
Perlahan aku membuka mataku. Sinar matahari menembus celah-celah dedaunan yang menaungiku. Aku merenggangkan tubuhku sambil menghadap lautan. Udara pagi terasa dingin, meskipun matahari sudah bersinar cukup cerah.
Aku menatap Ty yang masih memejamkan matanya. Aku memperat jubahku yang melilitnya agar dia tetap hangat. Api masih menyala. Aku hanya perlu memberi beberapa potong kayu untuk membesarkan nyala apinya.
Aku mengambil ikan yang sudah aku asapi tadi malam lalu memasaknya. Aku tidak bisa meninggalkan Ty untuk pergi berburu atau mencari buah. Ada banyak jejak di sekitar kami yang tidak aku kenali. Aku tidak bisa mengambil resiko yang bisa mencelakai anak ini. Alhasil aku hanya bisa memetik buah dari pohon yang ada di dekat kami. Beruntung jumlah cukup banyak.
“Ugh...”
Ty berkeringat dingin. Dia terlihat kesakitan. Matanya membuka perlahan. Dia memandang lama dedaunan di atasnya lalu melirikku.
“Apa kau masih merasa sakit?” tanyaku.
Ty diam saja. Dia bangkit dan duduk.
Aku menatap bibir kering Ty. “Minumlah dulu. Aku juga sudah membuat makanan. Kau bisa makan setelah ini.”
Aku menyodorkan sebotol air hangat kepada Ty. Ty menerimanya dengan gemetar. Tubuhnya lebih lemah dari kemarin.
“Apa kau mau aku suapi? Tubuhmu masih terlalu lemah untuk makan.” Aku memegang semangkuk sup ikan di tanganku.
Ty menggeleng. Dia mengambil mangkuk sup ikannya lalu memakannya dengan lahap. Makanan di mangkoknya ditandaskan dengan cepat. Aku memberinya satu mangkuk sup lagi. Wajahnya tampak lebih berseri setelah sarapan.
“Terima kasih,” ucapnya.
Aku mengangguk.
“Kau bisa istirahat lagi jika kau mau.”
Ty menatapku ragu. “Apa tidak lebih baik kita segera pergi mencari teman-teman, Nona?”
“Lebih baik kita berisitahat di sini sampai pulih. Perjalanan kita akan panjang nanti.”
Keadaan Ty belum stabil. Aku tidak bisa memaksanya pergi.
Hari ini, satu hari penuh aku fokus memulihkan kesehatan Ty. Aku menyuruhnya beristirahat, sedangkan aku menelusuri daerah di sekitar kami sambil mencari makanan. Syukurlah Ty pulih dengan cepat. Ketika aku kembali dari hutan di siang hari, dia sedang berdiri menatap lautan.
“Kau sudah sehat, Ty?” Aku menyusul Ty, berdiri di sampingnya.
Ty mengangguk dan tersenyum. “Ini berkat, Nona.”
“Aku senang kau sudah sehat. Tapi panggil aku Violet. Jangan Nona.”
Ty diam sesaat. Lalu dengan ragu dia melontarkan pertanyaan padaku.
“Kenapa kau menyelamatkanku?”
“Apa perlu alasan? Kau membutuhkan pertolongan dan aku bisa menolongmu,” jawabku.
“Tapi aku Klan Hijau, sedangkan kau Klan Ungu. Klanmu adalah klan tertinggi setelah Klan Putih.”
Aku menepuk dahiku. “Astaga, itu tidak penting.”
“Tapi orang-orang di Klan Biru sering mengatakan kita tidak perlu peduli dengan klan yang lebih rendah daripada klan kita sendiri.”
“Aku tidak terlalu tahu bagaimana kebudayaan di Klan Biru. Tapi kau tidakperlu memikirkannya. Lagi pula kita sekarang berada di Klan Hijau. Klanmu sendiri.”
Ty mengangguk mengerti.
Ty tiba-tiba menghadapku dan berlutut di depanku. Aku terkejut sekaligus panik.
“Ty, apa yang kau lakukan?!”
