
“Desa ini mungkin adalah desa paling menakjubkan yang pernah kau lihat. Aku bilang begini bukan hanya karena aku kepala desa di sini. Tapi desa ini memang luar biasa,” kata Gracinia.
Gracinia mengajak kami mengunjungi tebing tempat penduduk Desa Beringin tinggal. Desa Beringin adalah desa yang berada di tebing. Penduduk desa melubangi tebing untuk menjadi tempat tinggal mereka. Daripada disebut gua, tempat tinggal mereka lebih cocok disebut rumah atau bahkan gedung.
Tinggi setiap pintu gua berkisar tiga sampai lima meter. Bentuk mereka melengkung dan permukaannya sangat halus. Selain itu terdapat dua pilar besar di samping pintu. Gua-gua di Desa Beringin malah mengingatkanku dengan gedung-gedung opera di Klan Biru.
“Desa ini memiliki bangunan yang luar biasa,” pujiku.
Desa Beringin memiliki kemampuan arsitektur yang mengagumkan. Klan lain yang memiliki teknologi lebih maju daripada Klan Hijau saja mungkin tidak bisa membuat gua-gua sebagus ini.
Gracinia tersenyum. “Tentu saja. Leluhur desa ini memiliki keterampilan mengukir batu yang menakjubkan. Bangunan-bangunan ini adalah peninggalan dari mereka.”
Gracinia membawa kam ke bangunan dengan pintu paling besar. Pilar yang berdri di setiap sisi pintu dipenuhi dengan ukiran-ukiran yang sangat detail.
“Ini adalah tempat pertemuan,” jelas Gracinia.
Aku melongokkan kepalaku ke dalam, melihat seperti apa bentuk tempat pertemuan Desa Beringin.
Tempat pertemuan Desa Beringin ternyata sangat besar. Luasnya mungkin dua kali lebih besar dari pada tempat pacuan kuda. Ada panggung persegi di tengah-tengah ruangan. Panggung itu dikelilingi bangku-bangku batu yang bertingkat.
tengahnya. Panggung itu dikelilingi bangku-bangku batu yang bertingkat.
Kami berempat berpindah tempat. Gracinia menunjukkan gua-gua berukuran lebih kecil yang berjajar rapi di tebing.
“Itu adalah rumah penduduk,” kata Gracinia.
Aku tidak melihat banyak aktivitas di luar sini. Aku hanya beberapa kali melihat satu dua orang penduduk melewati kami. Suasananya jauh lebih sepi dari pada pertama kali aku, Aras, dan Ty datang.
“Kenapa di sini sangat sepi?” tanyaku.
“Minggu ini desa memang selalu sepi. Upacara Kedewasaan akan segera diadakan. Jadi, semua penduduk desa sedang bersiap untuk upacara itu,” jawab Gracinia. “Para laki-laki perg berburu, para perempuan menyiapakan barang-barang untuk upacara, sedangkan anak-anak kebanyakan sedang melakukan latihan utnuk upacara dua hari lagi.”
“Apa itu upacara kedewasaan?” Aku bertanya lagi.
Grante sudah sempat menyinggungnya ketika aku menanyakan tentang Ty. Dia bilang kepala desa lebih paham tentang upacara itu.
“Itu adalah upacara untuk anak-anak yang menginjak umur dua belas tahun. Di sini dua belas tahun sudah dianggap dewasa. Mereka mulai bisa ikut berburu dan melakukan tugas berat lainnya.” Gracinia menjelaskan.
Aku mengangguk mengerti.
“Upacara kali ini sangat penting karena bertepatan dengan mekarnya bunga Banyan,” ucap Gracinia sambil memandang pohon beringin besar yang tumbuh di tengah desa.
“Banyan adalah pohon beringin besar yang tumbuh di tengah desa.” Grante menambahkan.
Aku, Aras, Grante, dan Gracinia menatap Banyan dari atas tebing.
Gracinia menoleh padaku. “Kita sebaiknya melihatnya lebih dekat. Banyan adalah hal paling luar biasa di desa ini. Sayang, jika kau belum melihatnya dari dekat sebelum pergi dari desa ini. Aras sudah pernah melihatnya juga dari dekat. Tapi itu sudah lama sekali. Bagaimana? Apa kau mau?”
__ADS_1
Aku mengangguk.
Gracinia pun memimpin jalan ke Banyan. Aku berjalan beriringan di samping Aras.
“Ketika aku melihat Banyan waktu kecil, energinya sangat besar. Aku tidak bisa berdri terlalu dekat dengan pohon itu, atau bahkan menyentuhnya. Aku pikir kita nanti hanya bisa melihatnya dari jauh karena aku merasa energi Banyan makin kuat.” Aras memberitahu.
Kami menurunin ratusan anak tangga untuk sampai di permukaan tanah yang sejajar dengan Banyan.
Di anak tangga terakhir, aku terdiam. Satu kakiku sempat menyentuh permukaan tanah. Tapi aku langusng menariknya lagi karena aku merasakan sengatan di kakiku.
Aras juga berhenti melangkah. Dia memandang tanah di bawahnya.
“Gracinia!” panggil Grante.
Grante berjalan di belakangku dan Aras. Dia memanggil Gracinia agar dia berhenti.
Gracinia menoleh dan melihatku juga Aras yang masih berdiri di anak tangga.
“Ada apa? Kenapa kalian tidak turun?” tanya Gracinia.
“Kami sepertinya tidak bisa lebih dekat lagi. Energi dari Banyan terlalu besar untuk kami,” jawab Aras.
Gracinia mengangguk mengerti, meskipun aku bisa melihat kekecewaan di wajahnya.
