
Aku dan Ty mengikuti Aras menelusuri gua yang dibuatnya. Lubang yang dibuat Aras tadi bukan lubang yang sekedar lubang tapi gua yang sangat panjang. Gua ini tidak gelap, meskipun cahaya matahari tidak bisa masuk. Di sepanjang dinding gua, berbagai batu mulia tertanam di sana, memantulkan cahaya.
Aku menikmati pemandangan yang mewah ini. Aku pernah beberapa kali masuk ke gua yang dipenuhi kristal atau batu mulia. Mereka selalu tampak menakjubkan. Batu mulia di sini tertanam dengan sangat rapi. Seolah-olah Aras membuatnya dengan sengaja.
“Aku kira kau hanya membuat lubang biasa,” kataku.
“Aku spontan membuatnya. Jadi, aku tidak terlalu memikirkannya.” Aras menanggapi.
“Yah, kekuatanmu memang selalu luar biasa.”
Aras terdiam tiba-tiba. Dia memalingkan muka dariku.
Aku menatap Aras bingung. Apa ada yang salah dengan ucapanku tadi?
“Kenapa wajahmu merah, Aras?” Ty menengok, wajahnya berhadapan langsung dengan wajah Aras.
“Hah!? Apa– Kau pasti salah lihat karena gelap.” Aras gelagapan.
“Tapi wajahmu memang terlihat merah. Aku beritahu, ya, mataku ini cukup jeli.” Ty masih kukuh dengan pendapatnya.
“Ah, kau ini. Berhenti melihatku!” Aras mendorong wajah Ty menjauh.
“Kau menyebalkan!” Ty berlari kepadaku dan bersembunyi dibalik badanku. Pipinya menggelembung karena kesal.
Aku tertawa kecil melihat kelakuan mereka.
“Ty, jangan menempel padaku. Kau bisa ikut kotor.” Aku bergeser selangkah dari Ty.
“Tidak mau.” Ty bergerak selangkah mendekatiku.
“Ty..” Aku mulai memberikan peringatan.
“Baik.” Ty dengan murung bergeser dua langkah menjauhiku.
“Ty, kau tidak perlu sejauh itu.”
Ty menggeleng. “Aku nanti bisa ikut kotor seperti Nona.”
Entah mengapa aku merasa kesal dengan ucapannya. Tapi aku berusaha menahan diri dan tetap berjalan seperti tidak ada apapun.
“Oh, lihat, Nona! Batu ini seperti matamu. Cantik!” Ty menunjuk sebuah batu mulia ungu yang bersinar di dinding gua.
“Ya. Cantik sekali.” Aku tersenyum.
Ty mendekati batu itu. Dia kemudian menarik batu berwarna ungu itu dengan kedua tangannya.
“Apa yang kau lakukan, Ty?” tanyaku.
“Mengambilnya untukmu.” Ty masih berusaha keras mengambilnya.
“Ugh!” Ty menariknya dengan sekuat tenaga. Otot tangannya sampai terlihat.
“Batu itu menancap terlalu dalam. Kau tidak akan bisa mengambilnya,” kata Aras.
“Aku bisa mengambilnya.” Ty masih berusaha. Kakinya sampai dia pijakkan ke dinding gua untuk menambah kekuatannya.
“Kau bisa jatuh jika seperti itu. Kalau kau memang sangat menginginkannya, aku bisa mengambilkannya untukmu.” Aku maju mendekati Ty.
“Tidak. Aku akan mengambilkan batu ini untuk Nona.”
“Tapi–”
Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, Ty berhasil mencabut batu incarannya. Tapi karena kakinya berada di dinding, kakinya mendorong tubuhnya hingga terlempar ke arahku dan Aras.
BRAKK
Ty jatuh menjatuhiku dan Aras. Sekarang mereka berdua juga diselimuti oleh darah lebah.
“Ty!” teriakku.
Ty segera bangkit. Aku dan Aras juga ikut berdiri.
“Maaf, Nona!” Ty membungkuk padaku.
“Angkat kepalamu, Ty! Lihat aku!”
Ty mengangkat kepalanya perlahan. Dia menatapku dengan ragu.
CTAKK
Aku menjentik dahi Ty. Aras sampai terkejut karena bunyinya keras sekali.
“Violet, kau berlebihan menjentiknya!” seru Aras.
“Aku tidak melakukannya dengan keras!” belaku.
Ty mengusap-usap dahinya yang sakit. Air mata mulai mengalir di pipinya. “Ugh... Maaf, Nona.”
Aku menghembuskan napas dengan kesal. “Ini kedua kalinya aku memperingatkanmu. Padahal aku baru saja memperingatkanmu untuk mendengarkan ucapan orang lain. Kenapa kau sudah melanggarnya?”
