
Aku terbangun sebelum matahari terbit. Suara ketukan di pagi buta yang membangunkanku. Ketika aku membuka pintu, ternyata Jenderal Risagu yang menjemputku.
“Aku kira kau sudah pulang ke Klan Ungu, Jenderal,” kataku.
“Aku akan pulang setelah kau berangkat. Sekarang waktunya untuk bersiap. Setelah itu kau harus berkumpul di depan istana. Kau akan pergi sebelum matahari terbit.”
“Baik.”
Aku menutup pintu lalu bergegas berganti baju. Aku mengendong tasku. Menyandangkan rapier dan pistol di pinggang. Aku menaruh pisau dibalik baju. Setelah semua beres, aku menutup pintu kamar kemudian pergi menuju depan istana.
Baru ada aku, Ichi, dan Aras di depan istana. Pemilik galur murni yang lain belum datang. Tak lama kemudian, Azuro dan Ryza datang. Kami menunggu Bara dan Tiha dalam diam. Tidak ada yang berbicara.
“Huaah, halo.” Bara menyapa dengan wajah yang masih mengantuk. Di belakangnya Tiha berjalan sambil mengusap-usap wajahnya.
“Astaga, kenapa kita pergi pagi-pagi sekali,” keluh Tiha.
“Itu karena kalian akan melakukan perjalanan yang panjang.” Kaisar Icus datang bersama Archi dan perwakilan dari setiap klan, termasuk Jenderal Risagu. Masing-masing dari mereka membawa seekor kuda.
“Ini adalah tunggangan kalian untuk turun dari Klan Putih.”
Jenderal Risagu memberikan seekor kuda padaku.
“Masa depan dunia klan bergantung padamu,” kata Jenderal Risagu.
Jenderal Risagu mendekat padaku. Dia membisikkan sesuatu. “Amethyst sangat penting bagi klan kita, terutama saat Ragnarok. Tanpa Amethyst, Ragnarok kali ini akan menjadi perang terakhir klan Ungu.”
Aku menatap Jenderal Risagu dengan penuh keyakinan. “Aku tidak akan membiarkan klan kita kalah di Ragnarok. Apapun yang terjadi, aku akan menyelesaikan misi ini.”
Jenderal Risagu menepuk pundakku. “Nyawa Klan Ungu ada di tangamu, Violet. Berusahalah dan jaga dirimu.”
“Siap.” Aku memberi hormat.
Jenderal Risagu membalas hormatku.
Aku meloncat naik ke atas Kuda.
“Pergilah ksatria-ksatria terhebat tujuh klan. Kami berharap banyak pada kalian. Semoga berhasil.” Kaisar Icus melepas kami.
Aku, Ichi, Aras, Azuro, Ryza, Bara, dan Tiha langsung memacu kuda kami.
Ichi memimpin di depan. Ini adalah wilayahnya. Dia lebih tahu daripada kami. Ichi memilih jalan melewati luar kota. Kami memutar menghindari keramaian penduduk.
Setelah cukup jauh dari kota, Ichi menghentikan laju kudanya.
“Ada apa?” tanya Azuro.
“Kita harus menentukan tujuan kita dulu,” jawab Ichi. “Selain itu kita perlu tahu kekuatan setiap orang di sini.”
“Ichi benar. Lebih baik jika kita mengetahui kemampuan masing-masing,” kataku. “Aku akan memulainya. Sesuai yang dikatakan Kaisar Icus tadi malam, aku adalah seorang pelacak jejak. Aku bisa melihat jejak.”
“Keistimewaanku mengendalikan angin,” kata Ichi.
“Aku bisa mengendalikan tanah,” kata Aras.
“Aku mengendalikan air,” kata Azuro.
“Aku bisa menumbuhkan tanaman,” kata Ryza.
“Aku bisa mengeluarkan api dari tubuhku,” kata Bara.
“Aku bisa mengendalikan cahaya, khususnya cahaya matahari,” kata Tiha.
Kami selesai memberitahu keistimewaan masing-masing.
Ichi melihat ke arahku. “Violet, kemana sebaiknya kita harus pergi? Kau harusnya lebih tahu daripada kami dengan kestimewaanmu.”
“Jejak permata yang aku lihat masih samar semua, hampir tidak terlihat. Tapi tadi malam Azuro sudah member tahu jika ada sapphire di Klan Biru Timur. Kita bisa pergi ke sana untuk mengambilnya.” Aku berpendapat.
“Ada pendapat lain?” tanya Ichi.
“Dia adalah pencari jejak. Aku rasa dia adalah penuntun kita di misi ini,” kata Ryza.
“Kalau begitu, kita bergerak ke timur.”
__ADS_1
*****
Matahari telah terbit. Kami sudah bergerak selama lima jam. Ryza, Tiha, dan Azuro tertinggal di belakang. Mereka sepertinya sudah kelelahan. Ichi yang menyadari itu, memerintahkan kami bergerak ke bawah pohon untuk beristirahat.
