
“Violet!” Aras memberi tanda.
Aku dan Aras berdiri saling memunggungi. Kami mengawasi daerah kami masing-masing. Ty berdiri di antara aku dan Aras.
SRETT
Sulur-sulur tiba-tiba merambat di tanah dari segala arah menuju kami bertiga.
Aras menghantamkan kakinya ke tanah. Batu tajam muncul dari dalam tanah memotong sulur-sulur yang mendekati kami.
Sulur-sulur lain bermunculan dari atas kami. Aku bergerak cepat memotong sulur-sulur itu. Tiba-tiba di antara sulur yang menyerang, anak panah meluncur ke arah kami.
Aras langsung mendirikan tembok besar, melindungi kami dari hujan anak panah.
BRAKKK
Puluhan sulur menabrakkan diri bersamaan ke tembok yang dibuat Aras. Mereka menghancurkan tembok itu dengan paksa.
SRATT
Aku memotong sulur yang berhasil melewati tembok. Jumlah sulur yang menyerang berkurang. Tapi sekarang lebih banyak anak panah yang menghujani kami.
Aras kembali membuat perlindungan. Aku menebas sulur yang mencoba mendekat kami. Ty ikut memotong sulur yang menyerang dengan kapaknya.
“Violet! Arah utara!” teriak Aras.
Sebuah sulur melesat cepat ke arah Ty sebelum dia menyadarinya. Aku mengayunkan pedangku dan menebas sulur itu.
Ty berdiri membeku, terkejut. Sulur itu nyaris menyentuh wajahnya.
“Ty! Tetap waspada!” peringatku.
Ty tersentak. Dia segera sadar dan kembali mengawasi sekitar. Keringat dingin mengalir di wajahnya.
“Apa ini, wit?” tanya Ty.
“Bukan. Ini pemilik galur murni Klan Hijau,” jawabku.
Dari sulur-sulur yang menyerang kami, aku bisa melihat jejak energi pemilik galur murni yang mengendalikan mereka.
SRATT
Sebuah sulur melesat ke arahku. Aku bergerak menghindarinya lalu menebas sulur itu.
Aku menatap tajam arah asal sulur itu. Di sana, di balik pohon besar, aku melihat seorang pemilik galur murni Klan Hijau.
Aku mengambil anak panah di berserakan tanah. Tepat ketika segerombolan sulur menyerangku, aku melompat menghindari mereka dan melemparkan panah ke pemilik galur murni itu.
“Arghh!”
Panah yang aku lempar mengenai bahu pemilik galur murni itu. Sulur tidak lagi muncul dari arahnya. Pemilik galur murni itu jatuh pingsan. Anak panah yang digunakan untuk menyerang kami, sudah dilumuri racun yang melumpuhkan.
“HIYAHH!”
__ADS_1
Seorang laki-laki muncul dari balik semak. Tombak teracung di tangannya, mengarah padaku. Aku melibas tombak itu. Tapi tombak itu tidak terpotong. Mata pedangku sudah rusak dan gagang tombak itu terbuat dari kayu yang sangat keras. Aku hanya bisa menahan serangan tombaknya.
Pemilik tombak itu menatapku tajam. Dia mengerahkan tenaganya untuk mendorongku mundur. Tapi aku lebih kuat darinya. Aku mendorong pedangku.
Laki-laki itu berusaha bertahan. Kakinya membuat jejak seretan ketika aku mendorongnya mundur.
“HIYAHH!”
Aku mendorong laki-laki itu sekuat tenaga hingga laki-laki itu terlempar menghantam pohon di belakangnya.
Di sisi lain, Aras sedang bertarung dengan tiga Arnold. Batu-batu berterbangan di sekitar Aras. Tiga Arnold itu mengayunkan sabit mereka. Aras segera balik menyerang dengan batunya.
SLASHH
Seseorang melesat cepat di sampingku. Tangannya membawa pisau yang diarahkan padaku. Aku meresponnya dengan cepat. Aku bergerak menghindar sebelum pisaunya menyayat pinggangku.
Pengguna Pisau itu kembali melesat ke arahku. Pergerakannya sangat cepat. Tapi aku masih bisa mengimbanginya. Beberapa kali, senjata kami saling bertemu, bertubrukan, memercikkan sedikit api.
Pengguna Pisau itu tidak melambat sedikitpun, malah semakin cepat. Aku hampir tidak bisa mengikuti pergerakannya. Pisaunya berhasil menggores kulitku. Tapi berkat keistimewaanku, aku bisa melihat jejaknya. Semakin cepat dia bergerak, pergerakannya semakin monoton. Jejak yang ditinggalkannya membentuk pola.
BUKK
Aku menendang Pengguna Pisau itu ketika dia melintas di lintasan polanya. Dia tidak sempat menghindariku karena terkejut melihatku yang tiba-tiba muncul menghalangi jalannya. Tubuhnya terlempar menabrak batang pohon.
SRATT BRUKK
Sulur tiba-tiba muncul di dekat kakiku. Sulur itu mengikat kaki kananku dan menyeretku hingga aku jatuh berdebam ke tanah.
