
Setelah melewati Pegunungan Salju, padang rumput, dan lembah bunga, akhirnya aku, Ty, Aras, dan Miya tiba kembali ke hutan yang dipenuhi pepohonan besar dan tinggi.
Kami memutuskan untuk beristirahat di pinggir hutan untuk malam ini. Aku dan Ty menyiapkan daging selagi Aras menyalakan api. Miya mencari buah di hutan.
“Aras, apa kau bisa menemaniku pergi ke dalam hutan? Aku ingin mencari buah lebih banyak,” tanya Aras.
“Sebentar, Miya. Aku menyalakan api dulu,” jawab Aras.
“Hey, aku bisa menemanimu.” Ty menawarkan diri.
“Tidak perlu. Kau membantu Violet saja. Aku akan pergi bersama Aras,” tolak Miya.
“Aras masih lama. Kayu di sini agak basah. Dia akan menghabiskan banyak waktu untuk menyalakan api,” kata Ty.
Aku sama sekali tidak mengira Ty menawarkan diri untuk menemani Miya. Dari tadi dia berwajah masam pada Miya. Aku kira Ty membenci Miya. Tapi dia malah bersikeras menemani Miya.
“Sepertinya aku memang perlu memerlukan waktu agak lama untuk menyalakan api. Jika kau mau tetap ke hutan, Ty bisa menemanimu. Tapi aku pikir buah yang kau bawa sudah lebih dari cukup untuk kita,” kata Aras.
“Baiklah kalau kau bicara seperti itu.” Miya duduk di atas rumput dengan wajah kecewa. Dia akhirnya memilih untuk menemani Aras menyalakan api.
Aku sedang fokus memotong daging hingga tidak sadar Ty mendatangiku dengan wajah kesal.
“Nona!” seru Ty.
Aku mengangkat wajah dan menatap Ty.
“Ada apa, Ty?” tanyaku.
“Nona benar-benar akan membiarkannya?” bisik Ty.
Aku menaikkan satu alisku. “Maksudmu?”
Ty menunjuk Aras yang sedang berdua dengan Miya. Aras terlihat sedang meracik obat. Miya sepertinya juga mengerti tentang obat-obatan karena mereka tampak asyik mengobrol.
“Aku pikir mereka sedang membicarakan tentang obat herbal, Ty. Kenapa aku harus menghentikannya?”
Ty menepuk dahinya. “Astaga, aku tidak mengira Nonaku sangat polos!”
“Hah?”
Ty menggaet lenganku. Dia berbisik padaku.
“Nona, apa kau tidak sadar jika Miya itu sedang menggoda Aras?”
Aku menatap Aras dan Miya. Setelah diingat-ingat Miya dari tadi memang selalu menempel pada Aras. Mungkin benar Miya menggoda Aras. Ketika di Jadnew, dia juga digoda oleh beberapa gadis. Aras memang menarik. Aku tidak heran jika Miya juga tertarik pada Aras.
“Kelihatannya memang begitu,” jawabku.
“Lalu apa Nona akan membiarkannya?”
“Kenapa aku harus menghalanginya?”
“Nona!” Ty menggoyangkan lenganku dengan gemas.
Ty menatapku dengan wajah serius. “Apa kau tidak cemburu?”
“Eh?!” Aku merasakan pipiku mulai panas. “Kenapa kau bicara seperti itu?”
Ty tersenyum menggoda.
“Nona tidak perlu menutupinya. Kemarin malam, ketika Nona mengira aku sudah tidur, aku melihat kalian berciuman di depan perapian.”
“Apa?! Tidak!” teriakku.
“Ada apa, Violet?” tanya Aras ketika mendengar teriakanku.
__ADS_1
Miya yang ada di sampingnya juga ikut menatapku.
“Ah, tidak apa-apa. Kalian lanjutkan pekerjaan kalian saja,” jawabku.
“Baiklah. Jika ada apa-apa katakan saja,” kata Aras.
“Tentu,” jawabku.
Aras dan Miya kembali ke pekerjaan mereka.
Aku merangkul bahu Ty dan membawanya berbalik arah, membelakangi Aras.
“Ty, aku beritahu, ya. Kami tidak melakukan sesuatu seperti yang kau sebutkan tadi.”
“Aku sudah bilang, Nona tidak perlu malu. Nona bisa mengatakan padaku jika sebenarnya kalian sudah berciu–”
Aku menutup mulut Ty.
“Hmpp!!” Ty berusaha menyingkirkan tanganku dari mulutnya.
“Aku tidak akan melepaskannya sampai kau berjanji tidak mebicarakan itu lagi,” kataku.
Ty mengangguk. Aku kemudian melepaskan tanganku dari mulutnya.
Ty menghela napas lega.
Aku menatap Ty tajam, memberi peringatan agar dia tidak mengungkit masalah tadi.
“Anak kecil tidak seharusnya membicarakan hal seperti itu,” kataku.
