
Selesai dari Kantor Pusat Gater, aku tidak langsung pulang. Aku ingin mengunjungi makam Vender dan kedua orang tuaku. Informasi yang aku dapat terlalu berat untukku. Menceritakan kepada mereka mungkin akan meringankannya.
Aku membeli tiga buket bunga sebelum pergi ke pemakaman. Pemakaman cukup jauh dari pusat kota. Hampir menempel dengan benteng terluar kota Aruvi.
Aku memelankan laju kuda ketika melihat suatu keributan kecil di depanku.
“Tolong, jangan ambil gandum ini. Ini makanan terakhir kami.” Seorang ibu sedang memohon kepada laki-laki berbadan besar yang membawa sekarung gandum. Di belakang ibu itu ada dua anak kecil yang berdiri ketakutan.
“Perampasan,” desisku.
Aku turun dari kuda lalu mendekati mereka.
“Ada apa ini?” tanyaku.
Laki-laki itu melotot ke arahku. “Kau tidak perlu ikut campur.”
“Tolong aku, dia ingin mengambil gandum kami.” Ibu itu memohon padaku.
Aku menatap tajam laki-laki itu. “Kembalikan gandum itu padanya. Tidak pantas seorang laki-laki merampas hak orang lain apalagi dari seorang perempuan.”
Laki-laki itu membanting karung gandum itu, membuat isinya berhamburan di atas tanah.
“Kau pikir kau ini siapa? Kau mau melawanku yang terkenal kuat ini?”
Laki-laki memasang kuda-kuda untuk bertarung.
“Aku?” Aku juga bersiap untuk bertarung. “Namaku Violet.”
Laki-laki itu menyerangku. Aku bergerak menyamping untuk menghindar. Laki-laki itu bergerak cepat, dia memukul ke arah samping. Aku melengkungkan punggungku untuk menghindarinya. Laki-laki itu rupanya bisa mengambil kesempatan, dia memukulkan sikunya ke perutku. Aku terpelanting ke tanah.
__ADS_1
Laki-laki itu mengangkat kakinya, aku segera bergerak sebelum laki-laki itu menginjakku. Injakkan laki-laki itu hanya mendarat sia-sia di tanah. Aku mengarahkan pukulan ke lehernya. Laki-laki menyadarinya, dia hendak menepis pukulanku tapi yang aku incar sebenarnya adalah kakinya. Aku menendang kakinya hingga dia terjatuh.
Harus aku akui laki-laki ini memang kuat, dia gesit. Tapi dari gerakannya hanya terfokus pada tangannya saja. Kekuatan kakinya lemah.
Laki-laki itu kembali berdiri. Dia melayangkan pukulan ke kepalaku. Aku menghindar lalu menendang pinggangnya yang terbuka tanpa pertahanan. Saat dia masih sempoyongan, aku menendang kepalanya.
Laki-laki berteriak kalap. Dia mengeluarkan pisau dari kantongnya. Dia menyerang secara membabi buta ke arahku.
“Kau tahu, kau bukan pemain pisau yang baik.”
Aku menyerang laki-laki itu dari belakang lalu memelintir tangannya yang menggenggam pisau ke belakang. Laki-laki itu menjerit. Pisaunya terjatuh ke tanah.
Rupanya laki-laki itu belum menyerah. Dia berusaha untuk melepaskan diri dariku. Dia menghantamkan kepalanya ke kepalaku. Saking keras hantamannya, sebuah aliran darah muncul dari kepalaku. Aku terhuyun ke belakang. Laki-laki itu mengambil kembali pisaunya. Dia mengayunkannya kepadaku. Aku berhasil menahan pisau itu sebelum mengenaiku. Aku menendang perutnya lalu merebut pisaunya.
Aku bergerak cepat memotong otot lengan laki-laki itu. Laki-laki itu terkejut, dia tidak bisa menggerakkan tangannya.
Aku mendekati lelaki itu.
