Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 64


__ADS_3

Aku menutup wajahku frustasi. Aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan.


“Jangan berlutut padaku, Violet.” Grante ikut berlutut.


“Raja Aras adalah orang yang penting bagi kami juga. Kami akan berusaha menyelamatkannya.” kata Grante.


Aku menatap Grante. “Benarkah?”


Grante mengangguk.


“Terima kasih.”


Hatiku merasa lega mendengarnya. Tapi kelegaan itu tidak berlangsung lama setelah Grante mengatakan sesuatu yang membuatku hampir putus asa.


“Tapi kami hampir tidak mungkin mendapat penawar untuk racun monkshood.”


“Kau bilang kalian akan berusaha!”


Grante mengangguk. “Kami tidak memiliki penawar monkshood. Tapi kami akan berusaha agar racun itu tidak menyebar.”


“Lalu apa Aras akan selamat jika dengan cara seperti itu?”


Grante terdiam. “Kami akan berusaha mengeluarkan racunnya.”


“Kenapa kalian tidak membuat penawarnya saja?” Aku tidak habis pikir dengan mereka.


Grante mendesah. Dia menatap hutan lebat di bawah kami. Dia tampak berat untuk menjawab pertanyaanku.


“Monkshood adalah senjata paling berbahaya di Klan Hijau. Tidak ada penawar yang bisa mengatasi racun monkshood.”


“Tapi kau bilang tadi–” Aku tidak sanggup menyelesaikan kata-kataku. Ucapan Grante seperti gumpalan besar di mulutku.


“Ada suatu buah yang mungkin bisa mengatasi racun monkshood. Buah itu adalah coco de mer. Buah itu adalah obat dari segala penyakit.”


“Kalau begitu kita harus segera mendapatkannya.”


“Sayangnya, buah itu hanya berbuah seratus tahun sekali.”


Aku sangat terkejut sampai tidak bernapas. Rasanya dunia ini seperti akan hancur. Pikiranku kosong.


“Ti- tidak mungkin.”


Aku tidak bisa membayangkan Aras pergi selamanya. Kami baru saja bertemu setelah sekian lama. Aku tidak mau kami berpisah dengan begitu cepat apalagi untuk selamanya. Aku tidak mau.


Aku menunduk. Aku mengepal sangat keras hingga tanganku berubah menjadi putih. Sudah cukup aku kehilangan orang tuaku dan Vender. Aku tidak ingin kehilangan Aras.


“Tapi kita masih punya harapan.”


Kata-kata Grante membuatku mengangkat wajah dan menatapnya.


“Tahun ini coco de mer berbuah. Tapi pohon itu adalah di rumah pemimpin Klan Hijau,” ucap Grante.


“Kalau begitu aku akan mengambilnya. Pemimpin Klan Hijau pasti akan memberikannya.” Aku bangkit berdiri.


Grante ikut berdiri. Dia memejamkan matanya sejenak. Wajahnya terlihat agak kacau.


“Aku kira tidak akan semudah itu.”


“Kenapa? Ziben, Pemimpin Klan Hijau mengenal Aras. Dia pasti akan memberikannya jika aku menjelaskan keadaan Aras saat ini.”


“Ziben mungkin memang akan memberikannya jika dia masih menjadi pemimpin Klan Hijau.”

__ADS_1


“Apa maksudmu?”


Grante menyilangkan tangan di dadanya. Dia berjalan ke pinggir tebing.


“Ziben... Dia sudah mati.”


“Apa?!”


Aku tiba-tiba teringat dengan Ty. Meskipun dia dan keluarganya tidak memiliki hubungan yang baik. Ty tetaplah masih anak dari Ziben.


“Apa Ty sudah tahu?” tanyaku.


Grante menggeleng.


“Tapi bagaimana bisa?”


“Dia dibunuh oleh Arnold. Arnold-lah pemimpin Klan Hijau sekarang. Semua orang yang mendukung Ziben telah dihabisi oleh Arnold.”


Situasi sekarang makin rumit saja. Keadaan Klan Hijau telah berubah. Aku harus mengetahui keadaan Klan Hijau sekarang. Tapi aku juga harus segera mendapatkan coco de mer.


“Jelaskan padaku secara singkat sebelum aku pergi ke Desa Jati,” kataku.


Grante terbelalak. “Kau tetap akan ke sana? Itu berbahaya! Apalagi dengan keadaanmu sekarang.”


“Aku tahu. Tapi aku harus mendapatkan coco de mer itu.”


Grante menghela napas. “Baiklah.”


Grante mulai menjelaskan keadaan Klan Hijau sekarang. Mulai dari perubahan kepemimpinan di Klan Hijau hingga keadaan Klan Hijau sekarang yang sudah kehilangan kekuatan Zamrud di banyak tempat.


“Desa-desa besar sudah dikuasai oleh Arnold dan pengikutnya. Desa Jati, pusat Klan Hijau juga telah diisi oleh pendukung Arnold. Sangat berbahaya jka kau ke sana sebagai musuh Arnold,” jelas Grante.


Pergantian pemimpin Klan Hijau tidak terlalu berpengaruh pada desa-desa yang tidak berhubungan langsung dengan Desa Jati. Mereka tidak terlalu peduli. Tapi kebencian terhadap klan lain meningkat. Arnold memiliki tujuan untuk menyingkirkan klan lain.


“Apa kau yakin masih akan tetap pergi?” Grante memastikan.


Aku mengangguk yakin.


“Kalau begitu, aku akan menemanimu.”


Aku menggeleng. “Jangan! Kau harus tetap di sini. Penduduk desa ini mendengarkanmu. Aku harap kau mengawasi mereka agar mereka tetap melakukan yang terbaik untuk mengobati Aras.”


“Tapi kau tidak mungkin sendiri.”


“Aku akan pergi bersama Nona.”


Aku dan Grante menoleh ke arah suara itu. Ty tiba-tiba muncul dari balik pintu gua.


“Ty! Sejak kapan kau di sana? Kau mendengar obrolan kami?” tanya Grante, terkejut.


“Tidak penting sejak kapan aku mendengar obrolan kalian. Yang terpenting adalah aku akan menemani Nona pergi ke Desa Jati.”


“Ini berbahaya, Ty. Kau harus tetap di sini,” kataku.


“Karena berbahayalah aku harus menemani Nona,” jawab Ty.


Ty menghadap Grante. “Paman, aku akan pergi menemani Nona Violet. Aku telah bersumpah pada Nona untuk terus bersama Nona.”


Grante menatap Ty cemas. Ty adalah satu-satunya keluarganya yang tersisa. Dia tidak ingin Ty dalam bahaya. Apalagi di usianya yang masih sangat muda. Tapi melihat keyakinan Ty yang begitu teguh, Grante akhirnya mengangguk.


“Kau harus melindungi Nonamu.” Grante menepuk bahu Ty.

__ADS_1


Ty tersenyum dan mengangguk.


“Ty, seharusnya kau di sini saja. Tempat ini aman.” Aku masih berusaha membujuk Ty agar dia tidak ikut bersamaku.


“Aku tidak bisa tenang jika aku di tempat yang aman, sedangkan Nona di tempat yang berbahaya,” tolak Ty. “Aku juga ingin menyelamatkan Aras!”


Aku tersentak mendengar alasannya. Kedua sudut bibirku terangkat. “Baiklah jika keinginanmu seperti itu.”


“Kalau begitu, kalian harus segera bersiap. Aku akan membawakan barang-barang yang mungkin bisa membantu kalian selama perjalanan nanti ke kamar Violet.”


Aku dan Ty mengangguk. Ketika kami hendak kembali, aku tiba-tiba terjatuh.


“Nona?! Nona, tidak apa-apa?” tanya Ty panik.


Kakiku terasa sangat nyeri, tepatnya dari luka yang dibuat oleh monkshood. Seluruh badanku tiba-tiba kebas.


“Violet, ada apa?” Grante dengan tenang berusaha mengecek keadaanku.


“Kakiku.” Aku menunjuk perban yang menutup luka monkshood.


Grante mengernyit. Wajahnya terlihast was-was. Perlahan namun cepat, dia membuka perban itu.


Mata Grante dan Ty terbelalak ketika melihat lukaku yang berwarna kebiruan. Persis seperti luka di punggung Aras yang terkena monkshood.


“Kau juga terkena monkshood?” Grante menatapku tidak percaya.


“Itu hanya luka kecil. Aku kira tidak apa-apa,” jawabku.


“Kalau keadaanmu seperti ini, kau tidak bisa pergi kemanapun,” kata Grante.


Aku menggeleng kuat. Aku menghiraukan rasa sakit di kakiku dan berusaha untuk berdiri.


“Aku akan tetap pergi. Aku tidak apa-apa,” ucapku setelah berhasil berdiri tegak.


“Kau tidak mungkin tidak apa-apa setelah terkena monkshood!” ucap Grante dengan nada yang agak tinggi.


“Nona, Nona bisa dalam bahaya jika memaksakan diri pergi ke sana,” ucap Ty.


“Aku tidak apa-apa, Ty. Aku masih mampu,” kataku.


Aku menatap Grante. “Manusia Klan Ungu memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat daripada manusia klan lain. Aku akan bertahan. Percayalah padaku.”


“Tapi sampai kapan kau bisa bertahan? Racun monkshood memang bereaksi lambat. Tapi racun ini lebih berbahaya daripada bisa ular,” kata Grante.


Aku terdiam sesaat. Aku mengerti seberapa beracunnya monkshood ini. Keadaanku masih baik-baik saja karena racun itu bereaksi lebih lambat di tubuhku daripada di tubuh Aras. Hanya tinggal menunggu waktu sampai racun itu bereaksi sepenuhnya.


Aku tidak tahu apakah aku bisa mengatasinya atau tidak ketika waktunya tiba. Tapi tekadku sudah bulat. Aku akan pergi ke Desa Jati.


“Aku akan bertahan hingga aku kembali ke sini membawa coco de mer,” jawabku pada Grante.


Grante menghela napas. Dia menatapku cemas.


“Baiklah. Ini keputusanmu,” kata Grante pada akhirnya.


“Terima kasih,” ucapku.


“Kalian harus segera bersiap.”


Aku bergegas kembali ke kamarku untuk bersiap. Sebelum pergi ke kamar, aku menyempatkan diri untuk melihat keadaan Aras. Keadaannya masih seperti tadi. Hampir tidak ada perkembangan yang baik dari kondisinya.


Aku menghela napas. “Bertahanlah, Aras.”

__ADS_1


 


 


__ADS_2