
Pagi telah tiba tapi matahari belum muncul. Aku melangkahkan kakiku keluar kamar menuju pekarangan rumah Ludwig. Aku akan memetik beberapa tangkai bunga untuk dijual ke pasar.
Sudah aku putuskan, aku akan menjual bunga di pasar. Kami harus segera mengumpulkan uang untuk pergi ke Jadnew. Aku akan berusaha semampuku untuk mencari uang.
Aku berjongkok di depan rumpunan bunga. Aku tidak tahu banyak tentang bunga. Aku juga tidak tahu bunga jenis apa yang ada di depanku. Tapi bunga-bunga itu mengeluarkan aroma harum yang berbeda-beda. Aku memetik bunga sesuai baunya.
Aku menyelesaikan pekerjaanku ketika matahari terbit. Udara mulai menghangat. Aku membawa bunga-bunga itu ke beranda rumah Ludwig. Bunga-bunga itu aku jadikan buket sesuai baunya.
Aku menaruh buket bunga yang siap di keranjang rotan. Buket itu sudah siap aku jual.
“Apa yang kau lakukan?”
Aku mendengar suara Aras.
Aras meraih kedua tanganku. “Tanganmu penuh luka. Setidaknya kau harus berhati-hati ketika memetik bunga.
Sejak tadi, tanganku memang tertusuk duri beberapa bunga. Tapi aku tidak menghiraukannya. Luka itu sangat jauh lebih kecil daripada luka yang biasa aku dapatkan.
“Ini hanya luka kecil. Tidak apa-apa,” kataku.
Aras tidak menghiraukanku. Dia membalut tanganku dengan perban.
“Aku akan membantumu menjual bunga,” kata Aras setelah selesai mengobati tanganku.
“Lalu bagaimana dengan tugasmu?”
“Bunga itu mekar ketika matahari terbenam. Aku bisa melakukannya nanti. Jarak gunung Jadnew tidak jauh dari sini.”
Aku mengangguk. Dengan adanya Aras, aku memang lebih terbantu. Tapi ada satu hal yang sangat menyulitkan kami. Ini adalah Klan Biru, sedangkan aku dan Aras adalah Klan Ungu dan Klan Hitam. Kami tidak bisa seenaknya berjualan di Klan Biru. Orang-orang di Klan Biru nanti akan terkejut. Memakai tudung pun juga bukan solusi bagus. Orang-orang tidak akan mau membeli bunga dari penjual yang terlihat misterius.
“Tepat sekali kalian ada di sini.” Azuro muncul dari dalam rumah.
Azuro menaruh beberapa benda di meja.
“Apa yang kau taruh di meja, Azuro?” tanyaku.
“Cat rambut.”
“Cat rambut? Aku pernah mendengar tentang itu sebelumnya tapi setahuku tidak ada cat yang bisa merubah warna rambut manusia klan,” kataku.
“Itu yang kau tahu. Saat ini perusahaan Geerginlik sudah berinovasi dan sedang mengembangkan produk baru, yaitu cat rambut ini. Catnya memang belum dipasarkan. Tapi bahan utamanya ada di Jadnew. Dan aku baru saja membuatnya. Tapi karena ini murni hanya bahan utamanya saja, aku tidak yakin akan bertahan lama.”
“Bagaimana cara memakainya?” tanya Aras. Dia memperhatikan cat rambut di depannya.
“Cukup kau oleskan ke rambutmu. Tunggu beberapa lama. Setelah itu kau bilas dengan air,” jawab Azuro.
Aku mengambil satu mangkok kecil berisi cat rambut.
“Berikan catmu. Aku akan membantumu, Violet.” Azuro mengambil mangkok cat itu dariku. Dia lalu mengoleskannya ke rambutku.
“Wah, Azuro, kau pilih kasih. Padahal waktu aku memintamu untuk mengecat rambutku menjadi ungu, kau menolakku mentah-mentah.” Celetuk Ludwig yang sekarang bergabung dengan kami di beranda.
“Aku hanya membantu Violet,” kata Azuro kesal.
