Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 44


__ADS_3

Aku, Aras, dan Ty akhirnya keluar dari ngarai. Setelah Aras membawa kami naik ke atas tebing, ternyata di tebing ini adalah akhir perjalanan kami di ngarai. Kami sekarang berada di kaki gunung Pegunungan Salju.


Aku menggendong Aras di punggungku. Dia pingsan beberapa saat setelah berbicara padaku. Aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sambil menggendongnya.


Ty menyarankanku untuk beristirahat dulu hingga Aras siuman. Tapi berisitrahat di dekat tebing itu membuatku khawatir jika tiba-tiba kawanan velociraptor betul-betul berhasil menaiki tebing. Lagipula aku ini adalah Klan Ungu, aku jauh lebih kuat daripada manusia klan lain pada umumnya. Menggendong Aras bukan perkara yang sulit.


Aras bergerak di punggungku. Dia sepertinya sudah sadar. Aras diam sejenak, mencerna kejadian yang baru saja terjadi.


“Violet,” panggil Aras pelan.


“Hmm..” sahutku.


“Turunkan aku,” pinta Aras.


“Tidak bisa. Keadaanmu terlalu buruk untuk berjalan. Apa kau tidak ingat kejadian tadi?”


Aras hanya diam.


“Kau masih terlalu lemah saat ini,” kataku.


“Aku baik-baik saja. Jadi turunkan aku.” Aras bersikeras.


“Meskipun kau bilang kau baik-baik saja aku tidak akan menurunkanmu sebelum kita menemukan tempat istirahat.”


Aras meletakkan dagunya di bahuku. Rambut hitamnya menyapu sebagian pipiku. Aku bisa mendengarnya mendesah pelan.


“Tapi ini memalukan. Perempuan seharusnya tidak menggendong laki-laki. Ini terbalik,” gumam Aras.


Aku tertawa kecil. “Kenapa kau tiba-tiba jadi seperti Azuro, hah? Kau lebih baik diam agar cepat pulih.”


Aras diam menurut. Dia tidak protes lagi.


Ty memandangi Aras. Aras yang menyadarinya langsung memalingkan wajah dari Ty.


“Ty, jangan terus memperhatikan Aras,” Aku memberikan peringatan.


Ty langsung menghadap depan. “Aku tidak memperhatikannya.”


Aku tertawa kecil. Aku tidak bisa menyangkal jika ini membuat Aras malu. Tapi begini lebih baik daripada membiarkan dia berjalan sendiri dengan keadaannya sekarang.


Hari semakin sore. Udara bertambah dingin. Aku bisa melihat asap tipis ketika aku menghembuskan napas. Tumbuhan juga semakin jarang. Aku hanya melihat semak-semak saja. Mereka bukan semak liar biasanya. Mereka adalah semak beri. Ty terkadang memetik beri selama kami berjalan.


Aku berhenti melangkah.


“Ada apa, Nona?” tanya Ty.


Aku menatap semak beri sejenak. Sedari tadi, aku tidak melihat binatang apapun di sini. Mungkin karena udaranya terlampau dingin, tidak ada binatang yang mau tinggal di sini. Beri ini mungkin hanya satu-satunya makanan kami sekarang.


“Ty, aku pikir lebih baik kita mengumpulkan beri untuk makan malam,” kataku.


“Baik, Nona.”


Ty bergegas menghampiri semak beri di dekatnya dan mulai memetik beri, sedangkan aku pergi menuju batu besar yang tidak jauh dari Ty. Aku jongkok dan menurunkan Aras. Tempat ini tidak berangin karena terlindung oleh batu besar. Aku rasa kami bisa bermalam di sini jika tidak menemukan tempat yang lebih baik.


“Aku akan membantu Ty memetik beri dulu. Nanti aku akan kembali,” ucapku pada Aras.


“Maaf aku tidak bisa membantu kalian.”


“Tidak apa-apa. Kau istirahat saja di sini.”


Aku menyusul Ty memetik beri. Beri di sini sangat banyak. Aku tidak memerlukan waktu lama untuk memenuhi botol labuku dengan beri.


Ty masih sibuk memetik beri. Jadi, aku memutuskan untuk mencari kayu bakar. Kami harus membuat api untuk menghangatkan diri di suhu sedingin ini. Udara pasti akan lebih dingin ketika malam tiba.


“Nona, apa ini sudah cukup?” tanya Ty sambil menunjukkan bajunya yang dia jadikan wadah beri.


