
SRAKK SRAKK
Arnold dan pengikutnya muncul dari balik semak. Mereka menyeringai melihat keadaanku dan Aras.
“Lihatlah keadaan kalian. Sangat menyedihkan. Raja Aras bahkan mungkin akan mati kehabisan darah daripada karena racun monkshoodku.” Arnold memandang darah yang menggenang di sekitar tubuh Aras.
“Lebih baik kalian menyerah dan menyerahkan permata klan padaku. Aku akan membiarkan kalian pergi setelah itu.”
Aku tidak menghiraukan ucapan Arnold. Aku tetap teguh berdiri sambil menggenggam senjataku.
“Sepertinya kalian tidak mau menyerah. Baiklah jika seperti itu.”
Arnold mengangkat tangannya. Monkshood muncul setelah cahaya kehijauan berpendar di tangannya. Arnold memutar monkshood. Para pengikut Arnold juga menyiapkan senjata mereka.
“Bersiaplah!”
Aku menarik napas dalam. Dengan keadaanku sekarang, mungkin ini bisa jadi pertarungan terakhir dalam hidupku. Tapi justru karena itu aku tidak boleh menyerah. Aku tidak ingin pertarunganku berakhir di sini saja.
Arnold dan empat pengikutnya maju bersamaan.
TRANNGG
TRANGG
Senjata kami terus bertubrukan selama bertarung. Aku mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuanku untuk melawan mereka. Aku memaksakan seluruh tubuhku untuk bergerak.
SLASHH
Aku memotong sulur yang mencoba mengikatku.
SLASHH
Aku berhasil menghindari monksood yang terayun tepat di depan wajahku. Tapi belati Rotundus berhasil menyayat lenganku.
Aku berbalik badan, mengahadapi tombak yang menujam ke arah punggungku. Aku menendang tombak Cyperus hingga patah menjadi dua. Tapi sebuah anak panah menancap di pahaku. Aku mencabut anak panah itu lalu menusukkannya ke tubuh Cyperus.
Arnold kembali mengayunkan monkshoodnya. Aku menahan serangannya. Dia menatapku tajam. Bibirnya tersenyum miring, meremehkan.
“Kau memang kuat. Tapi apa kau bisa bertahan?”
DUAKK
Aku menendang Rotundus yang menyerangku dari samping tanpa mengalihkan perhatianku dari monkshood Arnold.
Aku lebih fokus pada monkshood daripada senjata lain. Luka yang dibuat oleh senjata lain hanyalah luka biasa. Tapi tidak dengan monkshood. Aku harus ekstra hati-hati dengan senjata itu.
Arnold mengatupkan giginya. Dia mulai emosi karena dia hampir tidak bisa membuatku mundur sama sekali.
DUAKK
Arnold menendang perutku. Aku terhuyun hingga hampir menabrak Aras yang ada di belakangku. Aku jatuh berlutut sambil memegangi perutku. Luka yang dibuat Rotundus di perutku kembali mengalirkan darah segar.
Arnold dan empat pengikutnya mendekatiku. Mereka menatapku dengan tatapan merendahkan. Senyum seringai terpasang di wajah mereka.
Grabb...
Aras mencengkram tanganku. Aku menoleh ke arahnya.
“Cepat pergi, Violet. Kau masih punya kesempatan,” ucap Aras.
“Apa yang kau katakan padanya, Raja Aras? Apa kau menyuruhnya untuk pergi?” Arnold menatapku dan Aras. Jaraknya dengan kami hanya tinggal beberapa langkah.
Aku menyentuh tangan Aras di lenganku lalu menurunkannya. Aku memandang Arnold, kemudian berdiri.
“Aku tidak akan pergi,” kataku.
Arnold menganggukkan kepalanya. “Baiklah jika itu keputusanmu.”
Arnold mengangkat monkshoodnya. Aku bersiap untuk menghadapinya.
Tapi... TAKK
Sebuah anak panah meluncur dari belakangku, mengenai monkshood. Arnold dan para pengikutnya mendongakkan kepalanya, menatap tebing yang ada di belakangku. Raut wajah mereka berubah. Mata mereka terbelalak.
“Nona, menunduk!” Terdengar suara Ty menyeru padaku.
Aku langsung menunduk mengikuti seruan itu.
SLASH SLASH
Puluhan anak panah melesat dari belakangku, menghujani Arnold dan pengikutnya. Arnold menggandakan dirinya. Bayangan-bayangan Arnold membentuk benteng, sedangkan Arnold dan pengikutnya berbalik badan, melarikan diri.
Aku menengok ke belakang, memeriksa apa yang membuat mereka kabur.
“Nona!”
Ty berteriak dari atas tebing. Di atas sana, dia bersama puluhan orang yang memanggul senjata. Wajah mereka tertutup topeng kayu.
__ADS_1
“Ty?”
Ty turun bersama beberapa orang. Dia langsung berlari ke arahku.
“Nona, kau terluka!” pekik Ty setelah melihat belasan luka di tubuhku.
“Aku tidak apa-apa.” Aku menoleh ke Aras. “Aras harus segera mendapat pertolongan.”
