
Aku menyematkan belati milik Aras di pinggangku. Pedangku sudah hancur. Pisau milikku juga sudah hilang di hutan ketika aku bertarung dengan Arnold. Belati Aras menjadi senjataku satu-satunya sekarang.
“Kau yakin akan ke sana?” tanya Grante memastikan sekali lagi.
“Tentu saja. Aku tidak ada pilihan lain. Tekadku juga sudah bulat,” jawabku.
Grante mengangguk mengerti. Dia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan dua buah botol kecil.
“Bawalah ini.” Grante menyodorkan dua botol kecil berisi cairan hijau padaku.
“Apa ini?” tanyaku.
“Racun monkshood sama sekali belum dikeluarkan dari tubuhmu. Hanya tinggal menunggu waktu hingga racun itu akan bereaksi. Ini adalah obat untuk memperlambat penyebaran racun monkshood di tubuhmu. Minumlah jika racun itu mulai bereaksi,” jawab Grante.
Aku mengangguk mengerti.
“Nona, apa Nona yakin? Lebih baik Nona serahkan ini padaku saja. Aku bisa pergi mengambil coco de mer itu sendirian.” Ty menatapku khawatir.
“Aku baik-baik saja, Ty. Jangan khawatir.” Aku mengusap kelapa Ty lembut.
“Jika Nona nanti merasa ada yang tidak beres, segera beritahu aku,” kata Ty.
Aku mengangguk.
Aku dan Ty pergi dari Desa Beringin ketika langit di timur masih memancarkan sinar putih. Begitu pintu kubah terbuka, aku dan Ty melesat di antara pepohonan. Ty memimpin di depan, menunjukkan jalan. Letak Desa Jati berada di barat Pegunungan Selatan. Umumnya perjalanan ke Desa Jati memerlukan waktu sehari penuh. Tapi aku dan Ty harus kembali sebelum matahari terbenam. Semakin lama kami kembali, nyawa Aras akan semakin terancam.
Aku dan Ty tidak saling berbicara sama sekali. Kami menyimpan energi kami untuk perjalanan ini. Kami mempercepat laju lari kami dari biasanya.
Aku dan Ty tiba di dekat Desa Jati lebih cepat dari perkiraan. Kami tidak langsung masuk ke wilayah Desa Jati. Kami mengawasi desa itu lebih dulu dari bukit di dekat sana.
Desa Jati berada di tengah-tengah danau besar. Desa itu terdiri dari empat pulau kecil yang saling dihubungkan dengan jembatan kayu. Di pulau paling tengah, terapat sebuah rumah besar. Rumah itu adalah satu-satunya rumah di pulau itu.
“Itu rumah kepala desa.” Ty memberitahu.
Grante bilang coco de mer tumbuh di rumah kepala desa. Pohon kelapa umumnya tinggi. Tapi aku tidak melihat ada pohon kelapa yang mencuat di sana.
“Aku tidak melihat pohon kelapa di sana,” kataku.
“Pohon coco de mer itu kecil, Nona. Kita tidak bisa melihatnya dari sini,” kata Ty.
Penjagaan di Desa Jati sangat ketat. Hanya ada satu jalan menuju kesana yaitu jembatan gantung yang dijaga oleh dua orang bersenjata.
Jembatan itu ramai. Gerobak-gerobak yang mengangkut sayur dan buah hilir mudik melewati jembatan itu. Setiap mereka akan memasuki jembatan, dua penjaga di depan jembatan akan mengecek pengendara dan barang bawaannya.
__ADS_1
“Mereka lebih ketat daripada terakhir kali aku di sini,” gumam Ty.
Salah seorang pembawa gerobak dilarang masuk oleh penjaga. Tapi orang itu bersikeras untuk masuk. Salah satu penjaga mengusirnya. Orang itu masih keras kepala. Tiba-tiba penjaga satunya lagi mengeluarkan kapaknya dan mengayunkannya ke leher orang itu.
Aku terkesiap. Ty menutup mulutnya. Suasana yang tadinya ramai di depan jembatan menjadi hening. Orang-orang di sana terdiam. Mereka menatap kaku mayat di depan mereka.
“Nona, kita mungkin harus menghindari jembatan itu,” kata Ty.
“Apa kau tahu jalan lain?”
Ty mengangguk ragu. “Tapi aku tidak yakin. Sudah lama sejak aku terakhir kali menggunakannya.”
“Kita bisa mencobanya,” jawabku.
