
Aku memandang lautan biru yang terhampar luas. Angin laut berhembus ringan. Aku sekarang berada di kapal milik Geerginlik menuju Klan Biru Timur. Perjalanan ke sana harus dilakukan menggunakan kapal karena Klan Biru Barat dan Timur memiliki daratan yang berbeda. Sebenarnya mereka pernah memiliki jembatan penghubung. Tapi jembatan itu hancur ketika perang terjadi. Mereka tidak membangun jembatan untuk kedua kalinya.
Aku berdiri di geladak kapal, memandang Klan Biru Timur yang belum terlihat. Klan Biru Timur adalah medan perangku dulu. Ketika perang terjadi, tempat itu porak-poranda, menjadi lautan api. Klan Biru Barat hampir menghancurkan seluruh wilayah Klan Biru Timur. Wajar jika mereka membenci Klan Biru Barat. Wajar jika mereka membenciku. Walaupun aku Klan Ungu, dulu aku termasuk bagian dari perang yang memihak Klan Biru Barat.
Jauh di depan, aku melihat sebuah kapal besar. Sebuah kapal induk angkatan laut. Di sekeliling kapal induk terdapat kapal-kapal yang lebih kecil sedang berpatroli.
“Itu kapal induk angkatan laut Klan Biru Timur.” Azuro tiba-tiba muncul di sampingku, ikut melihat kapal induk yang semakin dekat.
“Apa tidak masalah kita berurusan dengan mereka?” tanyaku.
“Tenang saja. Mereka adalah kunci masuk kita.” Azuro tersenyum yakin.
Sebuah kapal patroli Klan Biru Timur merapat ke kapal kami. Dua orang marinir masuk ke dalam kapal kami. Mereka bukan marinir biasa. Lencana-lencana di baju mereka menunjukkan bahwa mereka anggota angkatan laut berpangkat tinggi. Mereka berjalan ke depan Azuro.
“Selamat datang, Tuan Muda.” Salah satu marinir menyapa.
“Lama tidak bertemu Laksamana.” Azuro menjabat dua marinir itu.
“Jalur siap digunakan.” Marinir lain melapor.
“Kerja bagus, Laksamana Hindia, Laksamana Halm.” Azuro tersenyum puas.
Aku bingung dengan sikap mereka. Tuan Muda? Apa dua laksamana ini juga kaki tangan Wangsa Geerginlik?
“Siapa mereka, Azuro?” tanya Aras. “Kaki tanganmu?”
Azuro mengangguk. “Mereka adalah Laksamana Klan Biru Timur. Laksamana Hindia dan Laksamana Halm. Mereka sebenarnya adalah penduduk Klan Biru Barat tapi Geerginlik mengirim mereka ke Klan Biru Timur untuk melakukan kepentingan wangsa kami di sana. Keberuntungan besar karena mereka malah menduduki jabatan yang tinggi.”
“Wangsa kalian cukup kuat, ya. Bisa menguasai angkatan laut Klan Biru Timur,” kata Tiha. “Sudah seperti mafia di Klan Jingga.”
“Aku belum pernah mendengar kata mafia tapi aku rasa wangsa kami memang seperti itu. Untuk melancarkan berbagai urusan kami, kami membuat banyak koneksi di berbagai tempat, kecuali di Klan Ungu.” Azuro melirikku. “Klanmu sangat mengerikan. Aku bahkan tidak bisa menyusupkan satu orang pun di Klan Ungu.”
Aku tersenyum bangga. Klan militer tidak akan mudah takluk seperti klan lain.
“Tuan Muda, Anda bisa menaiki kapal kami sekarang,” kata Laksamana Hindia.
Azuro mengangguk. Laksamana Hindia dan Halm membawa kami menaiki kapal patroli mereka.
“Apa rencana kali ini, Azuro? Apa kita berpura-pura menjadi tawanan mereka?” tanya Tiha.