“Aku belum pernah berkuda selama ini. Punggungku terasa kram,” keluh Azuro.
“Kau tidak pernah bertarung, Azuro?” tanyaku.
“Tentu saja tidak. Aku seorang bangsawan. Mana mungkin aku melakukan itu,” jawab Azuro.
“Bagaimana dengan kalian?” Ichi bertanya kepada Tiha dan Ryza.
Tiha dan Ryza menggeleng.
“Aku terbiasa berkuda tapi tidak selama ini,” kata Tiha.
Ichi menghela nafas berat. “Aku pikir semua orang di sini adalah pemilik galur murni yang kuat.”
“Kalian harus membiasakan diri dengan perjalanan ini. Ini adalah perjalanan yang berat. Bisa saja kita terus bergerak seharian,” pesanku.
“Apa wilayah Klan Biru masih jauh?” tanya Bara.
“Lumayan. Jika kita bergerak cepat, besok pagi kita bisa turun dari Klan Putih ke Klan Biru,” jawab Ichi.
“Besok pagi?! Yang benar saja,” pekik Tiha. “Aku belum pernah melakukan perjalanan selama itu.”
“Walaupun di langit, wilayah Klan Putih sangat luas seperti halnya di daratan,” kata Ichi.
Kami beristirahat selama lima belas menit. Setelah itu kami kembali melanjutkan perjalanan.
Wilayah Klan Putih memiliki keadaan yang hampir sama dengan daratan biasa. Tapi tumbuhan di sini berukuran lebih kecil daripada umumnya. Paling besar hanya setinggi empat meter.
Matahari mulai terberbenam ketika kami tiba di daerah yang gersang dan berbatu. Hanya ada datu dua pohon di sini. Sisanya rumput atau semak belukar.
“Kita harus cepat melewati daerah ini. Waspadalah! Tempat ini adalah sarang binatang buas.” Ichi memperingatkan.
Kami bergerak lebih cepat untuk melewati daerah ini. Tapi ini tempat yang luas. Kami masih belum melihat ujungnya.
“Huahh.” Bara berteriak ketika kudanya tiba-tiba meringkik ketakutan. Kuda-kuda yang lain juga berperilaku sama. Sepertinya mereka merasakan ketakutan yang sama.
Kami semua berhenti lalu mengamati sekitar. Senyap tidak ada apapun.
Yang lain mungkin tidak melihatnya tapi aku bisa melihatnya. Ada sesuatu tidak berwujud mendekati kami. Aku bisa melihat jejak mereka.
“Siapkan senjata kalian. Ada yang mendekati kita. Aku tidak tahu apa tapi ada lima jejak yang mendekati kita.” Aku memberi peringatan.
Aku menggenggam rapierku. Jejak-jejak itu terus mendekat.
Groaammm
Tiba-tiba jejak-jejak itu memunculkan wujud mereka. Mereka adalah singa-singa berukuran dua kali lipat dari yang biasa aku lihat. Singa-singa itu melompat menerkam berbarengan. Ichi bergerak cepat. Dia menghempaskan singa-singa itu dengan anginnya. Tapi mereka kuat. Singa-singa itu hanya mundur beberapa meter.
Seekor singa meloncat ke arahku. Aku segera menghalaunya. Pedangku bertubrukan dengan kuku singa membentuk cipratan api. Singa-singa lain ikut menyerang. Aku tidak sempat melihat keadaan yang lain. Singa di depanku terus menyerang secara bertubi-tubi.
Aku berhasil melukai tangan singa itu. Singa itu bertambah marah. Dia menggigit kudaku lalu menyeretnya. Aku menjatuhkan diri dari kuda, tidak terlalu mulus. Kakiku menghantam sebuah batu besar di tanah.
“Violet, awas di belakangmu!”
Aku menoleh ke belakang. Seekor singa menerjang ke arahku. Aku mengibaskan pedangku. Darah muncrat mengenai wajahku. Aku berhasil merobek wajahnya. Singa itu tidak mundur, dia malah menyerang sekitarnya dengan kalap.
“Singa-singa itu berdatangan lagi.” Aku melihat sepuluh jejak yang sama bergerak mendekati kami. “Ada sepuluh singa.”
Semuanya terlihat panik. Lima singa raksasa ini sudah membuat kami kewalahan. Bagaimana jika ada lima belas.
“Kita mundur. Semuanya ikuti aku!” seru Ichi.
Ichi menyuruhku untuk naik ke kudanya. Begitu aku naik, dia langsung memacu kudanya. Kami berkuda ke timur. Singa-singa itu masih mengejar kami. Kini semua singa itu telah menampakkan diri. Kami dikejar oleh kawanan singa.
“Hey, Aras, gunakan kekuatanmu untuk menghentikan singa-singa itu!” seru Bara.
