
Sepulang dari pasar, aku dan Aras tidak mendapati siapapun di rumah. Kami duduk di taman belakang. Aku menaruh uang hasil jualan di meja. Satu buket bunga berharga satu keping perak. Tapi ada enam keping perak di sini. Sepertinya gadis-gadis itu memberi bonus karena Aras sudah mau menemani mereka.
“Maaf, aku tadi datang terlambat. Seandainya aku menolak ajakan gadis-gadis itu, kau pasti tidak terluka seperti ini,” kata Aras.
Aku menggeleng. “Ini bukan apa-apa.”
Aku membiarkan Aras membersihkan lukaku. Kepalaku terasa sakit. Aku sepertinya terhantam terlalu keras tadi. Aku memegangi kepala belakangku yang terus berdenyut.
Aras menyadari keadaanku. Tanpa mengatakan apapun, tiba-tiba dia menggendongku. Aku ingin protes karena tindakannya itu mengagetkanku tapi kepalaku terasa sangat sakit hingga aku tidak mampu untuk mengatakan apapun. Aras membawaku masuk ke dalam kamarku. Kemudian membaringkanku di tempat tidur.
Aras bergerak cepat mengambil sebaskom air hangat dan handuk. Dia membasahi handuk kemudian meletakkannya di bagian kepalaku yang sakit. Ketika handuknya mendingin, Aras kembali membasahinya dengan air hangat. Dia terus mengulanginya beberapa kali hingga aku tampak lebih tenang.
“Apa sudah terasa lebih baik?” tanya Aras.
“Ya. Jauh lebih baik.” Aku bangkit dari tidur, kemudian duduk.
Aku mengusap kepala belakangku yang sudah tidak sakit lagi. Dengan ragu-ragu, aku mengucapkan terima kasih, “Terima kasih, Aras.”
Aras tampak terkejut. Wajar saja dia bereaksi seperti itu. Dari awal kami bertemu, aku belum pernah sekalipun memanggil namanya.
Tapi kemudian dia tersenyum. “Aku senang kau baik-baik saja.”
Aras sudah selesai membereskan air panas dan handuk yang tadi dipakai. Dia ganti membalut lukaku.
“Apa yang terjadi tadi?” tanya Aras sambil melilitkan perban di tanganku.
“Laki-laki itu mabuk. Dia menghancurkan dagangan Lisa. Aku lalu menegurnya tapi malah terjadi seperti itu.”
“Orang itu tidak pantas menyandang gelar bangsawan.”
Aku mengangguk setuju.
Derap lari terdengar dari kejauhan. Lari yang agak lambat. Itu pasti Ludwig.
Benar saja. Seseorang memelukku sambil meloncat, membuatku hampir terjungkal dari tempat tidur. Siapa lagi yang berani seperti itu jika bukan Ludwig.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Ludwig. “Astaga, apa yang dipikirkan si Elgar itu.”
“Aku baik-baik saja,” jawabku. “Dari mana kamu tahu jika aku diserang Elgar?”
“Eliza datang ke kafe tempatku berkerja. Dia memberitahuku jika kau diserang oleh Elgar.”
Terdengar suara langkah lagi. Dia melangkah terburu-buru. Begitu tiba di kamar, aku mendengar nafasnya terengah-engah. Tapi dia menghembuskan nafas lega.
“Sepertinya kau tidak apa-apa.” Azuro duduk di sampingku. “Tadi aku mendengar ada laki-laki yang menyerang gadis buta. Aku pikir itu kau. Aku langsung pergi ke pasar. Tapi tidak ada apapun di sana. Jadi, aku rasa kau sudah pulang.”
“Aras, kau ini bagaimana? Kau, kan bersama Violet. Kenapa kau tidak menjaganya?” protes Ludwig.
“Ini bukan salah Aras. Dia tadi pergi bersama–”
“Hey!” Aras menegurku.
Aras malu jika Azuro dan Ludwig tahu bahwa dia menggoda dan berjalan-jalan dengan para gadis.
“Aku menyuruh Aras pergi.” Aku mengoreksi.
Ludwig bergumam tidak yakin.
“Siapa yang menyerangmu?” tanya Azuro.
“Elgar, putra Marquess Ocrhid,” jawabku.
“Pasti tidak ada yang menolongmu.” Azuro menebak.
Aku mengangguk. “Kenapa orang-orang takut menghadapi Elgar. Dia memang bangsawan tapi dia salah, kan?”
