Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 79


__ADS_3

Aku melangkah terseok-seok di pasir pantai. Ombak berdebur pelan. Aku menatap laut yang terbentang di depanku. Tanpa menggunakan keistimewaanku, lautan tampak sangat gelap.


Aku mengangkat kepala. Langit dihiasi ratusan bintang, meskipun bulan sedang bersinar sangat terang. Melihat langit malam yang hitam, air mataku menetes.


“ARGHHH!”


Aku jatuh berlutut di pasir pantai. Kedua tanganku menutup wajahku. Detik-detik ketika Aras terjatuh ke danau terus terbayang di kepalaku. Seandainya aku bisa bertahan lebih lama. Seandainya aku lebih kuat. Aras tidak akan jatuh ke sana.


Aku menatap kedua tanganku. Aras bilang dia akan bertahan. Dia berjanji akan tetap hidup. Tapi jejaknya di tanganku sudah menghilang. Aku meremas kedua tanganku. Untuk pertama kalinya aku tidak ingin mempercayai keistimewaanku sendiri.


“Violet?”


Aku menoleh dengan terkejut.


Seorang perempuan Klan Hijau yang aku kenal berdiri di belakangku. Ryza terlihat sangat terkejut ketika aku menoleh. Dia berlari mendekatiku.


“Astaga, Violet! Apa yang terjadi padamu?” Ryza berlutut di sampingku.


Begitu menyadari Ryza di sampingku. Aku jatuh ke pelukannya.


“Violet?”


Aku menangis di lengan Ryza. Bingung dengan apa yang aku lakukan, Ryza hanya bisa mengusap punggungku pelan.


Aku menangis sangat lama. Sepanjang itu Ryza tidak berbicara sepatah katapun. Ketika aku sudah tenang, Ryza mengajakku baru berbicara padaku.


“Apa kau sudah merasa lebih tenang?” tanya Ryza.


Aku mengangguk. “Terima kasih.”


“Lebih baik kita ke tempat kemah. Udaranya sudah semakin dingin,” kata Ryza.


Aku mengangguk.


Ryza membantuku berdiri. Kami berdua kemudian berjalan pergi.


Tempat kemah letaknya agak jauh dari tempat Ryza menemukanku. Perlu beberapa waktu untuk sampai di sana.


Tempat kemah mereka berada di hutan yang tak jauh dari tepi pantai. Ada Ichi dan Bara di sana. Mereka berdua sangat terkejut ketika Ryza membawaku.


“Violet, apa yang terjadi?” Bara menghampiriku dengan cemas.


Aku tidak menjawab pertanyaan Bara.


“Lebih baik kita membiarkan Violet istirahat dulu,” kata Ryza.


Bara menatapku lalu mengangguk. Dia memberi jalan untukku dan Ryza ke gubuk kecil yang mereka buat.


Ichi hanya memandangku dan Ryza ketika kami lewat di depannya. Aku mendengarnya mendesah pelan.


Ryza membaringkanku di gubuk. “Aku akan mengobatimu.”


Aku mengangguk. Sembari Ryza mengobatiku, aku memejamkan mata. Aku sudah terlalu lelah hari ini.


***


“Bagaimana keadaannya?” Suara Ichi terdengar sayup-sayup di telingaku.


“Lukanya tidak parah tapi kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kau lihat, kan, tadi malam. Dia terus menangis ketika tidur. Aku khawatir dengannya,” jawab Ryza.


Ichi mendesah pelan.


Aku membuka mata. Ichi dan Ryza sedang berbincang di dekatku. Mereka menyadariku sudah bangun.

__ADS_1


“Kau sudah bangun, Violet? Bagaimana keadaanmu? Apa kau merasa sakit?” tanya Ryza sambil mendekatiku.


Ichi ikut mendekat. Dia berdiri di samping Ryza.


“Aku baik-baik saja,” jawabku.


Aku bangkit dari tidur dan duduk.


“Wah, Violet! Kau sudah bangun!” Bara datang sambil membawa buah-buahan.


“Kau mau makan, Violet? Bara membawa banyak buah,” tawar Ryza.


Aku menggeleng. Aku sedang tidak selera makan.


“Apa kau bisa menceritakan apa yang kau alami kemarin?” tanya Ichi.


“Ichi!” Ryza berusaha mengingatkan Ichi. Dia takut aku mungkin masih tidak ingin menceritakannya.


“Tidak apa-apa, Ryza,” kataku.


Aku diam merenung kejadian kemarin. Bagiku itu masih terasa hanya mimpi. Tapi begitu melihat tanganku dimana jejak Aras telah menghilang, aku sadar jika itu adalah kenyataan. Aku juga harus memberitahu Ichi dan yang lainnya jika Aras sudah tiada.


