
Aku terbangun di tempat yang hangat, namun asing. Perabot di sekelilingku terbuat dari kayu. Aku menatap langit-langit kamar. Seingatku, aku tidak pergi ke sebuah rumah. Yang aku ingat terakhir kali adalah aku pingsan karena kedinginan ketika badai salju di malam hari.
Apa mungkin Aras dan Ty berhasil tiba di desa dan meminta pertolongan? pikirku.
Tubuhku sebelumnya pasti sangat dingin karena sekarang aku memakai mantel dan diselimuti oleh dua lapis selimut yang sangat tebal. Dua selimut ini sebenarnya sudah sangat cukup jika keadaanku saat tu baik-baik saja.
Langit di luar masih gelap. Tapi badai salju sudah berhenti, hanya meninggalkan hujan salju yang ringan. Aku harap ini masih malam yang sama dengan dimana aku pingsan.
Aku khawatir dengan keadaan Ty dan Aras. Tubuh Ty tidak sekuat aku dan Aras. Aku takut dia juga sakit sepertiku.
Aras tidak memakai jubahnya sebelum menggendong Ty dan dia baru saja kehabisan energinya. Aku ingin mengetahui keadaan mereka sekarang. Tapi seharusnya mereka berdua sudah baik-baik saja karena kami sudah berada di sebuah rumah yang hangat.
Di samping tempat tidurku, ada sebuah meja yang diatasnya terdapat mangkuk kayu yang tertutup. Aku rasa itu untukku. Jadi, aku mengambilnya. Aku agak terkejut ketika menyadari mangkok itu lebih berat daripada mangkok umumnya. Hampir saja aku menumpahkan isinya karena mengira beratnya ringan.
Uap panas disertai bau harum yang lezat menguar ketika aku membuka tutup mangkuk. Aku kira sup ini sudah dingin karena sendok yang diletakkan di samping mangkuk terasa dingin.
Aku mengaduk sup hangatku, kemudian menyadari jika mangkuk ini dilapisi batu.
“Pantas saja berat,” gumamku.
Beberapa alat makan yang dibuat khusus terkadang menggunakan batu ketika membuatnya. Batu bisa mempertahankan suhu panas dari makanan dan menjaganya agar tetap hangat. Mangkok ini memang sangat cocok dipakai di daerah bersalju seperti ini.
Tubuhku terasa sangat panas setelah memakan sup. Sup yang aku makan tadi mengandung berbagai rempah yang membuat tubuhku hangat. Aku menyingkirkan dua selimut tebal karena aku mulai berkeringat.
Aku ingin keluar kamar dan melihat sekitar. Tapi sepertinya aku berada di rumah penduduk. Ruangan ini sangat bersih. Pasti ada seseorang yang selalu membersihkannya. Jadi, aku memutuskan untuk mengurungkannya dan kembali tidur.
Aku sudah memejamkan mataku sejak tadi tapi aku belum juga tertidur. Aku tidak tahu apa yang menggangguku hingga aku tidak bisa tidur. Padahal aku adalah tipe orang yang bisa tertidur dimana saja jika aku memiliki kesempatan.
Krekk...
Pintu kamarku terbuka.
Aku mengangkat kepalaku dan melihat Ty datang membawa selimut tebal.
Saking kagetnya selimut yang dibawanya terjatuh ke lantai. Dia segera mengambil kembali selimut yang dibawanya kemudian menghampiriku. Wajahnya terlihat cerah. Dia pasti baik-baik saja.
“Nona, kau sudah sadar!” Ty berteriak pelan.
“Apa aku pingsan sangat lama hingga membuatmu terkejut seperti itu?”
“Nona sudah membeku ketika Aras menggendongmu. Kami pikir Nona sekarat.”
Aku tertawa pelan.
“Mungkin memang begitu.”
“Nona!” Ty berseru khawatir.
Aku tidak tahu keadaanku sebelumnya seperti apa. Tapi jika aku memang membeku seperti yang dikatakan Ty berarti aku memang sudah sekarat.
“Apa yang kau lakukan di jam segini? Aku yakin ini masih tengah malam.”
“Aku membawakan selimut untuk Nona karena aku pikir Nona masih kedinginan.”
“Terima kasih, Ty. Tapi aku sudah baik-baik saja.”
Ty mengangguk senang.
“Kalau begitu aku kembali dulu. Selimutnya aku tinggal di sini jika Nona ingin memakainya.”
Ty melangkah pergi keluar kamar. Tapi aku menghentikannya ketika dia sedang membuka pintu.
“Ada apa, Nona?” tanya Ty.
“Bagaimana keadaan Aras? Dia tidak memakai jubahnya tadi. Apa dia baik-baik saja?”
Ty terdiam. Wajahnya tampak murung. Perasaanku menjadi tidak enak.
“Terakhir kali aku melihatnya dia baik-baik saja.”