“Duh, kau rupanya sangat gentleman.” Ludwig menggoda Azuro.
Azuro tidak menghiraukan Ludwig. Dia fokus mengecat rambutku.
“Aras, aku sarankan kau memakainya lebih banyak. Rambutmu hitam. Jadi, akan sulit merubahnya.” Ludwig beralih kepada Aras. “Aku pernah mewarnai rambutku menjadi putih. Itu memerlukan lima mangkuk cat.”
“Apa sebanyak ini cukup?” Aras memperlihatkan bagian rambutnya yang terolesi cat rambut pada Azuro.
Azuro mengangguk.
Mewarnai rambut ternyata memerlukan waktu agak lama. Baru setelah dua jam, aku dan Aras selesai mewarnai rambut.
“Lihatlah, kalian sudah seperti bangsawan Klan Biru,” puji Ludwig.
“Apa rambutku benar-benar berubah warna? Ini masih terlihat hitam.” Aras memperhatikan rambut barunya.
“Ada juga Klan Biru yang memiliki rambut seperti itu. Walaupun tidak segelap rambutmu. Itu sudah terlihat biru.” Azuro memberitahu.
“Bagaimana denganku?” Aku tidak bisa melihat rambutku. Rambutku memang tidak segelap Aras tapi ungu lebih gelap daripada biru.
“Itu sudah biru, kok, Violet. Warnanya seperti rambutku,” kata Ludwig.
Aku meraih keranjang bungaku.
“Aku pergi dulu.” Aku berpamitan.
“Kau sendiri?” tanya Azuro.
Aku menggeleng. “Aku akan pergi dengannya.”
“Eh, siapa?” Ludwig tidak mengerti.
“Aku.” Aras memberitahu.
Azuro dan Ludwig ber-oh, mengerti.
“Kalau begitu hati-hati,” kata Ludwig.
“Jangan sampai ada yang melihat mata kalian,” pesan Azuro.
Aku dan Aras mengangguk. Kami lalu pergi meninggalkan rumah.
*****
Aku dan Aras berjalan bersisian. Aku heran dengan Aras. Untuk apa dia menemaniku. Aku sendiri merasa mampu untuk berjualan bunga tanpa bantuannya.
Aras tidak hanya menemaniku. Dia juga memberi petunjuk dengan sangat detail tentang apa yang harus aku lewati dan lakukan selama perjalanan menuju pasar. Bahkan dia memberitahuku kapan saja hewan-hewan ternak menyeberang jalan untuk mencari rumput. Penjelasannya membuatku agak bingung.
__ADS_1
“Kau menjelaskannya terlalu detail,” protesku.
“Kemungkinan aku tidak bisa selalu menemanimu. Jadi, untuk sekarang aku akan memberitahumu sedetail yang aku bisa,” jawab Aras.
Aku tidak berkomentar lagi. Informasi dari Aras mungkin benar akan membantuku untuk ke depannya.
Aku dan Aras sudah tiba di pasar. Kami memilih tempat yang teduh dan dekat dengan sungai kecil. Kami duduk di antara seorang pedagang buah dan pedagang roti. Mereka adalah ibu-ibu yang ramah. Mereka langsung menyapaku dan Aras saat kami menata bunga. Nama pedagang roti itu Eliza, sedangkan pedagang buah itu Lisa.
“Aku Violet.”
“Aku Aras.”
Aku dan Aras ganti memperkenalkan diri.
“Kalian orang baru, ya? Apa kalian punya saudara di sini?” tanya Lisa.
“Hanya teman. Namanya Ludwig.” Aku yang menjawab.
“Ludwig?!” Eliza berseru. “Kata anakku, hari ini Ludwig akan bekerja di kafenya.”
Tadi malam Ludwig memang bilang kalau dia akan bekerja di sebuah kafe. Rupanya dia sudah akan bekerja mulai hari ini. Aku membayangkan Ludwig memakai seragam pelayan. Aku rasa dia lebih cocok memakai seragam pelayan perempuan. Dia pasti akan tampak sangat manis.
