Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 73


__ADS_3

Tok... tok... tok...


Aku dan Aras menoleh ke arah pintu. Grante seharusnya tidak masuk sekarang karena aku belum memintanya untuk masuk, kecuali ada hal mendesak yang harus dia katakan.


“Nona, Aras. Ini aku, Ty. Apa aku boleh masuk?” Suara Ty menyusul setelah ketukan di pintu.


“Masuk saja, Ty,” jawabku.


Urusanku dan Aras sudah selesai. Tidak ada yang harus kami bicarakan lagi.


Ty membuka pintu perlahan. Wajahnya menyembul dari balik pintu lebih dulu. Senyumnya langsung mengembang begitu melihatku dan Aras.


“Nona!” Ty langsung menghaburkan kepadaku. “Bagaimana keadaan Nona?”


“Aku sudah baik-baik saja.”


Ty ganti menghadap Aras. “Bagaimana denganmu?”


“Aku juga sudah baik-baik saja,” jawab Aras.


“Syukurlah.” Ty tersenyum senang. “Aku sangat gelisah karena tidak bisa bertemu dengan Nona dari kemarin kemarin. Grante bilang kalian baik-baik saja. Tapi aku tetap  saja khawatir. Terakhir kali aku melihat kalian, keadaan kalian sangat buruk.”


“Tidak ada yang perlu kau khawatirkan lagi, Ty. Lihatlah, kami baik-baik saja,” kata Aras.


Ty mengangguk lega.


“Apa yang kau lakukan di sini, Ty. Grante bilang kau sedang persiapan Upacara Kedewasaan,” tanyaku.


Grante dan Gracinia bilang kami baru bisa bertemu Ty dua hari lagi. Tapi hari ini Ty sudah mendatangi kami.


Wajah Ty berubah menjadi cemberut. “Orang-orang bilang aku tidak boleh pergi ke mana-mana. Padahal aku ingin bertemu dengan Nona.”


“Grante bisa marah jika tahu kau ada di sini, Ty,” kata Aras.


“Biar saja. aku langsung lari begitu dia akan memarahiku.”


“Ty!” Suara menggelegar mengaggetkanku, Ty, dan Aras. Grante baru saja dibicarakan dan dia sudah ada, berdiri diambang pintu ruangan samabil menatap Ty tajam.


“Apa yang kau lakukan di sini? Kau seharusnya mengikuti persiapan Upacara Kedewasaan!” Grante berjalan mendekati Ty.


Ty langsung bersembunyi di balik tubuhku.


“Pantas saja orang-orang di Banyak terlihat ribut. Mereka pasti mencarimu yang tibatiba menghilang. Jangan bersembunyi di belakang Violet. Cepat kembali ke Banyan!” seru Grante.


“Baik!” Ty langsung melesat pergi sebelum Grante berubah pikiran. “Aku pergi dulu, Nona!”


Grante menghela napas lelah melihat Ty berlari melewatinya. Dia kemudian memandangku dan Aras.


“Maaf karena Ty menganggu pembicaraan kalian,” kata Grante.


“Tidak masalah, Grante. Kmami sudah selesai mengobrol ketika Ty datang,” ucapku.


Grante mengangguk mengerti.


Aku menatap Grante. Dia tidak kembali dengan tangan kosong. Dia membawa sesuatu yang dibungkus oleh daun Banyan.


Grante berjalan mendekati Aras. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, dia memberikan bungkusan daun itu kepada Aras.


“Apa itu?” tanyaku.


Aras membuka sedikit bungkusan itu hingga sebuah permata berwarna hijau terlihat. Dari ukuran bungkusan itu, ukuran Zamrud yang dibawa Grante tidak besar. Hanya sebesar ibu jari Aras. Zamrud itu adalah permata kalan terkecil di antara dua permata klan yang sudah kami dapatkan.


Aku menatap Aras terkejut. “Bukankah itu Zamrud?”


Aras mengangguk. Dia menutup kembali bungkusan Zamrud itu.


“Kenapa Grante memberikan Zamrud itu padamu?”


“Kau lupa tujuan utama kita ke desa ini?”

__ADS_1


Tentu saja kau ingat. Kami ke ke sini untuk mendapatkan Zamrud karena Aras bilang Ichi kehilangan Zamrud ketika Titanic tenggelam. Tapi kenyataannya Ichi masih membawa Zamrud. Kami tidak memerlukan Zamrud di desa ini lagi.


Aku ingin mengatakannya pada Aras. Namun, ada Grante di sini. Aku tidak bisa berbicara terus terang pada Aras.


“Tidak apa-apa, Violet. Grante juga tahu tentang misi ini,” ucap Aras seolah dia mengerti apa yang aku pikirkan.


