Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 76


__ADS_3

Ty berlari keluar ruangan. Aku bisa mendengar suara langkah kakinya semakin menjauh.


Tadi itu bukan perpisahan yang bagus. Aku sudah terlalu keras pada Ty. Dan sekarang dia membenciku di saat aku harus berpisah dengannya. Rasanya ini lebih menyakitkan daripada ketika aku tidak memiliki kesempatan untuk melihatnya.


Aku menghela napas panjang. Aku kemudian memandang Aras. “Ayo, Aras. Kita pergi.”


Aras berjalan mendekatiku. Tapi bukannya mengajak aku pergi, dia malah memelukku.


“Apa yang kau lakukan?” Aku mencoba melepaskan pelukan Aras.


“Ty tidak membencimu. Dia masih menyayangimu seperti sebelumnya.”


Ucapan Aras serasa menohokku. Kenangan bersama Ty berputar di kepalaku. Mulai dari ketika aku menemukan Ty yang hampir mati hingga melihatnya mengikuti Upacara Kedewasaan. Tapi dari semua itu senyuman lebar Ty ketika memberiku mahkota bunga adalah yang paling aku ingat.


“Tapi aku sudah sangat keras padanya,” kataku. Perasaan menyesal memenuhi dadaku.


Aras mengusap punggungku lembut. “Kau tidak bermaksud seperti itu.”


Aku dan Aras berada dalam posisi itu beberapa saat hingga akhirnya aku melepas pelukan Aras. Aku tidak bisa membuat kami membuang waktu.


“Sebaiknya kita pergi,” kataku.


“Baiklah,” jawab Aras.


Aku dan Aras menghadap Grante.


“Terima kasih telah membantu kami,” ucapku.


“Ini sudah tugasku. Aku juga harus berterima kasih kepada kalian karena telah menyelamatkan Ty,” kata Grante.


Aku tersenyum masam mendengar nama Ty disebut.


“Baiklah. Tolong jaga Ty dan desa ini dengan baik, Grante. Kami pergi dulu,” kata Aras.


Grante mengangguk. “Hati-hati di jalan.”


Grante membuka pintu untuk kami. Aku dan Aras pun melangkah untuk keluar. Tapi kemudian teriakan parau menggema dari arah luar.


KYAAAAHHHHHH


Aku, Aras, dan  Grante bergegas berlari ke luar kamar. Kami bertemu Ty yang berlari terpogoh-pogoh di lorong.


“Nona! Aras!” teriak Ty.


Ty berhenti di depanku dan Aras. Napasnya terengah-engah.


“Kalian harus cepat pergi dari sini! Arnold datang membawa pasukan untuk menangkap kalian!” seru Ty.


“Apa?!”


“Bagaimana bisa, Ty?” tanya Grante.


“Kubah pelindung desa rusak. Dan mereka datang begitu saja,” jawab Ty.


“Bagaimana dengan penduduk desa?” tanya Aras.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan kami. Mereka mengincar kalian. Penduduk desa akan menahan mereka. Kalian cepatlah pergi!”


Aku menatap Ty khawatir. Dia sekarang malah berada dalam bahaya ketika aku hars meninggalkannya.


“Nona tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku sudah dewasa. Nona melihatku di Upacara Kedewasaan, kan? Cepat pergi, Nona!” Ty menatapku dengan matanya yang besar.


“Jaga dirimu, Ty,” pesanku.


Ty mengangguk. Ty beralih pada Aras. “Tolong jaga Nona Violet, Aras.”


Aras tersenyum.” Tanpa kau beritahu, aku akan menjaganya. Kau juga jaga dirimu sendiri.”


Aras menepuk kepala Ty pelan seperti yang biasa dia lakukan selama ini pada Ty.


“Ty, tolong jaga rumah ini. Aku akan mengantar Raja Aras dan Violet pergi,” kata Grante.


“Baik,” jawab Ty.


Aku dan Aras mengikuti Grante. Dia membawa ke belakang rumah. Dia membuka sebuah pintu kayu yang merupakan penutup jalan keluar kami. Sebuah lorong bawah tanah terlihat.


“Kalian pergilah lewat sini. Jalan ini terhubung dengan salah satu pohon di luar desa,” kata Grante.


“Terima kasih, Grante,” ucapku dan Aras.


“Tolong sampaikan permintaan maafku pada, Ty,” pintaku.


“Kau tidak perlu sekhawatir itu, Violet. Selain itu bawalah ini.” Grante menyerahkan sebuah lentera kepada Aras. “Hati-hati kalian berdua.”


Aku dan Aras mengangguk. Kami pun segera masuk ke dalam lorong bawah tanah. Aras memimpin di depan sambi membawa lentera. Kami berdua berjalan cepat menelusuri lorong.


Aku merasakan tanah di sekitar kami agak bergetar. Sebuah akar pohon tiba-tiba muncul dari balik dinding lorong. Akar itu begerak pelan, seolah sedang memindai daerah yang dia lewati.


Beberapa akar lain muncul menyusul akar pertama yang aku dan Aras lihat. Mereka bergerak ke setiap inchi lorong. Sepertinya mereka menyadari ada rongga aneh di dalam tanah. Lubang tikus terlalu besar untuk menyebut lorong ini.