Masih sambil berlutut, Ty berbicara padaku, “Saya sangat berterima kasih pada Nona. Nona telah menyelamatkan nyawa saya. Mulai saat ini saya akan mengikuti Nona dan melayani Nona kapanpun dimanapun Nona berada hingga akhir hayat saya.”
Aku terkesiap melihat Ty. Aneh sekali melihat adegan seperti ini. Apalagi dia menggunakan bahasa yang sangat formal yang aku saja tidak pernah menggunakannya.
“Apa yang kau katakan, Ty? Berhenti memanggilku Nona. Aku bukan majikanmu. Jangan berlutut di depanku dan angkat kepalamu.”
Ty mengangkat kepalanya. Dia masih berlutut di depanku. “Nona, aku sudah memutuskan untuk menjadi pelayan Nona. Kebaikan Nona membuat saya yakin bahwa keputusan ini adalah yang terbaik. Tolong, biarkan saya melayani Nona.”
“Aku lebih suka jika kita berteman saja.”
Ty menggeleng dengan tegas. “Saya sangat senang Nona berkata seperti itu tapi saya adalah pelayan Nona. Tolong anggap saya seperti itu.”
Situasi macam apa ini? Aku bukan bangsawan seperti Azuro atau raja seperti Aras. Daripada permintaan menjadi pelayan, aku lebih merasa dia memberikan sumpah setianya padaku, seperti sumpah setia prajurit kepada raja Klan Ungu.
“Ty, apa alasanmu melakukan ini?”
“Saya sudah bilang sebelumnya. Nona telah menyelamatkan saya. Saya berhutang nyawa pada Nona.”
“Tapi tidak perlu sampai menjadi pelayanku.”
Ty menggeleng. “Nona telah menyelamatkanku. Membalas budi Nona dengan menyerahkan hidupku pada Nona adalah hal yang sepadan.
Aku menghela napas. “Apa kau serius, Ty?”
Ty mengangguk mantap.
Aku menarik pedangku dari sarungnya. Ty segera mengambil posisi berlutut layaknya seorang prajurit.
Dulu ketika Vender memberikan sumpahnya kepada Raja Taro, Raja Taro juga melakukan ini pada Vender. Setiap penduduk yang menjadi prajurit resmi di Klan Ungu akan memberikan sumpah mereka kepada raja secara langsung dihadapan Amethyst. Setelah memberi sumpah, mereka akan mendapatkan aliran energi Amethsyst lebih banyak dari penduduk pada umumnya. Para prajurit akan jauh lebih kuat. Jika mereka telah bersumpah pada raja artinya seluruh hidupnya telah diserahkan kepada kemakmuran dan kejayaan Klan Ungu. Mati adalah konsekuensi dari sumpah yang dilanggar.
“Aku akan melakukan sumpah padamu dengan sumpah yang dilakukan di Klan Ungu. Sumpah ini memiliki hukuman yang besar jika kau melanggarnya. Sekali lagi aku tanyakan padamu. Apa kau yakin akan menyerahkan seluruh hidupmu padaku?”
“Saya sangat yakin.”
“Baiklah kalau begitu.”
Aku memposisikan pedangku tepat di atas kepala Ty. Aku memulai sumpah Ty.
“Phoenix Dactylifera, apa kau yakin menyerahkan seluruh hidupmu untuk melayaniku?”
“Ya, saya yakin.”
“Ty, aku beritahu sebelumnya. Ini bukan sumpah main-main. Jika kau melanggar sumpahmu nanti, kau akan menerima hukuman mati. Apa kau yakin dengan itu?”
Ty mengangguk. “Akan aku serahkan seluruh jiwa dan ragaku untuk melayanimu.”
Ty terlihat sangat yakin. Tatapannya membuatku semakin yakin dengan keputusan Ty.
“Aku melihat keyakinan pada dirimu. Kalau begitu Phoenix Dactylifera, apa kau bersumpah akan menyerahkan jiwa dan ragamu untuk melayaniku, Violet, seumur hidupmu?”