Aku menatap Grante ragu. Grante bukan siapa-siapa. Dia juga bukan seorang pemimpin klan. Tidak mungkin dia tahu tentang misi Berigin.


“Sebelum kematian Ziben, dia memberi tahu misi itu padaku.” Grante berusaha meyakinkanku.


Aku mengerti. Tidak heran jika Grante tahu. Jenderal Risagu bahkan juga tahu tentang misi ini.


“Kalau begitu, kenapa kau memberikan Zamrud pada Aras?” tanyaku.


“Karena Raja Aras memintanya,” jawab Grante.


“Apa itu tidak masalah? Maksudku kita sudah memiliki Zamrud.” Aku menatap Aras.


“Tentu saja. Zamrud yang kita dapatkan pertama kali dibawa oleh Ichi. Kita tidak bisa menjamin jika Zamrud itu aman di tangannya. Akan lebih baik jika kita memiliki Zamrud lainnya.”


“Apakah Gracinia tahu tentang ini?”


Aras menggeleng. “Dia tidak tahu. Seandainya dia tahu, dia bisa menghalangi kita atau memaksaku untuk memanfaatkan misi ini untuk menyukseskan rencana Ash sebelumnya.”


“Dia pasti curiga jika Zamrud di desanya menghilang.”


“Tidak juga. Jika Raja Aras yang memintannya, Gracinia akan menyerahkannya dengan senang hati. Bagi penduduk desa ini, Raja Aras adalah orang yang paling berhak dengan permata klan.” Grante yang menjawab.


***


Tepat dua hari seperti yang dikatakan Grante, akhirnya aku bisa bertemu Ty lagi. Meskipun sebelumnya Ty sudah mencuri-curi kesempatan untuk bertemu denganku. Tapi baru sekali dia melakukannya, dia langsung ketahuan oleh Grante. Semenjak itu aku tidak pernah melihat batang hidung Ty lagi.


Malam ini Upacara Kedewasaan akan berlangsung. Aku bisa menemui Ty di upacara itu meskipun tidak secara langsung. Gracinia bilang jika aku dan Aras bisa menyaksikan salah satu upacara terpenting Desa Beringin itu. Dia bilang dia sudah meminta Grante untuk menjemputku dan Aras malam ini.


Aku dan Aras duduk diam sambil menunggu Grante datang. Aras sedang fokus membaca buku. Kalau tidak salah itu adalah buku yang didapatkannya di Klan Biru. Aku nyaris tidak mengingat buku sama sekali karena peristiwa-peristiwa yang terjadi selama ini.


Aras mengangkat wajahnya dari buku. “Kau benar. Aku kira kau sudah lupa dengan buku ini karena kau tidak pernah menyebutkannya.”


‘Aku memang hampir melupakannya,’ ucapku dalam hati.


“Kau juga tidak pernah membahasnya,” balasku.


Aras tidak pernah menyinggung atau bahkan memperlihatkan lagi buku itu. Terakhir kali Aras menunjukkan buku itu ketika dia menerangkan tentang Sapphire.


Aku memandang buku Jauhar di tangan Aras. Buku itu masih terlihat sangat bagus untuk ukuran buku yang pernah terendam di lautan. Jika buku Jauhar terbuat dari kertas biasanya, buku itu pasti sudah hancur ketika Aras tenggelam. Beruntung sampul dan kertasnya terbuat dari kulit binatang. Jadi buku itu bisa bertahan hingga sekarang.


“Buku ini memuat banyak informasi mengenai permata klan. Aku harap aku bisa menemukan sesuatu yang berguna,” kata Aras.


“Klan Biru Timur adalah yang pertama kali dan satu-satunya klan yang pernah mengorbankan pemilik galur murni untuk menjadi permata klan. Sebelumnya tidak ada yang tahu jika pemilik galur murni bisa berubah menjadi permata klan,” lanjut Aras.


Aku teringat dengan Azuro. Dia juga mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Klan Biru.


“Buku ini ternyata menjelaskan lebih rinci dengan pengorbanan itu.” Aras mengangkat buku Jauhar. “Aku belum selesai membacanya tapi aku rasa aku mulai bisa memahaminya.”


Menyinggung tentang Klan Biru, aku jadi teringat jika Aras sepertinya memiliki hubungan dengan Klan Biru Timur.


“Tentang Klan Biru Timur, apa mereka juga memiliki hubungan dengan Klan Hitam, seperti desa ini?” tanyaku.


Aras mengangguk.


“Berarti mereka juga mendukung kalian?”


“Bisa dibilang begitu.”


“Tapi sepertinya Ratu Marine tidak sepaham tentang rencana Ash seperti Gracinia.”


Ratu Marine sangat sensitif jika membahas tentang permata klan. Dia berprinsip jika Sapphire adalah milik Klan Biru. Berbeda dengan Gracinia jika seluruh permata klan adalah hak dari Klan Hitam.