Ketika aku sedang sibuk dengan sulur di kakiku, Pengguna Pisau itu meloncat ke arahku. Pisau di tangannya menghunus ke arahku. Tapi sebelum pedangnya mengenaiku, sebuah benteng pelindung muncul di sampingku. Aras membantuku. Pisau laki-laki itu mendarat di benteng buatan Aras.
Aku memotong sulur di kakiku dengan cepat. Kemudian bergerak ke sisi benteng dan mengayunkan pedangku ke leher Pengguna Pisau.
TRANGG
Sebuah sabit besar menghalangi pedangku dari laki-laki itu.
“Arnold!” seruku.
Aku mundur, menempatkan diri di samping Aras.
Sekelompok orang yang menyerang kami juga mundur. Mereka berdiri di belakang Arnold.
“Aku tidak menyangka kita bertemu lagi, Klan Ungu,” kata Arnold.
“Aku kira kau sudah mati.” Aku menatap tajam Arnold.
“Aku juga berpikir kau dan teman-temanmu sudah mati. Kapal yang kita tumpangi berakhir tragis.”
Arnold mengalihkan pandangannya dariku. Dia tampak terkejut ketika melihat Ty.
“Ty? Kau kembali?” Arnold berjalan mendekati Ty.
Arnold tampak ramah kepada Ty. Tapi Ty bersembunyi dibalik badanku.
__ADS_1
“Kau sebaiknya tidak mendekati kami, Arnold.” Aras memperingatkan.
Arnold menatap Aras. Dia lalu tersenyum.
“Raja Aras. Maaf aku tidak mengenalimu sebelumnya. Penampilanmu berbeda ketika kau berada di Titanic. Aku baru menyadarinya beberapa hari lalu,” kata Arnold.
Aku melirik Arnold dan Aras bergantian. Dari cara berbicara mereka, selain pertemuan di kapal Titanic, sepertinya ini bukan pertemuan awal mereka.
“Ini sangat mengejutkan melihat Klan Ungu, Klan Hitam, dan Klan Hijau bersama. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa aku melewatkan sesuatu yang penting?” Arnold memandang kami bertiga.
“Apapun itu bukan urusanmu,” kata Aras.
“Tentu saja ini juga urusanku jika ada penduduk Klan Hijau yang terlibat, Raja Aras.” Arnold melirik Ty.
Ty menggenggam erat kain bajuku.
Arnold kembali beralih pada Aras. “Apa Raja Aras ingat apa yang aku tawarkan padamu? Apa kau masih mempertimbangkan tawaran kami? Aku harap kau mau menerimanya dan bekerja sama dengan kami.”
Dahiku mengernyit. Aku tidak mengerti yang Arnold bicarakan dengan Aras. Tapi aku bisa menangkap jika Aras dan Arnold pernah terlibat dalam sesuatu hal.
“Aku sudah menolak tawaran kalian,” kata Aras. “Kita sudah tidak ada urusan lagi.”
“Benarkah?”
Sabit Arnold tiba-tiba bersinar. Tumbuhan menarmbat muncul dari pangkal sabitnya, melilit sabit Arnold. Bunga berwarna ungu muncul diantara sulur-sulur itu.
“Monkshood,” gumam Aras. “Hati-hati dengan senjata itu. Jangan sampai kau tergores olehnya, meskipun kecil. Senjata itu memiliki racun yang sangat mematikan.”
“Aku tidak mengira kau tahu Monkshood-ku, Raja Aras. Aku merasa terhormat. Monkshood adalah keistimewaanku,” kata Arnold.
Jika monkshood adalah keistimewaanya, lalu bagaimana kemampuannya menghasilkan puluhan bayangan yang menyerupai dirinya. Tidak mungkin dia memiliki dua keistimewaan.
Arnold tersenyum sinis, melihatku yang tampak bingung. “Aku memiliki dua keistimewaan Nona. Tapi monkshood adalah keistimewaan utamaku.”
“Tidak mungkin pemilik galur murni memiliki dua keistimewaan,” kataku.
“Tentu saja mungkin, meskipun sangat jarang. Buktinya adalah aku dan laki-laki di sampingmu. Raja Aras juga memiliki dua keistimewaan.”
Aku terkejut mendengar ucapan Arnold. Aku tidak pernah tahu jika Aras memiliki lebih dari satu keistimewaan. Dia tidak pernah menyinggungnya, selain pada candaannya padaku dan Ty beberapa hari yang lalu.
“Raja Aras, jika kau tahu tentang senjataku ini, apa kau masih bisa mempertimbangkan tawaranku? Kau tahu seberapa mematikannya monkshood-ku.” Arnold mengayunkan sabit monkshoodnya.
“Sudah aku bilang sebelumnya. Aku menolaknya,” jawab Aras.
“Baiklah jika kau menolak. Jujur aku sangat kecewa. Tapi aku tidak akan menyerang kalian. Aku memiliki tawaran lain,” kata Arnold.
Aku dan Aras menatap Arnold tajam. Kami mulai meningkatkan kewaspadaan kami. Perasaanku mengatakan jika aku dan Aras kemungkinan besar akan menolak tawaran Arnold.
“Serahkan Zamrud juga cincin Zamrudku padaku. Aku mungkin akan melepaskan kalian jika kalian menyerahkan permata klan itu.”
__ADS_1