
Aku dan Ichi terbang rendah di dalam hutan. Daripada terbang kami lebih cocok disebut melayang. Awalnya kami terbang di atas hutan. Tapi sulit bagiku untuk menemukan Ty karena permukaan hutan tertutup oleh pepohonan.
Mataku fokus memperhatikan sekitar. Aku tidak bisa melihat jejak Ty dengan begitu jelas. Tapi aku masih bisa mengikutinya.
“Belok kanan di sungai itu!” seruku.
Ichi membawaku berbelok sesuai instruksiku. Kami terbang menelusuri sungai. Jejak Ty tertinggal di sepanjang tepi sungai. Aku tidak melihat ada jejak manusia Klan Hijau yang mengikutinya. Kurang lebih dia sekarang masih berlari dengan aman.
Tak lama kemudian, aku melihat sosok kecil sedang berlari cepat.
“Itu, Ty.” Aku memberitahu Ichi.
Ichi mempercepat laju kami. Ty tidak menyadari jika kami mendekat.
“Ty!” panggilku.
Ty terlonjak. Dia menolehkan kepalanya.
“Nona!” Mata Ty terbelalak melihatku.
Aku dan Ichi turun di depan Ty. Ty tampak senang melihatku. Tapi begitu melihat Ichi, dia ketakutan. Tanpa disadarinya, Ty mundur satu langkah.
Menyadari kelakukan Ty, Ichi memilih untuk diam. Dia membiarkan aku untuk mendekati Ty.
“Nona, aku senang kau bisa pergi dari sana,” kata Ty.
“Aku juga senang kau tidak dikejar oleh mereka,” kataku.
Ty memegangi erat bajuku ketika melihat Ichi. Ketika mata mereka bertemu, Ty langsung menunduk.
“Tidak perlu takut, Ty. Dia temanku. Dia Ichi,” kataku.
Ty mengangguk. Tapi dia tetap menunduk.
“Buah itu penawarnya?” tanya Ichi sambil menunjuk coco de mer di tangan Ty.
Aku mengangguk. “Kita harus segera membawanya.”
“Berikan padaku!” kata Ichi.
Dengan patah-patah Ty menyerahkan coco de mer pada Ichi. Ichi menghunus pedangnya.
Ty berjengit ketika melihat kilatan mata pedang Ichi. Dia langsung bersembunyi lebih dalam di belakangku.
Ichi mengayunkan pedangnya ke coco de mer.
Aku tidak mengerti apa yang Ichi pikirkan. Tapi aku langsung menghentikan gerakannya sebelum pedangnya menyentuh coco de mer.
“Apa yang kau lakukan?!” Aku bertanya dengan hampir berteriak.
“Kau harus memakan buah ini sekarang!”
Ichi berusaha melepaskan tangannya dari genggamanku. Tapi aku menggenggamnya dengan sangat erat.
“Padahal keadaanmu buruk seperti ini. Tapi kekuatanmu masih besar,” kata Ichi.
“Kembalikan buah itu!” Aku menatap Ichi tajam.
“Tidak. Kau harus memakannya sekarang. Jika kau tidak memakannya, kau akan terbunuh oleh racun monkshood.”
“Aku masih bisa bertahan. Aras lebih membutuhkannya!”
Dahi Ichi mengerut. “Kenapa kau berbuat sejauh ini untuknya?”
__ADS_1
“Aku tidak punya waktu untuk menjawabmu sekarang. Cepat berikan buah itu padaku!”
Aku berusaha mengambil coco de mer dari tangan Ichi. Tapi Ichi menjauhkannya dariku.
“Ty, ambil buahnya!” seruku.
Ty agak ragu untuk maju. Ichi masih membuatnya ketakutan. Tapi setelah melihatku terus berusaha mengambil coco de mer dari tangan Ichi, dia akhirnya berlari ke Ichi.
BAKK
Ichi memukul Ty ketika Ty berusaha mengambil coco de mer. Tubuh Ty terpelanting ke tanah dengan sangat keras.
“Ty!” Aku berteriak khawatir.
Ty berusaha bangkit. Dia tidak terlalu terlihat kesakitan. Sepertinya dia tidak apa-apa.
Aku memalingkan wajahku dari Ty dan menghadap Ichi. Aku menatapnya tajam.
“Kau gila! Kau bisa membunuh Aras jika tidak memberikannya padaku!” teriakku.
“Kau yang gila! Kau seharusnya membiarkan penjahat itu mati!”
Aku tidak menghiraukan ucapan Ichi.
“Dia telah membunuh keluargamu, kan?! Kau seharusnya membiarkan dia mati saja!”
Aku membeku. Aku terpaku oleh ucapan Ichi. Tapi aku tidak melepaskan tanganku darinya.
Dari mana dia bisa tahu itu?
“Asal kau tahu! Dia berencana menyingkirkan seluruh klan selain klannya sendiri. Dia berbahaya!”
Tangan kiriku mengepal.
“Aku tahu! Aku tahu!” seruku.
Aku memalingkan wajah dari Ichi. Aku menggigit bibir.
Ichi menghela napas. Dia lalu berdecak. Tangannya dia turunkan. Dia menyarungkan kembali pedangnya.