Beri yang Ty kumpulkan sangat banyak hingga membentuk gunung. Baju, mulut, dan pipinya berwarna merah. Dia pasti juga memakan beri selama memetiknya.


“Wajahmu belepotan beri, Ty.” Aku membersihkan wajah Ty dari sari beri yang kemerahan.


Aku menyeka wajah Ty. Tapi sekeras apapun aku membersihkannya, warna merah dari beri masih tetap menempel di wajah Ty.


“Oh, ya sudahlah.” Aku putus asa. Aku membiarkan wajah Ty berwarna merah.


Ty menatapku bingung." Kenapa, Nona?"


Aku hanya menggeleng. "Tidak apa-apa."


“Ayo, Ty! Kita kembali,” Aku mengajak Ty kembali kepada Aras.


Ketika aku dan Ty kembali, Aras sedang tertidur. Aku meletakkan telunjukku di bibir, menyuruh Ty untuk tenang.


Ty mengangguk.

__ADS_1


Kami duduk di dekat Aras. Ty meletakkan beri yang dia petik ke atas daun lebar. Aku menyusun kayu bakar dan mulai menyalakan api. Kayu yang aku gesekkan mulai berasap. Aku meletakkan dedaunan kering di atasnya. Kemudian ranting-ranting kecil. Setelah api cukup besar, aku baru meletakkan kayu di atasnya.


Aku menuangkan sedikit air pada botol labu yang berisi buah beri. Botol itu kemudian aku letakkan di atas bara api.


“Nona, aku istirahat dulu,” kata Ty. “Jika Nona lelah, Nona bisa membangunkanku.”


Aku mengangguk. “Selamat tidur, Ty.”


Matahari masih bersinar. Aku rasa aku bisa pergi berburu sebentar. Sebelumnya aku memang tidak melihat binatang apapun. Tapi mungkin aku bisa menemukan mereka jika aku berkeliling.


Aku pergi setelah mengecek keadaan benar-benar aman. Aras saat ini tidak bisa bertarung. Jadi aku harus memastikan Aras dan Ty aman selama aku pergi.


Aku melangkah sambil memperhatikan sekitar. Keistimewaanku sudah hampir pulih sepenuhnya. Aku bisa melihat berbagai jejak di sini. Ada beberapa jejak yang aku kenali.


“Ah, ada kelinci dan... kalkun?!” Aku terkejut melihat ada jejak kalkun di sini. Aku tidak mengira mereka tinggal di tempat sedingin ini.


Aku memutuskan untuk mengikuti jejak kalkun. Semakin dekat aku dengan kalkun pemilik jejaknya, jejaknya akan semakin bersinar. Jejak kalkun itu berhenti di semak belukar yang lebat.


Aku melihat ke dalam semak melalui celah yang ada. Di dalam sana, aku melihat kalkun yang ukurannya tidak terlalu besar tertidur. Perlahan aku memasukkan tanganku ke dalam semak. Tanganku berusaha menggapai kalkun itu tapi kalkun itu masih jauh dari jangkauanku.


Aku memasukkan sebagian tubuhku ke dalam semak. Saat tanganku hampir menyentuh kaki kalkun, kalkun itu tiba-tiba bangun dan langsung berlari keluar semak.


Aku bergegas menarik diri dari semak-semak dan berlari mengejar kalkun itu. Kalkun liar itu berlari sangat cepat. Tapi aku bisa mengejarnya. Sudah puluhan kali aku mengejar binatang liar. Kalkun itu tidaklah seberapa dengan buruan lain yang pernah aku tangkap.


Binatang memiliki insting untuk kabur dari pemangsa. Aku cukup hafal bagaimana mereka menghindar. Aku berlari ke depan kalkun dan menutupi jalannya. Jika aku menutup jalannya dan membuat kalkun itu kaget seperti ini dia akan berbelok ke arah lain. Tepat sesuai perkiraanku, kalkun itu terkejut denganku yang tiba-tiba muncul di depannya. Mataku awas memperhatikan gerakannya. Gerakkannya terlihat seperti akan berbelok ke kanan. Tapi kalkun adalah golongan ayam-ayaman. Ayam sering melakukan gerakan menipu. Awalnya mereka akan terlihat berbelok ke suatu arah tapi akhirnya mereka akan berbelok ke arah yang berkebalikan.


“Dapat!” seruku.