Ty mengangguk. Beberapa orang mengangkat Aras ke tandu yang telah mereka bawa. Aku memandang mereka ketika membawa pergi Aras.
“Dia akan dirawat di Desa Beringin,” kata laki-laki bertopeng yang berdiri di samping Ty.
Aku menghembuskan napas lega. Aku menyandarkan tubuhku ke batang pohon. Setelah semua ketegangan ini berakhir, tubuhku kehilangan kekuatan untuk berdiri.
Laki-laki di samping Ty melepas topengnya. Aku sangat terkejut melihat wajahnya. Dia adalah laki-laki Klan Hijau yang ikut Pelelangan Phoenix di Titanic.
“Kau?!” Aku menunjuk laki-laki itu.
“Aku Grante, paman Ty. Kita sudah bertemu sebelumnya di Titanic,” kata Grante.
Rasa lemasku hilang begitu saja melihat Grante, menusia Klan Hijau yang kalah di Pelelangan Phoenix.
Aku menatap Ty dan Grante bergantian. Kemudian menghela napas lega. Akhirnya aku bisa mempertemukan Ty dengan keluarganya.
“Kau kenal dengan pamanku, Nona?” tanya Ty.
Aku menggeleng. “Kami hanya pernah bertemu.”
Perutku tiba-tiba berdenyut sakit. Aku berpegangan pada dinding tebing. Darah masih mengalir dari luka tusukku.
“Nona! Bertahanlah sebentar lagi! Kami akan segera membawamu ke desa.”
Aku mengangguk.
***
Aku terbaring di lengan Grante. Ty dan Grante membawaku mengikuti rombongan yang membantuku dan Aras tadi. Aras berada di depan, ditandu oleh beberapa orang.
Aku merasakan kami mendekati energi Zamrud yang kuat. Aku melirik ke depan. Pemandangan hutan di depan sana tiba-tiba berubah menjadi kubah pelindung besar. Di balik kubah itu, terdapat tebing-tebing dengan lubang besar.
Kubah itu terbuka. Rombongan kami bergantian masuk ke dalam.
“Ini adalah Desa Beringin. Kubah itu melindungi desa ini dari luar. Orang asing tidak akan bisa menemukan Desa Beringin selama kubah itu tertutup,” kata Grante.
Aku mengedarkan pandangan ke sekitar. Desa ini dilindungi oleh kubah yang terbentuk dari energi Zamrud. Di tengah desa tumbuh sebuah pohon beringin raksasa yang memacarkan energi Zamrud yang sangat besar. Pohon Beringin itulah yang yang menjadi sumber energi Zamrud di Pegunungan Selatan.
Aku dan Aras dibawa memasuki salah satu lubang di tebing. Lubang mungkin kata yang terlalu sederhana untuk menyebut lubang tebing di Desa Beringin. Lubang-lubang itu berbentuk pintu besar, lengkap dengan hiasan pilar dan atap besar yang tinggi. Mirip dengan bangunan di Klan Putih.
Ada beberapa ruangan besar di dalamnya. Aku dan Aras dibawa ke ruangan terpisah. Seorang perempuan menyambutku. Sepertinya dia adalah dokter di desa ini. Begitu aku dibaringkan di tempat tidur, dia langsung merawat lukaku.
Grante pergi setelah memastikan aku mendapat perawatan, sedangkan Ty tetap menemaniku. Dia berdiri di pinggir ruangan sambil terus memperhatikanku.
Luka tusuk di perutku sebenarnya tidak fatal. Tapi akibat serangan Arnold dan pengikutnya, lukanya makin melebar. Aku juga tidak merasakan efek dari monkshood. Aku rasa luka yang dibuat monkshood terlalu kecil hingga racunnya tidak bereaksi dengan tubuhku. Keadaanku sementara ini lumayan bagus.
Ty menghampiriku setelah aku selesai diobati.
“Nona...” Ty memanggilku lirih.
Ty menatapku cemas. Dia menggenggam tanganku erat. Setelah perempuan yang merawatku pergi, Ty duduk di sampingku.
“Maaf, Nona. Jika aku lebih cepat, Nona dan Aras tidak mengalami hal seperti ini.” Air mata Ty mengalir dari matanya.
“Kau datang di saat yang tepat, Ty. Sudah jangan menangis.”
Ty menghapus air matanya. Tapi dia tidak bisa menghentikan air matanya yang terus jatuh.
Aku duduk dengan disangga bantal. Mataku menerawang. Bayangan Aras terus berkelebat di pikiranku. Luka di punggungnya sangat parah. Sudah beberapa jam setelah kami tiba di Desa Beringin. Aku ingin mengetahui keadaannya.
“Ty, apa kau bisa mengecek keadaan Aras sekarang?”
“Pamanku sudah pergi ke sana. Dia akan segera kembali ke sini.”
“Tapi ini sudah beberapa jam setelah dia pergi.”
“Nona tidak perlu cemas. Para dukun pasti sedang berusaha yang terbaik untuk merawat Aras.”
“Dukun?” Aku menenglengkan kepala tidak mengerti.