Azuro menggeleng. “Aku tidak mau menjadi seorang tawanan. Di sini kita berperan sebagai wisatawan yang tersesat lalu diselamatkan oleh angkatan laut yang sedang berpatroli.”
Aku, Tiha, dan Aras mengangguk mengerti.
Kapal patroli mendekati kapal induk. Pintu palka kapal induk terbuka. Kapal kami memasukinya. Sekarang kami sudah berada di dalam kapal induk. Tepatnya di tempat parkir kapal patroli.
Seorang marinir menyambut kami turun dari kapal. Dia memiliki pangkat lebih tinggi dari Laksamana Hindia dan Laksamana Halm.
“Selamat datang, Ateru Azuro,” sapa mariner itu.
“Aku belum mendapat gelar itu, Laksamana Jenderal Heven. Panggil saja aku Azuro.” Azuro dan Jenderal Heven saling berjabat tangan.
“Dia juga bawahanmu, Azuro?” tanya Tiha.
Jenderal Heven tertawa. “Tentu saja tidak. Aku seorang laksamana jenderal di sini. Aku hanya membantu urusan Wangsa Geerginlik di Klan Biru Timur. Mereka bisa memberiku lebih dari apa yang aku dapatkan sebagai laksamana jenderal.”
Aku memandang rendah Jenderal Heven. Dia benar-benar seorang jenderal yang memalukan. Mengkhianati kelompoknya sendiri untuk mendapatkan kesenangan yang lebih besar. Dia tidak pantas menjadi seorang jenderal.
Kami mengikuti Jenderal Heven ke geladak kapal. Puluhan meriam berjajar di pinggir geladak. Kapal ini tidak terlalu berbeda dengan kapal induk Klan Ungu. Tapi dari segi persenjataan kami lebih unggul.
“Kapal ini sedang bergerak menuju daratan Klan Biru Timur. Dua jam lagi kita akan sampai,” kata Jenderal Heven.
“Ah, selagi ada Klan Ungu, aku ingin bertanya padamu.” Jenderal Heven menatapku. “Bagaimana pendapatmu tentang kapal induk ini? Ini adalah prototype kapal induk baru yang dibuat Klan Biru Timur. Seorang ahli militer sepertimu pasti bisa menilai kapal ini.”
Aku menatap Jenderal Heven tajam. Dia sudah tahu jika aku adalah Klan Ungu. Aku juga yakin dia juga tahu bahwa Tiha dan Aras bukan seorang Klan Biru.
“Kenapa kau malah menatap seperti itu?” Jenderal Heven mengerutkan dahi lalu tersenyum seolah mengerti sesuatu. “Aku tahu apa yang ada dipikiranmu. Walaupun aku tidak pantas menjadi jenderal dari sisi kehormatan tapi kemampuanku tetaplah seorang jenderal, Nona. Jangan remehkan aku.”
“Jaga sikapmu, Jenderal. Aku tidak ingin rahasia kita bocor ke mana-mana.” Azuro memperingatkan.
__ADS_1
“Tenang saja, Azuro. Aku ahli dalam menjaga rahasia selama kau tetap memberikan hadiah kepadaku. Nah, bersenang-senanglah selama dua jam di sini. Jika ada yang mengganggu kalian, sebut saja namaku. Aku pergi dulu.” Laksamana Heven pergi meninggalkan kami.
“Astaga, Azuro. Kenapa kau mau-maunya bekerja sama dengan orang seperti itu.” Tiha menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Dia memang menyebalkan tapi mudah dimanfaatkan,” kata Azuro.
“Orang seperti itu gampang berkhianat, Azuro. Sebaiknya kau berhati-hati.” Aras memperingatkan.
Azuro mengangguk. “Tenang saja. Dia selalu dalam pengawasan Geerginlik.”
Pelabuhan Klan Biru Timur semakin dekat. Kapal induk berhenti di laut. Kami harus menggunakan kapal patroli untuk pergi ke daratan. Laksamana Hindia dan Laksamana Halm yang mengantar kami.
“Apa nama kota itu?” Aku memandang kota pesisir yang semakin dekat.
