
Hujan berhenti menjelang sore hari. Tepat ketika Aras dan Azuro berangkat ke Istana Neptune. Aku sudah mengembalikan surat dari Ratu Mai kepada Azuro. Mereka pergi ke istana menggunakan kereta kuda miliki Hermes. Aku sendiri pergi memakai kuda yang dibeli Azuro kemarin. Ketika aku pingsan kemarin, ternyata Aras dan Azuro menemukan kuda yang aku pakai dan membawanya ke rumah Hermes.
Aku pergi ke atas tebing yang tidak jauh dari istana. Dari sini aku bisa mengawasi sebagian besar istana. Hampir tidak ada celah untuk masuk ke dalam. Para prajurit berjajar di depan benteng seperti membuat benteng hidup di depan benteng. Sepertinya mereka memperketat penjagaan setelah kejadian kemarin. Pengawasan paling ketat berada di barat dan selatan istana, sedangkan pengawasan lemah adalah bagian utara. Hanya ada sekumpulan prajurit kecil di sana. Tapi bagian utara memiliki pertahanan yang kuat berupa sungai besar.
Aku tidak memiliki bom asap atau benda lainnya yang bisa mengalihkan perhatian mereka. Senjataku di sini hanya pisau dan pedang. Menyerang mereka terang-terangan adalah tindakan bodoh. Tapi selama ada peluang, aku tidak masalah melakukannya.
Aku memandang bagian barat laut benteng, perbatasan antara sungai daratan. Tempat itu tidak dijaga banyak prajurit karena daratan di sana agak sempit. Selain itu mereka tidak terlihat seperti prajurit terlatih. Aku memacu kuda ke barat daya istana. Tempat itu aku pilih sebagai pintu masukku.
Aku mengikat kudaku jauh dari benteng istana. Aku sendiri sudah maju hingga dekat dengan benteng. Ada sebuah taman kota di barat laut benteng. Hari ini taman tidak terlalu ramai. Aku duduk di salah satu bangku taman sambil mengawasi para prajurit.
Penampilanku saat ini mencolok untuk ukuran perempuan yang sedang berjalan-jalan di taman. Aku memakai jubah dan tudung hitam. Sebenarnya tadi Hermes memberiku jubah dan tudung berwarna biru langit dengan hiasan border keemasan. Dia bilang itu adalah busana yang sedang populer di Klan Biru Timur. Aku agak menyesal meninggalkannya di rumah karena sekarang aku dikelilingi orang\-orang yang memakai tudung dan jubah yang cantik. Aku merasa seperti perempuan miskin yang tidak memiliki uang untuk membeli jubah.
Aku menatap orang-orang yang sedang bermain di taman. Rasanya tidak mungkin jika aku menerobos pertahanan istana dengan dilihat banyak orang.
Aku menghela nafas pendek. Aku harus pindah ke tempat lain.
Ada penyewaan perahu di pinggir sungai. Pemilik perahu agak ragu denganku ketika aku bilang ingin menyewa perahunya. Kebanyakan yang menyewa perahu adalah pasangan datang sendiri.
“Apa kau yakin kuat mendayungnya, Nona?” tanya Penyewa.
“Apa aku terlihat selemah itu?” Aku balik bertanya dengan kesal.
Penyewa itu akhirnya memberikanku satu perahu.
“Ini.” Aku menyerahkan uang satu pound.
“Nona ini terlalu banyak. Kau cukup memberiku dua penny.”
“Ambil saja kembaliannya.”
Aku sengaja memberinya uang satu pound karena kemungkinan perahu ini tidak akan kembali. Itu adalah uang ganti rugiku.
Aku mendayung perahu itu melewati perahu-perahu lain. Beberapa kali perahu lain hampir menabrakku. Mereka sangat amatir dalam mendayung. Aku menghabiskan lebih banyak energi untuk menghindari mereka daripada bergerak mendekati benteng.
Sekarang aku berada di posisi paling dekat dengan benteng, tepat di depannya. Aku tidak menyangka, benteng ini memiliki bagian yang melekuk ke dalam. Itu bisa menjadi pelindungku untuk masuk ke dalam area istana.
Aku mulai menaiki benteng istana. Temboknya agak licin karena berlumut. Tapi aku berhasil tiba di area istana.