“Orang yang ahli obat-obatan. Nona tidak tahu?” Ty diam sejenak, berpikir. “Klan Biru menyebutnya dokter.”
‘Oh, dokter.’ Aku mengangguk mengerti.
“Kata Paman, dukun di Desa Beringin adalah yang terbaik di Klan Hijau. Jadi, Nona tidak perlu terlalu khawatir.”
“Baiklah.”
Waktu berjalan sangat lambat ketika aku menunggu Grante datang. Aku merasa sangat gelisah karena tidak tahu keadaan Aras sekarang. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
__ADS_1
“Ty, antar aku ke tempat Aras.” Aku bangkit dari tempat tidur.
“Tapi keadaan Nona belum baik.” Ty menahanku.
“Ty, sebagai majikanmu aku perintahkan kau untuk mengantarkanku kepada Aras sekarang juga!”
Ty tersentak. Dia kemudian menghela napas dengan berat.
“Baik, Nona.”
Ty mengantarkanku ke tempat Aras. Dia berusaha untuk membantuku berjalan dengan menjadikan dirinya sebagai penyangga. Tapi aku cukup kuat untuk berjalan sendiri.
“Kau jalan lebih dulu, Ty. Tunjukkan jalannya!” suruhku.
“Tapi–”
“Ty!”
Ty segera menurutiku. Dia berjalan di depanku, mengarahkanku ke tempat Aras dirawat. Setiap kali melangkah, dia menengok ke belakang, mengecek keadaanku.
Aku dan Ty berjalan di lorong hingga terlihat salah satu ruangan yang bagian depannya ramai dikerumuni orang-orang.
“Itu ruangannya, Nona,” kata Ty.
Ty membelah kumpulan orang itu. Dia membawaku masuk ke dalam ruangan. Orang-orang itu menatapku ketika aku lewat di depan mereka.
Grante menoleh. Dia tampak terkejut melihatku dan Ty datang ke sini.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” Grante menatapku. “Kau seharusnya beristirahat, Violet.”
“Bagaimana keadaan Aras?” tanyaku pada Grante, tidak menghiraukan ucapannya.
Wajah Grante menggelap.
Jantungku berdegub kencang.
“Kami sedang berusaha,” jawab Grante.
“Aku ingin melihatnya.”
Grante mengangguk. Dia menyuruh Ty untuk tinggal di tempat, sedangkan aku mengikutinya. Kami masuk ke salah satu kamar di ruangan itu.
Ruangan itu agak ramai. Beberapa orang hilir mudik membawa bejana penuh air.
Aku membeku ketika melihat Aras terbaring miring di tempat tidur. Luka di punggungnya terus mengalirkan darah. Selain itu kulit disekitarnya membiru. Keringat dingin menetes di wajahnya. Tubuhnya gemetar menahan sakit.
Aku menarik napas panjang. Tanganku mengepal, menghentikan tanganku yang mulai gemetar.
“Apa dia akan baik-baik saja?” tanyaku.
Sebenarnya dari melihat tubuh Aras sekarang, aku sudah tahu bahwa keadaannya sekarang sangat buruk. Tapi aku ingin mendengar jawaban bahwa Aras baik-baik saja.
“Luka di punggungnya cukup dalam. Kami sedang berusaha menghentikan pendarahannya. Tapi yang menjadi masalah adalah racun monkshood. Monksood sangat beracun dan kami tidak memiliki penawarnya. Kemungkinan hidupnya sangat kecil,” terang salah satu dukun yang menangani Aras.
Aku mencengkram kerah baju dukun itu.
“Bisa-bisanya kau berkata seperti itu! Kalau kalian tidak memiliki penawarnya, kalian bisa membuatnya!” teriakku.
“Violet, tenanglah.” Grante mencoba melepaskan dukun itu dari cengkramanku. “Dia hanya memberitahu kenyataannya.”
Aku melepaskan cengkramanku dari dukun itu. Dia terbatuk setelah aku melepaskannya.
“Kita seharusnya memang tidak perlu berurusan dengan klan lain,” kata dukun itu disela batuknya.
“Apa?!”
Aku hampir mengayunkan tinjuku ke wajah dukun itu. Dukun itu pasti sudah babak belur sekarang jika Grante tidak menahanku.
“Tenanglah, Violet.”
“Bagaimana kau bisa menyuruhku tenang setelah dia berbicara seperti itu! Mereka tidak memiliki niat untuk menyelamatkan Aras!”
Orang-orang di ruangan menatapku. Grante segera membawaku meninggalkan ruangan Aras.
Grante membawaku keluar ke pintu gua di sisi lain. Kami berada di tempat seperti balkon yang menghadap langsung dengan hutan. Angin dingin menyentuh wajahku yang panas.
“Tenanglah, Violet. Aku mengerti perasaanmu,” kata Grante.
“Kalau begitu beri tahu mereka! Beri tahu mereka untuk menyelamatkan Aras!”
Mataku terasa panas. Keadaan Aras yang sekarang terus terbayang di kepalaku. Aku jatuh berlutut di depan Grante.
“Aku mohon...” Air mataku tumpah. “Tolong selamatkan Aras.”
__ADS_1