“Maaf...”
“Sudahlah, Violet. Ty hanya ingin memberimu hadiah. Jangan memarahinya.” Aras menengahi.
Aku cemberut mendengar ucapan Aras. “Kenapa kau malah membelanya? Kali ini dia benar-benar salah. Aku juga tidak memarahinya. Aku hanya menegurnya.”
Aku kembali kepada Ty. “Sekali lagi kau mengingkari ucapanmu sendiri, kau bukan pelayanku lagi!”
Ty tersentak. Dia memandangku dengan mata terbelalak.
Aku berjalan meninggalkan Ty dan Aras dengan hentakan kaki yang keras.
“Nona! Jangan buang aku!” Ty berlari menyusulku. Tapi dia tidak berani berjalan di sampingku. Dia mengikutiku di belakang.
__ADS_1
Aku tidak mengerti kenapa aku sangat kesal. Aku tahu Ty hanya ingin memberikan batu mulia ungu itu padaku. Tapi karena dia tidak menghiraukan ucapanku, aku menjadi kesal. Aras juga malah mendukung Ty dari tadi. Itu tambah membuatku kesal. Padahal mereka biasanya bertengkar.
“Menyebalkan!” teriakku.
Aras memperhatikanku dan Ty dari belakang. Dia menghela napas pelan dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkahku.
Aku masih merasa kesal, meskipun kami sudah berjalan jauh. Aku juga masih menampakkan wajah kesal hingga Ty memilih jalan bersisian dengan Aras daripada aku. Dan itu tambah membuatku kesal.
Aku berhenti melangkah.
“Ty!” panggilku.
“Ada apa, Nona?” Ty menjawab panggilanku dengan ragu.
“Jalan di sampingku!”
“Eh?” Ty mencerna ucapanku.
“Apa aku harus mengulangnya dua kali?”
“Tidak, Nona!” Ty bergegas berdiri di sampingku.
Ketika aku akan mulai melangkah, aku mendengar Aras menghembuskan napas. Aku menoleh ke arahnya dengan wajah masam.
“Apa?”
“Aku rasa lebih baik kita pergi ke sumber air panas.” Aras tersenyum kepadaku.
Alisku mengerut. Aku tidak mengerti maksudnya. Tidak ada sumber air panas di sini.
“Apa maksudmu? Kau sedang bergurau?”
“Aku rasa gua ini terhubung ke sumber air panas. Lebih baik kita pergi ke sana dulu sebelum melanjutkan perjalanan kita ke Desa Beringin.”
“Tidak. Kita sudah banyak istirahat kemarin. Lebih baik kita bergegas ke Desa Beringin.”
“Kita tidak perlu terlalu buru-buru, Violet.”
Aku memincingkan mata. “Lebih cepat lebih baik. Kau pastinya juga mengerti.”
Ty memandangku dan Aras dengan bingung. Dia tidak mengerti apa yang kami bicarakan.
Aras menatap Ty. “Apa kau ingin pergi ke sumber air panas?”
Ty tidak langsung menjawab. Dia melirikku. Dia langsung menghindari tatapan mataku ketika dia menyadari aku meliriknya dengan tajam.
“Aku rasa lebih baik kita segera pergi ke Desa Beringin,” jawab Ty dengan suara pelan.
“Kenapa suaramu kecil dan terdengar meragukan begitu, Ty?” Aras tiba-tiba merangkul bahu Ty.
Ty menatap Aras terkejut.
“Kalau kau memang ingin ke sana, katakan saja. Violet tidak akan membuangmu,” bisik Aras.
“A.. aku ingin... pergi ke sumber air panas,” ucap Ty ragu.
Aras menepuk punggungnya. “Katakan dengan lebih yakin.”
“Aku ingin pergi ke sumber air panas.” Ty menatapku. “Aku ingin Nona juga pergi ke sana.”
Aku menatap Ty sejenak. Dia sangat imut ketika sedang bersemangat. Aku menghela napas. Apa boleh buat. Keimutannya meluluhkanku.
“Baiklah,” jawabku.
Mata Ty berbinar. Bibirnya tersenyum lebar.
“Terima kasih, Nona!” Ty memeluk pinggangku dengan erat.
“Kita harus cepat bergerak agar tidak membuang-buang waktu.” Aras menarik kerah baju Ty hingga pelukannya terlepas dariku.
“Aku tahu! Lepaskan aku!” Ty meronta.
Aras mendesah pelan. Begitu dia melepaskan kerah baju Ty, Ty langsung berlari dan berdiri di sampingku.