“Ya, aku Phoenix Dactylifera, akan menyerahkan segenap jiwa dan ragaku untuk melayani Nona Violet seumur hidupku.”
“Baiklah. Aku terima sumpahmu, Phoenix Dactylifera. Mulai saat ini kau adalah pelayanku dan aku adalah majikanmu.”
“Baik, Nona.”
__ADS_1
Aku menatap Ty selagi dia masih menunduk padaku. Apa tidak masalah membuat anak-anak menjadi pelayan. Dia saja belum dewasa. Rasanya aku seperti melakukan tindakan kriminal.
Aku kembali menatap Ty. Aku menyimpan kembali pedangku. Ty mengangkat wajahnya.
“Nah, Ty, dengarkan perintah pertamamu,” ujarku. “Beristirahatlah sampai kau sehat.”
“Eh?!” Ty menunjukkan wajah terkejut. “Saya tidak pantas menerima itu. Lebih baik Nona memperkerjakan saya. Saya sudah banyak beristirahat sejak kemarin.”
Ty menolakku. Terpaksa aku memakai kuasaku.
Aku menatap Ty tajam. “Kau ingin melawanku?”
Ty langsung menunduk. “Maaf, Nona.”
Aku menghela napas. “Aku akan melakukan perjalanan panjang, Ty. Jika kau ikut bersamaku, keadaanmu harus sangat baik.”
“Baik, Nona. Saya mengerti.”
“Selain itu, berhentilah menggunakan bahasa yang sangat formal. Aku tidak terbiasa mendengarnya. Klan Ungu tidak pernah memakai bahasa itu.”
“Aku mengerti.”
Aku mengangguk puas.
Ty kembali beristirahat sesuai perintahku. Dia duduk di bawah pohon rindang sambil mengamati sekitar. Wajahnya terlihat lebih segar dari sebelumnya. Dia juga tidak terlihat lemas.
Sejauh ini aku tidak merasakan ada binatang buas yang mendekat ataupun bahaya lain yang mengancam kami. Di luar dugaanku, pantai ini cukup aman.
Aku bangkit dari duduk. Aku ingin berjalan-jalan di sekitar pantai untuk mencari petunjuk baru. Ada kemungkinan Aras, Ichi, Tiha, Bara, dan Ryza terdampar di daratan yang sama denganku, bahkan mungkin saja kami berdekatan. Meskipun kecil kemungkinan untuk menemukan mereka karena hari ini sudah lebih dari seminggu semenjak tenggelamnya Titanic. Tapi aku masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengan mereka jika aku menemukan jejak mereka.
“Ty, aku ingin jalan-jalan sebentar.”
Ty berdiri. “Biar aku temani, Nona.”
Aku menggeleng. “Kau istirahat saja di sini. Aku tidak ingin besok kau kelelahan. Lagipula tempat ini cukup aman. Kau bisa tenang di sini.”
“Baiklah, Nona.” Ty tampak kecewa tapi dia duduk menurut.
Tempat ini memang cukup aman tapi aku tidak bisa membiarkan Ty sendirian tanpa senjata apapun. Jadi, aku meminjamkan pisau dapur milik Ludwig.
“Senjatamu untuk berjaga-jaga.” Aku menyerahkan pisau kepada Ty.
“Terima kasih, Nona.”
Aku menatap Ty untuk terakhir kalinya sebelum pergi. Rasanya masih mengganjal meninggalkannya sendirian. Aku sepertinya masih khawatir padanya. Dia terlihat rapuh dan lemah dengan tubuhnya yang kurus itu.
Aku menggunakan keistimewaanku agar jejakku dapat terlihat. Selain melihat jejak, aku juga bisa memunculkan jejak agar bisa dilihat orang lain.
“Ty, jika terjadi sesuatu, kau bisa mengikuti jejakku ini.” Aku menunjukkan jejakku yang berpendar keunguan.
“Wow, hebat sekali. Aku baru pertama kali melihat seperti ini.” Mata Ty antusias mengikuti setiap jejak yang aku buat.