“Dia akan bermain musik di sana.” Eliza menambahkan.
“Kalau begitu nanti malam aku harus ke kafe anakmu. Permainan Ludwig selalu indah.” Lisa menimpali.
“Ludwig bermain musik di sana?” tanyaku. Aku kira dia akan jadi pelayan.
“Benar sekali,” jawab Eliza. “Sebagai teman Ludwig, kau pasti pernah mendengarnya bermain piano bukan?”
Aku mengangguk. “Aku mendengarnya tadi malam. Permainannya memang menakjubkan.”
“Tentu saja. Aku bahkan langsung jatuh hati ketika aku pertama kali melihat permainan pianonya. Dia sangat berbakat.”
“Pemain-pemain musik di ibukota pasti bisa dikalahkannya. Aku yakin dia bisa menjadi musikus ratu.”
Eliza dan Lisa tidak henti-hentinya memuji Ludwig. Tapi memang tidak bisa dipunkiri, permainan piano Ludwig sangat luar biasa. Setiap orang yang mendengarnya pasti langsung tahu kehebatan Ludwig sebagai musikus.
“Padahal akan lebih menarik jika Ludwig menjadi pelayan di sana,” celetuk Aras.
Aku meringis, tidak mengira Aras juga tertarik dengan Ludwig yang menjadi pelayan.
Aku, Aras, Eliza, dan Lisa kembali fokus berdagang. Pasar hari ini cukup ramai. Tapi belum ada seorang pun yang membeli bunga kami. Aku dan Aras sudah berteriak untuk menawarkan bunga tapi tetap tidak ada yang tertarik.
Aku belum pernah berjualan, hanya melihat saja. Kata banyak orang berjualan itu berat. Tapi aku sendiri malah lebih merasa sedih karena belum ada sebuket bunga pun yang terjual. Padahal pasar sedang ramai-ramainya.
Samar-samar aku mendengar bisikan dan cekikikan gadis-gadis muda. Suara mereka semakin keras. Sekumpulan gadis itu tidak jauh dariku dan Aras. Mereka sepertinya membicarakan kami.
“Lihatlah, pemuda yang menjual bunga itu. Bukankah dia sangat tampan.”
“Gadis di sampingnya juga cantik. Tapi sayangnya dia buta.”
“Apa gadis itu kekasihnya? Atau mungkin hanya saudaranya?”
Aku tidak tahu apakah Aras mendengarnya atau tidak. Tapi mereka membicarakannya dengan cukup keras.
“Mereka datang,” bisik Aras. Aku rasa yang dia maksud adalah gadis-gadis muda tadi. Berarti dia tadi juga mendengarnya.
“Kalau begitu pasanglah wajah setampan dan seramah mungkin. Mereka tertarik padamu. Buat mereka membeli bunga kita.” Aku ganti berbisik.
“Maksudmu ap-” Aras hendak protes tapi sudah ada pembeli yang datang.
“Permisi.” Ada beberapa perempuan mendatangai kami. Mereka pasti gadis-gadis tadi.
“Apa kau menjual bunga-bunga ini?” tanya salah satu dari mereka.
Aku tahu pertanyaan itu tidak ditujukan kepadaku. Jadi, aku diam saja. Aku membiarkan Aras yang menjawabnya.
“Tentu saja,” jawab Aras. “Bagaimana kalau kalian membelinya agar pagi kalian terasa lebih harum.”
Gadis-gadis itu tertawa kecil.
Bagus. Kata-kata Aras pasti menarik perhatian mereka.
“Kami ingin melukis gambar kami berlima. Bunga apa yang cocok dengan kami?”
“Bagaimana dengan ini.” Aras mengambil buket bunga. “Masing-masing bunga ini melambangkan diri kalian. Bunga-bunga ini cantik seperti kalian.”
Gadis-gadis itu menjerit tertahan. Gadis Klan Biru memang tipe yang gampang mabuk cinta.
Aras ahli juga berbicara, batinku.
