Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
ARC 2-BAB 37


__ADS_3

Aku membuka mata perlahan. Sulit untukku membuka mata. Bulu mataku saling menyatu karena membeku. Tanganku meraba-raba kelopakku. Satu persatu memilah bulu mata. Cukup memakan waktu lama hingga aku berhasil membuka mata. Tapi aku langsung memejam mata kembali setelah melihat matahari tepat berada di hadapanku.


Aku berganti posisi dari berbaring menjadi tengkurap, kemudian bangun sambil membelakangi matahari. Kepalaku terasa berat. Pandanganku buram. Butuh waktu beberapa saat hingga pandanganku jelas.


Sejauh mata memandang, aku hanya melihat lautan berwarna biru kehijauan. Langit berwarna biru cerah tanpa awan. Udara yang terasa hangat, berbeda dari tempat Titanic tenggelam yang begitu dingin. Di sini hangat.


Aku melongok ke bawah peti. Air lautnya sangat jernih. Aku bisa melihat segerombolan ikan melewati peti. Keindahan karang yang berwarna-warni pun tampak dari sini.


Aku memperhatikan pendar jejak yang ditinggalkan makhluk - makhluk laut itu. Mereka memiliki jejak yang mirip dengan Zamrud. Selain itu aku juga melihat energi Zamrud yang mengalir sangat tipis di dasar lautan.


“Aku sekarang di Klan Hijau,” gumamku.


Aku meraba saku tempat menyimpan Amethyst dan Sapphire untuk memastikan keduanya masih ada padaku. Tapi kedua permata itu tidak ada. Ketegangan langsung menyelimutiku. Aku berdiri dan melihat sekitar.


“Fyuuhh... Untunglah.”


Aku mengehela napas lega. Aku mendapati kedua permata itu tergeletak di dasar peti. Sapphire masih di dalam kotak tapi Amethyst sudah keluar dari kotaknya. Aku segera memasukkan Amethyst ke kotaknya. Saat memasukkan Amethyst aku baru menyadari terdapat bekas Amethyst di telapak tanganku. Aku sepertinya menggenggam erat permata itu hingga bekasnya masih ada hingga sekarang.


“Jadi, selama aku pingsan, aku menggenggam Amethyst? Kapan aku mengambilnya dari kotak?” Aku terheran-heran.


Amethyst dan Sapphire sudah aku simpan kembali. Aku menatap tanganku yang penuh dengan jejak Amethyst. Aku tidak tahu berapa lama aku pingsan. Aku yakin lebih dari satu atau dua hari. Jarak tempat Titanic tenggelam dan wilayah Klan Hijau cukup jauh. Aku pasti sudah terombang-ambing di laut selama seminggu. Seharusnya, aku sudah mati karena kedinginan dan kelaparan. Amethyst-lah yang bisa membuatku bertahan hingga sekarang. Aku pasti menyerap energinya selama aku menggenggamnya.


Ombak di perairan ini cukup besar. Aku perlu berpegangan agar tidak kehilangan keseimbangan dan menghantam sisi peti. Aku membiarkan peti terombang-ambing terbawa ombak. Aku tidak memiliki alat dayung ataupun kekuatan untuk mengarahkan kapal ini. Aku hanya bisa berharap, peti ini segera terdampar ke daratan.


Sudah berjam-jam yang lalu semenjak aku sadar. Aku menunggu petiku terdampar sambil berbaring. Langit mulai berwarna kemerahan. Sekawanan burung melewatiku. Mereka bukan burung besar yang suka terbang jauh. Kawanan itu hanya burung yang suka terbang di dekat sarang mereka. Aku duduk dan melihat ke arah burung-burung itu terbang. Sebuah daratan terlihat. Aku hampir tiba di sana. Jaraknya tidak terlalu jauh. Aku bisa berenang ke tempat itu.


BYURRR


Aku menceburkan diri ke laut. Aku terkejut mendapati lautnya yang sangat dangkal, hanya sebatas pinggangku. Sekarang air laut memang sedang surut tapi aku tidak mengira akan sedangkal ini mengingat aku masih cukup jauh dari daratan.


Aku segera berenang ke daratan. Sesekali aku berenang ke dasar laut untuk menangkap kerang dan udang. Selama hampir dua jam aku terus berenang tanpa henti.


Aku merasa sangat lemas ketika menginjakkan kaki di pantai. Energiku terkuras habis untuk berenang.


Aku bersandar di bawah pohon dan mengeluarkan kerang juga udang yang aku dapat. Aku memandang matahari terbenam sambil mengatur napas. Langit dan laut berubah menjadi jingga. Butiran-butiran air tampak berkilauan seperti kristal ketika terkena cahaya matahari.