“Ayo, Nona!” Ty menawarkan tangannya untuk bergandengan.
“Kita kotor, Ty.” Aku menolak.
“Kita sama-sama kotor. Jadi tidak masalah, Nona.”
“Jika kau bergandengan, itu membuat kita lebih lama tiba di sana. Ayo jalan.” Aras menarik tangan Ty.
“Hey! Kau malah yang menggandengku! Lepaskan! Aku mau berjalan di samping Nona!” Ty memberontak.
Aras melepaskan tangan Ty. Dan Ty terjungkal ke belakang karena memberontak. Ty segera berdiri. Sebelum pergi ke sampingku dia menggeram kesal kepada Aras.
Aras memimpin jalan. Terkadang guanya bercabang. Aras akan berhenti sejenak dengan memperhatikan kedua jalan. Tidak perlu waktu lama untuk Aras memutuskan jalan mana yang dipilih. Hingga saat ini pilihannya tidak ada yang menimbulkan masalah.
“Kau yakin di sini ada sumber air panas?” tanyaku.
Jujur saja. Aku heran bagaimana Aras tahu ada sumber air panas di sini. Aku sama sekali tidak merasakan hawa panas atau apapun yang menandai keberadaan sumber air panas.
“Aku bisa mengira-ngiranya dengan keistimewaanku. Selain ngarai dan gua ini juga petunjuknya. Ngarai terbentuk dari arus sungai. Artinya dulu ngarai ini adalah sungai. Batu-batu mulia ini menandakan keberadaan panas. Jadi, kemungkinan besar ada sumber air panas di sini. Lalu lihat batu itu!” Aras menunjukkan batu berwarna kuning yang tidak seindah batu lainnya.
Aku pernah melihat batu seperti itu di suatu tempat di Klan Ungu. Tapi yang aku lihat sekarang agak berbeda. Batu yang aku lihat di Klan Ungu lebih besar dan menguarkan bau yang menyengat, sedangkan batu ini kecil dan tidak berbau.
“Ng.. Belerang?” Aku menebak batu yang ditunjuk Aras dengan ragu.
Aras mengangguk puas. “Aku tidak menyangka kau mengetahuinya. Tidak banyak belerang di Klan Ungu.”
“Aku pernah melihatnya sekali.”
“Belerang adalah salah satu tanda kuat adanya sumber air panas.”
__ADS_1
Aku dan Ty mengangguk mengerti setelah Aras menjelaskan panjang lebar. Aku kagum sekaligus iri pada Aras. Dia memiliki kedudukannya tinggi sebagai raja. Kemampuan bertarungnya sangat hebat. Dia bisa membuat obat-obatan dan mengetahui berbagai hal asing. Pengetahuannya juga sangat luas.
“Kenapa kau menatapku, Violet?” Aras menaikkan kedua alisnya heran.
Tanpa sadar aku memikirkan Aras sambil memperhatikannya. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah lain.
“Tidak apa-apa.”
Aras tertawa kecil. Aku mengatupkan bibirku rapat, menahan senyum.
Kami sepertinya sudah makin dekat dengan sumber air panas. Belerang-belerang di dinding semakin besar, walau paling besar hanya sekepalan tanganku. Udara juga menghangat. Aku bisa merasakan keringatku mulai keluar.
“Nona, kita pasti sebentar lagi sampai.”
“Aku pikir juga begitu, Ty.” Aku mengangguk setuju.
Di ujung gua aku melihat cahaya yang terang.
Apa mungkin sumber air panas ada di luar gua? pikirku.
Tanpa sadar kami bertiga berjalan cepat ke sana, tidak sabar untuk melihat pemandangan yang ada.
“Wuahh!”
Uap panas mengepul ke langit dari kolam. Kolam ini terhubung oleh sungai kecil yang melintang menembus gua. Sumber air panas ini masih di dalam gua. Tapi terdapat lubang besar di atasnya yang langsung terhubung dengan langit. Dari sini aku bisa melihat langit yang kemerahan.
Aku memandang langit sambil tersenyum. Aku menyadari akhir-akhir ini aku paling sering melihat langit ketika berwarna kemerahan.
“Nona!” panggil Ty. Dia sudah memasukkan kakinya ke dalam kolam. Dia terlihat sangat menikmati kehangatan sumber air panas.
Ty melepas pakaiannya. Dia membersihkan pakaiannya. Kotoran yang menempel di bajunya larut oleh air.
Aras juga mulai melepas pakaiannya. Saat itu aku sadar, seharusnya aku tidak di sini.
“Kalian duluan saja. Aku akan bersitirahat di dalam dulu.” Aku berbalik badan dan melangkah ke jalan gua yang kami lewati sebelumnya.
