
Mata Aras menerawang jauh ke depan. “Saat itu aku sama sekali tidak berniat melakukannya.”
Aras mulai menceritakan kejadian bertahun-tahun lalu. Ketika kami masih tinggal di panti asuhan.
***
Aras meninggalkan Violet yang masih menonton Kejuaraan Lavender. Cuaca sangat panas hari ini. Dia ingin membeli minuman. Tapi minuman di dalam arena terlalu mahal, Aras harus keluar untuk membeli minuman yang lebih murah.
Aras membeli minuman dengan cepat. Dia tidak mau Violet menunggu terlalu lama. Tapi ketika di perjalanan kembali ke arena, seorang anak menabraknya.
“Fyuh.. hampir saja.” Aras berhasil mempertahankan minumannya yang hampir tumpah.
“Aras!”
Aras menengok ke anak yang menabraknya. “Mary?”
Aras baru menyadari jika anak yang menabraknya adalah Mary, salah satu anak panti asuhan yang cukup dekat dengan Aras dan Violet. Wajah Mary banjir air mata. Dia terlihat sangat ketakutan.
“Ada apa Mary?” tanya Aras khawatir.
Tubuh Mary gemetar. Dia menjawab Aras dengan terbata-bata.
“A.. anak-anak pan..ti ***.. han. Me.. mereka.. mereka.”
“Tenanglah, Mary.” Aras memegang kedua bahu Mary. “Ada apa dengan anak-anak panti asuhan?”
Aras berusaha tenang. Melihat Mary yang sangat ketakutan, jantungnya berdetak sangat kencang. Tapi dia tidak mau menunjukkan wajah khawatirnya dan membuat Mary bertambah takut.
Dengan air mata yang mengalir deras Mary menjawab, “Mereka dibunuh.”
“Apa?!”
“Ova menyuruh kami kembali ketika kami masih di perjalanan menuju kota dan... ugh..” Mary menangis terisak. “Aku berhasil kabur tapi masih ada anak-anak lain di sana.”
Mary memegangi erat baju Aras. Dia menatap Aras Aras dengan matanya yang memerah. “Aras selamatkan mereka.”
Aras menekan bahu Mary. Dia memberikan tiket masuk Arena Dionyz kepada Mary. “Mary, jemput Violet di dalam sana. Lalu pergilah kalian ke rumah tua di bukit. Aku akan pergi ke panti asuhan.”
“Tapi bagaimana kau akan menghadapinya sendiri?”
Aras tersenyum meyakinkan. “Percayakan saja padaku. Kau cepat jemput Violet dan segera pergi dari sini.”
Mary mengangguk.
Aras dan Mary kemudian berpisah. Aras berlari secepat yang dia bisa ke panti asuhan. Dia tidak mempedulikan orang-orang yang marah karena ditabraknya. Pikirannya fokus pada anak-anak di panti asuhan.
Jantungnya hampir berhenti ketika tiba di panti asuhan. Halaman panti asuhan dipenuhi dengan mayat anak-anak panti. Darah menggenang menutupi tanah. Seorang anak panti asuhan ditebas tepat di hadapannya oleh laki-laki berseragam asing.
Tangan Aras mengepal. Kemarahannya memuncak. Dia menghantam laki-laki itu dengan batu di bawahnya.
Orang-orang berseragam yang sama dengan laki-laki tadi terkejut melihat rekannya yang mati terhantam batu besar yang tiba-tiba muncul. Mata mereka langsung menangkap keberadaan Aras. Mereka mengacungkan senapan ke arah Aras.
Aras tidak takut sama sekali dengan ancaman yang berada di depannya. Ini bukan pertama kalinya dia ditodong belasan senapan. Aras melangkah maju dengan mata yang berkilat marah.
BRAKK
Tanah yang dipijak orang-orang berseragam itu terangkat ke atas dengan tiba-tiba sehingga mereka terlempar jauh.
Rahang Aras mengeras ketika dia menginjak darah anak-anak panti. Tubuhnya gemetar karena marah. Panti asuhan adalah tempat yang sangat penting baginya. Di tempat ini saja Aras bisa merasakan kedamaian dan bisa hidup seperti anak-anak pada umumnya. Tidak ada teriakan marah, hukuman cambuk, dan perang. Meskipun dia belum terlalu lama di panti asuhan ini, Aras sudah merasa tempat ini adalah rumahnya.
Aras berlari masuk ke dalam bangunan panti asuhan. Sekelompok orang berseragam keluar dari salah satu ruangan di dalam panti asuhan.
“Wah, klan hitam rupanya.”
Seorang laki-laki berseragam agak berbeda berjalan di paling depan. Lencana dan jubah yang dipakainya menandakan pangkatnya yang lebih tinggi. Dia adalah pemimpin pasukan yang menyerang panti asuhan.
Aras menatap tajam laki-laki itu. Wajahnya familiar. Dia pernah melihatnya dulu sekali.
“Risagu,” gumam Aras.
“Kau sepertinya mengenalku.”
