Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 27


__ADS_3

Aku, Aras, Ichi, Tiha, Azuro, Ryza, dan Bara sudah tiba di Istana Doncer. Ratu Marine menyambut kami dengan senang. Apalagi setelah mendengar laporan yang disampaikan Azuro.


“Aku senang kalian bisa kembali dengan selamat, Anak-anakku. Kalian bahkan bertemu dengan teman-teman kalian,” kata Ratu Marine.


“Terima kasih, Yang Mulia. Selain itu kami mohon bantuan Yang Mulia untuk mengirimkan bantuan ke Klan Biru Timur mengingat keadaannya di sana. Itu juga bisa menjadi bentuk pertanggungjawaban Klan Biru Barat terhadap Klan Biru Timur.” Azuro kemudian menerangkan keadaan Klan Biru Timur ketika kami meninggalkannya.


“Aku mengerti. Tapi sebelum itu apa aku bisa melihat sapphire lagi sebelum kalian membawanya pergi?” tanya Ratu Marine.


Azuro menatapku, meminta jawaban. Saat ini aku-lah yang membawa sapphire sekarang. Tapi aku tidak bisa memutuskannya sendiri. Itu bukan kewenanganku. Aku menatap teman-teman yang lain.


“Baiklah jika Anda menginginkannya, Yang Mulia,” kata Ichi.


Ichi mengangguk padaku, memberi isyarat. Aku menyerahkan kotak sapphire kepada Jenderal Pasifik. Dia yang akan membawanya menghadap ratu.


“Indah sekali seperti terakhir kali aku melihatnya,” kata Ratu Marine.


Ratu Marine membuka kotak sapphire. Gelombang energi besar menerpa seluruh orang di ruangan. Gelombang ini akan meningkatkan kekuatan bagi manusia Klan Biru tapi melemahkan kekuatan klan lain. Aku bisa melihat setiap orang Klan Biru menyerap energi yang terpancar dari sapphire.


“Jenderal, lakukan tugasmu,” ujar Ratu Marine.


Jenderal menghadap kami. Tidak. Lebih tepatnya prajurit di sekitar kami.


“Lakukan tugas kalian!” seru Jenderal Pasifik.


Sebelum aku, Ichi, Aras, Ryza, Bara, Tiha, dan Azuro menyadari apa yang sedang terjadi, sebuah jaring besar menjatuhi kami. Jaring ini bekerja seperti borgol yang dipakai di Klan Biru Timur.


“Apa yang Yang Mulia lakukan? Yang Mulia ingin menyingkirkan kami setelah kami menyelesaikan tugas dari Yang Mulia?” Azuro tidak percaya dengan apa yang Ratu Marine perbuat.


“Anakku Azuro. Kau sudah banyak berjasa untukku. Setiap tugas yang aku berikan padamu selalu selesai dengan sempurna. Kau adalah kesayanganku. Aku juga sudah membereskan wangsamu. Kau bisa menjadi earl baru jika kau mau. Tidak ada yang perlu kau pikirkan.”


Pandangan Azuro kosong. Kemudian wajahnya mengeras. Tangannya mengepal. Tubuhnya begetar. Dia marah. Sangat marah. Energi besar meluap di tubuhnya. Tapi jaring ini juga cepat menyerap energinya.


“Apa ini balasanmu atas pengabdian Wangsa Geerginlik selama bertahun-tahun?! Dasar tidak tahu diri!” Azuro sudah tidak peduli bahwa orang yang diajaknya bicara adalah seorang ratu.


“Percuma kau mengeluarkan energi sebanyak mungkin untuk menggunakan keistimewaanmu. Jaring itu menyerap semuanya.” Ratu menatap remeh Azuro.


“Perbuatanmu ini sama saja dengan berkhianat pada Dewan Aliansi Klan.” Aras menatap Ratu Marine tajam.


“Maafkan aku Raja Aras. Bukan maksudku begitu. Sebenarnya dari awal aku tidak menyetujui aliansi itu. Klan Biru lah yang seharusnya menguasai dunia klan. Klan kami adalah klan bangsawan. Pendahulu kami adalah pelopor dunia ini!” Ratu Marine mengangkat tongkatnya. Dia tertawa keras hingga menggema di ruangan.