“Aku beri tahu, ya. Klan Biru berbeda dengan Klan Ungu, Violet. Ada lima gelar kebangsawanan di sini yang menunjukkan tingkat statusnya. Gelar tertinggi adalah duke, marquess, earl, viscount dan terendah adalah baron. Tapi gelar itu hanya dipegang oleh kepala wangsa. Elgar adalah anak seorang marquess. Walaupun dia ditangkap yard, dia akan mudah melepaskan diri. Di Klan Biru kedudukan adalah segala-galanya.”
“Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu? Kau juga seorang bangsawan, kan, Azuro,” tanya Aras.
Azuro menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Aku hanya anak seorang earl. Sulit untuk melakukan sesuatu kepada orang yang gelarnya lebih tinggi.”
“Lalu kau akan diam saja melihat seperti itu?”
“Sulit bukan berarti tidak mungkin. Geerginlik adalah wangsa yang kuat. Sebenarnya masih ada satu gelar lagi yaitu Ateru. Ateru adalah gelar untuk para pemilik galur murni di Klan Biru. Setingkat dengan marquess.”
“Kau berarti memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari ayahmu,” kataku.
Azuro menggeleng. “Belum. Gelar itu diberikan setelah pemilik galur murni berusia delapan belas tahun. Saat ini aku hanya bangsawan biasa.”
Ludwig membawakan cangkir-cangkir berisi teh untuk kami. Tidak lupa dia juga menghidangan kue kesukaannya.
“Soal perjalanan kita ke Dumbrige.” Azuro menyesap tehnya. “Aku baru saja bertemu dengan rekan bisnis ayahku. Dia akan pergi ke Brasov tiga hari lagi. Kita bisa ikut dengannya ke Brasov lalu pergi ke Vienna.”
“Lalu bagaimana dengan pengobatannya?” Aras menunjukku. “Apa kau sudah mengobatinya, Ludwig?”
__ADS_1
Ludwig menyentuh bahuku. “Kalian mungkin tidak sadar tapi ketika aku menyentuhnya, membuatkan minuman untuknya, aku selalu melakukan penyembuhan padanya.”
“Luka-lukaku memang sudah tertutup tapi aku tidak merasakan perubahan lainnya,” kataku.
“Itu yang aku khawatirkan.”
“Mungkin karena hanya baru satu hari. Orang yang sakit tidak bisa langsung sembuh juga, kan?” Azuro mencoba menghibur.
Ludwig menggeleng.
“Biasanya aku hanya butuh satu jam untuk menyembuhkan orang lain, separah apapun penyakitnya. Baik orang itu Klan Biru atau klan lain.” Ludwig melirik ke Azuro. “Yah, mengingat Perusahaan Geerginlik sering berhubungan dengan klan asing.
“Karena energiku adalah sapphire. Aku rasa Violet membutuhkan energi dari amethyst.”
Semua orang terdengar lesu. Jelas ini bukan kabar baik bagi kami, apalagi untukku.
“Bunga violet di puncak gunung adalah satu-satunya harapan kita.”
Aku menoleh ke arah Ludwig setelah mendengar ucapannya.
“Maksudmu apa?”
“Konon bunga violet di gunung itu dibawa langsung dari Klan Ungu. Bunga itu menyimpan energi dari amethyst,” jawab Ludwig
“Aku harap kau mendapatkan bunga itu setiap sore karena itu akan sangat berguna bagi Violet. Selain itu kau juga harus berhati-hati. Tidak hanya kita saja yang mengincar bunga itu.” Ludwig melanjutkan.
“Aku mengerti. Aku akan pergi sekarang.” Aras berdiri kemudian melangkah pergi.
“Mengingat kejadian tadi, dia pasti akan menemanimu di pasar lalu siangnya berangkat ke gunung. Padahal gunung itu cukup jauh dan ada banyak orang kuat yang harus dilawannya untuk mendapatkan bunga itu. Astaga, dia perhatian sekali. Dia saingan yang berat tapi aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu, Violet.”
“Hah?” Aku tidak mengerti ucapan Ludwig.
“Lupakan saja yang dibicarakannya, Violet. Itu tidak penting,” kata Azuro.
Ludwig mendengus sebal. “Bilang saja kau juga ingin bersaing denganku dan Aras.”
“Apa? Tidak!”
Aku tidak mendengarkan mereka. Pikiranku fokus pada hal lain.
*****
Malam telah tiba. Aku menikmati angin malam di beranda rumah. Aras belum pulang. Semoga saja dia berhasil mendapatkan bunga violet.
“Kau sendiri saja malam-malam.” Azuro duduk di sampingku. “Menunggu Aras?”
Wajahku terasa panas. Aku mati-matian menahan wajahku agar tidak memerah.