“Indah sekali.”


Seumur hidupku, aku belum pernah melihat matahari terbenam di pantai. Paling sering aku melihat matahari terbenam dari atas tebing atau bukit. Ternyata, matahari terbenam di pantai sangat indah.


Matahari sempurna tenggelam. Malam datang dengan cepat. Sekarang kegelapan menyelimutiku. Aku teringat cerita Ryza mengenai pepohonan yang hidup di malam hari. Aku menyiapkan pedangku untuk berjaga-jaga tapi aku tidak melihat pergerakan apa-apa sejauh ini. Pohon-pohon di dekatku hanya bergerak mengikuti angin. Tempat ini masih normal - normal saja.


Aku sudah terbiasa dengan kegelapan. Apalagi setelah kebutaanku di Jadnew. Meskipun tidak ada satu pun cahaya, aku masih bisa mencari kayu bakar dengan cepat. Berbagai pelatihan militer di Klan Ungu sudah aku jalani. Selain itu aku juga pernah mengikuti Kejuaraan Lavender.


Pengalaman-pengalaman itu yang membuatku mudah memahami situasi dan memutuskan apa yang harus aku lakukan.


Aku memanaskan kerang agar mudah memisahkan cangkangnya. Udang yang aku dapat, aku bersihkan lalu memakannya mentah-mentah. Aku tidak masalah dengan makanan mentah. Lagi pula rasa udang mentah pun enak.


Bintang-bintang mulai bermunculan. Aku memandang rasi - rasi yang terbentuk. Dari rasi - rasi itu, aku bisa tahu keberadaanku sekarang. Saat ini aku berada di wilayah Klan Hijau bagian timur. Cukup masuk akal aku terdampar di sini. Titanic tenggelam di barat laut Klan Biru. Wilayah Klan Hijau bagian utara memang lebih dekat dari sana tapi karena perbedaan suhu air laut antara wilayah Klan Hijau dan Klan Biru, arus bergerak selatan sehingga aku terdampar di sini.


Aku ganti memandang ombak yang berdebur. Ombak itu membawa berbagai barang Titanic ke pantai.


“Semoga mereka selamat,” Aku berharap.


Keadaan Ryza dan Ichi saat Titanic tenggelam cukup parah. Jika Aras, Bara, atau Tiha menolong mereka, mereka masih bisa selamat.


Aku membakar kayu lagi. Kali ini di pantai. Asap dari perapian ini menjadi tanda keberadaanku di sini. Mereka berlima bisa terdampar di daratan yang sama denganku, atau bahkan mungkin saja, mereka terpisah tidak terlalu jauh dariku.


Aku memungut barang-barang yang bisa aku gunakan. Sayangnya, kebanyakan hanya bisa aku jadikan kayu bakar. Itu pun setelah aku mengeringkannya. Padahal aku ingin mendapatkan gelas, piring, atau senjata. Tapi mereka terbuat dari logam. Barang-barang itu sudah tenggelam sebelum sempat terbawa arus karena berat.


Ada beberapa peti kayu yang terdampar tapi kebanyakan tidak berguna karena kosong. Tinggal dua peti yang belum aku lihat. Peti yang ada di depanku sekarang masih tertutup. Aku mencoba menggoyangkannya sedikit.


PRANG


Mataku terbelalak mendengar bunyi barang pecah dari dalam peti. Aku segera membuka peti itu. Alangkah senangnya aku melihat gelas-gelas dan piring di dalam peti. Kebanyakan sudah pecah tapi aku masih menemukan beberapa barang yang utuh. Aku bahkan menemukan guci air di dalam sini. Aku bisa menggunakannya untuk memasak air.

__ADS_1


Aku membawa barang-barang itu ke kemah. Sebelum menelusuri tepi pantai, aku sudah lebih dulu memeriksa hutan. Aku beruntung terdampar di daerah yang memiliki air terjun yang dekat dengan laut. Ditambah air terjun itu bersumber langsung dari mata air di atas tebing. Setahuku fenomena seperti itu cukup langka. Sekarang aku tidak perlu khawatir dengan air minum.


Aku memasak air di guci. Aku sudah mencoba meminum air langsung dari mata airnya tapi air itu terlalu dingin. Meminum air dari mata airnya langsung sangat segar tapi akan lebih baik aku meminum air hangat. Tubuhku belum kuat meminum air yang dingin.