Aku merasakan ada beberapa orang mendekat. Aku segera bersembunyi. Aku melihat tiga orang bergerak cepat melewatiku. Aku terkejut melihat mereka. Mereka adalah Ichi, Ryza, dan Bara.
*Apa yang mereka lakukan di sini*?
Aku mengkuti mereka. Mereka masuk ke dalam lorong penjara istana. Dari ujung lorong, aku bisa melihat mereka berhenti di ujung penjara. Aku melangkah ke dalam lorong. Ichi menyadari pergerakkanku. Dia berbalik dengan cepat. Aku melangkah ke arah mereka dengan santai.
“Violet?” Mereka bertiga terkejut melihatku.
Aku menghembuskan nafas lega. “Akhirnya kita bisa bertemu lagi.”
Bara maju ke depanku. “Kau dari mana saja?”
“Banyak yang terjadi. Aku tidak bisa menceritakannya sekarang.”
“Apa Aras, Azuro, dan Tiha bersamamu?” tanya Ichi.
Aku mengangguk. “Tapi Tiha sedang berada di penjara istana ini. Aku, Aras, dan Azuro sedang menyelamatkannya dan memenuhi panggilan Ratu Mai, Ratu Klan Biru Timur.”
“Maksudmu?” Ryza tidak paham.
Aku menjelaskan misi kami dari Klan Biru Barat, undangan dari Ratu Mai, dan sedikit perjalanan kami di Klan Biru Timur.
“Sebaiknya biarkan Aras dan Azuro melakukan tugasnya. Kalian bantu aku membebaskan Tiha,” kataku.
“Sebenarnya kami ke sini karena merasakan energi kuat dari tempat ini. Tapi kalau Aras dan Azuro akan mengambilnya, kami akan ikut bersamamu,” kata Bara.
“Kalian diijinkan masuk ke sini?”
Jika mereka masuk ke dalam istana dengan ijin resmi, lebih mudah bagi kami untuk membebaskan Tiha.
“Penjaga-penjaga bodoh itu tidak membiarkan kami lewat. Kami membereskan mereka tadi,” jawab Ichi. “Tenang saja. Tidak ada prajurit lain yang tahu.”
Aku mengangguk mengerti. “Kalau begitu, ikuti aku.”
Aku memimpin jalan. Kami berbelok di persimpangan lorong. Aku mengikuti jejak Tiha. Lorong yang kami lewati ternyata bukan penjara, hanya lorong biasa. Samar-samar terlihat pintu di ujung lorong. Ada ruangan terang dibalik pintu itu. Cahayanya masuk melalui lubang kunci.
Aku mengintip bentuk ruangan itu dari lubang kunci.
“Lorong istana?”
Aku melihat lorong yang besar dengan jendela besar di dinding dan karpet biru melapisi lantainya. Aku juga melihat pelayan yang hilir mudik membawa barang.
“Pintu ini terhubung ke lorong istana.” Aku memberitahu.
“Kau bilang Tiha dipenjara?” Ryza memastikan ucapkanku tadi.
“Aku kira begitu.”
Aku melihat ke lubang kunci sekali lagi untuk memeriksa jejak Tiha. Jejaknya mengarah ke selatan, dekat dengan sumber sapphire. Aku menunggu hingga lorong istana sepi. Setelah memastikan keadaan aman, aku membuka pintu lorong.
__ADS_1
“Ikuti aku.”
Aku masih memimpin jalan. Tidak banyak orang yang kami temui. Sekalipun kami bertemu penghuni istana, Ichi selalu memukul tengkuk mereka, membuat mereka pingsan.
Aku berhenti di depan pintu besar. Jejak Tiha masuk ke dalam pintu ini. Aku menatap pintu besar ini. Jika pintunya sebesar ini kemungkinan, ruangan dibalik pintu adalah sebuah kamar.
“Ada apa, Violet?” tanya Ichi.
“Tiha masuk ke dalam sini. Tapi rasanya aneh jika dia memang di dalam,” jawabku.
Krieett…
Pintu kamar terbuka. Aku, Ichi, Bara, dan Ryza bersembunyi dibalik pintu. Seorang gadis berambut jingga keluar dari ruangan.
“Tiha!” seru Ryza.
Tiha menoleh. Dia juga tampak terkejut melihat kami.“Kalian?”
Tiha menoleh ke sekitar untuk melihat keadaan.