“Setelah bencana ini berakhir, semua klan akan musnah, kecuali Klan Biru Barat. Klanku akan menjadi penguasa. Tidak menjadi klan kelas tiga dibawah Klan Putih dan Klan Ungu.” Ratu Marine berkata dengan dingin.


“Jenderal, singkirkan mereka. Perdana menteri, ikut aku untuk menyiapkan pompos sapphire.” Ratu Marine meninggalkan aula singgasana.


Jenderal Pasifik turun mendekatiku. Dia tersenyum sombong. “Aku tidak menyangka kau akan tertangkap perangkap seperti ini. Padahal kau dulu adalah mesin pembunuh yang hebat. Aku rasa inderamu menumpul setelah menjadi ksatria.”


“Jangan remehkan ksatria, Jenderal. Kau sendiri juga seorang ksatria klanmu.” Aku mengingatkan.


“Aku tidak meremehkan seorang ksatria. Aku hanya menasehatimu. Lagi pula aku akan memberi kesempatan untukmu agar kau menjadi ksatria yang lebih hebat lagi.” Jenderal Pasifik menatapku. “Aku ingin kau bergabung kembali bersama kami. Kau akan menjadi salah satu jenderal Klan Biru Barat. Menjadi jenderal termuda sepanjang sejarah. Bukankah itu menarik? Selain itu teman-temanmu akan dilepaskan.”


“Seorang ksatria hanya akan membela tanah airnya sendiri,” jawabku tegas.


Aku memotong jaring yang menjeratku. Jaring ini memang bekerja menyerap energi tapi jaring ini tetap jaring biasa yang bisa terpotong dengan pisau sekalipun.


“Kau seharusnya memakai jaring baja, Jenderal.” Aku melesat ke Jenderal Pasifik, menghunuskan pisauku kepadanya.


Jenderal Pasifik menahan seranganku dengan pedangnya. Aku meliuk ke belakang, berganti sasaran pada punggungnya. Jenderal Pasifik cepat menyadari gerakanku. Dia menyodokku dengan gagang pedangnya.


Aku tersedak. Perutku terasa nyeri. Aku mundur ke belakang.


“Kau memang hebat. Tapi jangan remehkan seorang jenderal.” Jenderal Pasifik menyerangku. Dia mengayunkan pedangnya, berusaha menebas dadaku.


Aku meloncar mundur. Jenderal Pasifik kembali menyerangku dengan cepat dari atas. Aku tidak sempat menghindar. Aku berencana menahan serangannya dengan pisauku.


Pedang Jenderal Pasifik hampir mengenaiku. Aku mengacungkan pisauku untuk menahannya. Tapi sebelum pedang itu sampai, Aras menghantamkan batu ke tubuh jenderal.


Jenderal Pasifik terpelanting jauh.


Aku menoleh ke Aras. “Terima kasih.”


Aras mengangguk. Dia kembali menyerang lawannya.


Keadaan kami saat ini tidak terlalu baik. Seluruh prajurit yang ditempatkan di ruangan ini adalah para pemilik galur murni. Ada lima belas prajurit pemilik galur murni di sini. Jumlahnya dua kali lipat dari kami.


Api merah. Api biru. Air. Es. Angin. Tanah. Cahaya. Sulur tanaman. Sampai elemen-elemen yang tidak aku mengerti. Semuanya bercampur di sini. Saling menyerang.


Jenderal Pasifik bangkit. Dia menggenggam pedangnya. Dia mengalirkan energi ke pedangnya. Keistimewaan Jenderal Pasifik membuatnya menjadi ahli bertarung terkuat. Keistimewaannya ada penguatan. Semua benda yang dikehendakinya dapat menguat hingga berkali-kali lipat.


Dari segi kekuatan, pisauku jelas bukan tandingan pedangnya saat ini. Tapi pisau adalah senjata yang lincah. Ukurannya yang kecil mampu menyelinap ke titik vital lawan. Hanya petarung cerdas saja yang dapat menggunakan pisau sebagai senjatanya.


Aku memegang erat pisauku. Aku tidak bisa mengharapkan bantuan dari teman-temanku. Mereka sedang bertarung melawan musuh masing-masing. Saat ini kami bertarung untuk bertahan hidup.


Jenderal Pasifik berlari ke arahku dengan pedangnya yang terhunus ke depan. Aku mendekatinya perlahan.