Keadaanku sekarang tidak terlalu baik untuk bertarung. Pilihan terbaik saat ini adalah menghindari pertarungan. Aku hanya akan bertarung jika sangat terpaksa saja.
Ty membawaku memutari danau. Bagian sisi lain danau tidak di jaga. Tapi jarak dari tepi danau ke Desa Jati semakin jauh.
“Harusnya ada di sekitar sini,” gumam Ty.
Mata Ty liar mencari sesuatu di balik semak. Dia menyibak dedaunan kering yang menumpuk tebal.
“Ah! Ini dia!” seru Ty.
“Aku harap perahu ini tidak bocor,” kata Ty.
Ty menyingkirkan dedaunan dan ranting pohon dari dalam perahu.
Aku mendekati Ty. Keadaan perahu ini bagus. Aku tidak melihat lubang di papan kayunya. Ada dua buah dayung di dalamnya.
“Perahu ini dulu aku gunakan ketika kabur dari rumah.” Ty memberitahu.
Ty menyeret perahu yang dia sudah bersihkan ke danau. Perahu itu mengambang dengan tenang.
Ty naik dengan hati-hati ke dalam perahu. Perahu itu hanya sedikit bergoyang. Tidak ada air yang masuk ke dalamnya.
“Ayo, Nona.” Ty mengulurkan tangannya.
Aku menerima uluran tangan Ty dan naik ke atas perahu.
Ty memegang dua dayung. Aku tidak bisa membantunya saat ini. Aku hanya bisa menggunakan tangan kananku.
Ty mulai mendayung ke arah desa. Dayungannya halus namun cepat. Tampak sekali jika dia sudah mahir mengendarai perahu ini.
__ADS_1
Perjalanan kami ke Desa Jati berjalan lancar. Tidak ada penduduk yang melihat kami. Tidak ada juga binatang air yang tiba-tiba muncul. Aku dan Ty tiba dengan selamat di pulau kecil yang sepi.
Ty memperhatikan sekitar. Setelah dirasa cukup aman, dia memberi tanda padaku untuk naik ke atas pulau. Ty tetap mengawasi sekitar ketika aku naik ke atas pulau.
Kami berdua berjalan mengendap di pulau ini. Hanya ada beberapa rumah di sini dan semuanya kosong. Rumah-rumah itu tampak tidak dihuni sejak lama.
“Kenapa rumah di sini kosong?” tanyaku.
Selain rumah di pulau ini, semuanya terlihat ramai. Beberapa bahkan dipenuhi oleh banyak orang.
“Pulau ini dulu tempat tinggal keluarga kepala desa. Dulu aku juga tinggal di sini,” jawab Ty.
Grante bilang Ziben dan pengikutnya sudah dihabisi. Itu pasti termasuk keluarganya.
“Maaf, Ty.”
“Tidak apa-apa, Nona. Aku juga sudah lama pergi dari sini.”
Karena pulau ini adalah pulau yang tadinya ditinggali keluarga kepala desa. Pulau ini memiliki jembatan yang berhubungan langsung dengan rumah kepala desa.
Aku dan Ty mengendap-endap melewati jembatan. Beruntung jembatan ini lumayan tertutup dari pulau lain. Kami lebih bebas bergerak.
Suasana di rumah kepala desa sangat sepi. Rasanya agak aneh. Penjagaan di depan desa sangat ketat, sedangkan di rumah kepala desa malah sangat sepi. Tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Ty langsung membawaku ke halaman belakang.
“Itu coco de mer.” Ty menunjuk pohon kelapa yang tingginya hanya dua meter.
Pohon itu seperti pohon kelapa pada umumnya. Tapi buahnya jauh lebih besar dan bentuknya tidak bulat.
Aku mengeluarkan belati milik Aras.
“Ayo, Nona!” Ty melangkah mendekati pohon coco de mer.
“Tunggu.” Aku menahan Ty. “Ini aneh, Ty. Tempat ini terlalu sepi.”
“Rumah kepala desa sejak dulu memang sepi, Nona. Lebih baik kita segera memetik buah itu agar kita bisa cepat kembali.”
Bayangan Aras muncul di kepalaku. Jika aku terlalu hati-hati, kami akan lama kembali ke Desa Beringin. Aku akhirnya mengikuti Ty berjalan ke pohon coco de mer.
Aku memetik coco de mer. Buah itu lebih ringan daripada dugaanku. Aku pikir coco de mer cukup berat karena ukurannya dua kali ukuran kelapa biasa.
“Aku tidak menduga kau benar-benar ke sini.”
__ADS_1