“Ayo masuk.” Dia mengajak kami masuk ke ruangannya.
“Kenapa kalian ada di sini?” Tiha menutup pintu kamarnya.
“Aku kira kau dipenjara seperti Aras dan Azuro. Jadi kami menyelamatkanmu. Tapi ternyata kau malah ada di tempat seperti ini.” Aku duduk di kursi sofa sambil memperhatikan kamar Tiha.
“Kau punya hubugan khusus dengan Klan Biru Timur, Tiha?” selidik Ichi.
“Bagaimana, ya? Sebelumnya aku juga tidak tahu jika ayah angkatku adalah kenalan Ratu Mai.” Tiha menjawab dengan nada ceria, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Lalu mana yang kau pilih, Tiha? Hubunganmu dengan Ratu Mai atau misi kita?” Aku mengajukan pertanyaan dengan tegas.
Tiha diam. Dia menatap jendela kamarnya. “Ratu Mai tidak akan memberikan sapphire apapun alasannya. Utusan Klan Biru Barat yang datang hanya akan mendapat hasil yang sia-sia.”
“Utusan Klan Biru Barat? Maksudmu Aras dan Azuro? Kalau begitu kenapa ratu mengundang kalian?” tanya Ryza.
Tiha menggeleng. “Aku juga tidak tahu.”
Aku berdiri lalu berjalan keluar pintu. “Itu tidak bisa dibiarkan. Kita harus mendapatkan sapphire sekarang juga. Biarkan Aras dan Azuro mengalihkan perhatian ratu untuk saat ini.”
“Aku ikut denganmu!” Bara berlari ke sampingku.
“Tapi Violet, apa kau tahu dimana sapphire sekarang?” tanya Tiha.
“Kau lupa siapa aku, Tiha? Aku ini adalah pelacak jejak.”
Sapphire berada di bagian selatan istana. Tepatnya di tengah-tengah taman belakang istana. Sapphire itu tergeletak tanpa perlindungan berarti di atas sebuah batu karang besar yang ada di tengah taman.
Aku, Ichi, Tiha, Bara, dan Ryza belum tiba di taman itu. Kami masih bersembunyi di lobi belakang istana. Ada banyak prajurit berjaga di sekitar taman. Tampak jelas mereka adalah prajurit berpengalaman. Dua diantara mereka adalah pemilik galur murni.
“Ada dua pemilik galur murni di sini. Satu perempuan yang sedang berdiri di depan sapphire dan satu lagi adalah laki-laki yang berbaring di bawah pohon.”
“Apa mereka kuat?” tanya Ryza.
“Aku tidak tahu. Aku hanya bisa melihat mereka pemilik galur murni atau bukan. Seharusnya mereka prajurit terlatih,” jawabku.
“Bara alihkan perhatian mereka. Violet, kau ambil sapphire itu. Hanya kau yang memakai sarung tangan. Aku dan Ryza akan melindungimu. Kita bergerak setelah aku memberi kode.” Ichi memberi arahan.
Aku, Bara, dan Ryza mengangguk.
“Lemparkan bola api ke sapphire, Bara,” perintah Ichi.
"Kau yakin? Bagaimana jika permata itu terbakar?"
“Sapphire tidak akan terbakar."
“Baiklah.”
Sebuah bola api meluncur mengenai sapphire. Para prajurit terpaku pada bola api yang lewat di atas mereka.
“Sekarang!”
Waktu hingga bola api itu mendarat sangat singkat, mungkin hanya beberapa detik. Sebelum mereka sadar bola api itu akan jatuh di atas sapphire, kami bergerak maju.
“Penyusup!”
Perempuan pemilik galur murni itu menyadari kami. Saat itu juga bola api Bara jatuh tepat di atas sapphire. Para prajurit itu terkejut melihatnya. Sapphire memantulkan bola api itu. Api menyebar walaupun rerumputan masih basah karena hujan.
Para prajurit langsung menyerang kami. Ryza dan Ichi melindungiku. Ichi menghempaskan para prajurit dengan anginnya. Ryza mengikat para prajurit dengan sulur pepohonan. Aku sendiri dengan pedangku membuat jalan menuju sapphire.
Tiba-tiba api biru menyerangku dari depan. Ichi bergerak cepat. Dia meniup api biru itu menjauh. Di depanku berdiri perempuan pemilik galur murni.