“Kau seorang ksatria.”


Begitulah kata orang-orang di sekitarku. Aku sendiri tidak merasa pantas disebut ksatria karena pada awalnya aku seorang pembunuh. Ksatria menguasai pertarungan jarak dekat, sedangkan pembunuh menguasai pertarungan semu, tak terlihat. Pembunuh menyerang dibalik bayangan, sedangkan ksatria bertarung di bawah cahaya. Ksatria penuh kehormatan, pembunuh penuh dengan dosa. Dua gelar yang berkebalikan seperti dikatakan Ratu Mai.


Sebagai ksatria aku terbiasa menggunakan pedang bertarung secara terang-terangan. Tapi aku juga bisa menjadi seorang pembunuh yang membunuh di balik bayangan, tanpa disadari seorangpun. Aku tidak melupakan setiap hal yang aku pelajari dalam hidupku.

__ADS_1


Jika sekarang aku menjadi ksatria, aku akan menghadapi Jenderal Pasifik dengan seluruh kemampuanku hingga titik darah penghabisan. Tapi berbeda dengan seorang pembunuh. Pembunuh menggunakan cara cerdas untuk menghabisi lawannya. Menghadapi musuh yang lebih kuat dari diri sendiri. Lebih cocok menggunakan strategi seorang pembunuh.


Jenderal Pasifik sudah berada di hadapanku. Dia mengayunkan pedangnya ke arahku. Aku bergerak ke samping. Pedang itu menghantam lantai istana. Lantai itu hancur berkeping-keping. Dari serangannya, aku bisa mengukur seberapa kuat pedang Jenderal Pasifik sekarang.


“Jadi hanya seperti ini kekuatan panglima jenderal Klan Biru Barat.” Aku berusaha memancing amarah Jenderal Pasifik selama bertarung. Dulu dia tipe orang yang mudah naik darah.


“Kau ingin aku tunjukkan kekuatan besarku, hah?!”


“Kekuatan besarmu? Aku tidak yakin dengan kekuatan besar dari jenderal yang berasal dari penjaga penjara. Jika kau benar-benar kuat mana mungkin dulu kau menjadi penjaga penjara.”


“Kau memang ingin aku bunuh, ya.”


Aku melompat mendekati salah seorang prajurt pemilik galur murni. Jenderal Pasifik menyabetkan pedangnya. Prajurit naas itu terkena serangan Jenderal Pasifik. Darah muncrat mengenaiku.


Energi meluap di tubuh Jenderal Pasifik. Dia mengalir lebih banyak ke pedangnya. Pedang itu semakin jauh lebih kuat.


Aku berlari ke Tiha yang sedang dikepung empat prajurit.


“Ah, aku ingat. Kau membunuh para jenderal untuk menaikkan pangkatmu.”


“Tutup mulutmu!”


Jenderal Pasifik mengayunkan pedangnya lagi. Darah memuncrat lebih banyak. Lantai istana mulai digenangi warna merah. Darah menetes dari pipiku. Aku tidak terkena serangannya secara langsung, hanya terkena angin yang tercipta dari pedangnya. Saking kuatnya pedang itu, angin yang dibuatnya terasa seperti mata pedang yang tajam.


Untuk kesekian kalinya pedang Jenderal Pasifik meyabetku, namun gagal. Kali ini dia juga memberikan tendangan padaku. Aku tersungkur di lantai yang sudah hancur. Aku bisa merasakan dua tulang rusukku patah.


Aku melirik menara di luar istana. Aku melihat gelombang besar sapphire dari sana. Puncak menara itu pasti adalah tempat pompos Klan Biru Barat. Menara itu tidak jauh. Aku yakin bisa memanfaatkan Jenderal Pasifik untuk mendapatkan sapphire di sana. Tapi aku harus menyelesaikan urusanku di sini dulu.


Jenderal Pasifik menghantamkan pedangnya kepadaku. Aku segera menghindar, berguling ke samping lalu berdiri.


“Wah, sepertinya aku meremehkanmu, Jenderal. Kau sekarang sangat kuat.” Aku pergi ke Ichi. Dia sedang melawan dua pemilik galur murni yang bisa berubah menjadi binatang buas.


“Dan aku akan membunuhmu!” Jenderal Pasifik melompat. Dia mengarahkan pedangnya kepadaku.


