Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 62


__ADS_3

Pertarunganku dan Arnold masih terus berlanjut. Arnold menyabit secara horizontal. Aku menekuk tubuh, menghindar. Aku segera bangun. Tubuh bagian samping kanan Arnold terbuka tanpa pertahanan. Aku menebaskan pedangku ke pinggang Arnold.


TRANGG


Panah melesat menabrak mata pedangku sehingga seranganku melenceng, tidak mengenai Arnold. Aku mendelik pada dua pemanah yang mengangguku.


“Kalian tidak perlu ikut campur!” seru Arnold pada pengikutnya. Arnold menatapku. “Jangan teralih pada mereka, Klan Ungu. Ini pertarungan kita.”


Monkshood terayun di depanku. Aku segera melindungi diri dengan pedang.


TRANGG


Senjataku dan Arnold berbenturan. Arnold menarik monkshood. Dia kemudian menebaskan kembali padaku.


Senjata kami bertubrukan berkali-kali. Energi Zamrud sangat kuat di sini. Arnold terus menerus menyerangku dengan kekuatan yang besar. Energinya tidak ada habisnya. Pegunungan Selatan memberikan banyak energi padanya.


Aku mulai terdesak. Energiku terkuras. Aku tidak bisa bertahan lebih lama. Aku harus segera mengakhiri pertarungan ini sebelum aku benar-benar kalah.


Aku berlari cepat ke Arnold. Aku berbelok ke sampingnya ketika Arnold mengayunkan sabit monkshoodnya kepadaku. Mataku terkunci pada lehernya yang terbuka. Aku segera menebaskan pedangku ke lehernya.


Tapi mendadak Arnold menggandakan dirinya. Bayangan Arnold muncul di belakangku, mengayunkan sabit padaku. Aku terlalu terkejut untuk menghindari serangan itu apalagi aku juga sedang menyerang Arnold.


Aras muncul tiba-tiba di belakangku. Dia menebaskan belatinya pada bayangan Arnold. Bayangan itu menghilang. Aku kembali fokus pada seranganku. Tapi Arnold rupanya memanfaatkan kekagetan singkatku untuk menghindar. Pedangku hanya memotong beberapa helai rambutnya.


Arnold mundur sambil menarik tubuh Cypirus yang ada di dekatnya. Dia menyerahkan Cypirus yang terluka parah pada Rotundus.


Arnold memandangku dan Aras. “Aku akan mengakhirinya di sini.”


Energi Zamrud dalam jumlah besar mengalir ke tubuh Arnold dan monkshood. Empat pengikutnya juga ikut menyerap energi Zamrud itu, sedangkan aku dan Aras merasa lemah tiba-tiba. Tubuh kami gemetar menahan energi Zamrud yang sangat kuat melewati kami.


Monkshood bersinar. Arnold tersenyum lebar.


“Maju!” seru Arnold.


Arnold bersama Rotundus maju menyerangku dan Aras. Dua orang pemanah, bersiap menyerang dari samping.


TRANG TRANG


SLASH SLASH


Suara senjata saling bertubrukan diantara serangan panah. Aku dan Aras saling melindungi selagi kami menyerang Arnold dan Rotundus.


Aras tidak bisa menggunakan keistimewaannya. Energinya sudah menipis. Dia mengandalkan belati untuk bertarung.


Pedangku beradu dengan belati pengikut Arnold, Rotundus. Belatinya menekan pedangku dengan sangat kuat hingga mata pedangku koyak.


Aku menarik pedangku. Sudut mataku melihat sebuah anak panah melesat ke Aras. Aku langsung memukul anak panah itu, melindungi Aras.


Rotundus tidak membiarkanku pergi begitu saja. Dia menghunjamkan belatinya ke pinggangku. Jika aku menghindar, Aras akan terkena serangannya. Aku memukul belati itu ke atas.


Tiba-tiba Rotundus mengeluarkan satu belati lagi dari balik punggungnya. Dia menikamkannya ke perutku.


“Ughh!” Aku memegangi tangan pemakai belati itu.


Belati Rotundus berhasil menusukku. Aku menahannya agar dia tidak menikamku lebih dalam.


“Violet!”


Aras menendang dada Rotundus. Rotundus terpelanting ke belakang.


Aku jatuh berlutut. Tanganku menekan luka terbuka di perutku.


Aras tidak diberi kesempatan untuk melihat keadaanku. Arnold menyerangnya dengan monkshood. Pemanah juga melemparkan anak panah mereka.


Aku bangkit. Aku masih bisa bertarung. Aku mengayunkan pedangku, menyingkirkan anak panah yang terbang ke arahku dan Aras.


Aras bertarung sengit dengan Arnold. Dia hampir berhasil menikam Arnold. Tapi Arnold menendangnya sangat keras hingga Aras terpental jauh.


