Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 75


__ADS_3

Kini tinggal aku dan Aras yang berada di dalam ruangan. Aku meraih belati Aras yang tersemat di pinggangku.


“Ini, aku kembalikan. Terima kasih,” kataku sambil menyodorkan belati kepada Aras.


“Itu untukmu saja. Lagipula kau juag tidak memiliki senjata sekarang,” tolak Aras.


“Tapi jika kau memberikan ini padaku, kau juga tidak memiliki senjata.”


“Aku masih bisa bertarung menggunakan keistimewaanku.”


Wajah Aras tiba-tiba sedikit memerah. “Anggap saja itu... kenang-kenangan dariku. Namaku... terukir di belatinya.”


Aku mengecek belati yang sekarang sudah menjadi milikku. Ada nama Aras terukir di ujung pegangan belati. Aku tersenyum ketika membaca nama Aras.


“Terima kasih. Aku akan menyimpannya,” ucapku sambil tersenyum lebar.


Aku melihat wajah Aras makin memerah. Dia terlihat lucu jika sedang malu seperti ini, membuatku malah ingin menggodanya.


“Tapi Aras, sejujurnya aku sering sekali merusak atau menghilangkan senjataku. Bagaimana jika belati ini juga hilang?”


Aras terdiam. “Kau benar. Kau sudah berganti-ganti senjata sejak misi ini dimulai.”


“Aku akan berusaha menjaganya,” kataku.


Aras tersenyum mendengar ucapanku. “Aku senang kau berbicara seperti itu. Tapi kau tidak perlu memaksakan diri. Lagipula kau mungkin tidak akan kehilangan belati itu.”


“Maksudmu?”


Aras melepas sebuah cincin di jarinya. Dia lalu meraih tanganku dan memasangkan cincin itu di jari manisku.


“A– Apa ini?!” Wajahku ganti yang memerah. Yang aku tahu jika seorang laki-laki memasangkan cincin di jari manis seorang perempuan, itu artinya mereka akan segera menikah.


“A– aku pikir, i– ini ter.. lalu ce..pat.” Wajahku terasa semakin panas.


“Lho, bukankah lebih cepat lebih baik?” Aras menatapku heran.


Wajahku sudah terasa sangat panas. Aku tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Aras membuatku sangat malu dan gugup. Aku hanya bisa menunduk.


‘Aku masih terlalu muda untuk ini,’ batinku.


“Kau kenapa, Violet? Wajahmu sangat merah dan panas.” Kedua tangan Aras menyetuh pipiku. “Apa jangan-jangan tubuhmu masih terpengaruh racun monkshood?!”


“Ugh... Aku baik-baik saja. Ini bukan karena itu.” Aku berusaha menghindarkan tatapanku dari Aras.


BRAKK


“Nona!” Ty tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Tapi dia langsung berhenti ketika melihatku dan Aras.


Aku dan Aras langsung menjauh, menjaga jarak. Kami berdua berdiri di depan Ty dengan kikuk.


“Apakah aku menganggu kalian?” Ty bertanya dengan gugup.


“Ah, tidak. Kami sudah menunggumu,” jawab Aras.


Ty berjalan maju mendekatiku. Tapi dia kembali berhenti.


“Ada apa, Ty?” tanyaku.


“Itu... Cincin itu. Sejak kapan Nona memakainya? Aku tidak pernah lihat,” tanya Ty.


Wajahku langsung kembali memerah.


“Ah, itu aku baru saja memberikannya.” Aras yang menjawab.

__ADS_1


Mata Ty membelalak. Kedua tangannya menutup mulutnya. Terlihat sekali dia sangat terkejut.


“Kau... kau akan menikah dengan Nona?” tanya Ty.


Grante yang baru saja memasuki ruangan langusng membeku di tempat mendengar ucapan Ty.


“Hah?!” Aras tampak sangat terkejut. Dia baru mengerti kenapa Ty tadi sangat terkejut dan kenapa wajahku memerah.


“I– ini tidak... ah, bukan seperti itu,” ucap Aras gugup.


“Lalu apa arti cincin itu? Dulu majikanku mendapatkan cincin dari seorang laki-laki. Dia lalu menikahinya! Kau juga begitu? Kau mau menikahi, Nona?” Ty tampak sangat sedih sekaligus kecewa.


“Bu– bukan begitu. Cincin itu adalah alat untuk mengendalikan belati yang aku berikan pada Violet,” ucap Aras.


“Hah?” Aku dan Ty menatap Aras bingung.


“Cincin itu adalah pengendali belatiku.” Aras menatapku. “Violet, perintahkan belatimu menghilang. Katakan dalam pikiranmu saja.”


Aku masih tidak mengerti. Tapi aku mengikuti perintah Aras. Aku memerintahkan belatiku untuk menghilang dan tiba-tiba saja belati itu hilang dari tanganku.


“Ah, belatinya hilang!” seruku.


“Belati itu tersimpan ke dalam cincin itu. Belati itu akan kembali keluar jika kau ingin dia keluar,” kata Aras.


Aku langsung mempraktekkan yang Aras katakan. Dan benar saja, belati itu kembali muncul di tanganku.