Aku berhasil menangkap kalkun itu ketika dia sedang melakukan gerak tipuannya. Kalkun itu meronta di tanganku. Aku memegang kakinya dengan erat. Sayapnya mengepak, berusaha kabur. Aku segera memegang sayapnya juga. Kalkun itu sekarang tidak bisa bergerak lagi.


Aku mengeluarkan pisau Ludwig. Kebetulan di dekatku ada sungai kecil. Aku bisa membersihkan kalkun ini di sini.


Kalkun yang aku tangkap tadi sekarang sudah menjadi kalkun tanpa bulu yang siap dipanggang. Setelah aku membersihkannya, ukurannya jadi sangat mengecil. Dia hanya memiliki bulu yang tebal tapi daging yang sedikit.


Aku menatap kalkun di depanku dengan sedikit kecewa. Aku memang tidak berharap banyak darinya. Tapi ukurannya bahkan tidak akan bisa mengenyangkan satu orang.


Matahari sebentar lagi tenggelam. Aku harus puas dengan kalkun kecil ini. Ini lebih baik daripada kami bertiga hanya memakan beri.


Ketika perjalanan pulang, aku melihat seekor kelinci gemuk sedang melompat di depanku. Aku langsung memutuskan kelinci itu menjadi targetku selanjutnya.


Aku menganggantung daging kalkun pada semak. Aku melangkah dengan hati-hati mendekati kelinci itu. Tapi kelinci itu cepat sadar. Dia berlari kencang ketika aku baru sedikit mendekatinya.


Aku bergegas berlari mengejarnya. Larinya lebih cepat dari kalkun tadi. Dia juga berlari melewati daerah-daerah yang sulit dilewati. Kelinci itu berlari lubang yang pasti itu adalah sarangnya. Aku berhasil mengejarnya tapi kelinci itu hampir masuk ke sarangnya.


Pisauku menancap tepat di depan sarang kelinci ketika kelinci itu hampir masuk ke sarangnya. Kelinci itu meloncat mndur. Sebelum kelinci itu lari lagi, aku melemparkan diri ke arah kelinci itu. Dan akhirnya aku berhasil mendapatkannya.


Aku memeluk kelinci itu sambil berbaring di tanah. Tubuhnya yang besar meronta kuat. Aku harus memeganginya lebih kuat.


“Kau lebih baik menggunakan perangkap untuk menangkap kelinci.” Aras tiba-tiba berdiri di sampingku.


“Aras!?” Aku langsung berdiri ketika melihatnya.


“Kenapa kau di sini? Kau harusnya istirahat saja di sana bersama Ty,” kataku.


“Aku sudah baik-baik saja.”


Aku menatap Aras dari ujung rambutnya hingga kakinya. Dia terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.


“Syukurlah kalau begitu.” Aku menghembuskan napas lega. “Tapi ini berarti kau meninggalkan Ty sendirian! Bagaimana kalau ada binatang yang menyerangnya?”


“Dia jauh bisa melawannya daripada aku yang sekarang.”


Aku berdecak. “Itu artinya kau belum baik-baik saja. Kenapa kau malah ke sini?”


“Kau tidak ada di sana. Jadi, aku rasa kau mungkin pergi berburu.”


“Dan kau menyusulku?”


Aras mengangguk. “Aku juga ingin melihat-lihat sekitar.”


Aku menghela napas. “Kau kembalilah lebih dulu. Aku masih harus membereskan kelinci ini dulu.”


“Baiklah.”


Kami berjalan berlawanan arah. Aras kembali ke tempat kemah, sedangkan aku pergi ke sungai. Ketika pulang, aku juga tak lupa membawa kalkun yang sebelumnya aku sangkutkan ke pohon.


Aras menungguku di depan api unggun sambil menghangatkan diri. Dia terlihat takjub ketika aku membawa aku membawa dua buruan.


“Wah, aku kira kita hanya akan makan beri saja. Tapi sepertinya kita akan kenyang malam ini,” ucap Aras.


“Aku tidak mungkin membiarkan anak kecil dan orang sakit hanya makan beri hari ini.”


Aku menyodorkan beberapa potong daging kelinci kepada Aras. Aras kemudian memanggangnya di atas api. Sisa daging kalkun dan sisa daging kelinci aku gantung. Mereka aku keringkan untuk sarapan besok dan makan siang.

__ADS_1


“Ugh..” Ty meringkuk kedinginan di bawah batu.