“Aku hanya memotong otot lenganmu. Tenang saja kau masih bisa menggerakkan tanganmu setelah ototmu kembali tersambung dengan sedikit latihan.”
Aku beralih kepada ibu dan dua anaknya. Mereka sedang mengumpulkan gandum yang berceceran di tanah.
“Bagaimana keadaan kalian?” tanyaku.
“Kami baik-baik saja. Terima kasih atas bantuanmu.”
“Lebih baik kalian sekarang menguhubungi gater.” Aku memandang gandum mereka yang tercampur tanah. “Apa kalian memiliki uang untuk membeli gandum lagi?”
Ibu dan kedua anaknya tidak tampak seperti orang yang miskin. Pakaian mereka bagus selayaknya orang yang mampu.
“Semenjak kekeringan harga bahan pokok semakin mahal dan langka. Kami masih mempunyai uang yang cukup tapi gandum ini adalah gandum terakhir yang bisa aku temukan di kota ini. Aku sudah menjelajahi seluruh kota dan hanya menemukan ini. Harganya pun sangat mahal.”
__ADS_1
Di rumah utama, aku dan Vender selalu menyimpan persediaan bahan makanan. Tapi rumah itu dan isinya telah terbakar. Aku masih memiliki lumbung makanan di tempat lain. Aku dan Vender tidak pernah menyimpan sesuatu yang berharga hanya dalam satu tempat, kami menyebarnya.
Aku teringat dua karung gandum di ruang penyimpanan mansion. Aku bisa memberikannya kepada mereka.
“Kau tidak perlu memikirkan kami. Gandum ini cukup untukku dan anak-anakku. Sebentar lagi kerabatku akan datang membawa gandum hasil panennya.” Ibu itu memberitahu. “Kau juga pasti membutuhkannya.”
“Kalau begitu kau bisa menghubungiku jika ada yang kau perlukan. Mungkin aku bisa membantumu,” kataku.
Ibu itu mengangguk.
Aku kembali menaiki kudaku. Aku sejenak memandang langit yang menguning, menandakan hari hampir sore. Aku akan terlambat ke jamuan makan malam Klan Putih jika pergi ke pemakaman. Aku memandang tiga buket bunga yang aku beli. Jika hanya menaruh bunga pasti aku masih memiliki cukup waktu.
Aku menyeka darah yang mengalir dari kepalaku, kemudian meraba luka yang dibuat laki-laki itu.
“Semoga saja tidak terlalu bengkak.” Aku harus menjaga penampilanku di jamuan makan malam nanti.
*****
Aku sampai di pemakaman tepat waktu. Aku mengikat tali kudaku di luar pemakaman. Aku mengambil tiga buket bunga yang, kemudian masuk ke dalam. Tapi langkahku tertahan ketika melihat ada seorang laki-laki bertudung berdiri di depan makam Vender. Orang bertudung itu menaruh setangkai bunga di makam Vender dan kedua orang tuaku.
“Siapa kau?” tanyaku. “Apa yang kau lakukan di makam keluargaku?”
Orang itu terkejut tapi dia tidak menoleh. Dia langsung pergi keluar pemakaman.
Aku tidak mengejarnya. Aku tidak ada waktu sekarang. Aku berjalan menuju makam Vender dan kedua orang tuaku. Mereka dimakamkan secara bersampingan. Semoga jika kelak aku mati, aku bisa di makamkan di samping mereka.
Aku menaruh sebuket bunga di masing-masing makam. Aku memandang bunga yang diberikan orang bertudung tadi. Selain tidak punya waktu untuk mengejarnya, aku sebenarnya tahu siapa orang itu. Aku kenal dengan jejaknya. Orang bertudung itu adalah Aras. Aku tidak mau bertemu dengannya sekarang. Untuk apa dia memberi bunga kepada orang-orang yang dibunuhnya. Kelakuannya tidak masuk akal. Jika dia merasa bersalah, itu pasti hanya kepalsuan belaka saja.
__ADS_1