“Tapi apa Nona benar-benar tidak cemburu?” Ty bertanya sekali lagi.
Aku menatap Aras dan Miya yang saling mengobrol. Miya sedang menertawakan sesuatu yang dikatakan Aras. Mereka terlihat sangat akrab. Dan aku tidak merasakan apapun.
“Aku rasa tidak, Ty,” jawabku.
Ty berteriak sangat kencang hingga Aras dan Miya menoleh kepada kami. Aku membekap mulut Ty dan mengunci kepalanya di lenganku.
“Violet?” Aras menatapku. Wajahnya menampakkan kekhawatiran sekaligus kekecewaan.
“Iya? Ada apa, Aras?” Aku pura-pura tidak tahu.
“Yang dikatakan Ty tadi...” Aras ragu menanyakannya.
“Ah, itu. Dia hanya mempraktikan kalimat yang pernah didengarnya dari bangsawan di Klan Biru. Tidak perlu kau hiraukan,” kataku.
Aras masih menatapku. Aku balas tersenyum padanya.
“Aras, bisa tolong aku?”
Miya menghentikan perhatian Aras padaku. Aku menghembuskan napas lega ketika dia kembali melakukan pekerjaannya.
“Nona! Aku tidak bisa bernapas,” keluh Ty.
Aku melonggarkan kuncianku tapi aku tidak melepaskan Ty. Aku menjitak kepala Ty dengan keras.
“Apa yang kau katakan barusan, hah?!” bisikku pada Ty.
“Ugh.. Maaf, Nona. Aku salah.”’
“Bisa-bisanya kau mengatakan hal seperti itu.” Aku menjitak kepala Ty sekali lagi.
“Maaf, Nona.”
Aku melepaskan Ty. Ketika aku melepaskannya, aku melihat air mata di wajahnya. Dia rupanya menangis.
__ADS_1
“Ty, kau cengeng.”
“Nona kejam sekali!” Ty menyeruduk lenganku dengan kepalanya.
Aku mendorong Ty menjauh dariku.
“Nah, Ty, antar ini pada mereka.” Aku menyerahkan daging yang sudah aku potong pada Ty.
“Nonaku orang yang kejam.”
Ty mungkin berkata seperti itu. Tapi dia tidak bersungguh-sungguh. Ty menerima daging dariku dan mengantarkannya kepada Aras.
Aku, Aras, Ty, dan Miya duduk melingkar di depan api unggun. Kami baru saja selesai menikmati makan malam.
“Huahhh...!” Ty menguap lebar. Dia mengusap matanya yang berair.
“Kalian tidur saja lebih dulu. Aku akan berjaga,” kata Aras.
“Baik...” jawab Ty.
“Ayo, Nona,” Ty menarikku pergi.
“Sebentar, Ty,” ucapku.
Ty berhenti menarikku.
Aku menoleh ke Aras. “Nanti bangunkan aku jika giliranku berjaga. Jangan memaksakan diri berjaga sampai pagi.”
Aras mengangguk.
Ty menarikku ke bawah pohon besar. Kami kemudian berbaring di sana. Aku merapatkan mantel Ty. Kami sudah jauh dari Pegunungan Salju. Tapi angin malam masih terlalu dingin untuknya. Apalagi Ty sempat terbenam di tumpukan salju.
“Nona tidak perlu mempedulikanku. Nona sebaiknya tidur juga,” kata Ty sambil menahan kantuk.
“Iya... iya. Aku sudah selesai. Aku akan segera tidur.” Aku menepuk pelan tubuh Ty yang berselimut mantel.
Kedua kelopak mata Ty perlahan-lahan menutup. Napasnya teratur ketika dia tidur.
Setelah memastikan Ty benar-benar tisur, aku bersiap untuk tidur. Tapi sebelum aku memejamkan mata, aku tiba-tiba teringat dengan Miya.
Tadi Ty hanya mengajakku untuk tidur. Aku juga lupa tidak mengajak Miya tidur bersama kami. Aku merasa bersalah karena tidak mengajaknya.
Aku bangkit duduk.
“Ah, dia bersama Aras,” gumamku.
Miya tidur meringkuk di samping Aras yang sedang duduk berjaga. Angin malam berhembus dingin.
Aras melepas mantel yang kami dapat di desa di Pegunungan Salju. Dia menyelimutkan mantelnya di atas tubuh Miya.
“Sepertinya aku tidak perlu mengkhawatirkannya. Aras pasti akan menjaganya.”
Aku menyentuh dadaku. Entah kenapa, saat melihat mereka sekarang, dadaku terasa tidak enak.
“Kau belum tidur, Violet?”
Suara Aras membuyarkan lamunanku.
“Kau harus segera tidur jika ingin menggantikanku berjaga nanti,” kata Aras.
“Ah, kau benar. Aku hanya kepikiran sesuatu tadi. Aku akan segera tidur.” Aku segera berbaring di samping Ty.
“Selamat tidur, Violet,” ucap Aras.
__ADS_1