Aras sempat memukul Arnold dengan batu yang muncul dari tanah. Arnold jatuh menabrak batu. Kepalanya mengalirkan darah segar.


Aku menempatkan pedang di depanku. Rotundus kembali ke pertarungan. Aku akui dia hebat. Dia berkali-kali dikalahkan tapi dia terus bangkit dan kembali menyerang.


“Tekadmu kuat,” pujiku ketika senjata kami saling bertemu.


“Aku tidak akan menyerah hanya karena serangan seperti itu.”


Senjata kami terus bertubrukan. Pedangku sudah rusak. Mata pedangku tidak tajam lagi. Pinggirannya pecah dan hampir patah.

__ADS_1


Pedangku meliuk. Belati musuhku berhasil aku jatuhkan. Rotundus tidak panik. Kakinya menendang pedangku. Tanganku sudah melemah. Pedangku pun terlempar dari tanganku. Dia menarik bahuku lalu menendang perutku dengan lututnya.


“Argh!!”


Aku jatuh berlutut sambil memegangi perutku. Darah merembes dari sela-sela jariku.


Serangan itu tidak berhenti di sini. Aku melihat bayangan sabit di tanah. Dari belakang aku merasakan energi Zamrud yang sangat kuat. Aku harus menghindar tapi tubuhku tidak mau bergerak.


Tiba-tiba Aras muncul dan memelukku dari belakang. Tepat saat itu, tanah naik ke atas kami, membentuk tempurung yang melindungiku dan Aras.


BRAKK


Monkshood menghujam tempurung. Pelindungku dan Aras itu hancur berantakan. Aku merasakan pelukan Aras menguat. Aras mendesis pelan. Aku merasakan cairan hangat mengalir di punggungku.


Cahaya matahari kembali menyinari kami. Jantungku terasa berhenti ketika melihat cairan hangat yang aku rasakan adalah darah Aras. Punggungnya terluka parah. Luka tebas memanjang di punggungnya, mengalirkan darah segar.


Aku menyangga Aras yang ambruk di punggungku.


Arnold berdiri menyeringai di depanku dan Aras.


“Aku rasa aku tidak punya pilihan lain selain membunuh kalian. Maafkan aku, Raja Aras. Tapi ini karena kau menolak tawaran kami.”


Arnold mengangkat monkshood. Mata sabit monkshood berkilat cahaya energi Zamrud. Jantungku berdegub kencang. Aku mendekap Aras dengan erat.


“Mati kalian!“


Aku memejamkan mataku.


Belum sempat Arnold mengayunkan monkshood. Tanah tiba-tiba berguncang.


BRAK BRAK BRAK BRAK


Pepohonan tumbang. Burung-burung berterbangan panik. Tanah bergerak seperti gelombang di lautan. Arnold dan keempat pengikutnya diterjang gelombang tanah. Hanya tanah dibawahku dan Aras saja yang tidak bergerak.


Gelombang itu berhenti berhenti beberapa saat kemudian. Sejenak aku terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Tapi menyadari aku dan Aras sudah jauh dari Arnold dan pengikutnya, kami harus memanfaatkan waktu ini untuk pergi. Aku segera membantu Aras berdiri. Aku meletakkan tangan Aras di bahuku. Lantas memapahnya pergi selagi Arnold dan para pengikutnya menghilang.


Kami melangkah dengan tertatih.


“Violet, kau harus pergi lebih dulu,” ucap Aras lemah. “Mereka bisa menyusul kita dengan cepat.”


Aku tidak menghiraukan ucapan Aras. Aku tetap berjalan sambil menyangga tubuh Aras.


Tangan kiriku terkulai lemah. Aku sama sekali tidak bisa menggerakkannya lagi atau merasakannya. Aku seperti kehilangan lengan kiriku.


BRUK


Aku dan Aras terjatuh.


“Violet?”


“Aku baik-baik saja.”


Aku berusaha bangkit dan membawa tubuh Aras untuk berdiri kembali. Tapi kami kembali terjatuh. Aras sudah tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Aku juga sudah kehilangan tenaga untuk menopangnya. Tapi aku tetap bersikeras untuk membawanya pergi lagi.


“Hentikan, Violet!” teriak Aras parau.


Aku tersentak.


Aras menatapku getir.


“Pergilah... Aku mohon.”


“Tidak! Tidak tanpamu.”


Tangan kananku meraih pangkal lengan Aras. Aku berusaha menggotong Aras kembali. Tapi tetap saja gagal.


“Aku bilang hentikan!” teriak Aras.


Aku terjatuh, menumpu pada tanganku.


“Violet, kau harus membawa permata-permata klan itu pergi.”


“Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu!”


