Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 74


__ADS_3

Aku dan Aras mengikuti Grante keluar dari rumah untuk tamu. Dia menuntun kami pergi ke tebing yang dekat dengan Banyan.


“Kalian bisa menyaksikan Upacara Kedewasaan dari sini. Jarak tempat ini dengan Banyan cukup jauh. Ini cukup aman untu kalian,” kata Grante.


Aku dan Aras mengangguk. Grante kemudian pergi ke bawah, menuju Banyan.


Aku menatap kerumunan di sekitar Banyan. Semua penduduk Desa Beringin berkumpul di sana. Aku mencari Ty di antara kumpulan anak kecil berbaju hijau.


“Itu dia,” gumamku.


Ty sedang mengobrol dengan anak perempuan seusianya. Mereka tampak akrab. Beberapa kali mereka bertukar tawa.


“Ty sepertinya mulai dewasa.” Aras ikut memperhatikan.


Aku tertawa. “Dia tetap terlihat kecil di mataku.”


Gracinia sebagai kepala desa berdiri di depan penduduk desa. Mereka mulai berbaris dan tenang. Gendang dipukul satu kali. Gracinia memimpin upacara. Doa-doa diucapkan. Satu persatu anak yang mengikuti Upacara Kedewasaan maju ke depan, mendekat pada Banyan.


Ty tampak gugup ketika tiba gilirannya. Dia maju ke depan kepala desa. Kepala desa meraih akar Banyan di dekatnya. Dia lalu mengulurkannya kepada Ty.


Ty menggenggam akar Banyan. Energi Zamrud dari Banyan mengalir ke tubuh Ty. Tubuhnya bersinar kehijauan. Setelah cahaya itu menghilang, Ty melepaskan akar Banyan dan kembali ke posisinya semula.


Total ada sepuluh anak, termasuk Ty yang mengikuti Upacara Kedewasaan. Setelah mereka mengikuti Upacara Kedewasaan, kapasitas energi mereka meningkat. Aku bisa melihat lebih banyak energi Zamrud di tubuh mereka.


Upacara Kedewasaan berlangsung lebih singkat dari pada yang aku bayangkan. Upacara itu hanya memakan waktu kurang dari satu jam.


Namun setelah upacara sudah selesai. telah selesai, tidak ada penduduk desa yang beranjak pergi dari tempat mereka. Mereka masih berkumpul di bawah Banyan. Mereka berlutut di bawah Banyan sambil mengatupkan tangan mereka. Mata mereka tertutup dan kepala mereka menunduk.


Banyan malam ini lebih bersinar dari biasanya. Bunga-bunga raksasa yang bergantungan di dahan Banyan bergoyang.


Bloomm... Bloomm...


Bunga-bunga itu mekar. Penduduk desa dihujani oleh debu hijau keemasan yang jatuh dari bunga yang mekar. Mereka tetap diam, membiarkan tubuh mereka disapu oleh debu dari bunga Banyan.


Debu itu jumlahnya sangat banyak dan ringan. Mereka berterbangan di udara. Mereka hampir mencapaiku dan Aras.


Aras menarikku ke belakang. “Tutup hidungmu. Kita mundur sedikit, Violet.”


Aku dan Aras mundur beberapa langkah. Debu Banyan bersinar redup agak jauh di depan kami.


“Debu Banyan sangat baik untuk manusia Klan Hijau. Tapi mematikan bagi manusia klan asing seperti kita,” jelas Aras.


Belum semua bunga Banyan mekar. Masih ada satu bunga yang masih menguncup. Itu adalah bunga paling besar di antara semua bunga yang ada di Banyan. Bunga itu mulai bergoyang.


Bloomm...


Energi dahsyat memancar dari bunga itu. Aras langsung mendirikan pelindung untuk kami berdua. Meskipun aku sudah dibalik batu, aku masih bisa merasakan energi besar yang membakar kulitku.


Gelombang energi itu sudah menghilang. Aras menyingkikan batu yang melindungi kami. Debu halus berwarna kuning keemasan turun dengan deras dari bunga yang baru saja mekar itu. Aku melongok ke penduduk desa yang berada di bawah.

__ADS_1


Sulur-sulur tebal teranyam melindungi mereka. Aku harap mereka baik-baik saja dibalik sulur itu.


“Violet, lihat itu!” Aras menunjuk bunga yang baru saja mekar.


Di tengah bunga itu, di antara celah hujan debu Banyan, sebuah permata berwarna jingga bersinar terang. Permata itu memiliki energi yang mirip dengan Tiha.


“Sunkrist!” seruku.


Aku dan Aras bergegas pergi ke bawah Banyan. Kami menembus hujan serbuk keemasan yang perlahan mulai menipis. Setelah gelombang energi Sunkrist muncul, energi Zamrud di sekitar sini melemah. Aku dan Aras berdiri di atas sulur yang melindungi penduduk desa, tepat di bawah Sunkrist.


Aku memandang Sunkrist di atasku. Permata klan itu tidak mengeluarkan gelombang energi lagi. Persis seperti cincin Zamrud.


Aku bisa merasakan energi Zamrud di Banyan perlahan kembali menguat. Jika sampai energi Zamrud dan Sunkrist bertemu, entah hal buruk apa yang akan terjadi nanti.


“Aku akan mengambil Sunkrist itu,” kataku.


“Aku akan membantumu,” kata Aras.