“Aku tidak tahu apa hubungan kalian di masa lalu. Kau seharusnya tidak mencampur adukkan perasaan dengan pikiranmu,” kata Ichi.
Ichi mungkin berkata seperti itu. Tapi dia menyerahkan coco de mer pada Ty.
“Pastikan kau juga mendapat penawarnya,” kata Ichi padaku.
Aku memandang Ichi bingung. Tadi Ichi memaksaku untuk memakan coco de mer. Sekarang dia malah mengembalikan coco de mer pada kami. Tapi itu tidak terlalu penting sekarang. Yang terpenting kami sudah mendapatkan coco de mer kembali.
“Aku pergi dulu. Ayo, Ty!” ucapku setelah menerima coco de mer.
“Tunggu!” panggil Ichi.
Aku dan Ty berhenti melangkah.
“Aku akan mengantar kalian,” kata Ichi.
Aku menelisik raut wajah Ichi. Dia bisa saja membohongi kami dan malah membawa kami pergi jauh dari Desa Beringin.
“Aku harus memastikan keselamatanmu sampai di desa itu,” kata Ichi.
Ichi tidak terlihat berbohong. Jadi aku mengangguk, menyetujuinya.
Ichi berdiri di antara aku dan Ty. Dia lalu menggandeng kami.
__ADS_1
Ty terkejut ketika tangannya disentuh oleh Ichi. Dia terlihat tidak nyaman. Tapi Ichi tidak mempedulikannya. Dia membawa kami terbang ke atas hutan. Lalu meluncur dengan cepat ke arah Desa Beringin.
“Apa yang kalian lakukan di desa itu? Seharusnya kalian mencari anggota misi yang lain,” tanya Ichi.
“Desa Beringin memiliki Zamrud. Kita gagal mendapatkan Zamrud di Titanic, kan?”
“Apa yang kau katakan? Aku menyimpannya.”
Aku menatap Ichi. “Tapi Aras bilang kau gagal mendapatkannya.”
Ichi berdecak. “Kau terlalu percaya padanya. Sudah aku bilang dia berbahaya. Menjauhlah darinya setelah ini.”
Aku menggenggam erat coco de mer. Aku sudah mempercayai Aras kembali. Tapi kenapa dia masih berbohong padaku. Sebenarnya apa yang dia rencanakan?
Terbang membuat perjalanan kami jauh lebih singkat. Kami tiba di Pegunungan Selatan pada sore hari. Aku meminta Ichi untuk menurunkanku dan Ty di dekat Desa Beringin.
“Kita sampai sini saja,” kataku.
“Tapi aku tidak melihat desa apapun di sini. Kau yakin ini tempatnya?” Ichi memastikan.
Aku mengangguk. “Desa itu memiliki pelindung. Jadi, kita tidak bisa melihatnya dari luar. Selain itu penduduk desa tidak menyukai klan asing. Lebih baik kau segera pergi sebelum mereka tahu ada manusia Klan Putih di sini.”
“Baiklah,” jawab Ichi.
Sebelum aku dan Ty pergi ke desa, Ichi berpesan padaku, “Setelah kau dan Aras pulih. Pergilah ke pantai di barat. Aku, Ryza, dan Bara menunggu kalian di sana.”
“Mereka bersama? Mereka juga selamat?” tanyaku.
Ichi mengangguk.
Aku menghembuskan napas lega.
“Aku akan membuat tanda di tempat kami berada sehingga kau mudah menemukan kami,” kata Ichi.
Aku mengangguk.
Ichi terbang pergi. Aku dan Ty berjalan cepat menuju Desa Beringin.
Pintu kubah langsung terbuka begitu kami mendekati desa. Aku dan Ty segera masuk memasukinya. Kami langsung menuju tempat dimana Aras dirawat. Aku tidak mempedulikan tatapan aneh penduduk desa ketika melihatku melewati mereka. Yang ada dipikiranku sekarang, aku harus segera memberikan buah ini kepada Aras.
Ada Grante dan dukun yang merawat Aras kemarin. Mereka berdua sangat terkejut melihat kami pulang begitu cepat dari Desa Jati. Apalagi setelah melihat coco de mer yang kami bawa.
Aku langsung menyerahkan coco de mer pada Grante.
“Ini coco de mer-nya,” kataku.
Grante menerima coco de mer dariku. Dia lalu menyerahkan coco de mer pada dukun di sampingnya.
“Ginger, tolong buatlah secepat mungkin,” kata Grante.
Dukun itu, Ginger lantas pergi setelah mendapatkan coco de mer.
“Ginger akan segera membuat penawarnya,” kata Grante ketika Ginger pergi.
“Kau yakin dia akan membuatnya dengan baik? Dukun itu terihat sangat tidak suka dengan klan asing,” tanyaku.
“Tenang saja. Ginger mungkin memang agak kasar. Tapi dia adalah dukun terbaik yang aku tahu di Klan Hijau. Selain itu dia sangat menghormati Raja Aras. Dia pasti akan melakukan yang terbaik agar Raja Aras bisa sembuh.”
“Baiklah. Aku percaya padamu.”
__ADS_1