Aku dan Aras diam mematung, sementara akar-akar itu bergerak di sekeliling kami. Kami tidak bisa terus diam di tempat. Akar-akar itu pasti akan segera menyadari keberadaanku dan Aras di sini.


Aras menatapku. Dia mengulurkan tangannya, kemudian menggenggam tanganku. Aras memberi isyarat padaku untuk bersiap.


Tanah di bawahku dan Aras tiba-tiba bergerak naik, membentuk papan. Ara mempererat genggamannya padaku.


Papan di bawah kami kemudian meluncur dengan cepat. akar-akar itu langusng bereaksi ketika merasa pergerakan kami. Mereka mengejarku dan Aras dengan kecepatan yang tidak kalah cepat.


Aras membangun sebuah dinding penutup setiap beberapa meter dari lorong yang sudah kami lewati. Akar-akar itu berhasil menembusnya. Tapi setidaknya itu memperlambat pergerakan mereka.


Aku menghadap ke belakang selama kami melaju. Aku memotong setiap akar yang mendekati kami. Sementara itu Aras fokus di bagian depan juga membawa kami meluncur lebih cepat.


“Violet, kita sudah hampir sampai!” seru Aras.


“Baik,” sahutku.


Aku dan Aras ganti bergerak ke atas. Seperti yang katakan Grante sebelumnya, kami berakhir pada sebuah pohon tua besar.


Aku dan Aras segera keluar dari dalam pohon. Jika kami berdiam di dalam sana, akar-akar itu akan menangkap kami. Beruntung tidak ada manusia Klan Hijau yang mengejar kami di sekitar sini.


“Kita pergi ke pantai di barat. Ichi dan yang lainnya menunggu di sana,” kataku selagi berlari.

__ADS_1


Aku dan Aras berlari lurus ke arah barat. Sesekali aku melirik Aras, melihat keadaannya. Luka di punggungnya belum sepenuhnya pulih. Tapi syukurlah dia baik-baik saja.


Aku merasakan beberapa orang mengejar kami. Aku mengecek belakang kami dengan cepat. Lima manusia Klan Hijau mengejar kami. Tidak ada Arnold di antara mereka. Aku tidak menyangka kami terkejar secepat ini.


“Ada lima orang di belakang kita. Tiga di antara mereka pemilik galur murni.” Aku memberitahu Aras.


“Baiklah.”


Aras menapakkan kaki lebih keras. Batu-batu di tanah melayang dan menghantam lima manusia Klan Hijau yang mengejar kami. Aras berhasil menghambat mereka mengejar kami. Kami mempercepat langkah kami selagi mereka tertinggal.


Srrttt..........


Sebuah sulur melilit kakiku dan menarikku ke belakang.


“Violet!” Aras berlari mengejarku.


Batu tajam mencuat dari tanah, memotong sulur yang mengikatku. Aras membantuku berdiri sebelum kami kembali berlari.


BRAK BRAK BRAK


Di belakangku dan Aras, batu-batu tinggi muncul dari atas tanah membentuk benteng. Aras membuatnya sangat tinggi dan panjang hingga manusia Klan Hijau yang mengejar kami terhalang.


Aku dan Aras tiba di pantai ketika bulan tepat berada di atas. Mata kami memindai sekitar. Tapi kami tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Ichi ataupun yang lain.


Aku memegang kalungku. Ichi bilang kalung ini juga pelacak. Tapi aku tidak tahu bagaimana menggunakannya.


Srrkk... srrkk...


Semak di dekat kami bergoyang. Aku dan Aras berdiri saling memunggungi. Aku mengeluarkan belatiku.


Suasana kembali hening. Hanya deburan ombak yang terdengar. Aku memperhatikan hutan yang gelap. Tidak ada tanda-tanda manusia ataupun binatang. Semak dan pepohonan juga menghalangiku untuk melihat jejak di permukaan hutan.


“Aku akan memeriksa ke sana,” kata Aras.


Aras kemudian berjalan mendekati semak yang tadi bergoyang. Dia melongokkan kepalanya. Setelah melihat ke sana, dia berbalik menghadapku. Kepalanya menggeleng. Tanda jika tidak ada apapun di sana.


Aras akhirnya kembali. Tapi tiba-tiba muncul sulur di belakangnya.


“AWAS!” Aku dan Aras berteriak bersamaan.


Aku maju ke belakang Aras tapi anehnya Aras juga maju. Dia menumbuhkan batu tajam dati tanah, kemudian mematahkannya. Matanya menatap tajam sesuatu di belakangku. Aku tidak terlalu menghiraukan belakangku karena sulur di belakang Aras hampir menyentuhnya.


Tapi tiba-tiba ada sulur basah melilitku dari belakang. Aku ditarik ke laut. Sulur yang tadinya di belakang Aras juga berhasil melilit Aras. Dia ditarik ke hutan. Dua sulur berbeda menarik kami berlawanan arah.


Aku menggantung terbalik di atas laut yang dangkal. Sulur yang rupanya rumput laut melilit kakiku. Dia juga mulai membebat tubuhku.


Aku berusaha menotong rumput laut itu. Tapi rumput laut lain muncul dan melilit pergelangan tanganku.


“Argh!”


Aku merasakan sesuatu yang tajam menusuk leherku. Tiba-tiba saja tubuhku menjadi lemas. Pandangan mataku buram. Samar - samar aku melihat beberapa manusia Klan Hijau keluar dari dalam hutan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2