
“Aku dan Miya akan pergi ke hutan sebentar. Kami ingin mencari beberapa tumbuhan untuk obat,” kata Aras.
“Baiklah hati-hati,” pesanku.
Ty hanya menatap Aras dan Miya dengan tatapan jengah. Dia memutar bola matanya kemudian memalingkan wajah sambil berdecak kesal.
Aras dan Miya masuk ke dalam hutan meninggalkanku dan Ty. Begitu mereka menghilang dari pandangan, Ty berteriak frustasi.
“Arghh!!” Ty mengacak rambutnya.
“Kenapa, Ty?”
“Nona!” teriak Ty. “Kenapa Nona setuju-setuju saja?”
“Mereka hanya pergi ke hutan untuk mencari tumbuhan.”
“Tapi mereka hanya berdua!”
Ty dari kemarin memang menunjukkan sikap tidak suka pada Miya. Tapi aku teringat ketika Ty bersikeras menawarkan diri menemani Miya mencari buah di hutan. Aku jadi berpikir jika mungkin Ty tipe yang kikuk di depan orang yang dia sukai.
“Kau menyukai Miya?” Aku menatap Ty.
“Hah?! Nona! Dari mana Nona bisa menyimpulkan itu? Aku sama sekali tidak menyukai Miya!”
Aku menyeringai melihat wajah Ty yang memerah.
“Tapi wajahmu merah, Ty. Kau pasti tipe orang yang kikuk di depan orang yang kau sukai.”
“Ini karena aku berteriak pada Nona. Lagi pula mana mungkin aku menyukai perempuan yang sangat jauh lebih tua dariku. Aku terlalu muda untukknya,” bela Ty. “Kecuali Nona. Aku suka.”
Aku mengibaskan tangan. “Tidak perlu menggodaku, Ty untuk menutupi perasaanmu.”
Ty jatuh berlutut di hadapanku. Dia merasa putus asa karena aku tidak mempercayainya.
“Nona, kau sama sekali tidak berpengalaman tentang cinta,” kata Ty.
Aku tidak bisa memungkiri ucapan Ty jika aku tidak berpengalaman tentang cinta. Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan laki-laki seumur hidupku. Aku dekat dengan Aras tapi sejujurnya kami tidak memiliki hubungan yang romantis seperti itu.
“Tapi aku rasa aku cukup mengerti.” Aku membela diri.
Aku mengerti perasaan Ryza kepada Ichi. Mereka terlihat saling tertarik. Ichi juga cukup perhatian kepada Ryza. Bara dan Tiha aku yakin juga saling tertarik satu sama lain, meskipun mereka sering bertengkar. Mereka hanya pasangan kikuk.
“Darimana Nona bisa menyimpulkan itu?” Ty menatapku tidak yakin. “Apa Nona pernah membantu percintaan orang lain?”
“Mungkin?”
“Aku yakin Nona salah besar dalam memahami hubungan mereka.” Ty berkata padaku dengan wajah sangat datar.
Aku sangat terkejut mendengar ucapan Ty.
Salah? Mana mungkin aku salah memahami hubungan Ryza Ichi dan Bara Tiha. Tapi jika Ty benar, berarti aku sudah salah besar selama ini, batinku bergejolak.
Aku menunduk, merenungi pemikiranku selama ini. Aku jadi meragukan diriku sendiri.
“Nona, ayo kita pergi!” Ty mengulurkan tangannya padaku.
Aku mengangkat wajah.
“Kemana?” Aku menerima uluran tangan Ty.
“Tentu saja menyusul Aras dan Miya. Kita tdak bisa membiarkan mereka berduaan saja.” Ty menarikku pergi masuk ke dalam hutan.
__ADS_1
Aku menahan Ty. “Kita tunggu di sini saja.”
“Kenapa, Nona? Kita tidak bisa membiarkan Miya terus mendekati Aras!”
“Biarkan saja mereka berdua. Miya mungkin bersikap seperti itu karena dia kesepian. Dia terpisah oleh rombongannya.”
Ty menatapku kecewa. “Bagaimana Nona bisa bicara seperti itu?”
Aku menghindari tatapan Ty. Aku tahu betul bagaimana rasanya kesepian. Itu sangat tidak menyenangkan. Rasanya hampa dan menyesakkan. Aku tidak mau orang lain merasakan kesepian hanya karena keegoisanku. Lagipula Miya tidak selamanya bersama kami. Dia hanya sementara.
“Padahal aku sudah memutuskan untuk menyerah dan mendukung hubungan mereka berdua,” gumam Ty.
Ty menarik napas panjang. “Aku tidak peduli Nona mau atau tidak. Tapi kita harus pergi menyusul mereka sekarang juga.”
Ty menarikku paksa. Mau tidak mau akhinya aku mengikutinya.
Aku dan Ty menyusul Aras dan Miya dengan memanfaatkan keistimewaanku. Jejak mereka menuntun kami menuju bagian hutan yang cukup dalam.
“Nona, pokoknya jika kita sudah menemukan mereka, Nona harus mengatakan dengan tegas jika Aras adalah milik Nona.”
“Ty, bicaramu makin hari makin aneh saja.”
“Nona, aku serius!”
Aku hanya bergumam tidak jelas menanggapi Ty. Bukannya aku tidak menyutujui idenya. Tapi aku merasa itu tidak terlalu berguna. Selain itu, mengatakan jika Aras adalah milikku itu sangat memalukan.
BRAKK BRUKK
Aku mendengar suara pertarungan. Suaranya berasal dari arah jejak Aras dan Ty. Aku dan Ty langsung berlari menuju sumber suara pertarungan itu.