“Itu kota Bilbao. Kota yang menjadi pusat pelatihan prajurit Klan Biru.” Laksamana Halm yang menjawabnya.
“Apa tempat itu dekat dengan ibukota?” Tiha ikut bertanya.
Laksamana Halm mengangguk. “Ibukota Klan Biru Timur, Sevilla hanya berjarak satu kota dari Bilbao.”
Tiha mengepalkan tangan lalu merenggangkan tubuhnya. “Akhirnya! Aku sedang malas melakukan perjalanan jauh.”
Tiha menyukai hal yang cepat dan instan. Kemajuan teknologi di Klan Jingga membuat Tiha memiliki pikiran yang berbeda dengan lainnya.
Kapal patroli berhasil berlabuh di dermaga.
“Terima kasih, Laksamana,” kata Tiha.
“Sudah tugas kami.”
Aku, Tiha, Azuro, dan Aras berjalan melewati pelabuhan. Pelabuhan ini penuh dengan para prajurit dan kapal militer. Ada beberapa kapal dagang menyelip diantara kapal patroli.
Azuro memimpin jalan di depan bersama Aras, sedangkan aku dan Tiha berjalan di belakang mereka. Aku mengawasi sekitar. Bilbao adalah kota yang berbahaya. Banyak prajurit terlatih di sini. Jika kami melakukan sedikit kesalahan, penyamaran dan misi kami bisa hancur.
Kami mulai memasuki pusat kota. Tempat ini ramai seperti pusat kota pada umumnya. Hanya saja lebih banyak orang berseragam militer di sini daripada masyarakat biasa.
“Ada apa, Violet? Kau melihat sesuatu yang mencurigakan?” Tiha bertanya padaku tapi dia tetap memandang lurus ke depan.
Kami telah melewati kota. Sekarang kami berada di desa yang suasananya jauh dari hingar-bingar kota. Kami berhenti di salah satu peternakan kuda. Azuro membeli empat ekor kuda untuk kami. Tiha menemani Azuro masuk ke dalam peternakan, sedangkan aku dan Aras menunggu di luar.
Selama Azuro membeli kuda, aku masih mengawasi sekitar. Kami masih diikuti. Kali ini tidak hanya satu orang, melainkan tiga orang. Di sepanjang jalan tadi, aku juga melihat beberapa orang mengawasi kami.
“Ada satu di balik pohon dan dua orang sedang mengobrol di pinggir jalan.” Aras memberitahuku.
“Aku tahu. Kemungkinan mereka akan bertambah banyak dan mengepung kita dari dua arah di tengah perjalanan,” kataku.
“Kita harus merubah jalur tanpa sepengetahuan mereka.”
Aku mengangguk. Aku memandang ke depan. Peternakan ini berada di atas bukit sehingga memudahkanku melihat sekitar. Setelah ini kami akan melewati hutan. Lalu padang rumput. Hutan terlihat tepat untuk tempat menyelinap tapi mereka pasti sudah tahu dan menempatkan banyak orang di sana. Itu membuat hutan menjadi tidak aman untuk kami.
Terbersit ide di kepalaku. Aku membisikkan ideku pada Aras.
“Apa kau yakin tidak memakai hutan?” tanya Aras.
“Mereka mengawasi kita sejak turun dari kapal. Aku yakin mereka sudah memasang banyak jebakan di hutan. Klan Biru Timur menyukai perang gerilya. Apalagi di sarang sendiri,” jelasku.
“Baiklah. Aku mengerti.”
Azuro dan Tiha selesai membeli kuda. Mereka membawa empat kuda keluar dari peternakan.
“Azuro, Tiha, aku beri tahu sesuatu.” Aku membisikkan rencanaku.
“Padahal aku baru saja membelinya.” Azuro berdecak kesal setelah mendengar rencanaku.
“Tidak apa-apa, Azuro. Kau itu memiliki uang banyak. Kehilangan satu atau dua kuda tidak masalah, kan?” kata Tiha.
