Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 56


__ADS_3

Setelah beberapa kali bertanya kepada penduduk desa. Aku, Ty, dan Aras akhirnya menemukan rumah pemilik galur murni yang telah menyembuhkan kami.


Kami bertiga berhenti di depan rumah paling besar di desa. Aras mengetuk pintu rumah. Penduduk desa bilang pemilik galur murni yang menyembuhkan kami itu tinggal sendiri. Tapi orang yang membukakan pintu rumah ada seorang perempuan paruh baya. Meskipun sudah tua, dia sama sekali tidak terlihat seperti perempuan berusia seratus tahun.


“Kalian rupanya!” seru nenek itu. “Orang-orang bilang kalian mencariku. Jadi, aku sudah menyiapkan berbagai makanan untuk kalian. Ayo, masuk ke dalam.”


Aku, Aras, dan Ty masuk ke dalam rumah nenek. Rumah ini hanya terdiri dari satu ruangan besar. Di sepanjang dindingnya, terdapat rak-rak yang menyimpan tanaman herbal. Beberapa keranjang tanaman herbal kering juga menggantung di langit-langit.


Bau dari herbal yang disimpan di rumah ini, membuat aroma udara di sini terasa agak menyengat, namun entah kenapa aku merasa lebih segar.


Nenek itu mempersilahkan kami duduk. Dia menjamu kami dengan beberapa cangkir minuman dan piring-piring berisi berbagai makanan.


Aku memandang pemilik galur murni yang menyembuhkan kami. Untuk ukuran manusia berumur seratus tahun, nenek ini terlihat masih sangat muda. Tidak banyak kerutan di wajahnya. Dia tampak seperti perempuan berusia lima puluh tahun. Setengah kali lebih muda daripada usia aslinya.


“Senang melihat kalian sudah sembuh. Luka kalian yang dibuat dryad itu benar-benar parah sebenarnya. Aku sangat terkejut kalian bisa pulih dalam waktu sehari saja.” Nenek itu menyajikan minuman kepada kami. “Silahkan diminum. Ini sangat bermanfaat ntuk memulihkan stamina kalian.”


“Terima kasih, Nek. Itu berkat Nenek kami bisa sembuh dengan cepat,” kata Aras.


Nenek itu mengibaskan tangannya. “Jangan panggil aku Nenek. Aku memang sudah tua tapi aku masih terlihat sangat muda. Panggil aku Ginko.”


“Baik, Ginko. Aku Aras. Ini Violet dan ini Ty.” Aras ganti memperkenalkan diri kami. “Terima kasih karena sudah menolong kami.”


“Itu memang sudah tugasku,” jawab Ginko.


“Aku tidak mengira kalian diserang oleh dryad. Mereka sangat jarang menampakkan diri kepada manusia,” kata Ginko.


“Kami bertemu dengannya di Pegunungan Salju. Dia bilang dia tertinggal oleh rombongannya,” Aku memberitahu.


“Dryad yang tertinggal lalu tersesat? Mereka biasanya memang berada di hutan, meskipun mereka bisa pergi kemana pun mereka mau. Tapi mereka tidak mungkin tersesat. Apalagi sampai meminta bantuan kepada manusia. Itu sangat jarang terjadi,” kata Ginko.


“Dryad itu memang sangat aneh. Dia juga terus menggoda Aras ketika bersama kami,” keluh Ty.


Ginko menatap Aras lalu tiba-tiba tertawa. “Ah, begitu rupanya.”


Aku, Ty, dan Aras saling bertatapan bingung karena Ginko tiba-tiba tertawa setelah melihat Aras.


“Penyebab dryad itu mengikuti kalian adalah dia.” Ginko menunjuk Aras.


Aku dan Ty spontan menengok ke Aras.


“Aku?” Aras ikut menunjuk dirinya sendiri.


Ginko mengangguk. “Semua dryad itu perempuan. Tidak ada laki-laki di antara mereka. Jadi mereka menyukai manusia, khususnya laki-laki. Meskipun mereka sangat pemilih.”

__ADS_1


“Jadi dryad itu menyukai Aras?” tanya Ty.


“Tentu saja. Dia adalah laki-laki dewasa yang tampan. Dryad pasti sangat menyukainya,” jawab Ginko.


“A- aku pikir tidak begitu.” Aras mengelak dengan gugup.