“Kau akan menyesal jika tetap di sini!”


“Tidak!”

__ADS_1


“Kau hanya akan menyesal membawa pembunuh orang tuamu!”


Aku terkesiap. Aku memandang Aras.


“Apa maksudmu?”


“Aku yang membunuh orang tuamu! Jadi tinggalkan aku! Kau hanya akan menyesal jika tetap di sini.” Aras tersenyum miris.


Aku membeku. Dadaku terasa sangat berat. Aku memandang Aras kecewa.


“Kau bohong, kan?”


Aras tertawa. “Aku yang membunuh orang tuamu. Kenapa kau masih tidak percaya? Kau sendiri pasti juga sudah tahu jika aku yang membunuh orang tuamu.”


Aku menggigit bibirku. Walaupun aku sudah mengetahuinya, aku masih tetap sangat terkejut hingga tidak bisa berkata apapun.


“Cepatlah pergi.” Aras memalingkan wajah dariku.


Aku meraih tangan Aras. Lalu menyokong tubuhnya untuk berdiri. Aku kembali memapahnya untuk berjalan.


“Violet?!” Aras terkejut.


Aku tidak bisa membiarkan Aras mati. Dia mungkin memang pembunuh orang tuaku. Dan aku sangat kecewa karenanya. Tapi ketika Aras jujur padaku, entah kenapa aku merasa hatiku juga lega.


“Kenapa? Kenapa kau melakukan ini?” Aras menatapku pilu.


Aku tidak ingin Aras mati. Sudah cukup aku kehilangan ayah, ibu, dan Vender. Aras adalah orang yang berharga bagiku. Aku tidak ingin kehilangannya.


BRUK


Untuk kesekian kalinya kami terjatuh. Aku sadar, aku sudah mencapai batasku. Aku tidak bisa bergerak kemana-mana lagi.


Aku membaringkan tubuh Aras di pangkuanku sambil memeluknya erat.


“Kenapa? Kenapa, Violet?” Suara Aras serak menahan kesedihan.


“Aku sudah menyakitimu. Kenapa kau masih baik padaku? Aku tidak mengerti.”


Aku bergeming. Lenganku memeluknya lebih erat.


“Kau seharusnya marah padaku! Berteriak padaku! Kau seharusnya membiarkan pembunuh orang tuamu ini mati saja!”


Aras meronta lemah di pelukanku. Hatiku teriris setiap dia berbicara. Aku tidak ingin mendengarnya.


“Cepat pergi, Violet. Tinggalkan aku. Lukaku terlalu parah. Tidak ada gunanya kau membawaku pergi. Aku akan segera mati,” ucap Aras lemah.


Aras mendorongku pergi. Namun aku tidak bergerak sama sekali. Sekuat apapun Aras mendorongku. Dia tidak akan bisa membuatku bergerak sedikitpun.


“Hentikan.” Aku menggenggam tangan Aras, menghentikannya.


“Kenapa kau mudah sekali putus asa? Padahal saat aku buta kau menyuruhku untuk jangan menyerah. Kenapa kau sekarang seperti ini? Aras yang aku kenal tidak pernah menyerah pada hidupnya! Jangan menjadi pecundang!” teriakku sambil mengguncang Aras.


Kekacauan terpancar dari wajah Aras.


Air mata mengalir deras di pipiku. “Aku... Aku tidak mau kehilanganmu juga.”


Aras mengangkat tangannya. Dia membelai pipiku. Jarinya mengusap air mataku yang mengalir.


“Maaf sudah menjadi pecundang bagimu, Violet. Tapi aku akan lebih hancur jika kau mati bersamaku.” Aras tersenyum sedih.


Aku mendengar derapan langkah mendekati kami. Arnold dan pengikutnya pasti sudah dekat dengan kami.


Aras meremas lenganku. “Aku mohon pergilah. Cepat.”


Aku menghela napas dengan berat. Kemudian menggeleng. Jika Arnold datang, aku akan menghadapinya.


Aku membaringkan Aras di atas rumput.


“Maaf, aku tidak bisa menurutimu, Aras. Aku akan mengambil keputusanku sendiri,” kataku.


Aku mengambil belati milik Aras. Kemudian bangkit berdiri dan melangkah ke depan. Aku mengacungkan belati miliki Aras. Mataku mengawasi pergerakan lima orang yang mendekat ke arah kami.


Aku menarik napas dalam. Aku berkonsentrasi, memfokuskan energi yang tersisa untuk bertarung.


Apapun yang Aras katakan. Apapun yang Aras minta padaku. Jika dia menyuruhku untuk pergi meninggalkannya. Aku tidak akan melakukannya. Apapun yang yang akan terjadi, ini adalah keputusanku.


 

__ADS_1


 


__ADS_2