“Nona pemilik galur murni?” Ty bertanya dengan mata berbinar.
Aku mengangguk.
“Aku pergi dulu.”
“Baik, Nona. Hati-hati,” kata Ty sambil melambaikan tangan padaku.
Di pesisir pantai aku mendapati beberapa pecahan bangkai Titanic yang terbawa arus ke pantai. Makin jauh aku berjalan, makin sedikit pecahan Titanic yang aku temukan. Aku terus berjalan hingga sebuah tebing karang menjulang, menghalangi jalan yang aku lewati.
Aku menengok ke bagian hutan. Tebing ini membentang dari dalam hutan hingga lautan. Tebing ini juga sangat tinggi. Butuh waktu beberapa saat untuk mendakinya. Aku memutuskan untuk berbalik badan dan kembali ke tempat Ty. Kemungkinan tidak ada yang dapat aku temui di balik tebing itu karena aku sudah tidak menemukan pecahan Titanic atau benda terdampar lainnya di sekitar sini.
Aku sepertinya sudah cukup jauh berjalan. Langit mulai tampak kemerahan. Angin berhembus kencang hingga meliukkan pohon di tepi pantai. Pohon-pohon di dalam hutan pun ikut bergerak saking kerasnya angin berhembus. Perasaanku tidak enak. Aku mempercepat langkahku agar segera tiba di tempat kemah.
Langit tiba-tiba menggelap. Awan kelabu bergerak cepat dari lautan ke daratan. Angin bertambah kencang berhembus. Aku kesulitan untuk berlari menembus angin. Aku berlari mengikuti arah gerak angin agar beban lariku menjadi ringan. Cara ini juga sekaligus mempercepatku kembali ke kemah.
Angin besar tiba-tiba muncul dari dalam hutan disertai suara gelegar yang sangat keras. Aku hampir terlempar oleh angin dari hutan itu. Sekarang angin dari laut dan hutan bertubrukan mejadi satu di pantai. Kedua angin itu sangat besar sampai berdiri pun susah.
BRAKK
“Astaga!” Aku meloncat kaget ketika mayat kering jatuh di depanku.
Sebuah mayat manusia yang telah mengering kering terlempar dari atas. Aku menengok ke atas, ke arah cabang-cabang pepohonan yang tumbuh tinggi. Sesuatu melesat dari salah satu pohon. Aku segera menghindar. Satu mayat kering kembali jatuh.
Kulit dari dua mayat perempuan itu telah mengering. Mereka sangat kurus hingga kulit mereka menempel dengan tulang. Dari pakaian mereka yang penuh renda, aku bisa menyimpulkan bahwa mereka adalah manusia Klan Biru. Anehnya rambut mereka hitam, tidak seperti Klan Biru yang harusnya berwarna biru. Normalnya walaupun manusia klan mati, rambut mereka akan tetap berwarna sesuai warna aslinya, kecuali jika mereka mati karena diambil energinya.
Setiap manusia klan memiliki energi permata klan yang mengalir disepanjang tubuh mereka ketika mereka masih hidup, meskipun jumlahnya tidak sebanyak pemilik galur murni. Awalnya aku tidak terlalu mengerti kenapa mereka bisa memiliki energi itu. Tapi semenjak aku mengetahui bahwa pemilik galur murni merupakan bagian dari permata klan aku menjadi paham. Aku pikir nenek moyang manusia klan adalah para pemilik galur murni sehingga energi itu diwariskan ke keturunannya walaupun dalam jumlah yang sangat sedikit. Energi itulah yang membuat manusia klan memiliki warna mata dan rambut yang berbeda. Selain itu mereka memiliki jejak. Makhluk hidup atau benda mati yang tidak memiliki aliran energi permata klan di tubuh mereka, tidak akan memiliki jejak.