“Aku tidak percaya bisa bertemu denganmu di sini, Pembunuh. Aku Aria, prajurit khusus Klan Biru Timur.”
Aku menatap Aria tajam. Dia terlihat seumuran denganku atau mungkin satu tahun lebih tua.
__ADS_1
Hawa dingin berhembus. Lebih menusuk dari biasanya. Dingin seperi es. Hawa dingin itu berasal dari seorang laki-laki pemilik galur murni. Rumput di sekitarnya membeku, merambat perlahan ke arah kami, namun semakin lama semakincepat.
Ichi melocat menghidari pembekuan itu. Ryza terlambat bergerak. Dia terjebak dalam es.
“Aishe, kau urus mereka. Aku akan mengurus gadis ini.” Aria di depanku berbicara kepada laki-laki pemilik galur murni.
Aria menyemburkan api biru ke arahku. Dia persis seperti Bara. Bedanya api Aria berwarna biru. Masalahnya api biru lebih panas dari api merah.
Aria mengurungku dan dirinya di lingkaran api biru.
“Kau sepertinya memiliki urusan pribadi denganku.” Aku menyiapkan pedang.
Aria tersenyum. “Tentu saja. Kau mungkin tidak tahu tentangku tapi aku sangat tahu tentang dirimu. Aku tidak mungkin melupakan pelaku pembunuhan keluarga raja Klan Biru Timur. Membunuhmu adalah salah satu mimpiku.”
“Untunglah itu bukan mimpi terbesarmu. Kau hanya menyinyiakan hidup jika menghabiskan waktu untuk mengejarku”
“Impian terbesarku jauh lebih tinggi daripada nyawamu.”
Aria menyerangku. Api biru menyembur ke arahku. Aku meloncat menghindar. Pergerakkanku terbatas karena lingkaran api. Rambutku sedikit terbakar karena menghindar terlalu dekat dengan lingkaran api.
Aku ganti menyerang sebelum dia menyerangku lagi. Aku mengayunkan pedang. Responnya agak lambat, aku berhasil melukai tangannya. Dia kembali mengeluarkan api dari tangannya. Aku menghindar ke samping, mengeluarkan pisauku lalu menyerangnya. Aku tangan kanannya. Aria berhasil berkelit tapi tidak sempurna. Tangan kanannya selamat, namun urat kaki kanannya terpotong.
Aria terjatuh. Dia sangat terkejut ketika tidak bisa menggerakkan ujung kaki kanannya.
“Seperti yang dapat diduga penyerang jarak jauh lemah terhadap serangan jarak dekat. Kau harusnya lebih melatih pertarungan jarak pendekmu.”
Aku mengibaskan pedangku, membuat jalan diantara pagar api. Sapphire tepat berada di depanku. Aku mengambilnya. Aku bisa merasakan kekuatan mahadahsyatnya. Bulu kudukku berdiri. Aku langsung menempatkan sapphire di kotak pemberian Azuro.
"Violet, menunduk!" Bara berseru kepadaku.
Api biru menyembur dari belakangku. Di depanku, Bara berdiri di atas batu karang mengeluarkan api merahnya. Kedua api berbeda warna itu meledak ke langit.
Akar pohon memanjang, membelit tubuh Aria. Aku menoleh ke Ryza. Ichi dan Ryza sepertinya berhasil mengalahkan Aishe. Tapi aku tidak melihat Aishe dimanapun. Sepertinya dia kabur setelah dikalahkan Ichi dan Ryza.
“Kau sudah kalah,” kata Ichi.
Aria menatap kami marah. Api biru muncul di sekeliling tubuhnya, membakar akar yang membelitnya.
“Aku tidak akan menyerahkan sapphire kepada kalian!”
Aria sudah bebas sepenuhnya. Dia melayangkan pukulan api kepada kami. Aku bisa merasakan itu adalah serangan yang hebat. Tindakannya berani tapi bodoh. Tidak mungkin dia bisa mengalahkan empat pemilik galur murni, sedangkan dia hanya sendiri.
Ichi menghembuskan angin kuat ke arah Aria. Aria berusaha bertahan. Kakinya terbenam ke tanah, menahan kuatnya angin Ichi. Aku memainkan pisauku. Aku memotong urat kedua tangannya dan kaki kirinya. Dia terjatuh. Ryza lantas mengikatnya dengan sulur pohon.