Aku menghindar. Istana bergetar ketika Jenderal Pasifik dan pedangnya mendarat di lantai. Dia membuat sebuah lubang besar. Darah yang seharusnya terciprat, menguap karena kekuatan pedang Jenderal Pasifik yang sangat kuat.


Aku menatap lubang itu ngeri. Aku sepertinya sudah menjadi debu jika terkena serangan tadi.


“Apa yang kau lakukan tadi?” tanya Ichi.


“Kau seharusnya sudah paham jika kau memang ahli startegi yang hebat,” jawabku. “Bawa aku dan Jenderal Pasifik ke menara itu setelah aku mengangkat pisauku.”


Jenderal Pasifik menyerang kami. Ichi mengehembuskan angin kencang. Jenderal Pasifik dapat dipukul mundur beberapa meter.


Aku mengincar salah satu prajurit, prajurit perempuan. Dia sedang bertarung melawan Aras. Dia memiliki keistimewaan mengendalikan air. Sama seperti Azuro. Perempuan itu adalah putri Jenderal Pasifik. Dia cukup kuat. Dia mampu membuat batu yang dihantamkan Aras kepadanya menjadi lumpur.


Selagi Jenderal pasifik mengalihkan perhatiannya ke Ichi, aku mendekati putrinya. Perempuan ini dulu ikut menyiksaku dan Aras ketika kami menjadi tahanan Klan Biru Barat.


“Hancurkan dinding di dekat menara,” bisikku ketika melewati Aras dengan cepat.


Aras mengerti. Dia menyudutkan putri Jenderal Pasifik ke dinding istana. Dia lalu mendorong putri Jenderal hingga menghancurkan dinding di belakangnya.


Aku sudah berada tepat di belakang putri Jenderal. Dia tidak menyadari keberadaanku. Aku mengalungkan tangan kananku dengan cepat ke lehernya. Pisauku menekan pembuluh nadinya. Tangan kiriku menahan tubuhnya yang memberontak.


“Jenderal, lihatlah sekelilingmu. Apa kau pemimpin baik yang bisa melindungi bawahannya? Kau justru membunuh mereka. Dan apa sekarang kau bisa melindungi putrimu?”


Jenderal Pasifik berhenti menyerang. Dia menatap sekitarnya. Lantai sudah digenangi dengan darah. Para prajurit pemilik galur murni sudah mati di tangannya sendiri.


Pertarungannya denganku tadi hanya untuk memanfaatkan kekuatannya yang besar untuk menghabisi pasukannya sendiri. Aku mendekati setiap prajurit yang sedang menyerang teman-temanku. Aku mengatur agar ketika Jenderal Pasifik menyerangku dia akan mengenai orang lain, tepatnya pasukannya sendiri. Aku membuat Jenderal Pasifik gelap mata untuk mengalahkanku hingga dia tidak menyadari apa yang terjadi dengan sekitarnya.


Jenderal Pasifik terlihat terkejut. Wajahnya memerah karena marah. Energinya meluap ketika menyadari putrinya di tanganku. Semakin dia marah semakin banyak energi yang terbentuk.


“Lepaskan, dia!” seru Jenderal Pasifik.


“Bagaimana, ya? Apa kau memiliki sesuatu untuk ditukar?”


Jenderal Pasifik sudah terbakar amarahnya. Perasaan marah dan cemas bercampur. Dia menghunus pedang ke arahku, mencoba menyelamatkan putrinya yang dapat aku bunuh kapan saja.


Gerakan Jenderal Pasifik cepat dan kuat. Dia tidak menyerangku dari depan, melainkan dari samping agar tidak melukai putrinya yang berada di depanku. Tapi aku sudah memprediksi itu. Begitu pedangnya akan mengenaiku, aku meloncat ke atas putrinya, memakai bahu putri Jenderal sebagai tumpuanku untuk melompat. Putri Jenderal Pasifik tidak siap menjadi tumpuanku terdorong ke belakang. Aku berhasil selamat. Jenderal Pasifik menghunus putrinya sendiri.


Aku pergi menjauh dari ayah dan anak itu. Jenderal Pasifik berteriak parau. Dia memeluk putrinya yang sudah tidak bernyawa.


“Berani-beraninya kau membunuh putriku!”