“Mudah sekali kau bilang seperti itu.” Azuro menatap Tiha jengkel.
“Sudahlah. Kita harus fokus pada misi. Persiapkan senjata kalian. Kita akan bertempur.” Aras memimpin jalan.
__ADS_1
Kami memacu kuda dengan kecepatan sedang. Aku bisa melihat Aras, Tiha, dan Azuro memfokuskan keistimewaan mereka. Energi permata klan bergerak cepat mengitari tubuh mereka.
Kami menurunkan kecepatan ketika memasuki hutan. Aku mengamati sekitar. Ada banyak jejak manusia di sini.
Aras menatapku lalu mengangguk.
Lakukan
Aku balas mengangguk lalu memisahkan diri dari Aras, Azuro, dan Tiha. Aku mengikuti salah satu jejak yang ada di hutan. Jejak itu semakin bersinar, pertanda aku semakin dekat dengan pemilik jejak.
Aku menghentikan kudaku di balik semak-semak yang rimbun. Ada seorang pemanah di atas pohon. Dia tidak menyadariku. Dia sedang fokus membidik Aras, Azuro, dan Tiha yang lewat dengan kuda mereka.
Aku menyiapkan pisauku. Aku akan bergerak menuju pemanah itu tapi aku merasakan kehadiran seseorang di belakangku. Dia sedang mengendap, mencoba menikamku.
Aku berbalik dengan cepat. Mengayunkan pisauku, langsung memutus urat nadi di lehernya. Orang itu langsung mati. Aku mengamati dengan cepat orang yang mati ini. Aku masih memiliki pemanah yang harus aku bereskan.
Orang yang baru saja aku bunuh memakai baju biasa. Dia tidak terlihat seperti prajurit ataupun anggota rahasia. Yang jelas orang ini adalah orang pertama yang mengikuti kami dari pelabuhan. Aku rasa dia hanya bertugas mengawasi tapi dia bertindak gegabah untuk membunuhku karena merasa memiliki kesempatan.
Aku kembali fokus kepada pemanah di atas pohon. Aku bergerak cepat mendekatinya. Memanjat pohon tanpa suara. Aku sudah berada di bawah dahan tempat dia membidik. Dia sedang sangat fokus membidik Aras, Tiha, dan Azuro. Hingga tidak menyadari keberadaanku.
Tiba-tiba sebuah anak panah melesat ke arahku. Aku menumpu ke dahan lain, menghindar. Pemanah yang aku incar langsung menyadariku. Dia membidikkan anak panah ke arahku. Tapi posisinya tidak stabil. Dia masih terkejut dengan keberadaanku. Aku mendorongnya sambil naik ke dahan tempat dia berpijak. Pemanah itu hilang keseimbangan. Aku mengambil panahnya sebelum dia jatuh ke tanah.
Aku mengambil posisi membidik ke arah anak panah yang menyerangku tadi. Tapi aku belum bisa melihat pemanah yang menyerangku. Sebuah anak panah melesat kembali ke arahku. Aku segera bersembunyi di balik pohon, meloncat ke dahan lain. Aku tersenyum. Aksinya tadi adalah kesalahan karena sekarang aku mengetahui posisinya.
Aku membidik ke arah bawah. Orang itu berada di balik batu besar. Aku menunggu orang itu memanahku lagi.
“Itu dia.”
Kepalanya muncul. Tanpa basa-basi lagi, aku melepaskan anak panahku. Tidak ada kesempatan untuknya, meskipun hanya untuk berbalik badan. Panahku menancap di kepalanya. Dia jatuh tergeletak di tanah.
Aku mengambil posisi sebagai pemanah. Tempat ini sangat strategis. Aku bisa melihat Aras, Azuo, dan Tiha bergerak. Sejauh ini mereka belum diserang. Aku terus mengawasi dengan busur yang sudah siap di tanganku.
Aku membidik mereka. Anak panahku melesat cepat. Mereka berhasil menghindarinya. Aku sengaja tidak membidik tepat ke arah mereka. Seranganku tadi hanya pancingan untuk pemanah lainnya.