“Aku hanya ingin keluar saja.”
“Minumlah. Aku membawa teh hangat untukmu,” kata Azuro.
“Terima kasih.”
Aku menyesap teh dari Azuro. Tubuhku terasa lebih hangat.
Suasana bertambah tenang dengan suara piano yang dimainkan Ludwig.
“Kau tahu Ludwig tuli?”
Aku mengangguk. “Dia memberitahuku kemarin.”
“Aku tahu sangat berat kehilangan pengelihatan sekaligus keistimewaan. Tapi jangan menyerah karena kau buta. Sembuh ataupun tidak, kau tetap seorang ksatria. Belajarlahlah dari Ludwig.”
“Ludwig memang hebat. Dia bisa membuat lagu-lagu indah meskipun dia tuli. Aku heran kenapa dia hanya di rumah saja? Aku yakin jika dia tinggal di ibukota, dia pasti bisa menjadi musisi kerajaan.”
Azuro tertawa. “Kau belum tahu, ya?”
Aku memasang wajah tak paham.
“Ludwig itu punya julukan di Klan Biru. Beethoven, sang Musikus Agung.”
“Musikus Agung?”
“Ludwig adalah musikus paling terkenal di Klan Biru. Seorang musikus agung. Dia menjadi musikus dari kecil. Ketika berumur tujuh tahun, dia sudah menggelar konser tunggalnya sendiri. Karyanya selalu mengesankan orang yang mendengarnya. Lagunya selalu menyampaikan berbagai perasaan. Tentu saja dia juga salah satu musikus kerajaan.”
“Ludwig tuli total di puncak karirnya. Dia sangat depresi. Berkali-kali dia berusaha bunuh diri. Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi dia mulai bangkit. Saat Ludwig berada di masa-masa sulit, dia malah menghasilkan karya-karya hebat.”
Aku tidak menyangka Ludwig sehebat itu. Dia mampu melompati rintangan terbesar dirinya dan menjadi orang yang bersinar.
“Tapi kenapa orang-orang di sini seperti tidak mengenal Ludwig?”
“Orang-orang hanya mengenal Beethoven, bukan Ludwig. Orang biasa juga tidak pernah melihat konser Ludwig. Hanya bangsawan saja yang tahu kalau Ludwig adalah Beethoven. Yah, aku yakin dia lebih senang tidak dikenal di sini. Dia bukan tipe orang yang suka dikenal.”
“Jika dia musisi kerajaan, kenapa dia di sini? Bukannya tempat ini jauh dari ibukota?”
“Ludwig suka menyendiri dan agak seenaknya. Kerajaan memang tidak suka dengan sikapnya itu tapi mereka juga tidak bisa membuangnya. Ludwig terlalu berharga.”
Lantai dan meja agak bergetar. Ada orang yang sedang berjalan mendekati kami dari dalam rumah.
“Kalian di sini rupanya.” Ludwig berseru sambil mendekati kami.
“Aku bosan sekali. Aku pikir kalian ikut pergi bersama Aras.” Ludwig duduk di antara aku dan Azuro.
Azuro bangkit dari kursinya. “Aku ke kamar dulu.”
__ADS_1
“Eh, padahal aku sudah ke sini. Kenapa kamu malah pergi.” Ludwig menahan Azuro agar tidak pergi.
“Aku sedang sibuk. Aku bukan orang yang suka melalaikan tugas sepertimu.”
“Hah? Apa-apaan. Dasar anak kecil menyebalkan.”
Ludwig mengehembuskan nafas kesal. Tapi dia membiarkan Azuro pergi.
“Azuro tipe orang yang serius, ya?” Aku menyesap teh.
“Ya, begitulah dia. Dia terlalu serius. Semenjak kakaknya meninggal, dia berusaha mati-matian menjadi penerus wangsa yang pantas.”
Ludwig mengibaskan satu tangannya. “Tidak. Tidak. Jangan bahas itu. Lebih baik kita makan kue saja.”
Ludwig ternyata membawa kue. Dia membaginya denganku.
“Kau benar-benar suka kue, ya?” Aku memasukkan sepotong kue ke mulutku.
“Tentu saja. Kue adalah makanan terenak.”
“Ya. Itu memang benar.” Aku menyetujuinya. Begini-begini aku juga penggemar kue. Aku merasa sangat beruntung karena pemilik rumah ini alias Ludwig juga sangat suka kue.
“Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini? Menunggu Aras?”
Pertanyaan itu lagi. Kenapa Ludwig dan Azuro bertanya tentang hal yang sama.
“Aku hanya ingin keluar saja.” Aku menjawab pertanyaan Ludwig dengan jawaban yang sama ketika menjawab Azuro.
