Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 58


__ADS_3

Aku, Aras, dan Ty sudah kembali ke permukaan. Posisi kami sekarang jauh dari Desa Trap dan sudah memasuki kawasan Pegunungan Selatan. Bulan berada tepat di atas kami, menandakan tengah malam.


Ty masih memejamkan matanya. Sampai saat ini dia belum juga bangun. Aku khawatir racun yang diberikan Ginko melebihi kapasitas daya tahan Ty dan membahayakan nyawanya.


“Ty, baik-baik saja.” Aras menenangkanku.


Aku menatap Aras. “Tapi dia belum juga bangun.”


“Lihat, Violet. Ty bergerak.” Aras menunjukkan tubuh Ty yang berada di gendongannya.


Aku menghembuskan napas lega ketika melihat Ty bergerak tidak nyaman di gendongan Aras.


Aku dan Aras berjalan bersisian. Pegunungan Selatan memiliki hutan yang sangat lebat dan berbeda dengan hutan-hutan lain. Pepohonan di sini berpendar. Energi di tempat ini meluap sehingga jejak mereka terlihat. Aku bisa melihat aliran energi Zamrud yang sangat besar di tempat ini.


Saking terangnya di sini, aku hampir tidak merasa hari sudah malam. Sinar bulan saja kalah dengan cahaya yang berpendar dari setiap tumbuhan di hutan.


“Tempat ini penuh dengan energi Zamrud,” kataku.


“Kau benar. Kita mungkin bisa membangunkan Ty di sini,” kata Aras.


Aras membaringkan Ty di atas rumput yang berpendar. Perlahan tubuh Ty menyerap energi yang ada di rumput. Tubuhnya ikut berpendar. Ketika cahaya di tubuhnya hilang, Ty membuka mata.


“Nona.” Ty melihatku pertama kali setelah membuka mata.


Ty bangun. Dia melihat sekitar.


“Dimana ini? Kita sudah tidak di Desa Trap?” tanya Ty.


“Kita sudah pergi dari sana,” jawabku.


“Kita sekarang sudah berada di Pegunungan Selatan.” Aras menambahkan.


“Apa yang terjadi?” Ty masih belum tahu jika Desa Trap adalah desa kanibal yang hendak memangsa kita.


“Kita pergi dari sana karena kondisi kita sudah baik.”


Aras tidak menjawab pertanyaan Ty dengan jawaban sebenarnya. Tapi dia tidak berbohong juga. Jawabannya hanya tidak lengkap saja. Kondisi kami sudah baik dan penduduk Desa Trap akan menjadikan aku, Ty, dan Aras menjadi santapan pesta mereka, jadi kami pergi. Itu jawaban yang lengkapnya.


Aku pikir lebih baik Aras memang tidak mengatakan alasan kami pergi dengan lengkap. Ty bisa merasa bersalah jika tahu bahwa dia membawa kami ke tempat yang berbahaya.


“Pepohonan di sini bercahaya.” Ty menatap sekitar. “Rasanya tempat ini juga lebih nyaman.”


“Tempat ini memiliki energi Zamrud yang besar. Jadi jejak mereka terlihat,” terangku.


“Jadi, ini yang namanya jejak?” Ty bersemangat ingin tahu.


Aku mengangguk.


“Akhirnya aku bisa melihat apa yang Nona lihat. Nona selalu bicara dengan jejak tapi aku tidak paham. Ternyata ini yang dinamakan jejak.”

__ADS_1


Ty menyentuh semak yang ada di dekatnya. Semak itu tambah bercahaya ketika Ty menyentuhnya.


“Pamanku sering bercerita padaku jika Pegunungan Selatan sangat luar biasa. Dan ini memang sangat luar biasa!” seru Ty.


Hutan yang penuh dengan energi permata klan memang menakjubkan. Jika energi Zamrud di Desa Beringin sebesar ini, seharusnya pemimpin Klan Hijau mengetahuinya. Entah alasan apa yang membuat pemimpin Klan Hijau tidak mengambil Zamrud dari sana.


Aku dan Aras duduk bersandar di pohon. Tempat yang penuh energi Zamrud tidak baik untuk klan asing seperti kami. Aku merasa sedikit lemas. Kakiku rasanya berubah menjadi agar-agar.


“Kalian kenapa?”


Ty heran denganku dan Aras yang bersandar lemas di pohon.


“Hutan yang penuh dengan energi Zamrud tidak terlalu baik untuk klan asing sepertiku dan Violet,” jawab Aras.