“Tapi kami butuh seorang lagi agar kami bisa dilukis. Bagaimana kalau kau ikut dengan kami. Hanya di depan sana, kok, tempat lukisnya. Tidak jauh.” Salah seorang gadis mengajak Aras.
Aras terdengar bingung.
Aku menyikut Aras. “Sudah, kau pergi saja. Jika kau ikut dengan mereka, mereka akan membeli lima buket bunga sekaligus.”
“Bagaimana denganmu?”
“Aku baik-baik saja. Di sini ada banyak orang. Ada Eliza dan Lisa juga.”
“Bagaimana? Kau mau ikut dengan kami?” tanya gadis-gadis itu.
“Baiklah.” Aras mengalah.
Gadis-gadis itu langsung membeli lima buket bunga. Mereka lalu membawa Aras pergi.
Kini tinggal aku sendiri.
“Tenang saja, Violet. Ada kami di sini.” Eliza dan Lisa menghiburku.
Aku mengangguk.
__ADS_1
“Aras populer juga, ya,” kataku. “Dia bisa menarik pembeli dengan wajahnya.”
Eliza dan Lisa tertawa.
“Ya ampun, Violet. Andai kamu tahu. Dari tadi banyak laki-laki melirik daganganmu. Tapi Aras balas menatap mereka tajam. Aku tidak tahu bagaimana tapi dia berhasil mengusir semua laki-laki yang ingin membeli bungamu dengan tatapannya.”
Aku terkesiap. Aku tidak percaya Aras melakukan itu. Apa dia cemburu? Kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Jadi, untuk apa dia cemburu. Kalau laki-laki itu memang terlihat berniat jahat, aku tidak masalah dengan sikap Aras. Tapi dia menghilangkan kesempatanku untuk menjual habis bunga-bunga ini.
Brukk
Terdengar suara jatuh dari tempat Lisa. Setelah itu disusul gerutuan seorang laki-laki.
“Sial! Siapa yang meletakkan barang di tengah jalan.”
Laki-laki itu memukul-mukul dagangan Lisa. Dia menghancurkan buah-buah yang dipajang.
“Tuan, tolong hentikan.” Lisa berusaha menghentikan laki-laki itu.
Aku tidak mendengar suara orang lain yang membantu Lisa. Aku hanya mendengar gumaman banyak orang yang mengasiani Lisa.
Jika mereka kasihan, kenapa mereka tidak membantunya? Pikirku.
Plakk
Aku tidak melihatnya. Tapi jelas itu suara tamparan. Aku mendengar Lisa mengaduh rendah.
“Apa yang kau lakukan?” Aku tidak terima perlakuan laki-laki itu kepada Lisa.
“Hah, siapa kamu? Kamu mau melawanku?”
Laki-laki itu mendekatkan wajahnya kepadaku. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang berbau alkohol. Dia mabuk.
“Kau buta tapi kau cantik. Bagaimana jika kau ikut denganku saja?” Laki-laki itu melingkarkan tangannya ke leherku.
Bulu kudukku berdiri. Aku tidak suka disentuh sembarangan seperti itu. Aku mendorong laki-laki itu. Doronganku tidak kuat. Jika dia normal, dia tidak akan jatuh. Tapi karena laki-laki itu mabuk, dia langsung terjatuh.
“Berani-beraninya kau!” Laki-laki itu menarik kakiku dengan kuat.
Aku jatuh terjerembab di tanah. Laki-laki itu menyerangku. Aku langsung memukul kepalanya. Dia mengaduh kesakitan. Laki-laki itu mendorongku ke tanah. Aku segera menendang perutnya lalu berdiri. Dia lalu meraih rokku dan menariknya hingga sobek.
“Tidak sopan.” Aku menendang tepat di wajahnya.
Laki-laki itu berteriak marah. Dia tidak terima dihajar oleh perempuan buta.
Laki-laki itu menubrukku hingga aku menabrak dagangan orang lain. Dia menahanku dengan benar-benar kuat. Ketika aku hampir bisa melepaskan diri, dia memanggil orang-orang di sekitarnya untuk menahanku.