Dulu ketika aku membantu Vender menyelesaikan misinya, kami pernah mendapati kasus dimana manusia klan mati akan kehilangan energi permata klannya. Rambut dan mereka menghitam seperti Klan Hitam. Meskipun tidak seperti dua mayat yang ada di depanku ini. Mayat-mayat ini terlihat sudah sangat lama tapi pakaian mereka terlihat baru dipakai beberapa hari lalu, walaupum lumut-lumut sudah mulai bermunculan di gaun mereka.
Aku berhenti memperhatikan dua mayat itu. Aku harus segera pergi ke tempat kemah. Ty berada dalam bahaya jika sendiri dalam keadaan seperti ini. Aku mengerahkan tenagaku untuk berlari menembus angin kencang ini. Hampir-hampir aku terbang ketika berlari kembali.
CRAKK
BRAKK
Terdengar suara batang pohon roboh dari arah hutan.
Aku berhenti berlari. Mataku terfokus pada burung-burung yang berterbangan dari hutan. Sebuah pohon raksasa tampak bergerak di tengah hutan. Cabang-cabangnya meliuk-liuk seperti gurita.
“Nona!”
Aku menoleh.
Dari kejauhan, aku melihat Ty berlari ke arahku. Wajahnya terlihat sangat panik. Aku segera berlari menghampirinya.
“Wit! Wit telah bangun! Kita harus lari!” Ty mencengkram lenganku dengan kuat. Dia menarik tanganku untuk pergi.
“Hey, apa maskudmu? Wit?” tanyaku sambil berlari.
“Pohon besar yang bergerak itu adalah wit. Dia adalah monster pohon yang suka memakan manusia. Kita harus segera menjauhinya sebelum dia terbangun sepenuhnya!”
Sebuah akar raksasa tiba-tiba muncul dari dalam hutan dan tumbuh memanjang dengan cepat ke arah laut. Ty meresponnya dengan cepat. Dia langsung membawaku melompati akar itu.
Akar itu tidak hanya muncul satu kali. Sebuah akar yang ukurannya lebih kecil mencuat dengan cepat ke arah kami. Ty terlalu kaget untuk menghindar. Aku dengan cepat mengeluarkan pedangku dan menebas akar itu.
“Wow, kau sangat hebat, Nona.” Ty menatapku takjub.
“Tentu saja. Aku adalah Klan Ungu.”
Sebuah akar kembali melesat ke arah kami. Aku menarik Ty menghindar kemudian menebas akar itu.
“Oh, tidak,” gumamku.
Sekumpulan akar berukuran kecil bergerak cepat dari dalam hutan. Mereka tidak seperti seikat kayu bakar yang biasa dijual. Jumlah mereka yang akan menyerang kami sekarang cukup untuk membakar sebuah rumah.
__ADS_1
Aku lihat Ty memegang erat pisau yang aku pinjamkan dengan posisi siap bertarung.
“Apa kau terlatih menggunakan pisau, Ty?” tanyaku tanpa memalingkan wajah dari pergerakan akar-akar yang semakin cepat.
“Ya tapi tidak seahli Nona.”
“Baguslah. Kau pimpin jalan untuk kabur. Aku akan berjaga di belakang.”
“Baik.”
Ty mulai bergerak. Aku mengikutinya dari belakang.
Ribuan akar itu mengincar kami. Mereka bergerak mengikuti gerakan kami. Setiap kami berbelok, akar itu pun ikut berbelok.
SLASHH SLASH
Aku memotong setiap akar yang mendekati kami. Tapi itu tidak terlalu berguna. Akar-akar itu bisa beregenerasi dengan sangat cepat. Akar baru muncul dengan jumlah dua kali lipat dari akar yang terpotong.
Ty cekatan mengambil jalan yang menyulitkan akar-akar itu mengejar kami. Gerakannya licah dan cepat.
Ty membawaku masuk ke hutan. Matanya liar mencari sesuatu. Wajahnya tiba-tiba berubah.
“Ke sini, Nona!”
Pergerakan Ty semakin cepat. Akar-akar itu sekarang berada cukup jauh di belakang kami. Mereka terhalang tumbuhan-tumbuhan di hutan untuk bergerak.