Aku membuka bibir, mulai menceritakan apa yang aku alami kemarin hingga tiba di pantai timur sendirian, tanpa Aras.


“Aras jatuh. Aku tidak tahu bagaimana keadaanya tapi jejaknya sudah menghiang.” Aku mengakhiri ceritaku.


“Menghilang itu artinya dia sudah mati?” Bara menatapku terkejut.


Aku menghindari tatapan Bara, diam tidak menjawabnya.


“Bara!” seru Ryza.


Ryxa menatapku. Dia mengelus pundakku lembut. “Aras pasti selamat, Violet.”


Aku tersenyum kepada Ryza. Ryza sedang berusaha menghiburku. Aku tidak bisa berteiak padanya dan mengatakan jika Aras kemungkinan besar sudah mati.


Aku,  Ryza, dan Bara menatap Ichi.


“Hey, Ichi. Kau berlebihan,” kata Bara pelan.


“Kau jahat sekali!” seru Ryza tidak percaya. “Violet sedang bersedih karena kehilangan Aras. Apa kau tidak memiliki perasaan, hah?!”


Ryza menatap Ichi kecewa. Tapi Ichi terlihat tidak terpengaruh sedikitpun. Dia menatap lurus padaku.


“Ingat yang aku katakan padamu kemarin? Jangan campurkan perasaan dengan pikiranmu. Bersikaplah profesional. Kau pasti paham dengan yang aku katakan, kan, Klan Ungu?”


“Ichi!” seru Ryza.


Aku menahan Ryza yang maju ke depan Ichi.


“Terima kasih, Ryza. Tapi aku tidak apa-apa,” kataku.


Ryza menatapku sedih. “Tapi Ichi sudah keterlaluan.”


Aku hanya tersenyum menanggapi Ryza. Aku ganti menatap Ichi.


“Aku masih mengingatnya dan aku mengerti. Kau tidak perlu mengkhawatirkan tugasku,” kataku.


“Baguslah jika begitu,” kata Ichi. Dia kemudian berbalik badan dan pergi keluar. “Setelah kau pulih, kita akan melanjutkan misi.”


Ryza dan Bara menatap kepergian Ichi dengan tidak percaya. Mereka berdua kemudian kembali menghadapku.


“Kau tidak perlu memaksakan diri, Violet,” ucap Bara.

__ADS_1


“Bara benar. Kau tidak perlu mendengarkan Ichi untuk sekarang,” tambah Ryza.


Aku tersenyum pada Bara dan Ryza. “Terima kasih kalian berdua. Tapi Ichi benar. Kita harus segera melanjutkan misi setelah aku pulih.”


Bara dan Ryza memandangku penuh simpati. Bara kemudian menghembuskan napas.


Ryza hendak membuka mulutnya untuk mengucapkan sesuatu. Tapi Ichi memanggilnya dari luar.


“Argh, Ichi mengganggu saja,” gumam Ryza kesal.


“Violet, jika kau membutuhkan sesuatu, katakan saja padaku,” ucap Ryza sebelum keluar menghampiri Ichi.


Aku mengangguk.


“Hey, Violet,” panggil Bara.


Aku menoleh ke Bara.


“Aku tahu kuat kuat. Tapi tidak ada salahnya terlihat lemah beberapa kali,” kata Bara. “Jangan memaksakan diri.”


Aku menatap Bara terkejut. Aku tidak menyangka dia bisa berkata serius seperti ini. Sikapnya membuatku ingin tertawa.


“Kenapa kau malah tertawa? Aku sedang serius ini!” gerutu Bara.


“Tidak ada apa-apa, Bara. Rasanya lucu saja kau tiba-tiba berbicara serius,” jawabku. Aku tersenyum tipis. “Tapi terima kasih.”


Telinga Bara memerah. “Kau bisa mengadalkanku tahu. Jangan memaksakan diri untuk ke depannya.”


“He... he... he... Terima kasih.”


“Kenapa kau masih tertawa?!”


“Bukankah bagus jika kau tertawa?”


Bara cemberut. “Itu memang benar.”


“Bara, bisakah kau pergi? Aku masih ingin tidur,” kataku.


“Baik. Baik! Beristirahatlah sampai puas,” ucap Bara.


Bara tiba-tiba berhenti di ambang pintu. Dia tidak berbalik badan, namun hanya menolehkan kepalanya ke belakang, ke arahku.


“Violet, di dekat sini ada tebing yang sangat bagus untuk melihat matahari terbenam. Mungkin tempat itu bisa menenangkanmu,” kata Bara. “


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2