“Kau bisa mengendalikan belati itu selama kau memakai cincin itu. Jika belatimu jatuh di tempat yang jauh, kau bisa memanggilnya dan belati itu akan muncul kembali di tanganmu,” jelas Aras.


“Wow, bagaimana bisa?” Aku sanagt kagum dengan kecanggihan belati yang diberikan Aras padaku.


“Itu adalah senjata buatan Klan Jingga,” jawab Aras.


Jawaban singkat Aras cukup untuk menjawab kecanggihan belati ini. Tidak perlu diragukan jika Klan Jingga bisa membuat senjata sehebat ini.


Aku mengangguk mengerti. Jujur aku merasa sedikit kecewa. Aku kira Aras mengajakku untuk menikah. Bukannya aku mau. Aku juga merasa masih terlalu muda untuk menikah. Tapi aku juga merasa kecewa.


“Oh, begitu. Aku kira kau akan menikahi Nona Violet.” Ty mengelus dadanya dengan lega. “Aku akan sangat sedih jika Nonaku menikah denganmu.”


Aras mendengus kecil mendengar ucapan Ty.


Ty ganti beralih padaku. Dia segera menghampiriku.


“Ada apa, Nona? Grante bilang kau memanggilku,” tanya Ty.


Aku mengangguk. “Aku dan Aras akan pergi, Ty.”


“Kalau begitu aku ikut,” kata Ty.


Aku menggeleng. “Kau harus tetap di sini.”


“Tapi Nona adalah tuanku. Aku harus bersama Nona. Aku sudah bersumpah pada Nona.”


Aku berlutut hingga tinggiku sejajar dengan Ty. Tanganku kemudian menepuk kepala Ty pelan. “Aku senang bisa menjadi nonamu. Tapi itu sudah cukup sekarang. Mulai saat ini kau sudah bebas, Ty. Kau bukan budak lagi.”


“Tidak! Tidak mau! Aku ingin tetap bersama Nona.” Ty memelukku erat.


“Maaf, Ty. Tapi kau sudah tidak bisa ikut denganku lagi.”


“Tidak mau! Aku akan melindungi Nona. Aku akan melayani Nona. Aku akan bekerja lebih keras. Jadi, biarkan aku tetap bersama Nona!” Ty menangis keras.


Aku merasa sedih meninggalkan Ty di sini. Apalagi ketika melihatnya menangis sambil memohon padaku. Rasanya aku seperti sudah menyakitinya.


Aku tidak mungkin membawa Ty pergi bersamaku. Aku sedang menjalankan sebuah misi rahasia. Selain itu pergi bersamaku terlalu berbahaya untuk Ty.

__ADS_1


“Nona! Biarkan aku tetap bersamamu!” pinta Ty.


“Ty, kau harus membiarkan Violet pergi.” Grante berusaha melepas pelukan Ty dariku.


“Tidak mau! Lepaskan aku!” Ty memperat pelukannya padaku. Dia tidak mau terlepas dariku.


“Violet bisa kesakitan jika kau memeluknya seperti ini,” ucap Grante.


“Nona orang yang kuat. Dia tidak akan kesakitan karena pelukan erat anak kecil.”


Ty memelukku sangat erat. Tapi Grante lebih kuat daripada Ty. dia berhasil menarik tubuh Ty dariku. Ty meronta-ronta di pelukan Grante.


“Paman, lepaskan aku!” teriak Ty.


Hatiku terasa teriris melihat Ty menangis kencang. Aku menghela napas untuk menenangkan diri.


“Ty, apa kau menolak kebebasanmu?” tanyaku.


Ty berhenti meronta. Dia menatapku.


“Nona Violet adalah tuanku,” ucap Ty.


“Kalau begitu, Ty, dengarkan aku.” Aku menarik napas dalam. “Aku memerintahkanmu untuk tidak mengikutiku lagi. Kau harus tinggal di desa ini selama desa ini aman untukmu.”


Ty membeku. Jelas itu bukan sesuatu yang dia inginkan.


“Nona!”


“Perintahku mutlak untukmu, Ty.”


Ty tercekat. Bulir-bulir air mata membasahi pipinya.


“Apa kau mendengarku, Ty?” tanyaku.


“Iya, Nona.”


Aku menatap Grante. “Lepaskan Ty, Grante.”


Grante melepaskan Ty sesuai perintahku. Ty tidak mengamuk atau berlari ke arahku. Dia diam di tempat.


“Apa jawabanmu terhadap perintahku?” Aku bertanya dengan dingin.


Ty berlutut padaku. Aku melihat tubuhnya gemetar. Air matanya menetes membasahi lantai.


“Perintah Nona akan aku laksanakan,” ucap Ty.


“Bagus. Sekarang kembalilah ke tempatmu sebelum Grante membawamu ke sini.”


Ty mengangkat wajahnya. Dia menatapku tidak percaya.


“Nona, tolong setidaknya biarkan aku mengantar Nona pergi,” pinta Ty.


Aku menggeleng tegas. “Kau cukup mengantarku sampai sini aja.”


“Tapi Nona!”


“Ty, patuhi perintahku!”


Ty tersentak. Dia terlihat sangat kecewa.


“Kenapa, Nona?” Ty menatapku dengan penuh emosi kekecewaan. “Aku benci, Nona!”


 

__ADS_1


 


__ADS_2