BUM
Tanah bergetar disertai suara dentuman yang sangat keras. Akar-akar yang tadinya mengejar kami telah menghilang. Sekarang pohon raksasa yang aku lihat tadi bergerak mendekati kami. Aku tidak telalu bisa melihat pergerakan pohon itu karena tertutup oleh pepohonan lain tapi dari suaranya yang semakin terdengar jelas, pohon itu mendekati kami dengan kecepatan yang besar.
Pohon-pohon di belakang kami tumbang karena pohon raksasa itu. Sekarang aku bisa melihat pohon raksasa itu dengan jelas. Pohon itu sangat tinggi, ditambah dengan cabangnya yang menggeliat di sekitarnya, tinggi pohon itu terlihat lebih dari seratus meter. Di beberapa cabangnya, terdapat manusia klan yang menempel di sana dan telah mati menjadi mayat kering. Terungkaplah dari mana asal dua mayat perempuan yang aku lihat tadi di pantai.
Sebuah akar berukuran besar berusaha menangkap kami. Aku menebasnya. Tapi akar itu malah tumbuh bercabang. Aku kembali menebasnya dengan cepat. Tapi akar itu tumbuh kembali dengan cepat juga.
“Bertahanlah sebentar lagi, Nona! Sebentar lagi kita akan selamat!” seru Ty sembari berlari.
Aku dan Ty terus berlari hingga menemukan sebuah pohon besar dengan ratusan akar yang menjuntai dari dahan-dahannya. Pohon itu bercahaya kehijauan. Dengan keistimewaanku, aku bisa melihat pohon itu mengalirkan energi yang sama seperti Zamrud ke lingkungan di sekitarnya.
Begitu pohon raksasa itu melewati pohon bercahaya itu, akar dan cabangnya langsung mengikat erat pohon bercahaya itu. Pohon raksasa itu menyerap energi dari pohon bercahaya itu.
Pohon bercahaya itu tidak hanya satu. Kami melewati lebih dari lima pohon. Pohon bercahaya itu berhasil menghalau pohon raksasa itu. Pohon raksasa itu sekarang sibuk menyerap energi dari pohon bercahaya. Berkatnya kami berhasil kabur cukup jauh dari pohon raksasa itu.
Aku dan Ty berdiri menyaksikan pohon raksasa itu sibuk menyerap energi di sekitarnya dari atas tebing. Kami sekarang berada di pegunungan. Jaraknya lumayan jauh dengan pohon raksasa itu. Tapi karena pohon itu sangat besar dan tinggi, kami masih bisa melihatnya.
“Pohon apa itu sebenarnya? Mereka menyerap energi?” Aku menatap aliran energi yang bergerak menuju pohon raksasa itu.
“Itu adalah wit, pohon hidup yang memakan manusia. Mereka ada semenjak Zamrud melemah,” jawab Ty.
“Ah, itu.” Aku teringat cerita Ryza. Dia pernah menceritakan tentang wit padaku ketika kami masih berada di Titanic.
“Aku pernah dengar tentang wit. Tapi aku tidak menyangka akan sebesar itu,” kataku sambil menatap wit yang menjulang tinggi itu.
“Ini juga pertama kalinya aku melihat yang sebesar itu. Biasanya mereka hanya setinggi lima sampai sepuluh meter. Ini mengerikan.”
“Aku kira mereka hanya menyerap energi manusia klan hijau saja tapi ternyata tidak.” Kepalaku terbayang mayat - mayat manusia Klan Biru yang mengering.
“Awalnya memang begitu tapi semenjak jumlah manusia klan hijau berkurang drastis karena mereka, mereka mulai memangsa manusia klan lain.”
Ty berbalik menghadapku. “Sebaiknya kita segera pergi dari sini, Nona. Kita tidak tahu sampai kapan wit itu akan menghabiskan beringin-beringin itu Lebih baik kita segera pergi.”
Aku mengangguk.
Kami mulai bergerak di tengah kegelapan malam. Prioritas utama kami sekarang adalah menjauhi wit raksasa itu sejauh mungkin. Jadi kami bergerak tanpa arah yang jelas, yang terpenting kami harus di luar jangkauan wit.