Aku melepas jubahku lalu memakainya untuk menyelimuti Ty. Aku membebatnya hingga dia seperti kepompong. Tubuh Ty aku tarik lebih dekat ke api unggun agar dia lebih hangat.


“Kau sangat memperhatikannya,” ucap Aras ketika melihatku menyingkirkan rumput yang menempel di rambut Ty.


Aku tersenyum memandang Ty. “Dia masih kecil. Dia seharusnya tidak ikut di perjalanan kita.”


“Apa kau akan terus membawanya?”


Aku duduk di samping Aras. “Aku berencana mempertemukan dia dengan keluarganya. Aku harap dia bisa bertemu pamannya di Desa Beringin.”


“Dia pasti akan menangis keras ketika kau meninggalkannya.” Aras tersenyum kecil sambil menatap Ty.


“Yah, bagaimana lagi. Kita tidak mungkin terus membawanya. Kita tidak bisa dan ini terlalu berbahaya.”


Aku mengambil botol labu berisi beri yang tadi aku panas. Beri itu sekarang sudah mencair menjadi sari beri. Aku mencium bau harum yang menguar dari dalam botol. Aku meminumnya dengan perlahan karena masih panas.


Rasa manis dan asam membuatku tersenyum setelah aku mencicipi sari beri yang aku buat. Badanku juga terasa hangat setelah meminumnya.


Aku menyodorkan botol sari beri ke Aras. “Cobalah. Tapi hati-hati karena ini masih sangat panas.”


Aras menerimanya dan meminumnya perlahan. Senyum mengembang di bibirnya setelah merasakan sari beri itu.


“Ini sangat enak,” puji Aras.


“Aku senang kau menyukainya.”


Aras mengambil daging kelinci yang sudah matang. “Daging akan lebih enak jika dimakan bersama saus beri.”


Aras menuangkan sari beri ke atas daging kelinci. “Apa kau pernah memakannya seperti ini, Violet?”


“Terkadang aku menyantap daging dengan saus anggur tapi aku belum pernah dengan saus beri.”


“Kalau begitu cobalah.” Aras menyodorkan daging kelinci yang sudah dilumuri sari beri. “Rasanya mungkin tidak seenak di restoran. Tapi ini akan tetap lezat.”


Aku memakan daging yang diberikan Aras. Rasa gurih dari daging bercampur dengan manis dan asam dari sari beri, memberikan rasa yang sempurna.


“Hmm! Rasanya sangat enak!” pujiku.


Aras tersenyum senang.


Kami berdua menikmati daging kelinci dengan saus beri. Makan malam kami hari ini adalah makanan hutan dengan rasa restoraran.


“Kau hampir tidak berubah. Aku sudah memberitahumu untuk menangkap kelinci dengan perangkap tapi kau masih saja menangkapnya dengan memburunya.”


“Tapi aku berhasil menangkapnya hari ini.”


“Ya kau memang sudah tumbuh menjadi hebat.” Aras mengacak rambutku.


Aku merasa pipiku langsung memerah. Tindakannya sangat tiba-tiba. Aras yang menyadari pipiku yang memerah jadi ikut tersipu. Dia menarik tangannya kembali dan menatap daging kelinci di tangannya.


“Ha.. ha.. Dagingnya enak, ya.” Aras tertawa canggung.


“Ha.. ha.. iya. Ini enak.” Aku pun membalasnya dengan canggung.


Sesaat kami diliputi keheningan.


“Saat itu kita juga berburu kelinci tapi kita malah mendapatkan rusa,” kata Aras. “Kau melepaskan kelincinya saat itu karena kasihan. Tapi sekarang kau tidak segan-segan memburunya.” Aras mencoba mencairkan suasana.


“Aha.. ha.. Kau benar.”


Aku tidak merasa canggung karena hal tadi lagi. Tapi aku teringat kejadian pertemuan kami berdua dengan Vender untuk pertama kali. Aku juga teringat dengan masa-masa saat kami masih di panti asuhan.


Kejadian berdarah di panti asuhan terlintas di kepalaku. Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk menanyakan kejadian itu pada Aras.


“Hey, Aras. Sebenarnya saat itu apa yang terjadi? Kenapa kau membunuh mereka?” Aku menatap api yang bergerak tertiup angin.


Aras menatapku terkejut, tidak mengira aku kembali menanyakan kejadian itu lagi. Dia ikut menatap api unggun yang berpendar. Matanya menyorotkan kesedihan.


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2