Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 47,5


__ADS_3

Aras sangat terkejut ketika Violet yang berdiri di depannya tiba-tiba roboh. Aras langsung menurunkan Ty kemudian mendekap tubuh Violet dengan erat.


Tangan Aras gemetar ketika Violet terbaring lemah di lengannya. Tubuh Violet sangat dingin. Aras mendekapnya lebih erat.


“Nona.” Ty menatap Violet khawatir.


“Ty, lepas jubahku dan segera kau pakai. Kita akan pergi ke desa di depan sana,” kata Aras.


“Baik.”


Ty melepas jubah Aras dan memakainya. Dia kemudian mengikuti Aras berjalan dengan cepat ke arah desa.


Desa yang mereka temui sangat sepi. Semua penduduk desa berada di dalam rumah, berlindung dari badai salju.


Aras menggedor pintu rumah paling luar dari desa.


Seorang laki-laki muncul membuka pintu. Wajahnya berubah masam ketika melihat Aras.


“Klan Hitam! Pergi kau! Kau pasti adalah penjahat!” Laki-laki itu menatap Aras dengan marah.


“Tolong kami. Setidaknya tolong gadis ini.”


Aras memohon pada laki-laki itu. Tapi laki-laki itu tidak melunak sama sekali, walapun sudah melihat keadaan Violet. Dia tetap mengusir mereka.


“Pergi kalian! Aku tidak akan tertipu pada muslihat kalian!” Laki-laki itu menutup pintu rumahnya.


Aras tidak berdiam diri saja disana setelah ditolak oleh satu rumah. Dia ganti ke rumah lain dan mengetuk pintunya. Tapi begitu pemilik rumah melihat Aras, dia langsung kembali menutup pintu tanpa mengucap sepatah kata apapun.


Aras dan Ty mengetuk satu persatu pintu rumah tapi tidak ada yang menerima mereka. Beberapa malah menodongkan senjata.


“Pergi kalian! Atau kalian akan aku tombak!” seru seorang laki-laki.


Aras dan Ty segera mundur beberapa langkah dari rumah itu ketika melihat pemilik rumah menodongkan tombak beracun ke arah mereka. Laki-laki itu langsung menutup pintu setelah Aras dan Ty mundur.


Rasa marah, kesal, lelah, dan khawatir memenuhi Aras. Dia tidak habis pikir bagaimana mereka bisa menolak orang yang membutuhkan pertolongan. Rasanya dia ingin memasuki salah satu rumah, tidak peduli jika tuan rumah tersebut menerimanya atau tidak. Jika mereka menolak, Aras akan mendobraknya. Aras tidak bisa membiarkan Violet dalam keadaan seperti ini.


Tubuh Violet sangat dingin. Aras bahkan sampai tidak bisa merasakan sedikitpun rasa hangat dari tubuh Violet. Aras mulai panik. Dia berlutut di atas salju.


“Violet! Violet!” Aras memanggil nama Violet berkali-kali sambil mengguncang tubuh Violet pelan.


“Aras, tenanglah. Nona masih bernapas.” Ty menenangkan Aras. Dia menunjukkan asap tipis yang muncul di depan mulut Violet.


“Oh, Violet.” Aras mempererat pelukannya. Dia bisa merasakan jantung Violet yang masih berdetak.


“Bodoh!” Aras menyumpahi dirinya. Seandainya dia bisa menggunakan keistimewaan sekarang, keadaan bisa lebih baik.


“Aras...” Ty memanggil pelan.


Aras menoleh. Dia melihat Ty berdri di sampingnya. Aras kemudian ikut berdiri. Mereka kembali berjalan menghampiri rumah-rumah di desa.


Aras dan Ty berhenti di rumah terakhir di desa itu. Rumah itu adalah harapan terakhir mereka. Ketika Aras hendak mengetuk pintu, Ty maju lebih dulu.

__ADS_1


“Biar aku saja,” kata Ty.


Ty mengetuk pintu. Seorang perempuan keluar dari rumahnya.


“Ya ampun, Nak. Apa yang kau lakukan di tengah badai seperti ini?” Perempuan itu membersihkan salju yang ada di atas kepala Ty.


“Nyonya,” sebut Ty.


Perempuan itu terkejut ketika Ty memanggilnya dengan sebutan Nyonya.


“Nyonya, tolong kami. Tolonglah Nonaku.” Ty memperlihatkan Violet yang terbaring di gendongan Aras.


Perempuan itu sedikit terkejut ketika melihat Violet. Kepeduliannya muncul ketika melihat Violet yang terlihat sangat pucat. Tapi ketika matanya melihat Aras, dahinya langsung mengerut. Dia memegangi Ty dengan posesif.


“Nyonya?” Ty bingung dengan perubahan sikap perempuan itu yang tiba-tiba.


“Pergi kau! Kau tidak bisa membawa anak ini pergi bersamamu lagi.” Perempuan itu menatap Aras dengan tatapan yang sangat tajam.