“Pohon yang bersinar itu apa? Mereka juga diserap wit padahal bukan manusia,” tanyaku .
“Itu adalah pohon beringin. Mereka tercipta dari pemilik galur murni Klan Hijau yang telah mati. Ketika pemilik galur murni Klan Hijau mati, mereka akan berubah menjadi beringin. Beringin memiliki energi besar yang disukai wit. Beringin sebenarnya adalah pohon yang penting untuk kami karena mereka juga mengalirkan energi Zamrud. Tapi semenjak serangan wit, kami terpaksa menggunakannya untuk pengalih perhatian.”
Aku dan Ty sudah bergerak sangat jauh. Bulan hampir pada puncaknya artinya sekarang hampir tengah malam. Gerakan Ty tidak secepat dan selincah tadi. Dia melambat. Wajahnya juga tampak pucat.
Aku menghentikan langkahku. Ty ikut berhenti.
“Ada apa, Nona?”
“Kita istirahat. Jarak kita sudah jauh dari wit.”
“Tapi Nona, wit itu masih bisa mengejar kita dengan tubuh dan kecepatan yang sebesar itu. Ditambah di sini banyak pohon, bisa saja muncul wit lain di tempat ini. Kita harus pergi lebih jauh lagi dan mencari tempat yang aman.”
Ty menolaknya. Dia menarik tanganku untuk pergi. Wit adalah monster mengerikan bagi Klan Hijau. Ty pasti juga merasakan ketakutan terhadapnya.
“Kita istirahat di sini. Tempat ini cukup aman. Tidak ada wit di sini.”
“Bagaimana Nona tahu? Wit bisa muncul dimana saja.” Ty terlihat khawatir sekaligus takut.
Aku mengusap kepala Ty. “Percaya padaku. Wit tidak akan muncul di sini. Kita bisa istirahat dengan tenang.”
Ty masih terlihat tidak yakin tapi dia juga berusaha mempercayaiku. Ucapan Ty tadi memang ada benarnya. Jarak kami sekarang bisa disusul dengan mudah oleh wit raksasa itu. Tapi aku tidak bisa membiarkan kami terus bergerak. Ty sudah terlalu lelah. Aku tidak bisa membiarkan dia memaksakan diri lebih dari ini. Namun, aku juga tidak bohong. Tempat ini cukup aman. Aku sudah mengetahui bagaimana jejak wit dan sepanjang perjalanan, aku sudah mengecek bahwa tidak ada jejak wit di sekitar sini.
Aku menyuruh Ty untuk duduk saja karena dia sekarang terlihat sangat pucat sementara aku menyalakan api. Namun dia masih saja bersikeras membantuku.
“Ty, apa kau ingin melawanku tuanmu?” Aku menatap Ty tajam.
Ty menunduk. “Tidak, Nona.”
“Kalau begitu cepat istirahat sesuai dengan perintahku.”
“Baik, Nona.”
Ty berjalan ke bawah pohon. Dia kemudian bersandar di sana. Dia terus memperhatikanku dari sana. Tapi tubuhnya sudah terlalu lelah. Tidak butuh waktu lama hingga matanya terpejam.
Aku menyelimuti Ty dengan jubahku. Hari ini dia sudah terlalu memaksakan dirinya. Kondisinya belum stabil tapi dia sudah berlari seharian bersamaku. Staminanya luar biasa.
Aku melirik cincin Zamrud yang melingkar di jarinya. Sampai sekarang aku belum bertanya tentang cincin itu. Keadaan tadi tidak memberiku kesempatan untuk bertanya.
Aku juga tidak bisa meminta cincin Zamrud sekarang. Kondisi tubuh Ty masih sangat bergantung pada cincin itu. Aku rasa aku mungkin bisa menanyakannya besok.
Aku bersandar di samping Ty. Aku memejamkan mataku dengan pedang yang selalu siap di tanganku.
Bonus:
AZURO GEERGINLIK
__ADS_1