“Apa yang terjadi antara kau dan Aras? Kalian sepasang kekasih yang sedang bertengkar?” Ludwig bertanya lagi.
Aku hampir tersedak teh yang aku minum. “Maksudmu?”
“Aku baru mengenal kalian satu hari. Tapi aku bisa melihat kau dan Aras sudah kenal lama. Bahkan aku pikir kalian memiliki hubungan spesial. Tapi kalian tidak memanggil nama. Hanya ‘hey’ atau ‘kau’.”
“Begitu, ya.” Aku masih enggan menjawab.
“Tidak apa-apa jika kau tidak mau memberitahu. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Tapi ingatlah satu hal, Violet. Aras sangat baik kepadamu. Sebaiknya jangan disia-siakan. Kau belum tentu bisa bertemu dengan laki-laki sebaik Aras.”
Aku menangkat satu alis. “Kau menyuruhku menikah?”
Ludwig menggeleng cepat. “Tidak, bukan begitu. Setidaknya perbaiki hubungan kalian. Jika kalian memang teman, bertemanlah dengan cara yang benar. Panggil namanya. Jangan cuma ‘hey’ ‘kau’.”
Aku bangkit dari kursiku. Kemudian berjalan ke pembatas beranda.
“Kau mendengarkanku tidak, sih?” Ludwig menggerutu.
Aku berbalik menghadap Ludwig. “Bagimana jika kau bermain piano untukku sekarang? Mainkan musik yang belum pernah kau buat sebelumnya. Di ruang tamu ada piano, kan?”
Kursi Ludwig berderit.
“Boleh.”
Ludwig menyeret dua kursi di samping piano. Dia mempersilahkanku duduk di salah satu kursi. Dia baru duduk setelah aku duduk. Ludwig menggulung lengan bajunya.
“Dengarkan, ya. Ini lagu khusus untukmu.”
Alunan piano mulai terdengar. Suara yang lirih. Tidak sekeras kemarin. Lembut tapi cenderung sedih. Terkadang keras seperti berteriak, kadang juga lirih seperti berbisik. Walaupun begitu tetap indah dan mempesona. Permainan Ludwig terus berlanjut. Musik yang dimainkannya malam ini sangat emosional.
“Lagu itu baru saja kau ciptakan?” tanyaku setelah permainan piano Ludwig selesai.
“Iya. Kau menyukainya?"
Aku mengangguk. “Kau memang musikus jenius. Aku yakin lagu ini bisa sangat terkenal.”
“Begitu? Kalau kau menyukainya, aku akan menyempurnakan lagu ini untukmu.”
Aku menatap ke arah Ludwig. “Setelah mendengar permainanmu, aku sepertinya tahu karakter musikmu. Aku jadi ingin tahu bagaimana wajahmu.”
“Hah, kau kenapa tiba-tiba aneh begitu?”
Aku tertawa. “Kau malu, ya?”
“Bukan begitu.”
Aku menekan salah satu tuts piano. “Aku belum terlalu mengenalmu. Tapi aku rasa kau hebat sekali. Saat awal di sini, aku tidak tahu jika kamu tuli. Aku baru tahu ketika kau memberitahuku. Aku juga baru tahu jika kau adalah Beethoven sang Musikus Agung.”
Reaksi Ludwig tidak seperti yang aku bayangkan. Dia malah mendengus kesal.
“Aku tidak suka jika kau menganggapku sebagai Beethoven sang–apalah itu. Aku lebih suka jika kau menganggapku sebagi Ludwig, temanmu.”
Aku tersenyum. “Iya, iya.”
“Sebenarnya ada yang membuatku heran. Bagaimana kau bisa tahu apa yang aku atau orang lain ucapkan padamu? Bukannya aneh kau bisa tahu? Kau, kan tuli?”
“Tidak sopan. Kau sendiri juga buta tapi bisa tahu pergerakkan orang seolah-olah kau melihatnya. Jangan-jangan kau pura-pura buta, ya?”
“Aku mengandalkan hembusan angin dan suara,” jawabku.
“Kau pikir aku juga tidak begitu? Aku tahu apa yang kalian bicarakan dari gerak mulut kalian.”
Asyik sekali menggoda Ludwig. Meskipun lebih tua dariku dia benar-benar masih seperti anak kecil.
Aku menusuk kue yang aku bawa dari beranda Tapi garpuku malah menyentuh piring yang keras.
“Loh, kueku mana?” tanyaku.
“Aku makan. Itu sebagai hukuman karena kau menyebalkan.”
__ADS_1