“Astaga!” seruku dan Ty bersamaan.
“Manusia pohon?!” ucapku pertama kali ketika melihat Miya yang tangannya berubah menjadi akar panjang.
“Itu dryad, Nona!” koreksi Ty.
Aku hanya pernah mendengar sekilas tentang dryad. Aku pikir mereka hanya tokoh fantasi. Tapi mereka ternyata benar-benar ada di Klan Hijau. Setelah dinosaurus, sekarang dryad. Mungkin nanti aku juga bisa melihat putri duyung. Klan Hijau memang penuh dengan misteri.
“Violet! Ty! Cepat pergi dari sini! Argh.....!” teriak Aras. Akar pohonnya melilitnya lebih kencang.
Miya tertawa melihatku dan Ty. Dia menarik Aras mendekatinya.
“Kalian berdua pergilah! Aku tidak membutuhkan kalian,” usir Miya.
“Selama aku bersama Aras, semua akan baik-baik saja.” Miya membelai wajah Aras. “Iya, kan, Aras?”
Aras memalingkan wajahnya, menghindari sentuhan Miya. Miya terlihat tidak senang ketika Aras menghindarinya. Miya memegang paksa dagu Aras dan mendesak Aras untuk menatap wajahnya.
Entah dari mana asalnya, serasa ada api yang membakarku. Aku mencabut pedangku dan mengacungkannya pada Miya.
“Lepaskan dia!” seruku.
Miya menatapku tidak suka.
“Aku tidak menyukai kalian tapi jika kalian mau pergi, aku tidak akan menyakiti kalian berdua,” kata Miya.
“Kami akan pergi bersama Aras!” kataku tegas.
Miya berdecak kesal.
“Kau sangat mengesalkan. Apalagi ketika kau dekat-dekat dengan Aras. Kenapa Aras bisa tertarik denganmu, hah?!” Miya berteriak marah.
__ADS_1
“Hati-hati, Nona. Dryad adalah salah satu makhluk terkuat di Klan Hijau. Apalagi jika dia berada di wilayahnya sendiri.” Ty memberitahu.
Aku mengangguk mengerti.
BRAKK
Puluhan akar tiba-tiba mencuat dari dalam tanah di bawahku dan Ty. Aku reflek mendorong Ty menghindar. Aku dan Ty berhasil selamat dari serangan akar itu. Tapi serangan itu belum berakhir, muncul akar-akar lain dari dalam tanah.
“Berlindung, Ty!” seruku.
Ty segera berlari menghindari akar-akar dan pergi ke tempat yang aman. Dia berdiri di atas batu besar dan melihat pertarunganku dengan cemas. Tangannya menggengam kapaknya, bersiaga.
Aku memotong setiap akar yang menyerang. Berbeda dengan wit, akar yang dikendalikan Miya sangat kuat dan keras. Aku perlu menggunakan tenaga yang lebih besar untuk memotong mereka.
Akar-akar itu muncul semakin banyak dan mulai melilit kakiku. Aku segera memotong mereka dengan cepat.
Aku terus memotong akar-akar yang dikendalikan Miya sambil berusaha mendekati Miya dan Aras.
“Aku tidak akan membiarkanmu.”
Miya mengacungkan tangannya yang masih normal padaku. Tiba-tiba tangan itu memanjang dan berubah menjadi kayu. Aku dipukul hingga menabrak akar lain di belakangku.
Akar-akar itu bergerak cepat ketika aku berusaha bangkit setelah dihantam tangan kayu Miya. Mereka melilitku hingga aku tidak bisa bergerak. Tangan kananku yang memegang pedang terjepit diantara akar yang melilitku. Aku berusaha menggerakkannya agar bisa memotong akar-akar ini. Tapi mereka makin erat melilitku.
“Arghh!”
Pedangku terjatuh. Tangan kananku terjepit diantara akar-akar. Tanganku gemetar. Tulang di tanganku rasanya remuk.
KRAAKK KRAAKK
Ty berusaha memotong akar yang melilitku dengan kapaknya.
Miya langsung mengibas Ty menggunakan akarnya. Ty terlempar jauh. Kapaknya terjatuh.
“Mundur, Ty!” teriakku.
Miya menatapku. “Diamlah. Aku rasa kau bisa menjadi pohon yang bagus.”
Akar-akar itu mulai melilit leherku. Mereka menekanku hingga aku kesulitan bernapas. Mataku mulai berkunang-kunang.
Aku tidak bisa menghancurkan akar Miya. Kekuatan akarnya jauh lebih besar dari pada wit atau akar pohon biasa. Rasanya seperti ada baja tebal yang melilitku.
“Violet! Violet!”
Aku mendengar Aras meneriakkan namaku. Dia berusaha melepaskan diri dari jeratan Miya.
“Diam, Aras! Jangan berusaha pergi kepada Violet!” Miya berteriak marah.
“Ughh!!”
Aku merasakan lilitan akar jauh lebih kuat dari sebelumnya. Terdengar suara tulang patah dari dalam tubuhku. Leherku tercekik. Aku tidak bisa bernapas. Akar itu mulai menutup wajahku.
Aku tidak ingin mati di sini!
Darah mengalir dari mulutku. Akar Miya mulai menutup mulutku. Aku menatap Aras ketika akar-akar itu sudah menutup hidungku. Dia terlihat sangat panik.
Aku memejamkan mata ketika akar-akar mulai bergerak menutup mataku.
__ADS_1