“Tunggu, Violet!” seru Aras.
Aku mendengar suara gemuruh dari belakangku. Aku berbalik. Sebuah dinding pembatas muncul di tengah sumber air panas.
“Apa... seperti ini... sudah cukup?” Aras menggaruk dagunya. Matanya tidak menatapku. Pipinya bersemu merah.
“Ah.. tentu saja. Hmm.. terima kasih.” Aku jadi salah tingkah dibuatnya.
Suasananya menjadi aneh.
Aras mengangguk mengerti. Dia berjalan memasuki sumber air panas yang sudah ditempati Ty. Ketika dia sudah menghilang dari pandanganku, aku baru berjalan menuju bagian lain dari sumber air panas.
“Nyaman sekali.”
Aku bersandar di dinding yang dibuat Aras sambil berendam. Luka-lukaku terasa perih ketika terkena air yang sedikit bau belerang ini. Tapi aku menyukai kehangatan airnya. Otot tubuhku yang kaku melemas. Rasa lelahku perlahan mulai menghilang. Aku merasa tenang. Langit senja memberikan suasana yang lebih baik.
“Aku sudah lama pergi dari Klan Ungu. Bagaimana keadaan di sana, ya?” Aku berbicara dengan diriku sendiri.
Ketika aku meninggalkan Klan Ungu. Energi Amethyst sudah menipis hingga raja memutuskan pasokan energi ke berbagai tempat. Ragnarok juga hampir tiba. Aku khawatir jangan-jangan saat ini ragnarok sudah dimulai. Aku harap aku bisa mendapat kabar tentang Klan Ungu secepatnya.
Aku mendesah lelah.
“Jangan memikirkan hal-hal berat, Violet.”
Aku membuka mataku lebar karena kaget. Aras tiba-tiba berbicara padaku. Terutama ucapannya yang seolah-olah mengetahui pikiranku. Dari suaranya, aku bisa tahu dia sedang duduk tepat dibalik tembok tempat aku bersandar.
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku.
“Suaramu keras sekali.”
“Apa!” Aku menjerit tertahan sambil menutup mulutku. Aras seharusnya berpura-pura tidak mendengarku saja.
Aku menarik napas dalam lalu kembali bersandar. Aku sedang tidak ingin marah-marah.
“Kau kelelahan Violet. Kau sering memaksakan diri. Sesekali kau harus istirahat tanpa memikirkan apapun.”
“Aku sudah banyak istirahat.”
Aku teringat ketika aku buta di rumah Ludwig. Aku beristirahat dengan cukup di sana. Di Klan Biru kami juga sempat bersenang-senang melihat pertunjukkan Ludwig. Di Titanic pun aku menikmati liburan yang mewah. Bahkan di Klan Hijau aku sempat menikmati piknik musim panas. Aku merasa itu sudah lebih dari cukup untuk disebut istirahat.
“Itu bukan istirahat.” Aras lagi-lagi berbicara seolah-olah membaca pikiranku. “Kau masih memikirkan banyak hal.”
Aku diam tidak menjawab.
“Aku pikir kau terlalu tertekan, Violet, ” lanjut Aras.
Aku memejamkan mata. Akhir-akhir ini aku sering marah-marah pada Ty. Setelah dipikir-pikir dengan tenang, aku sepertinya memang agak berlebihan.
“Terima kasih,” ucapku pada Aras.
“Untuk apa?”
“Kau sudah sering memperhatikanku. Aku senang. Terima kasih.” Aku tersenyum menatap langit yang mulai gelap.
Tidak ada jawaban dari Aras. Tapi tidak masalah bagiku. Aku cukup yakin dia juga sedang tersenyum sekarang.
Banyak kejadian yang sudah kami lewati bersama. Awalnya aku membencinya ketika dia muncul pertama kalinya di hadapanku setelah sekian lama. Aku pikir aku akan terus membencinya. Tapi setiap hal yang telah dia lakukan padaku, membuatku tidak yakin dengan perasaanku. Aku masih ingat ketika dia memelukku ketika kami terjun bebas dari Klan Putih. Perhatiannya ketika aku buta. Wajahnya yang mengkhawatirkanku. Senyumnya yang hangat.
Semua itu membuatku goyah. Terlintas di pikiranku tentang laporan yang diberikan Jenderal Risagu padaku. Vender pernah memberitahuku bahwa Klan Hitam sering dijadikan kambing hitam. Mungkin laporan itu hanya buatan saja. Jenderal Risagu bisa menyembunyikan sesuatu dengan mudah jika dia mau.
Apa boleh aku berharap laporan itu palsu, batinku.
__ADS_1