Aku tidak masalah jika aku babak belur atau ditangkap oleh orang mabuk ini. Tapi aku kesal sekali karena meskipun ada banyak orang di sini, mereka hanya menonton. Setidaknya jika mereka takut melerai, panggil saja petugas keamanan ke sini.
“Kau sekarang tidak bisa apa-apa.”
Aku terus berusaha melepaskan diri. Tapi kepalaku berdenyut hebat. Luka di kepalaku ketika jatuh dari Klan Putih belum benar-benar sembuh. Tadi malam Ludwig menyembuhkanku dengan keistimewaannya tapi itu hanya menutup luka luar. Ditambah lagi kepalaku tadi sempat terbentur. Tenagaku tidak bisa difokuskan untuk melawan mereka.
“Bawa dia ke rumahku. Aku akan memberi hadiah kepada kalian,” perintah laki-laki itu.
Tiba-tiba datang seseorang yang membantuku. Dia menghajar orang-orang yang menahanku.
“Apa yang kau lakukan?” teriak laki-laki mabuk itu. “Serang dia. Aku akan menghadiahkan kalian akan sekantong keping emas.” Dia menyuruh orang-orang di sekitarnya untuk menyerang orang yang sedang menolongku.
“Justru itu yang harusnya aku tanyakan kepadamu.” Suara Aras terdengar marah. Dia rupanya yang menolongku.
Beberapa orang tertarik dengan tawaran laki-laki itu. Mereka menyerang Aras. Aku hanya mendengar perkelahian beberapa detik. Setelah itu tidak ada suara pukulan atau tendangan lagi.
“Serang dia lagi! Aku akan memberi kalian hadiah.” Laki-laki itu berteriak lagi.
Tidak ada jawaban dari orang-orang. Mereka sudah takut dengan apa yang mereka lihat sebelumnya.
“Kenapa kalian diam saja? Cepat serang dia! Aku akan memberi hadiah dua kali lipat lebih banyak.”
Tidak ada yang merespon.
“Ah, sialan!” Laki-laki itu akhirnya menyerang Aras dengan tangannya sendiri. Cukup dengan satu kali pukulan dari Aras, dia sudah pingsan di tanah.
“Bawa dia pergi!” Aras berseru ke orang-orang sekitar.
Cepat-cepat orang di sekitar kami menggotong laki-laki mabuk itu pergi.
Aras mendekatiku. “Kau baik-baik saja?”
“Aku tidak apa-apa.”
Aras membantuku berdiri.
“Kau terluka, Violet.” Eliza giliran mengkhawatirkanku.
“Hanya luka gores, kok. Tidak apa-apa.” Aku berusaha menenangkannya.
“Violet, terima kasih. Maafkan aku juga. Kau seperti ini gara-gara aku,” kata Lisa.
Aku menggeleng. “Laki-laki itu yang salah. Dia mabuk di tempat umum dan menghancurkan barang milik orang lain. Dan kenapa orang-orang tidak membantumu tadi? Padahal kau sedang kesulitan.”
Lisa dan Eliza menghela nafas.
“Tidak ada yang berani dengan Tuan Muda Elgar. Dia adalah seorang bangsawan, putra Marquess Orchid.” kata Lisa.
“Orang itu sudah sering mabuk di sembarang tempat dan membuat kerusuhan. Tapi dia adalah anak Marquess Orchid. Marquess Orchid adalah bangsawan yang berkedudukan sangat tinggi.” Eliza menjelaskan.
“Banyak orang bernasib buruk setelah melawannya.” Lisa menambahkan.
“Memalukan. Bersembunyi di bawah bayang-bayang orang tua,” kataku kesal.
“Sebaiknya sekarang kita pulang saja. Lukamu harus segera dirawat.” Aras mengambil keranjang rotan yang sudah tidak ada isinya lagi. Keranjang itu tadi terlempar ketika aku sedang berkelahi. Bunga-bunganya sudah hancur terinjak-injak.
“Terima kasih untuk hari ini. Kami pulang dulu.” Aku dan Aras mengucapkan salam kepada Eliza dan Lisa.
__ADS_1
“Hati-hati.”