“Kita bisa jatuh ke bawah jika aku menggerakkan tanah Klan Putih,” ujar Aras.
“Kalau begitu aku akan membakar mereka.” Bara membalikkan badan ke belakang.
“Jangan! Kau bisa membakar seluruh daerah ini,” cegah Ryza.
“Mau bagaimana lagi.” Bara meloncat turun dari kudanya. Dia benar-benar serius untuk membakar singa-singa itu.
Aku tidak bisa membiarkan Bara membakar singa-singa itu. Apinya bisa merambat ke rerumputan dan membakar semua daerah ini.
__ADS_1
Aku meloncat dari kuda.
“Bodoh!”
Aku tidak mempedulikan teriakan Ichi. Aku harus bergerak cepat sebelum Bara mengeluarkan apinya.
Slash... slash... Jelb..
Aku menebas dan menikam titik vital lima belas singa itu. Singa-singa itu jatuh bergelimpangan. Tubuh mereka tidak mengeluarkan darah, melainkan memudar secara perlahan.
“Hebat sekali. Aku belum pernah melihat permainan pedang sehebat itu,” kata Tiha takjub.
“Violet, kau mengambil bagianku!” Bara berseru sebal.
“Tindakanmu terlalu berbahaya di daerah ini,” kataku.
Ichi, Ryza, Aras, dan Azuro mendekati kami.
“Kau baik-baik saja, Violet? Tadi aku melihat kakimu terbentur batu.” Ryza khawatir pada keadaanku.
“Tenang saja. Aku tidak apa-apa,” jawabku.
“Dasar Bodoh! Melompat ke tengah kawanan singa sama saja dengan bunuh diri!” Ichi memarahiku.
“Kau juga!” Ichi menunjuk Bara. “Jangan bertindak sembarang! Kau nanti hanya akan menambah masalah.”
“Sudahlah, Ichi. Setidaknya mereka baik-baik saja dan Violet juga sudah mengalahkan kawanan singa itu.” Ryza menenangkan.
Ichi berbalik meninggalkan kami.
“Azuro, berbagilah kuda dengan Violet. Kudanya sudah mati diserang singa tadi.”
“Baiklah.” Azuro menoleh ke arahku. “Naiklah. Kau duduk di belakangku.”
“Di belakangmu? Apa tidak lebih baik Violet yang memegang kendali kuda? Dia jauh lebih ahli darimu,” kata Tiha.
“Tapi aku seorang laki-laki.” Azuro menolak.
“Percuma kau laki-laki jika perempuan yang ada di belakangmu lebih kuat,” ejek Bara.
Azuro berdecak kesal tapi dia menggeser tubuhnya ke belakang. Aku naik ke kuda. Kami lalu kembali melanjutkan perjalanan.
*****
Tepat ketika matahari tenggelam, kami sampai di ujung wilayah Klan Putih bagian timur.
“Kita tinggi sekali.” Tiha bergindik takut ketika melihat daratan dari ujung wilayah Klan Putih.
“Kita akan turun besok pagi. Malam ini kita beristirahat di sini,” kata Ichi.
“Kita turun pakai apa?” tanya Bara. “Kita tidak mungkin meloncat dari sini, kan?”
Ichi tertawa. Baru sekarang aku melihatnya tertawa. Dari kemarin dia terus marah-marah.
“Apa kau benar-benar bodoh? Kuda kita bisa memunculkan sayap untuk turun ke bawah.”
Ichi dan Bara mengikat kuda-kuda kami di pohon. Sementara itu Tiha dan Ryza menyiapakan makanan. Bara dan Aras membantu mereka menyiapkan api. Aku sedang tidak melakukan apapun. Jadi aku memutuskan untuk duduk di ujung wilayah Klan Putih sambil menikmati matahari terbenam.
“Jangan terlalu ke pinggir. Kau bisa jatuh.”
Aku menoleh. Rupanya Aras.
Aku berdiri, hendak meninggalkan tempat dudukku.
“Violet.” Aras menahan tanganku.
Aku menarik tanganku. “Lepaskan.”
“Hey, kita sudah lama tidak bertemu. Setidaknya perlakukan aku seperti teman-teman yang lain.”
“Lebih baik kita tidak bertemu selamanya. Lebih baik kau juga membunuhku saat kau membunuh Ova.”
Aras melepas tanganku. Wajah Aras menggelap. “Violet, aku–”
“Jangan panggil namaku. Aku sudah berbaik hati padamu dengan tidak melakukan apapun karena kita dalam misi yang sama. Sebaiknya kau jaga sikapmu agar aku tidak perlu melakukan hal yang sia-sia.”
Aku melangkah pergi meninggalkan Aras bersama dengan tenggelamnya matahari.
“Apa kita tidak bisa seperti dulu? Setidaknya ketika melihat matahari tenggelam.”
__ADS_1
“Matahari terlihat seperti darah jika bersamamu.”