“Kita harus segera pergi dari sini kalau begitu.” Ty menarik tanganku dan Aras.


“Kita harus pergi ke Desa Beringin, Ty,” kataku.


“Tapi keadaan Nona dan Aras bisa tambah parah,” sergah Ty.


“Aku dan Violet baik-baik saja. Nanti kami akan terbiasa,” kata Aras.


Ty menatapku dan Aras dengan ragu.


“Jangan khawatir, Ty.” Aku menepuk bahu Ty.


Aku dan Aras berdiri.


Aras mengangguk. “Ayo, Ty.”


“Baik.” Ty mengikutiku dan Aras.


Aku dan Aras mulai terbiasa dengan energi Zamrud, meskipun kakiku masih agak gemetar karena energi Zamrud yang kuat. Terutama ketika kami masuk makin dalam ke kawasan Pegunungan Selatan, energi Zamrud yang aku rasakan semakin kuat.


Aku menghela napas. Tanganku bersandar pada batang pohon. Keringat dingin mengalir dari pelipisku.


“Nona, baik-baik saja?” tanya Ty khawatir.


“Ya. Tenang saja.”


Aras juga berkeringat dingin. Kulitnya menjadi lebih pucat daripada sebelumnya.


Ty ganti memandang Aras dengan cemas.


“Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa kau juga kagum dengan penampilanku yang penuh keringat ini?” Aras bergurau dengan tatapan khawatir Ty.


“Huh! Aku mengkhawatirkanmu juga!” kata Ty kesal.


Aras mengacak rambut Ty. “Anak ini sudah peduli denganku juga ternyata.”

__ADS_1


“Hump!” Ty memalingkan wajah dari Aras.


“Tapi apa kalian benar-benar baik-baik saja?” Ty bertanya lagi. Dia menatapku dan Aras.


Aku mengangguk. “Ini memang efek dari energi permata klan lain. Tidak apa-apa. Ini yang paling ringan.”


“Jika ini yang paling ringan bagaimana jika keadaan kalian tambah buruk?”


“Tidak perlu khawatir. Pemilik galur murni memang lebih peka dengan energi permata klan. Tapi kami memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik daripada manusia klan biasa,” kataku.


“Besok jangan sampai kau mengajak manusia klan lain ke sini jika mereka bukan pemilik galur murni,” pesan Aras.


“Apa keadaan mereka akan lebih parah?” tanya Ty.


Aras mengangguk. “Mereka mungkin akan terbakar.”


Ty berjengit. “Kalian menakut-nakutiku!”


“Kami hanya memberi tahu, Ty,” kataku.


“Tapi tetap saja.” Ty cemberut. “Sudahlah. Ayo kita berjalan lagi.”


Aku, Ty, dan Aras kembali melanjutkan perjalanan.


Pegunungan Selatan penuh dengan energi Zamrud. Aku kira kami akan menemukan banyak wit di sini. Tempat ini merupakan makanan yang melimpah bagi wit. Tapi hingga sekarang aku tidak melihat seekor wit pun.


“Ada apa, Violet?” tanya Aras.


Aras melihatku yang terus memperhatikan sekitar.


“Aku kira kita akan bertemu banyak wit di sini,” jawabku.


“Pegunungan ini dijaga oleh dryad. Mereka mencegah wit masuk ke wilayah Pegunungan Selatan.” Aras menerangkan.


Aku teringat kejadian kami dengan dryad, Miya. Pertemuan pertamaku dengan dryad tidak terlalu baik, bisa dikatakan buruk.


“Tenang saja. Dryad di sini berbeda dengan Miya,” kata Aras seolah dia membaca pikiranku.


Matahari perlahan terbit dari timur. Cahaya Pegunungan Selatan yang berpendar sedikit memudar oleh cahaya matahari. Binatang-binatang yang tertidur mulai terbangun. Udara malam yang dingin tergantikan oleh udara pagi yang segar dan hangat.


Hari masih pagi. Tapi aku sudah merasakan sesuatu bergerak ke arah kami. Aku dan Aras langsung siap dengan senjata kami.


Kami berdua memperhatikan sekitar. Aku melihat sekelebat bayangan manusia melintas di antara pepohonan. Tidak hanya satu bayangan. Ada sekitar delapan orang yang mendekati kami.


“Ada apa?” tanya Ty yang heran dengan perubahan sikapku dan Aras.


“Kita kedatangan tamu,” jawabku.


 

__ADS_1


 


__ADS_2