“Itu benar. Ratu Marine termasuk orang yang menentang rencana Ash. Tapi dia tetap mendukung Klan Hitam. Nenek moyang Klan Biru Timur sangat dekat Klan Hitam, seperti halnya Desa Beringin. Ratu Marine menginginkan bukti yang kuat tentang keberhasilan rencana itu. Dia tidak mau rakyatnya menderita karena keputusan yang salah.”

__ADS_1


Tidak ada yang menginginkan kesalahan untuk keputusan yang menyangkut seluruh dunia, terutama klannya sendiri. Manusia Klan sangat menjunjung klannya masing-masing, termasuk aku.


Aku mengalami banyak hal yang mengerikan sekaligus menyedihkan di Klan Ungu. Tapi aku tetaplah seorang manusia Klan Ungu. Sebagai manusia Klan Ungu kebaktian dan kebanggan kami terhadap Klan Ungu mengalir di pembuluh darah kami. Apapun yang terjadi, kepentingan klan harus diutamakan. Hal itu juga berlaku bagi klan-klan lain.


Tok... tok... tok...


Aku dan Aras menoleh ke arah pintu ruangan. Pintu ruangan terbuka, menampakkan Grante yang sedang berdiri sambil memegang kenop pintu.


“Maaf, membuat kalian menunggu lama,” kata Grante seraya memasuki ruangan.


“Tidak masalah, Grante.” Aras membereskan bukunya.


Aku dan Aras bangkit dari duduk. Ketika kami hendak keluar kamar mengikuti Grante, seekor elang hitam tiba-tiba melesat terbang masuk ke ruangan. Elang itu berputar di atas kepala Aras.


Kami bertiga berhenti melangkah dan memperhatikan elang itu.


Aras sedikit mengangkat tangannya. Elang itu pun terbang turun dan hinggap di lengan Aras. Ada segulung kertas kecil yang terikat di kaki elang itu.


Aras melepas gulungan kertas itu. Setelah gulungan kertas itu terlepas, elang hitam itu kembali terbang dan keluar dari ruangan.


“Apa itu burung milikmu?” tanyaku.


Aras mengangguk. Matanya tajam memperhatikan gulungan kertas yang sedang dibukanya. Dia kemudian membaca kertas itu.


Aku dan Grante menunggu Aras selesai membaca surat yang dikirimkan untuknya. Kami berdua tahu, kami tidak memiliki hak untuk bertanya tentang surat itu.


Aras menatapku setelah selesai membaca surat.


“Ada apa, Aras?” tanyaku.


“Ruby sekarang berada di Klan Jingga,” kata Aras.


“Benarkah? Surat itu yang memberitahumu?”


Aras mengangguk.


“Lalu apa kalian akan pergi sekarang?” tanya Grante. “Aku nanti akan memberitahu Ty dan Gracinia jika kalian sudah pergi.”


Aku dan Aras saling bertatapan.


“Kita akan pergi sekarang,” ucapku.


“Kau yakin?” Aras memandangku. “Apa kau tidak ingin bertemu Ty dulu?”


Aku meremas bajuku. Sejujurnya, aku ingin bertemu Ty. Untuk pertama kalinya aku tidak ingin buru-buru pergi mencari permata klan. Aku ingin bertemu Ty sebelum kami pergi. Dia sudah menemaniku sejak awal berada di Klan Hijau. Kehadirannya yang mungkin hanya sesaat ini sangat membekas untukku.


“Aku pikir tidak apa-apa jika kita melihat Upacara Kedewasaan sambil menunggu Ty. Kita masih memiliki waktu. Kita bisa pergi setelah bertemu Ty. Ty pasti sangat ingin bertemu denganmu,” kata Aras.


“Tapi lebih baik jika kita menghemat lebih banyak waktu.” Aku masih kukuh dengan pendirianku.


Aras menghela napas, kemudian mendekatiku. Kepalanya sedikit menunduk, menatapku.


“Kau juga ingin bertemu dengannya, kan?” kata Aras.


“Tapi...”


“Ty pasti akan sangat kecewa jika kau pergi tanpa memberikan kesempatan padanya untuk mengucapkan selamat tinggal padamu.”


Aku mengangkat kepalaku, menatap Aras. “Aku pikir dia malah akan memohon ikut bersama kita jika dia tahu kita akan pergi dari sini.”


Aras tertawa kecil. “Itu malah lebih baik.”


Aras meraih tanganku. “Sebaiknya kita segera pergi sebelum upacaranya dimulai.”


Aku agak terkejut ketika Aras menarikku keluar ruangan. Tapi aku tidak menahannya. Aku membiarkan Aras menggandengku dan membawaku pergi ke Banyan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2