Letakkan di meja, Blue,” kata Azuro. “Sekarang pergilah.”


Blue memberi hormat kepada Azuro lalu pergi.


Azuro membuka kotak itu. Ada puluhan botol berisi cairan biru di dalam kotak itu.


“Ini adalah cat rambut yang dikembangkan oleh perusahaan Geerginlik. Tidak seperti cat rambut yang kalian pakai di Jadnew. Benda ini sudah melewati berbagai uji coba. Kalian akan memakai ini untuk mengatasi masalah dalam perjalanan kita ke Klan Biru Timur,” kata Azuro.


“Lalu bagaimana rencana perjalanan kita ke Klan Biru Timur?” tanya Tiha.


“Kita bisa mengikuti permainan ratu Klan Biru Timur lalu memanfaatkannya untuk mengambil sapphire. Tapi kita harus tetap mengawasi dan mencari tahu informasi tentang sapphire. Permainan ratu itu juga bisa merugikan kita,” kataku.


“Klan Biru Timur memiliki sejarah kelam dengan Klan Biru Barat. Kita harus berhati-hati terhadap rakyat Klan Biru Timur. Bagaimanapun juga mereka memiliki dendam pada Klan Biru Barat karena kekalahan mereka dalam perang.” Aras menambahkan.


Aku, Azuro, dan Tiha mengangguk setuju.


“Aku dengar pengawasan di Klan Biru Timur sangat ketat. Bagaimana kita bisa masuk ke sana?” tanya Tiha.


“Serahkan padaku. Aku akan mengurusnya. Geerginlik memiliki jalur rahasia ke Klan Biru Timur,” kata Azuro.


“Kalau begitu sekarang kita harus bersiap. Kita berkumpul lagi di sini jam dua belas tepat.” Aku bangkit dari dudukku.


Kami lalu bubar, menyiapkan perjalanan kami menuju Klan Biru Timur.


 

__ADS_1


__ADS_2