Aku mengambil langkah untuk ancang-ancang. Aras bersiap dengan tangannya. Aku berlari kemudian meloncat dengan tangan Aras sebagai tumpuanku. Dia mendorongku setinggi mungkin.


Tepat ketika Sunkrist berada di depanku, aku memotong tangkai bunga tempat sunkrist muncul. Aku kemudian membungkus Sunkrist dengan bunganya.


Begitu aku mendarat, aku dan Aras bergegas kembali ke tempat awal kami, di atas tebing. Energi Banyan hampir pulih sepenuhnya. Energi Zamrud mengalir di setiap bagian tubuhnya. Sulur-sulur yang melindungi penduduk desa juga terbuka.


Penduduk desa terlihat baik-baik saja. Mereka memandang ke atas dengan bingung. Bunga yang memancarkan energi asing sudah hilang dari hadapan mereka.


Aku mengangguk.


Sebelum penduduk desa sadar dengan apa yang sudah terjadi, aku dan Aras kembali ke rumah sambil membawa Sunkrist yang terbungkus kelopak bunga.


Aras menutup pintu ruangan. Aku meletakkan bungkusan Sunkrist di atas meja. Perlahan-lahan aku membuka satu persatu mahkota bunga yang membungkus Sunkrist. Sebuah permata berwarna jingga tergeletak di dasar bunga.


“Apa kau yakin ini adalah Sunkrist?” tanya Aras.


Aku mengangguk. Aku melihat jejak yang memiliki energi yang mirip dengan Tiha. Selain itu permata ini juga mengeluarkan gelombang energi yang sangat besar. Aku menyentuh permukaan Sunkrist dengan ujung jari telunjukku. Kulit jariku melepuh.


“Tidak salah lagi. Ini adalah Sunkrist,” kataku.


Tok.. tok.. tok..


Aku dan Aras serempak menoleh ke arah pintu yang diketuk.


“Ini aku, Grante,” kata Grante dari balik pintu.


Aku dan Aras bertatapan, mempertimbangkan keputusan kami untuk membukakan pintu atau tidak. Kami kemudian saling mengangguk, bersepakat untuk membuka pintu untuk Grante. Bagaimana pun Grante adalah orang yang mengagantikan Ziben di misi ini.


Aku berjalan ke pintu, lalu membukanya.


Grante berdiri dengan wajah serius. “Boleh aku masuk?”

__ADS_1


Aku mengangguk.


Aku kemudian menutup pintu setelah Grante masuk ke dalam ruangan.


Mata Grante melebar ketika melihat permata berwarna jingga berpendar di atas meja.


“Apa itu Sunkrist?” tanya Grante.


Aku dan Aras mengangguk.


“Aku tidak berada di bawah Banyan ketika upacara berlangsung. Jadi, aku melihat ketika bunga terakhir itu mekar dan mengeluarkan gelombang energi asing yang sangat besar. Aku tidak mengira itu permata klan asing sampai aku melihat kalian berlari kembali ke rumah ini,” kata Grante.


Grante berjalan mendekati Sunkrist. Langkahnya terhenti. Grante menyisakan jarak yang cukup lebar antara dia dan Sunkrist.


“Apa ini benar-benar Sunkrist?” Grante bertanya lagi.


“Itu adalah Sunkrist, Grante. Violet sudah memeriksanya,” jawab Aras.


Aku mengangguk mengiyakan. “Aku sudah mengeceknya.”


Grante melangkah lebih dekat. Dia memperhatikan Sunkrist dengan teliti. Dia terlihat takjub juga gugup melihat permata klan lain di dekatnya.


“Kalian harus merahasiakan permata klan ini. Aku juga akan merahasiakan ini dari penduduk Desa Beringin,” kata Grante.


“Aku harap kau juga tidak memberitahu Gracinia tentang Sunkrist,” kata Aras. “Jika dia bersikeras untuk tahu, tidak apa-apa jika kau memberitahunya. Tapi jangan samapi menyinggung tentang misi ini.”


Grante mengangguk. “Baik, Raja Aras. Aku mengerti.”


“Apa sekarang waktunya kita pergi?” tanyaku sambil menatap Aras.


“Sayangnya, aku pikir ini waktu yang tepat untuk kita pergi, Violet.”


Aku mengangguk. Meskipun begitu, aku merasa sedih karena tidak bisa bertemu dengan Ty sebelum aku dan Aras pergi dari desa ini. Tapi aku juga tidak bisa menunda kepergian kami hanya agar aku bisa bertemu dengan Ty. Melihatnya dari jauh ketika upacara tadi, sudah cukup untukku.


Tanpa aku sadari, Aras memperhatikan wajahku. Dia kemudian menghadap Grante.


“Apa kau bisa membawa Ty ke sini? Upacara Kedewasaannya sudah selesai, kan?” pinta Aras.


Aku memandang Aras terkejut. “Tapi kita bisa menghabiskan banyak waktu nanti.”


Aras tersenyum. Dia menepuk puncak kepalaku lembut. “Tidak apa-apa. Kita masih punya waktu. Seandainya waktu kita terbatas, kita itnggal berlari lebih cepat.”


Aku tersenyum senang. Hatiku merasa tersentuh. Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana. Tapi aku merasa hubunganku dan Aras semakin baik. Kami semakin dekat.


“Aku pikir bisa Raja Aras. Aku akan segera memanggilkan Ty,” jawab Grante. Dia kemudian melangkah pergi.


 


 

__ADS_1


__ADS_2