“Klan Biru Timur tidak akan membiarkan kalian membawa sapphire. Kami akan mengalahkan kalian! Sapphire hanya akan menjadi barang sia-sia di tangan kalian!” Aria terus berteriak.
Aku mendekatinya, berdiri di hadapannya.
“Kau sama sekali tidak pantas memegang sapphire! Tanganmu penuh darah rakyat Klan Biru Timur! Pembunuh tidak pantas menyentuh permata klan!”
“Apa yang kau bicarakan? Kau menyebut Ksatria Bintang ini seorang pembunuh? Apa kau tidak salah orang?” Bara tidak Terima dengan ucapan Aria.
Aria tertawa. “Dasar bodoh! Aku beritahu, dia adalah seorang pembunuh. Dia membunuh seluruh keluarga raja Klan Biru Timur! Dia membunuh prajurit kami. Teman kalian adalah seorang pembunuh!”
“Jaga mulutmu!” Ryza tidak terima dengan perkataan Aria.
“Cukup, Ryza,” kataku.
Aku menatap Aria di depanku ini. Aku tidak mengenalnya. Aku tidak tahu dia melihat secara langsung kejadian saat itu atau tidak. Tapi jelas dia memiliki dendam besar padaku.
“Kami tidak akan menyinyiakan sapphire. Kami akan membuat permata ini menjadi berguna untuk seluruh klan,” kataku pada Aria.
“Bohong! Semua yang kau katakan adalah kebohongan!”
“Aku tidak… bohong.”
Aku tiba-tiba merasakan kantuk yang sangat berat. Tidak hanya aku, Bara dan Ryza juga mengalaminya. Mereka sampai terduduk di tanah.
Seorang kakek tua berjalan mendekati kami. Walaupun sudah tua, dia berjalan dengan tegap. Badannya masih gagah. Lencana-lencana kehormatan tersemat di bajunya. Aku mengenal wajahnya, jejaknya, keistimewaanya. Dia tidak asing bagiku.
“Berani sekali kau datang ke sini lagi.” Kakek itu menayapku tajam.
“Wah, sudah lama kita tidak bertemu, Jenderal Albet.” Aku tersenyum kepada Jenderal Albet diantara serangan kantuk yang dahsyat.
Rasa kantukku semakin menjadi-jadi. Aku harus bertumpu pada pedangku. Ichi juga mengalami hal yang sama. Dia tadi terlihat baik-baik saja tapi sekarang kedua tangannya sedang menahan tubuhnya agar tidak tertidur di tanah seperti Bara dan Ryza saat ini.
Aku pernah beberapa kali bertemu Jenderal Albet pada delapan tahun yang lalu. Dia adalah panglima jenderal Klan Biru Barat sejak ayah Ratu Mai memimpin. Jenderal Albet juga seorang pemilik galur murni dan keistemewaannya adalah menidurkan orang lain. Dia adalah orang yang mengalahkanku delapan tahun yang lalu dan membuatku dihukum mati.
“Kau bertambah kuat sekarang. Dulu kau langsung tertidur begitu aku menggunakan keistimewaanku.”
Aku tidak mau kalah seperti dulu. Aku berusaha mengumpulkan kesadaranku. Aku mengayunkan pedangku ke arahnya. Jenderal Albet dapat menghindarinya dengan mudah. Dengan keadaan seperti ini, aku tidak cukup kuat untuk menyerangnya.
Angin berhembus kencang. Ichi sedang berusaha melawan Jenderal Albet. Dia menerbangkan berbagai macam benda ke Jenderal Albet. Tapi Jenderal Albet memotong setiap benda yang datang dengan pedangnya. Dia mengarahkan tangannya ke Ichi, memfokuskan serangan kantuknya pada Ichi.
Aku bisa merasakan pengaruhnya padaku berkurang. Aku mengambil kesempatan itu untuk menyerang.
Trang…
Jenderal Albet bisa menahan seranganku sembari menidurkan Ichi. Ichi tiba-tiba terjatuh dan tertidur.
__ADS_1
Jenderal Albet ganti memusatkan serangannya padaku. Kantuk yang sangat hebat menyerangku. Aku bahkan tidak bisa membuka mataku. Perlahan tubuhku merosot ke tanah.