“Aku tidak membunuhnya. Kau sendiri yang menghunus pedang padanya.”


Jenderal Pasifik memancarkan gelombang energi sangat besar. Biasanya hanya aku yang merasakan gelombang energi dari pemilik galur murni. Tapi aku yakin sekarang orang lain dapat merasakan gelombang dari Jenderal Pasifik.


“Serang aku, Jenderal.” Aku mengangkat pisauku, memberi tanda kepada Ichi.


Ichi membuat angin kuat di dalam istana. Angin beliung kecil terbentuk di dalam ruangan. Angin itu menyeret aku dan Jenderal Pasifik masuk ke dalamnya. Angin itu membawa kami keluar melalui lubang besar yang dibuat Aras. Angin itu menghantamkan kami ke menara.


Aku merutuk kesal ketika kepalaku menghantam menara. Jenderal Pasifik jatuh lebih dulu. aku mendarat di depannya, terhimpit dinding menara. Posisiku ini di luar skenario. Jika rencanaku berjalan baik, rencanaku akan berhasil dan aku selamat. Tapi jika seperti ini kemungkinan rencanaku akan berhasil tapi aku akan mati.


“Kau sekarang tidak bisa ke mana-mana lagi.”


Jenderal Pasifik mengangkat pedangnya yang penuh energi. Dia mengayunkan pedangnya kepadaku.


Tepat saat itu juga sebuah lubang muncul di bawahku. Aku jatuh ke bawah. Pedang Jenderal Pasifik meleset, membelah menara pompos.

__ADS_1


Krak…


Bagian bawah menara pompos hancur. Bangunan itu mulai miring. Sebentar lagi akan jatuh. Reruntuhan menara mulai berjatuhan ke arahku dan Jenderal Pasifik. Reflek aku melindungi diri dengan tanganku, meskipun aku tahu itu sia-sia. Entah dari mana Aras tiba-tiba muncul, dia mengangkatku dari lubang dengan cepat. Dia membawaku pergi menjahui menara pompos.


Aras menurunkanku. Kami berdiri menghadap menara yang sudah hancur. Ratu Marine dan perdana menterinya tewas tertimpa reruntuhan menara pompos.


Sapphire terjatuh di tanah. Sejauh ini keadaan pemata itu baik-baik saja. Gelombangnya memancar kuat. Azuro mendekatinya untuk memungut sapphire. Tapi entah dari mana muncul Jenderal Pasifik di atas sapphire. Dia mengacungkan pedangnya.


“Jika aku dan putriku mati. Orang-orang pun harus merasakannya!” Jenderal Pasifik menebas sapphire.


“Tidak!”


Cahaya menyilaukan muncul bersama energi super dahsyat meledak dari sapphire. Aras bergerak melindungiku. Dia membuat batu besar yang melindungi kami. Tapi batu itu langsung hancur menjadi debu. Aras hanya mengandalkan punggungnya untuk melindunginya dan aku.


Tubuhku memanas. Darah mengalir dari hidungku. Ledakan itu menimbulkan efek yang teramat sakit. Tubuhku terasa terbakar sekaligus tercabik. Ledakan itu belum berhenti. Aku yang terlindung dari ledakan sapphire merasakan sakit seperti itu. Aku tidak bisa membayangkan sakit yang dialami Aras. Aku merasakan darahnya menetes ke wajahku.


Ledakan itu sudah selesai. Cahaya dan gelombang energinya menghilang. Aku menahan Aras yang terjatuh. Darah mengalir dari kepalanya. Tubuhnya berasap. Sebagian besar bagian pakaiannya terbakar.


“Kau tidak apa-apa?” Aku membantu Aras berdiri.


Aras mengangguk. Dia berusaha berdiri sendiri.


Aku tidak melihat energi sapphire yang mengalir di Klan Biru. Semuanya terasa mati. Perlahan jejak-jejak yang ada di sini menghilang.


Ichi, Ryza, Bara, dan Tiha keluar dari tempat berlindung mereka. Mereka baik-baik saja. Sepertinya mereka cukup terlindung dari ledakan sapphire. Tapi tidak dengan Azuro. Dia terbaring di atas tanah.


Kami bergegas mendekati Azuro. Tubuhnya berasap. Rambutnya sedikit terbakar. Dia menderita luka bakar di beberapa tempat. Tapi jejaknya masih bersinar terang, pertanda dia masih hidup.