Aras mengerti maksud perempuan itu. Dia mengira Aras menculik Ty. Aras tidak mempermasalahkan bagaimana perempuan itu memandangnya, yang terpenting perempuan itu harus mau menerima Violet.


“Aku akan pergi jika kau mau menolong gadis ini,” kata Aras.


Perempuan itu menatap Violet sejenak. Dia ingin menolong Violet karena Violet terlihat sangat membutuhkan pertolongan. Tapi dia ragu dengan Aras yang membawanya. Dia takut ini hanya jebakan. Apalagi setelah melihat rambut Violet yang berwarna ungu.


“Aku tidak bisa. Dia bukan Klan Hijau,” kata perempuan itu.


Amarah Aras meledak.


“Bukan Klan Hijau?! Apakah seseorang harus memiliki klan yang sama agar orang lain mau menolong?!” teriak Aras.


Ty melepaskan diri dari perempuan itu.


“Nyonya, manusia Klan Hitam ini adalah orang yang baik. Begitu pula dengan manusia Klan Ungu ini. Dia adalah Nonaku. Mereka berdua telah menyelamatkanku dan melindungiku. Aku mohon setidaknya tolong Nona.” Ty menahan air mata yang sudah dipelupuk matanya. Dia sudah merasa putus asa setelah puluhan rumah menolak mereka.


Perempuan itu menggeleng.


“Kau pasti sudah terpengaruh olehnya. Katakan saja yang sebenarnya terjadi. Aku akan melindungimu.” Perempuan itu memegang erat bahu Ty.


Ty menatap perempuan itu dengan kecewa.


“Nyonya! Aku mohon percaya padaku!”


Perempuan itu menggiring Ty masuk ke dalam rumah, meninggalkan Aras dan Violet di luar.


Ty memberontak. Dia tidak mau meninggalkan Aras dan Violet. Lebih baik dia kedinginan di luar sana daripada meninggalkan Aras dan Violet.


“Tunggu, Nak!” Perempuan itu mengejar Ty yang berlari ke Aras.


Ty berpegangan erat pada baju Aras.


Tangan Aras mengepal. Rumah itu adalah satu-satunya harapan mereka. Dia tidak mungkin membawa Violet berjalan di situasi seperti ini.

__ADS_1


Aras berlutut di depan perempuan itu. Perempuan itu terdiam karena terkejut.


“Aku mohon...  Aku sangat mohon padamu. Setidaknya tolong dia. Aku mohon,” pinta Aras. Dia menunduk memohon.


“Aras..” Air mata Ty akhirnya mengalir melihat Aras. Dia tidak pernah melihat Aras seputus asa ini.


“Tapi...” Perempuan itu masih ragu.


Ty ikut berlutut di samping Aras. “Aku mohon, Nyonya.”


Perempuan itu menghela napas. Dia tidak menyangka anak Klan Hijau yang ingin dia selamatkan juga memohon padanya.


“Baiklah,” kata perempuan itu.


Aras dan Ty mengangkat wajah mereka.


“Bawa dia masuk.” Perempuan itu masuk ke rumahnya lebih dulu.


“Terima kasih!”


Aras dan Ty segera mengikuti perempuan itu. Aras membaringkan Violet di kamar yang ditunjukkan perempuan itu


Perempuan itu menatap Aras.


“Aku akan merawatnya tapi kau harus pergi dari sini. Aku tidak ingin ada Klan Hitam di rumahku.”


“Baiklah.” Aras mengangguk. “Tolong rawat dia dengan baik. Aku sangat berterima kasih karena telah mau menolongnya.”


Aras melangkah pergi setelah mengucapkan terima kasih tapi Ty menahannya.


“Kau tidak bisa pergi. Di luar sangat dingin. Bagaimana kau bisa bertahan?” Ty menatap Aras cemas.


“Tidak apa-apa, Ty. Aku akan baik-baik saja.” Aras menepuk bahu Ty.


“Kalau begitu aku akan ikut denganmu. Lebih baik berdua daripada sendiri.”


Aras menggeleng. “Kau harus di sini. Kau harus menemani Violet hingga dia bangun. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku.”


“Tapi–”


Perempuan itu menarik Ty dari Aras. “Kau harus di sini.”


“Nyonya, aku mohon biarkan dia di sini juga,” pinta Ty.


Perempuan itu menggeleng dengan tegas.


Ty menatap Aras yang berjalan menuju pintu. Dia sangat mengkhawatirkan Aras.


Sebelum melangkah keluar rumah, Aras berbalik menghadap Ty.


“Ty, tolong jaga Violet. Aku tahu kau laki-laki yang kuat.” Aras tersenyum kemudian menutup pintu.

__ADS_1


Aras memandang rumah-rumah yang tadi dia datangi. Hampir saja dia menghancurkan desa itu jika tidak ada yang menolong Violet. Perempuan tadi telah menyelamatkan mereka.


Aras tersenyum getir. Dia kemudian melangkah pergi, meninggalkan desa.


__ADS_2