Ginko menepuk pundak Aras. “Kau ini memang tampan. Jika Dryad saja menyukaimu apalagi para gadis. Wah, aku yakin kau bisa memiliki seluruh gadis di desa ini! Kau pasti sangat terkenal di kalangan para gadis.”


Tawa Ty meledak. Aku mengulum bibir untuk menahan tawa.


Aras memang terkenal tapi bukan karena dia tampan. Sepertinya desa ini tidak tahu siapa Aras sebenarnya. Ty saja yang bersama kami dari awal di Klan Hijau, tidak tahu siapa Aras.


“Jika kau manusia Klan Hijau, kau pasti sudah aku nikahkan dengan cicitku,” kata Ginko.


Aras tertawa memaksa. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa menanggapi ucapan Ginko.


“Tapi, yah, kalian hebat juga bisa lolos dari dryad. Mereka yang terkuat di Klan Hijau. Tidak sembarang orang bisa mengalahkan mereka. Kalian pasti bukan orang biasa,” kata Ginko.


“Kami hanya petualang saja.” Aras berbohong. Kami tidak bisa memberitahu identitas asli kami.


“Petualang? Hebat sekali. Kalian pasti sudah pergi ke banyak tempat. Manusia Klan Hijau saja kebanyakan hanya tahu jika manusia di dunia ini hanya Klan Hijau,” kata Ginko. “Lalu apa kalian ingin melanjutkan petualangan kalian setelah ini?”


Aku, Aras, dan Ty mengangguk.


“Kapan kalian akan pergi?”


“Sore? Cepat sekali. Kenapa tidak besok pagi saja? Perjalanan malam bisa sangat berbahaya.”


“Kami sudah mengulur waktu cukup lama,” jawabku.


Ginko memasang wajah kecewa. “Desa ini sangat senang jika kedatangan tamu. Aku harap kalian bisa ke sini lagi.”


“Terima kasih karena telah membantu kami. Sangat jarang menemukan desa Klan Hijau yang sangat baik pada klan asing,” kata Aras.


“Sama-sama. Sebelum kalian pergi, cobalah minuman khas Desa Trap dulu. Semua orang sangat menyukainya. Sayang sekali jika kalian pergi dan melewatkan minuman khas desa ini.”


Ginko berdiri lalu membuat minuman baru. Setelah selesai, dia kembali dengan membawa minuman berwarna jingga.


“Silahkan! Ini adalah minuman khas Desa Trap,” kata Ginko.


“Wow! Enak sekali!” seru Ty.


Ty minum dengan cepat. Minuman di gelasnya sudah habis saja.

__ADS_1


Aku dan Aras juga meminum minuman khas Desa Trap ini.


Rasa minuman ini manis dan segar. Mirip mangga tapi lebih asam. Sangat lezat seperti yang dikatan Ty.


Plukk..


Ty bersandar padaku.


“Ada apa, Ty?” tanyaku.


“Aku sepertinya agak mengantuk, Nona.” Ty mengusap matanya.


“Kau pasti ikut pesta semalam,” kata Ginko.


“Iyahh. Huahh... benar.” Ty menutup matanya dan tidur.


“Anak kecil seharusnya jangan ikut pesta,” kataku.


Plukk


Ketika aku sedang memperbaiki posisi tidur Ty, Aras tiba-tiba juga bersandar di bahuku. Dia juga tertidur.


Aku merasakan ada yang tidak beres di sini. Aku menatap gelas kosong yang aku pegang.


“Kenapa kau belum tertidur seperti mereka?” tanya Ginko.


Aku menatap Ginko. Ginko menyeringai kepadaku.


“Kau meracuni kami?” Aku menatap Ginko tajam.


“Padahal aku sudah memberimu lebih banyak daripada yang lain karena aku dengar manusia Klan Ungu sangat kuat. Tapi aku tidak menduga kau sekebal ini.” Ginko berbicara tanpa menghiraukanku.


Ginko mengambil  membakar sebuah tanaman. Asap tanaman itu memenuhi ruangan. Saat aku menghirupnya, tubuhku terasa lemas.


“Seharusnya dengan ini, kau lebih cepat tertidur,” kata Ginko.


Aku menatap Ginko marah. Berani-beraninya dia melakukan ini pada kami.


Aku menutup hidungku. Aku tidak bisa bergerak kemanapun dengan Aras dan Ty yang bersandar padaku. Mau tidak mau asap itu terhirup olehku. Tangan dan kakiku terasa lumpuh.


“Kau–”


Aku jatuh tertidur.

__ADS_1


 


 


__ADS_2