Jenderal Risagu yang saat itu masih seorang kolonel berjalan mendekati Aras. Di belakangnya, Ova dan beberapa orang dari pasukannya yang tersisa mengikutinya.
__ADS_1
“Ova?!” Aras terkejut melihat Ova bersama Risagu.
Pemandangan ketika Ova berdiri di samping Risagu membuat Aras sadar apa yang terjadi. Aras menyibak rambutnya dan tertawa keras. Dia memegangi kepalanya, frustasi.
“Aku tidak percaya. Ternyata tempat ini sama saja.” Aras tersenyum miris. “Padahal aku kira aku sudah menemukan tempat yang nyaman tapi ternyata tempat ini juga busuk!”
“Aras. Benarkan itu namamu?” Risagu memanggil Aras tanpa mempedulikan apa yang sudah terjadi.
Mata Aras memincing. “Apa maumu?”
Risagu tersenyum. “Aku dengar kau dekat dengan Violet. Aku kira kau bersamanya sekarang tapi sepertinya tidak. Meskipun begitu tidak amasalah. Kami bisa menemukannya dengan mudah.”
Mendengar nama Violet disebut jantung Aras bedecak kencang. Dirinya diliputi rasa khawatir. Pikirannya melayang, mengkhawatirkan Violet yang entah sudah pergi bersama Mary atau belum.
“Apa yang kau rencanakan, hah?!” seru Aras.
“Kenapa aku harus memberi tahumu?” Risagu tidak menghiraukan Aras. Dia melangkah pergi bersama Ova dan pasukannya.
Aras tidak membiarkan mereka pergi begitu saja. Dia mendirikan tembok besar di depan mereka.
Risagu menoleh ke Aras. Kedua alisnya terangkat, heran dengan tindakan Aras. Tapi kemudian dia tersenyum. Aras berhasil menarik perhatiannya.
Risagu menghadap Aras. “Sebenarnya aku juga tertarik padamu. Tapi karena kau bukan Klan Ungu, aku tidak bisa membawamu. Jadi, aku membiarkanmu pergi karena sangat menyayangkan jika membunuh pemilik galur murni yang kuat. Tapi sepertinya akan sulit jika kau tetap hidup.”
“Ini sangat disayangkan tapi mau bagimana lagi.” Risagu memanggil Ova. “Ova, bereskan dia. Nanti ketika aku kembali ke sini, tugasmu harus sudah selesai.”
“Baik, Kolonel.”
Ova maju ke depan Aras. Tangannya memegang pedang. Matanya tajam menatap Aras.
Setelah memberi perintah kepada Ova, Risagu berjalan pergi.
“Hey, tunggu!”
Aras hendak mengejar Risagu tapi Ova menghentikannya. Pedang Ova hanya berjarak beberapa senti dari leher Aras.
“Lawanmu adalah aku,” kata Ova.
Aras memukul lengan Ova. Ova terpukul mundur. Tapi setelah itu dia langsung mengayunkan pedangnya pada Aras. Aras meloncat menghindar.
Aras beruntung tetap bisa menghindari setiap serangan mematikan Ova, meskipun dia mendapatkan luka di berbagai tempat.
Aras membalas serangan Ova dengan meleparkan ratusan batu secara bersamaan. Tapi Ova juga sangat gesit. Dia bisa menangkis dan menghindari seluruh serangan Aras.
Pertarungan itu berlangsung sangat lama. Ova sangat cepat dan lincah. Dia bisa menghindari serangan Aras.
Aras sendiri meskipun masih anak-anak, dia sangat kuat. Dia juga memiliki banyak pengalaman bertarung. Dia bukan lawan yang bisa diremehkan.
Namun seiring berjalannya waktu, kekuatan Aras dan Ova melemah. Mereka kelelahan. Aras sudah terlalu banyak memakai keistimewaannya. Sekarang dia hampir tidak bisa menggunakan keistimewaannya lagi.
Hal itu sangat menguntungkan Ova sekarang. Meskipun sudah kelelahan, Ova menggunakan senjata sedangkan Aras hanya tangan kosong.
“Hyaattt!” Ova mengayunkan pedangnya.
Grabb...
Aras berhasil menahannya dengan memegang lengan Ova.
“Seharusnya kau pergi selama ada kesempatan.”
“Diam kau!”
Aras sangat kecewa pada Ova. Selama ini dia sangat percaya pada Ova. Meskipun Ova sering mengomeli dan memarahinya tapi Aras menyayanginya. Ova adalah orang yang berjasa baginya. Dia telah menyelamatkannya dan Violet.
“Bagaimana kau bisa melakukan ini?!” teriak Aras.
“Aku hanya melakukan pekerjaanku. Kau saja yang terlalu naif.”
Pertarungan terus berlanjut. Aras berhasil menyingkirkan pedang Ova. Kali ini mereka bertarung dengan tangan kosong.
“Kau bahkan tidak peduli mereka membunuh anak-anak panti. Pengasuh macam apa kau ini!”
“Kau yang menyebabkan mereka mati!” