Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 11 Ubi


__ADS_3

“Violet, ayo makan! Ryza membuat ubi bakar yang benar-benar enak,” seru Tiha.


“Iya.” Aku bergabung dengan Tiha, Ryza, Bara, Azuro, dan Ichi.


“Lho, dimana Raja Aras? Bukannya dia tadi bersamamu?” tanya Azuro.


“Aku tidak tahu,” jawabku sekenanya.


Tiha menengok ke sana kemari untuk mencari Aras.


“Ah, itu dia. Raja Aras, ayo kita makan malam!” seru Tiha.


Aras mendekati kami. Dia duduk di samping Bara. Ryza menyodorkan sebuah ubi bakar yang masih mengepul.


“Silahkan, Raja Aras.”


“Panggil saja aku Aras. Di misi ini aku sama seperti kalian,” kata Aras.


“Baik, kalau begitu.” Bara paling menyambut ucapan Aras. “Menjadi raja memang membuat canggung.”


Kami menyantap ubi bakar buatan Ryza. Ucapan Tiha memang benar. Ubi ini sangat enak. Aku bahkan mengambil dua kali.


“Kau tidak makan, Azuro?” tanya Ryza.


Aku lihat Azuro hanya duduk di atas akar pohon. Dia memandang aneh kami yang memakan ubi bakar.


“Aku tidak makan.” Azuro melambaikan tangannya.


Bara mengambil sebuah ubi bakar lalu berjalan ke Azuro. Dia menyodorkan ubi itu kepada Azuro.


“Nih, makan! Lupakan gelar bangsawanmu dan makanlah.”


Azuro hanya menatap Bara tanpa menghiraukan Bara yang menyodorkan ubi bakar kepadanya. “Aku tidak pernah memakannya. Aku tidak suka.”


“Ya ampun. Ini memang makanan rakyat jelata seperti kami. Jika kau tetap tidak mau makan, kau hanya akan mati sia-sia.” Bara menarik tangan Azuro lalu menaruh ubi bakar itu di tangan Azuro.


Azuro menatap ubi bakar di tangannya dengan tatapan jijik. Bara terus mempelototinya. Dia mengupas bagian gosong ubi bakar itu.


“Ayo makan!” kata Bara ketika ubi Azuro sudah terkupas.


“Tanpa pisau dan garpu. Aku tidak pernah makan dengan setidakhormat ini.” Azuro menggigit ubi itu dengan enggan. Dia mengunyahnya dengan berat.


“Bagaimana enak, kan?” Bara tersenyum lebar kepada Azuro.


Azuro menampilkan senyum terpaksa.


“Kau tidak pernah makan tanpa garpu dan pisau, Azuro?” tanyaku.


Azuro menggeleng. “Kebiasaan kita memang berbeda.”


“Jangan bersikap manja dan buang kebiasaanmu itu. Atau kau tidak bisa bertahan di misi ini.” Ichi berbicara tegas.


“Aku mengerti.”


Kami menikmati ubi bakar itu sambil mengobrol.


“Ichi, apa di sini ada banyak binatang buas seperti singa tadi?” tanya Tiha.


Ichi mengangguk. “Tapi daerah kita sekarang cukup aman. Tempat tadi memang memiliki banyak sarang binatang buas.”


“Singa-singa itu aneh sekali. Setahuku mereka tidak hidup berkelompok,” kata Azuro.


“Iya, singa-singa itu aneh. Mereka bahkan tidak mengeluarkan darah. Saat Violet menebas mereka, singa\-singa itu menghilang begitu saja.” Bara menimpali.


“Semua makhluk di Klan Putih memang tidak memilik darah.” Ichi menerangkan. “Termasuk manusianya.”


Kami berseru kaget, kecuali Ichi dan Aras.


“Aku jadi ingin melukaimu,” candaku. Aku mengeluarkan pisau dari balik bajuku.


“Hey, walaupun begitu kami juga merasakan sakit,” ucap Ichi sebelum aku benar-benar melukainya.


Aku tertawa. “Aku hanya bercanda.” Aku memasukkan pisau kembali ke kantongku.

__ADS_1


“Kau mengerikan, Violet.” Ryza bergindik ngeri.


“Dia memang begitu,” kata Aras.


Astaga, kenapa Aras terlalu menunjukkan diri bahwa dia kenal padaku.


“Sebaiknya sekarang kalian tidur. Aku akan berjaga,” kata Ryza.


“Aku akan menemanimu,” kataku.


Ryza mengangguk.


“Kita akan ganti berjaga setiap dua jam.” Ichi mengumumkan. “Dua jam lagi bangunkan aku.”


“Ya,” jawab Ryza.


 


Ichi, Bara, Aras, dan Tiha sudah bersiap tidur. Tapi Azuro masih beridiri sambil memandangi rumput tempat dia akan tidur.


“Kenapa kau masih diam saja? Kamu ingin berjaga bersama Ryza dan Violet?” tanya Tiha.


“Aku tidak mau tidur di atas rumput. Bagaimana jika ada binatang yang menganggu.” Azuro duduk diatas akar besar. Dia bersandar pada batang pohon.


“Aku dan Violet akan berjaga. Jadi, tidak ada binatang yang akan menganggu tidurmu,” kata Ryza.


Azuro masih saja menolak. “Tidak mungkin bangsawan sepertiku tidur di atas rumput.”


Aku gemas melihat tingkah Azuro yang seperti itu. Aku melepas jubahku dan membentangkannya di atas tanah.


“Aku sudah membuatkan tempat tidur khusus untukmu. Jadi, tidurlah di sini,” seruku. “Kalau kau tidak mau, lebih baik gantikan kami berjaga hingga pagi.”


Azuro menatapku dengan takut. Dengan patah-patah dia tidur di atas jubahku.


“Terima kasih,” kata Azuro.


Aku mengangguk.


 


“Sepertinya semuanya sudah benar-benar tidur,” kata Ryza. “Bahkan Azuro sangat pulas.”


Aku memandang Azuro yang tertidur pulas. “Dia ternyata agak merepotkan.”


Ryza tertawa mendengarnya. Dia duduk di sebelahku. Kami lama terdiam.


 


“Violet, menurutmu bagaimana rasanya bertemu orang yang sudah lama kau tunggu?” tanya Ryza tiba-tiba.


Aku teringat sikap malu-malu Ryza ketika bertatapan dengan Ichi di jamuan makan malam. Apa dia ingin bercerita tentang itu?


“Bagaimana menurutmu, Violet?” Ryza menagih jawabanku.


“Tentu saja aku akan senang sekali.”


“Tapi bagaimana jika orang itu lupa tentang dirimu?”


Aku diam sejenak. “Aku akan merasa sedih tapi aku bersyukur bisa bertemu lagi dengannya.”


“Lalu apa yang kau lakukan?”


“Bersikap sewajarnya dan berusaha membentuk kenangan baru bersamanya.”


“Hmm, begitu.”


Ryza menatap tanah yang kering. Tiba-tiba muncul rerumputan hijau di tanah itu. Aku terkesiap melihatnya. Baru pertama kali aku melihat tumbuhan tumbuh secara tiba-tiba.


“Violet, aku ingin menceritakan sesuatu. Boleh?”


Aku mengangguk.


“Ketika aku kecil, aku hanya tinggal bersama ayah. Ibuku entah dimana. Ayahku adalah seorang kepala desa. Dia berperan besar dalam setiap kejadian di desaku. Suatu malam, desaku diserang. Saat itu keadaan Klan Hijau buruk karena perang saudara. Ayahku terbunuh di penyerangan itu. Aku juga akan mati jika orang itu tidak datang menolongku.”

__ADS_1


Ryza tersenyum sambil menatap langit. “Orang itu masih muda, mungkin berumur empat atau lima belas tahun. Dia melindungiku dari musuh yang mencoba menculikku. Dia terluka tapi tetap bertarung. Orang itu lalu membawaku ke barak pengungsian. Dia meninggalkanku di sana sendirian tapi dia selalu mengunjungiku setiap hari. Walaupun sendiri, aku tidak merasa kesepian. Semenjak itu dia menjadi orang yang berharga bagiku. Tapi beberapa waktu setelah itu, dia tidak datang lagi. Aku selalu menunggunya, bahkan hingga sekarang.”


Ryza menghentikan ceritanya. Dia menarik nafas dengan berat. “Belum lama ini aku bertemu dengannya lagi. Aku sangat senang. Tapi dia tidak mengenaliku. Aku menjadi putus asa.”


“Apa orang itu ada bersama kita sekarang?” tanyaku.


Ryza memeluk lututnya. “Mungkin.”


“Kalau begitu buatlah kenangan baru bersama seperti yang aku katakan tadi.”


“Tapi aku terlanjur kecewa, Violet.”


“Apa kau tidak mau bersama orang yang berharga bagimu?”


Ryza diam, berpikir. “Kau benar, Violet. Aku akan berusaha.”


Aku tersenyum melihatnya. Ceritanya yang mirip dengan ceritaku. Hanya saja orang yang menolongku adalah orang yang membunuh orangtuaku. Ryza berharap kepada penolongnya, sedangkan aku membenci penolongku. Ryza dilupakan, aku dingat. Rasanya apa yang aku dapatkan ingin aku tukar sebagian kepada Ryza agar semuanya terasa pas.


“Ryza, kenapa kau menceritakan ini padaku? Maksudku kita baru saja saling mengenal. Bisa jadi aku adalah orang yang jahat.”


“Kenapa, ya? Aku merasa kita mirip. Jadi, aku yakin kau akan mengerti. Tapi semoga saja kau lebih beruntung dariku.”


Aku tertawa masam. “Tidak juga.”


 


Aku dan Ryza melewati dua jam dengan mengobrol. Aku merasa lebih dekat dan mengenalnya. Ryza ternyata setahun lebih tua dariku. Dia berumur delapan belas tahun.


“Kau ternyata masih muda, Violet. Padahal kau hebat sekali bermain pedang,” kata Ryza setelah aku memberitahu umurku.


“Keistemewaanku sebagai pemilik galur murni tidak sekuat yang lainnya. Jika aku hanya bergantung pada keistemewaan itu, aku tidak bisa bertahan. Jadi, aku harus melatih kemampuan bertarung tanpa keistemewaan apapun.”


“Kau keren, Violet.”


“Tidak juga. Klanku adalah klan Militer. Kami memang dididik untuk bertarung.”


“Asyik, ya, bisa melatih kemampuan seperti itu.”


Aku duduk menghadap Ryza. “Apa kau tidak pernah berlatih?”


Ryza menggeleng. “Hanya sesekali. Klanku terlalu kuno. Perempuan masih dianggap sebagai bagian yang lemah. Kami sangat dibatasi. Hanya laki-laki yang bisa melakukan sesuatu sesuka hatinya.”


“Benar-benar tidak adil.”


“Memang.”


Aku melihat langit. Bulan sudah bergerak semakin ke barat. “Sudah dua jam. Bangunkan Ichi!”


“Dari mana kamu tahu sudah dua jam? Kau bawa jam?”


Aku menunjuk bulan. “Pergerakan bulan. Kita bisa tahu waktu dari pergerakannya.”


“Aku harus belajar banyak darimu.”


Setelah Ryza mengucapkan itu, dia segera membangunkan Ichi.


“Ichi, kau giliran jaga.”


 


Tak perlu waktu lama membangunkan Ichi. Begitu Ichi terbangun, dia sudah sadar sepenuhnya. Dia lalu menggantikan posisiku dan Ryza.


“Kau berjaga sendiri?” tanyaku.


“Ya, tidak masalah. Perjalanan kita masih panjang. Teman-teman yang lain belum terbiasa. Akan merepotkan jika mereka malah kelelahan,” jawab Ichi.


“Kau bisa membangunkanku jika kau mengantuk.” Aku memberitahu.


“Tenang saja. Aras akan ganti berjaga setelahku.”


“Baiklah.”


 

__ADS_1


__ADS_2