“Apa maksudmu, Ty?” Aku tidak paham dengan jawaban Ty.
Ty menatapku. Dia mendekatiku dan berdiri di samping kasurku.
“Aras tidak bersama kita.”
Aku bangkit dari tidurku. “Bagaimana bisa?!”
Ty terlihat ragu untuk mengatakannya.
“Nyonya rumah ini tidak menerima Aras karena dia Klan Hitam. Jadi, Aras pergi. Beruntung Nyonya mau menerima dan merawatmu karena awalnya Nyonya menolak kalian berdua.”
Aku mengerti kenapa pemilik rumah ini menolak kami. Klan Hijau adalah klan yang paling tidak suka dengan klan lain. Mereka menilai manusia klan lain adalah acaman yang berbahaya. Menerimaku dan bahkan merawatku adalah hal yang hampir mustahil aku dapatkan di klan ini.
Aku bersandar ke dinding dengan lemas. Aras orang yang kuat, aku tahu itu. Tapi badai semalam sangat besar meskipun sebentar. Kami juga tidak menemukan tempat berlindung sebelumnya. Bagaimana Aras bisa bertahan di badai seperti itu.
__ADS_1
Aku mengambil selimut tertebal yang ada di depanku. Aku kemudian memakai jubahku yang terlipat di atas meja.
“Nona? Kau mau kemana? Apa kau ingin mencari Aras?” tanya Ty.
Aku mengangguk. Tanpa banyak bicara aku melangkah keluar kamar. Ty mengikutiku.
“Tapi di luar masih turun salju, Nona.”
“Tidak besar, Ty. Tidak apa-apa.”
Aku tidak melihat pemilik rumah ketika keluar kamar. Sampai akhirnya aku sampai di depan pintu keluar, aku tidak melihat pemilik rumah. Dia pasti sedang tidur.
“Aku ikut denganmu, Nona!” kata Ty.
Aku menggeleng. “Kau harus tetap di sini sampai aku kembali. Jika pemilik rumah mencariku, tolong sampaikan padanya jika aku sangat berterima kasih padanya karena sudah mau menerima dan merawatku.”
“Tapi–”
Aku menepuk bahu Ty dan menggeleng dengan tegas. “Kau tetap di sini.”
Aku membuka pintu rumah. Sebelum berjalan pergi, aku tersenyum kepada Ty.
“Jaga dirimu baik-baik, Ty. Aku akan segera kembali.”
Ty mengangguk. “Nona juga hati-hati.”
Aku mengangguk kemudian berjalan pergi di tengah hujan salju dan gelapnya malam. Aku melihat sekitar. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Aras di dekat rumah ini. kemungkinan dia pergi keluar desa. Tapi aku tidak tahu tepatnya dia pergi.
Aku tidak bisa menemukan Aras dengan jejaknya. Jejak Aras sudah tertutup oleh hujan salju. Aku juga tidak memiliki petunjuk apapun yang menandakan keberadaannya. Aku hanya bisa mengandalkan instingku.
Aku dan Aras adalah sesama pemilik galur murni yang. Kami telah mengalami berbagai peristiwa yang sama. Aku dan Aras memang telah terpisah selama bertahun-tahun. Tapi aku cukup tahu kebiasaannya dari pengalamanku ketika menyelidiki dan memburunya.
Aku pergi ke daerah tebing yang tersembunyi dari lingkungan luar. Aku sempat melihat tebing ini ketika kami berjalan di tengah badai salju. Ada gua kecil di sudut tebing. Aku sangat yakin tidak ada gua kecil sebelumnya di sini. Aras jelas yang membuatnya. Aku melihat jejak Aras di sekitar mulut gua. Dia pasti memaksakan dirinya ketika membuat gua ini dengan energinya yang tersisa. Gua ini sangat kecil. Daripada gua, tepat ini lebih cocok disebut lubang.
Aku segera masuk ke dalam gua. Gua ini tidak dalam. Aku langsung bisa melihat ujung gua ketika memasukinya.
Ada perapian kecil yang hampir padam di dalam. Aras duduk di dekat perapian sambil meringkuk. Wajahnya terbenam di antara kedua tangannya.
Aku mendekati Aras perlahan dan memakaikannya selimut tebal yang aku bawa untuk menghangatkannya.
Aras mengangkat kepalanya. Dia sangat terkejut melihatku.
“Violet?!”
Aku tersenyum.
“Aku tidak bisa beristirahat dengan tenang jika aku tahu kau berada di luar dengan suhu sedingin ini.”
“Tapi kau bisa kedinginan di sini.”
Aku menggeleng. “Aku akan baik-baik saja.”
Aras menggenggam tanganku. Aku merasakan tangannya yang sedingin es.
“Kau sekarang lebih dingin dariku,” kataku.
Aku melepaskan genggaman tangan Aras. Lalu membenarkan selimut yang aku pakaian kepada Aras.