Ketika aku menunggu airku masak, aku tiba-tiba teringat dengan peti yang belum aku periksa. Entah apa yang membuatku jadi penasaran dengan peti itu. Tadinya aku sudah tidak peduli dengan peti itu karena sudah mendapatkan yang benda-benda yang aku inginkan. Tapi siapa tahu masih ada barang yang berguna di dalamnya. Jadi, aku memutuskan untuk pergi ke sana lagi.


Aku menggoyangkan peti. Terdengar suara barang yang berbenturan. Barang di dalamnya seperti berukuran besar karena suara benturannya yang berat. Aku membuka tutup peti.


“Astaga!”


Aku sangat terkejut melihat ada seorang anak sedang meringkuk di dalam peti. Aku segera mengeluarkan anak itu dari peti. Begitu melihat wajahnya, aku kembali terkejut. Anak ini adalah anak yang menolongku ketika aku jatuh di Titanic, anak Klan Hijau yang menjadi budak. Namun kejutannya tidak sampai di sini saja. Aku tercengang melihat cincin Zamrud yang melingkar di jari anak ini. Cincin itu adalah milik Arnoldi.


Siapa anak ini? Apa mereka ternyata memiliki hubungan? batinku.


Aku merasakan jejak anak ini semakin memudar. Kondisi tubuhnya parah. Badannya sangat dingin. Napasnya sangat lemah. Detak jantungnya pun hampir tidak bisa aku rasakan. Aku bergegas membawa anak itu ke kemah.


Aku membaringkan anak itu di dekat api. Kemudian menyelimutinya dengan jubah yang sudah aku keringkan. Aku juga menaruh botol yang berisi air panas ke dalam dekapannya.


Aku menyentuh dahinya. Suhu tubuhnya sudah mulai naik. Zamrud yang dia pakai juga mengalirkan energi ke dalam tubuhnya. Aku rasa dia akan baik-baik saja.


Aku berniat mengawasi anak itu hingga bangun dia bangun. Tapi tubuhku juga lelah. Perlahan-lahan mataku ikut terpejam.


***


Aku mulai beraktivitas sebelum matahari terbit. Ketika aku bangun, anak itu masih belum sadar. Tapi kondisinya sudah jauh lebih baik. Tubuhnya hangat. Napasnya juga stabil.


Aku pergi ke laut yang masih surut. Aku harus mendapatkan banyak makanan pagi ini. Bisa jadi anak itu akan terbangun hari ini. Dia harus makan yang banyak setelah sadar agar cepat pulih.


Alam saat ini sepertinya sedang baik hati denganku. Ikan, udang, dan kerang sangat melimpah di sini. Aku juga selalu mendapatkan ikan yang aku incar.


Aku kembali ke kemah dengan cepat. Aku membersihkan buruanku lalu membakarnya sebagian dan sebagian lagi aku awetkan dengan diasapi.


Selagi menunggu sarapanku matang, aku pergi ke dalam hutan. Tadi malam aku melihat banyak buah yang bisa dimakan.


Aku memandang buah-buahan dan buruan yang dapatkan.


“Apa aku terlalu bersemangat, ya?”


Buah - buahan yang tidak habis aku petik membuatku terus memetik mereka. Makanan yang aku dapatkan pagi ini lebih dari cukup untuk memberi makan satu pasukan. Aku merasa bersalah mengambil makanan sebanyak ini.


“Ugh...” Anak itu terbangun.


Aku segera mendekatinya dan berlutut di sampingnya. Aku menunggu hingga anak itu membuka matanya. Dia tampak kebingungan ketika melihatku. Aku rasa kondisinya sudah cukup baik karena dia mampu duduk tanpa terlihat kesusahan. Selain itu jejaknya tampak jelas.


“Kau nona yang jatuh,” ucapnya pertama kali ketika melihatku. “Tapi warna rambutmu... berbeda. Kau... Klan Ungu?”


“Kau benar. Aku seorang Klan Ungu. Penampilanku memang berbeda saat pertama kali bertemu denganmu. Tapi aku orang yang sama.”


Anak itu menatapku takut. Baginya tidak mungkin ada manusia klan yang bisa merubah warna rambutnya.


“Aku Violet. Siapa namamu?”


Anak itu masih ragu denganku. Tampak wajahnya yang menaruh curiga padaku.


“Namaku Phoenix Dactylifera. Kau bisa memanggilku Ty.”


Aku mengangguk “Nah, Ty. Bagaimana keadaanmu? Apa kau masih merasa sakit?”


Ty menggeleng. “Aku sudah baik-baik saja. Terima kasih karena telah menolongku.”


“Syukurlah kalau begitu. Aku sudah mencari makanan untuk hari ini. Aku harap kau makan yang banyak agar cepat pulih.”


Ty menelan ludah saat menyadari sebanyak apa makanan yang aku dapat.