“Azuro,” Ryza memanggil.


Azuro membuka mata. Dia duduk.


“Kau baik-baik saja?” tanya Ichi.


“Aku tidak apa-apa. Tapi sapphire…” Azuro menatap ke lubang besar.


Gelombang energi sapphire meledak sangat dahsyat hingga sebuah lubang raksasa terbentuk. Bangunan istana bahkan sampai roboh. Pepohonan tumbang dimana-mana.


“Permata itu sudah hancur,” ujarku.


“Bagaimana ini? Apa ada sapphire lain di dunia ini?” Tiha memainkan dua kucirnya dengan cemas.


Tidak ada yang bisa menjamin ada sapphire lain di dunia ini. Begitu pula enam permata klan lain. Sebenarnya misi kami terlihat mustahil. Amethyst yang kami temukan itu pun hanya sebuah keberuntungan.


“Sebenarnya masing-masing permata klan hanya ada satu di dunia ini.” Aras menyampaikan sesuatu yang mengagetkan.


“Tapi sapphire ada dua. Kalian juga sudah menemukan amethyst.” Bara menolak ucapan Aras.


Aras memperlihatkan buku yang diberikan Hermes.


“Ini adalah buku jauhar. Buku ini ditulis turun temurun dari seorang Klan Biru yang hidup pada awal permata klan digunakan hingga keturunannya saat ini. Buku ini berisi hasil penelitian tentang permata klan tapi lebih berfokus pada sapphire.”


“Menurut buku ini, masing-masing permata klan hanya ada satu di dunia. Itu menjadi alasan kenapa ketika permata klan yang membelah, salah satunya akan menjadi bayi pemilik galur murni.”


“Pada dasarnya permata klan adalah sumber energi yang kekal. Permata klan kita melemah karena muncul permata klan lain yang lebih kuat.”


“Berarti di dunia ini memang ada empat belas permata klan karena tujuh permata yang kita miliki melemah? ?” Tiha memastikan.


“Tiga belas. Satu sapphire sudah hancur.” Aku mengkoreksi.


“Ah, iya. Sapphire satunya. Masih ada satu sapphire lagi, kan?” Tiha berseru.


“Sapphire itu sudah sangat lemah. Energinya hanya cukup untuk memasok keperluan istana. Kita harus mendapatkan sapphire lain,” kata Azuro.


“Tapi bagaimana caranya?” tanyaku.


“Pengorbanan pemiliki galur murni Klan Biru. Pemilik galur murni bisa berubah menjadi permata. Sapphire yang hancur itu tadinya adalah seorang pemilik galur murni, Putri Safira dari Klan Biru Timur. Begitu yang aku baca dari buku Jauhar tapi itu adalah jalan terakhir. Meskipun sapphire terakhir itu lemah, kita masih memiliki kesempatan,” kata Aras.


“Aras benar. Kita masih bisa mencari sapphire karena sapphire yang hancur itu adalah perwujudan dari putri Safira. Masih ada satu sapphire lagi di dunia ini. Jangan sampai membuat orang lain mengorbankan nyawanya.” Aku mendukung pendapat Aras.


Aku menatap puing menara yang hancur. Aku melihat energi sapphire memancar lemah dari dalam puing.


“Sapphire itu ada di sana.” Aku menunjuk bagian tengah puing menara.


“Biar aku ambil.”


Ichi menerbangan puing-piung menara yang menutupi sapphire. Dia memindahkannya ke tempat lain. Sebuah permata biru tampak bersinar di atas tanah.


“Azuro, ambil sapphire itu,” kata Ichi.


Azuro mengangguk. Dia mengambilnya.


Terdengar suara banyak orang mendekati kami. Mereka berlari sambil memanggul senjata.


“Kita harus pergi dari sini. Pangeran dan prajuritnya datang.” Azuro memberi tahu.


“Merapat kepadaku.”


Ichi mengayunkan tangannya. Kami mengambang di atas angin. Dia membawa kami pergi dari istana.

__ADS_1


Dari atas aku melihat ribuan prajurit masuk ke dalam istana. Mereka berhenti di depan menara yang hancur. Aku memalingkan wajah dari mereka. Aku tidak suka melihat mereka menangisi ratu mereka.


__ADS_2