Sesuai rencanaku, satu persatu anak panah mulai menyerang mereka. Pemanah lain berhasil terpancing olehku, mengira aku adalah salah satu rekan mereka yang mencoba menyerang target.
Aras membuat tameng batu untuk melindunginya, Azuro, dan Tiha. Mereka sudah tahu tentang serangan para pemanah sehingga mudah membuat perlindungan.
Aku kembali menyiapkan anak panahku. Aku membidik lagi. Kali ini targetku adalah para pemanah yang menyerang Aras, Tiha, dan Azuro. Tujuanku memancing mereka tadi adalah agar aku bisa mengetahui posisi pemanah lain di hutan ini.
Aku melepas anak panah dengan cepat. Memanah para pemanah yang tidak menyadari bahwa aku telah menjadi rekan mereka yang akan menghabisi kelompoknya sendiri.
Serangan panah sudah berhenti. Aras membuka tameng batunya. Aku turun dari pohon lalu berjalan ke arah mereka.
“Rencanamu berhasil, Violet,” kata Aras.
“Tapi ini belum selesai.” Aku memandang mayat para pemanah yang bergelimpangan jatuh dari pohon.
“Mereka banyak sekali.” Tiha menghitung mayat yang jatuh. “Ada lima belas pemanah.”
“Siapa mereka sebenarnya?” Azuro mendekati salah satu mayat. Dia mengamatinya lamat-lamat. “Mereka tidak memakai pin prajurit. Berarti mereka hanya orang biasa yang menyerang kita?”
“Bisa jadi mereka prajurit Klan Biru Timur, Azuro. Mereka pasti sengaja melepas pin mereka agar identitasnya tidak bisa kita ketahui,” kataku.
“Tapi bukan berarti mereka prajurit istana, kan?” Tiha melihat-lihat mayat yang lain.
Aku mengangguk.
Aku, Aras, Tiha, dan Azuro menaikkan empat pemanah ke dua kuda kami. Kami menjadikan mayat-mayat ini sebagai pengalih perhatian orang yang mengawasi kami. Mereka akan mengira empat mayat ini adalah kami yang sedang berkuda melewati hutan dan padang rumput. Kemudian ketika mereka fokus menyerang para mayat, kami bergerak menuju arah lain.
Aku, Aras, Tiha, dan Azuro menutup mayat-mayat ini dengan jubah. Beruntung mereka memiliki jubah sendiri. Kami tidak pelu repot-repot merelakan jubah kami untuk dipakai mereka, para mayat yang menyamar menjadi kami.
Aku mengambil kudaku. Aku dan Azuro menaiki kudaku, sedangkan Aras dan Tiha menaiki kuda milik Aras. Kami menuntun dua kuda lain ke pinggir hutan.
Di tempat yang kami tentukan, kami melepas dua kuda yang ditumpangi empat mayat itu. Kuda itu berlari ke arah padang rumput bagian barat. Sementara kami bergerak ke arah lain.
Belum sampai di padang rumput, mereka sudah diserang oleh hujan panah. Tapi kuda yang dibeli Azuro tenyata sangat pintar. Mereka bisa menghindari panah-panah itu, walaupun penumpang mereka hanya mayat.
Kami berhasil keluar dari hutan dan berada di padang rumput. Dari kejauhan aku bisa mendengar seruan orang-orang yang bertarung. Mereka pasti sedang menyerang mayat-mayat yang menyamar menjadi kami. Usaha mereka sia-sia.
__ADS_1
Aku, Tiha, Aras, dan Azuro bergerak cepat di padang rumput. Rumput di padang ini sangat tinggi hingga mampu menutupi kami yang berkuda. Orang-orang yang mengawasi kami tidak akan bisa melihat karena tertutup oleh rumput yang tinggi. Selain itu jarak antar rumput cukup renggang. Kami mudah melewatinya. Perjalanan di padang rumput ini akan berjalan lancar.