“Apa aku harus makan semuanya?” tanyanya.

__ADS_1


“Makan sesukamu saja tapi aku lebih senang jika kau makan yang banyak.”


Kami memulai sarapan. Ty makan dengan lahap. Dia pasti sangat lapar setelah terombang-ambing di laut berhari-hari.


“Terima kasih untuk makanannya, Nona,” kata Ty.


“Kenapa kau memanggilku Nona? Panggil saja aku Violet.”


Ty diam sejenak. “Tapi kau sudah menyelamatkanku.”


Aku teringat jika sebelumnya Ty adalah budak di Klan Biru. Entah berapa lama dia menjadi budak. Tapi dari sikapnya padaku, Ty pasti sudah menjadi budak sejak lama.


Anak ini apa benar-benar sudah terdoktrin menjadi budak? pikirku.


“Panggil saja aku Violet.”


“Tapi–”


“Ini perintah.”


Ty menunduk. “ Baik.”


Aku menghela napas. Aku tidak suka memerintahnya seperti budak. Tapi aku terpaksa melakukannya. Itu jauh lebih mudah bagi kami berdua saat ini.


“Ty, kau berasal dari desa mana?””


Ty menunduk. Dia diam, tidak menjawab.


“Aku bisa mengantarmu pulang.”


“Aku tidak bisa pulang.”


“Kenapa? Orang-orang yang memperbudakmu tidak bisa menyentuhmu lagi di sini. Aku tidak tahu bagaimana kau bisa berakhir sebagai budak. Tapi kita sudah berada di Klan Hijau. Kau memiliki kesempatan untuk kembali ke keluargamu.”


Badan Ty gemetar. Dia menahan tangis. Melihatnya seperti itu aku jadi teringat diriku saat kecil.


Aku memeluk Ty lalu menepuk punggungnya lembut. “Maafkan aku. Kau bisa beristirahat lagi jika lelah.”


Ty melepaskan pelukanku. Dia menghapus air matanya. “Aku minta maaf, Violet. Aku hanya teringat dengan keluargaku.”


Aku menepuk kepalanya. “Kau pasti merindukan mereka. Menangislah. Tidak apa-apa.”


Ty memandangku. Dia memindaiku dari atas hingga bawah.


“Ehm... Violet. Apa kau akan kembali ke Klan Ungu? Kau tidak mungkin berada di sini, kan?” tanya Ty.


“Mungkin aku tidak bisa segera kembali ke klanku. Aku harus bertemu teman-temanku dulu. Mereka juga penumpang Titanic sepertiku. Perasaanku mengatakan mereka juga terdampar di sini sepertiku. Tapi itu hanya pikiran naif. Aku tidak tahu mereka dimana.” Aku tersenyum getir.


Ty menepuk-nepuk punggungku. “Kalian pasti akan bertemu lagi.”


Aku tertawa karena perlakuannya kepadaku. Ty berusaha menghiburku seperti aku menghiburnya tadi. Dia lucu sekali.


“Aku memiliki seorang paman di Desa Beringin. Dia adalah orang yang hebat. Aku rasa dia bisa membantumu. Tapi letaknya cukup jauh, di Pegunungan Selatan. Atau mungkin kita sebaiknya mencari teman-temanmu yang lain di sepanjang pesisir? Mungkin kita bisa menemukan mereka,” kata Ty.


Aku menatap Ty heran. Anak ini lebih mendahulukan orang lain daripada dirinya sendiri. Padahal dia masih kecil.


“Kita pergi ke tempat pamanmu saja. Sekarang aku juga belum mendapat petunjuk apapun tentang keberadaan mereka. Mungkin setelah pergi ke Desa Beringin, aku mendapat petunjuk.”


“Kau yakin? Atau kita bisa melewati pesisir untuk pergi ke Desa Beringin.”


Aku menggeleng. “Kita tidak perlu lewat pesisir. Itu akan membuat kita semakin lama tiba di desa pamanmu. Lagi pula aku yakin teman-temanku tidak akan diam saja di pinggir pantai. Mereka pasti akan masuk lebih dalam ke wilayah Klan Hijau.”


“Baiklah.” Ty akhirnya setuju denganku.


Aku tidak bisa membiarkan Ty lebih lama bertemu dengan keluarganya. Dia pasti sangat rindu dengan keluarganya setelah diperbudak di Klan Biru. Dulu aku juga seorang budak. Jadi, aku mengerti perasaannya. Aku harus mengantarnya lebih dulu ke pamannya. Aku bisa mencari Ichi, Ryza, Aras, Bara, dan Tiha selama perjalanan.

__ADS_1


__ADS_2