Aras memandang selimut tebal yang aku pakaikan padanya. Dia meremas selimut itu.
“Padahal kau tadi sangat kedinginan. Kau benar-benar...”
Aku menunggu Aras menyelesaikan kata-katanya.
Aras akhirnya hanya menghela napas. “Terima kasih.”
Aku mengangguk.
Aku cukup lama duduk menemani Aras. Kami hanya diam memandang perapian yang berpendar lemah.
“Kau kembali saja, Violet,” kata Aras. “Di sini terlalu dingin untukmu.”
“Aku memakai mantel jadi tidak masalah.”
Aras diam kembali.
Aku meraih tangan kanan Aras yang ada di sampingku. Aku kemudian menautkan tanganku dengan tangannya.
“Begini lebih hangat, kan?” kataku tanpa melihat Aras. Aku melemparkan pandanganku keluar gua.
Aras tidak menjawab. Tapi aku merasakan tangannya menggenggam tanganku lebih erat.
Aku melihat bercak darah Aras di lantai gua. Darah memiliki jejak paling terang diantara jejak lainnya yang ditinggalkan makhluk hidup. Aku mudah untuk melihatnya meskipun di temat yang sangat gelap atau tempat yang membuat darah itu menjadi samar.
“Bagaimana keadaanmu? Membuat gua pasti menguras energimu,” tanyaku.
__ADS_1
“Aku baik-baik saja. Membuat gua kecil tidak sulit untukku.”
“Aku melihat darahmu di sini.”
Aras menghela napas.
“Yah, aku memang tidak bisa menyembunyikannya darimu.” Aras bersandar ke dinding gua. “Gua ini memang agak sulit membuatnya dengan keadaanku saat ini. Tapi aku benar-benar baik-baik saja sekarang.”
“Syukurlah kalau begitu.”
Aku bersandar di dinding gua. Aku memejamkan mata dan kembali tertidur.
*****
Aku terbangun ketika merasakan langkah kaki yang mendekat. Aku bangkit dari tidurku lalu memegang erat pedangku.
“Nona!” Ty muncul di depan mulut gua.
“Ty?”
Ty berlari menghampiriku. Dia memelukku.
“Nona tahu, aku menghabiskan sepanjang waktu untuk mencari Nona dan Aras.”
“Kau pergi dari rumah itu? Kau tidak kabur, kan?”
Ty menghindari pandangan mataku.
“Ty?” Aku meminta penjelasan.
Ty meringis. “Mungkin sedikit.”
“Ty!” seruku.
“Aku sudah bilang kepada Nyonya bahwa aku akan pergi menyusul Nona dan Aras tapi Nyonya tidak membiarkanku dan menyuruhku untuk tinggal bersamanya. Jadi aku lari. Tapi.. tapi setidaknya aku sudah bilang pada Nyonya. Aku tidak benar-benar kabur.” Ty memberi pembelaan. “Dia terlau terobsesi padaku dan ingin menjadikanku anaknya. Aku tidak mau.”
Aku tidak tahu bagaimana sifat pemilik rumah yang kami tempati tadi malam. Aku pikir dia sangat baik karena memperbolehkanku istirahat di rumahnya. Pemilik rumah memiliki sifat lain yang tidak bisa aku tebak.
“Aku sudah berterima kasih padanya. Tenang saja, Nona.”
“Baiklah.”
Aku akhirnya menyerah pada permasalahan Ty. Mungkin memang seperti ini yang paling baik.
“Ty? Kau juga ke sini.”
Aras bangkit dari tidurnya. Dia masih terbungkus oleh selimut tebal.
“Aku membawakan ini untukmu.” Ty menyodorkan mantel yang dilipat rapi kepada Aras.
“Ini awalnya untukku tapi terlalu besar karena milik suami Nyonya. Ketika Nyonya akan membawanya pergi aku teringat padamu. Jadi, aku menyimpannya.” Ty menjelaskan.
Aras menerima mantel itu. Dia menyingkirkan selimutnya lalu memakai mantel dari Ty.
“Terima kasih, Ty. Kau menyelamatkanku dari dinginnya salju.”
Ty berkacak pinggang. “Hohoho... Tentu saja. Selain Nona, aku juga harus melindungimu. Aku tidak mau Nona sedih dan melakukan hal berbahaya seperti tadi malam karena kau kedinginan. Aku seorang laki-laki. Jadi aku harus melindungi Nona.”
Aras tertawa. Dia mengacak rambut Ty.
“Kau memang laki-laki sejati.”
Aku ikut tertawa bersama Aras. Ty benar-benar lucu.
“Aku senang dilindungi oleh laki-laki hebat sepertimu,” ujarku.
Ty tersenyum puas sambil menepuk dadanya. “Nona, bisa mengandalkanku sekarang.”
Aku mengangguk.
__ADS_1