“Kau bisa menjelaskan di sini, Gracinia,” kata Grante.
Gracinia mengiyakan. Dia mulai menjelaskan mengenai Banyan.
“Algae adalah salah satu dari kembar bersaudara itu?” Aku memastikan.
“Ya. Tujuh kembar bersaudara itu adalah pemilik galur murni pertama di dunia,” jawab Gracinia.
“Tapi bukankah pemilik galur murni terlahir dari permata klan itu sendiri?”
“Pemilik galur murni pada umumnya memang begitu. Tapi tujuh pemilik galur murni itu pengecualian. Mereka berbeda dengan pemilik galur murni yang kita tahu,” jelas Gracinia.
Banyan adalah pohon paling terang di antara semua pohon di Klan Hijau yang aku lihat. Ketika malam tiba, Desa Beringin tidak menggelap karena pendar cahaya dari Banyan
“Seperti yang dirasakan oleh kalian, Banyan memiliki energi Zamrud yang besar. Terkadang ketika energinya benar-benar besar muncul zamrud-zamrud kecil di sekitar Banyan. Apalagi setelah Zamrud Klan Hijau pecah. Awalnya zamrud kecil itu merupakan buah dari Banyan. Namun perlahan-lahan mengeras dan berubah menjadi zamrud. Kemungkinan Banyan memiliki energi sebesar ini karena terbentuk dari jasad pemilik galur murni Klan Hijau pertama.” Gracinia menjelaskan panjang lebar.
Aku melihat energi Zamrud mengalir dari puncak batang Banyan. Puncak itu adalah pusat energinya. Menurutku Banyan mirip kejadiannya dengan pohon violet di Jadnew Meskipun aku tidak melihatnya, aku cukup yakin ada Zamrud di dalam sana.
“Apa ada yang pernah naik ke atas sana?” tanyaku.
Gracinia dan Grante terlihat sangat terkejut dengan pertanyaanku.
“Tentu saja tidak. Banyan adalah pohon yang sangat sakral, tidak hanya bagi Desa Beringin tapi juga untuk seluruh Klan Hijau,” jawab Grante.
__ADS_1
“Orang yang berani memanjat Banyan adalah orang paling tidak tahu diri di Klan Hijau. Jika sampai ada yang melakukannya, aku tidak akan berdiam diri saja. Penduduk desa pun akan melakukan sesuatu. Memanjat Banyan adalah perbuatan yang sangat lancang,” kata Gracinia.
“Tapi dengan energi sebesar ini, apa kalian tidak apa-apa jika mendekati atau menyentuhnya?”
Banyan memancarkan gelombang energi yang sangat besar. Sekalipun tidak ada orang yang memanjat pohon itu karena sakral, orang yang nekat memanjat Banyan bisa terbakar jika mereka hanya manusia Klan Hijau biasa, bukan pemilik galur murni karena energinya yang besar.
Grante mengangguk. “Selama energi Banyan tidak sedang pada puncaknya, keadaan kami akan baik-baik saja. Banyan adalah pohon yang sakral bagi Klan Hijau. Jadi, banyak upacara-upacara di Desa Beringin sering diadakan di bawah Banyan.”
Energi dari Banyan mengalir melalui akar-akarnya yang tertanam panjang di dalam tanah. Mereka mengalirkan banyak energi Zamrud ke wilayah Pegunungan Selatan.
Meskipun Banyan memiliki energi besar, energinya masih kalah jauh dari permata klan. Permata klan bisa mengalirkan energinya ke seluruh wilayah klan. Sapphire dan Amethyst yang aku bawa sebenarnya jauh lebih kuat
Setelah mengunjungi Banyan, aku dan Aras memutuskan untuk menyudahi jalan-jalan kami karena keadaan kami memburuk. Berdiri dalam waktu lama di dekat Banyan sangat buruk untuk manusia klan lain, selain Klan Hijau.
“Maafkan aku, Violet, Raja Aras. Aku tidak terlalu memperhatikan keadaan kalian sehingga ini bisa terjadi,” ucap Gracinia setelah aku dan Aras mendapat perawatan dari Ginger.
“Tidak apa-apa. Keadaan kami baik-baik saja. Jadi, kau tidak perlu khawatir,” kata Aras.
Gracinia menghela napas dengan berat.
“Kepala Desa, kau dengar apa yang dikatakan Raja Aras? Mereka baik-baik saja. Jadi, sebaiknya kau pergi ke Banyan karena penduduk desa sudah menunggumu untuk persiapan upacara,” kata Ginger.
Gracinia mengangguk.
“Jika ada apa-apa, beri tahu Grante. Dia akan bersama kalian di sini,” kata Gracinia sebelum pergi.
Aku dan Aras mengangguk.
hanya bisa menemanimu sampai sini. Aku harus mengikuti latihan untuk upacara kedewasaan. Nanti setelah latihan, aku akan mengunjungi Nona lagi,” kata Ty.
“Baik, Ty. Terima kasih untuk hari ini.”
Ty mengangguk. Dia kemudian berlari pergi sambil melambaikan tangannya.
Aku berdiri di luar Pondok hingga Ty hilang dari pandanganku.
Aras sudah terbangun ketika aku kembali ke ruang perawatan. Dia sedang mengobrol bersama Grante.
“Selamat datang, Violet,” sambut Grante. “Apa kalian bersenang-senang?”
“Desa ini memiliki mengagumkan. Aku melihat banyak hal baru di sini.”
“Aku senang mendengarnya.”
Grante bangkit dari tempat duduknya. “Aku permisi dulu. Nanti malam aku akan kembali ke sini.”
Aku dan Aras mengangguk.
__ADS_1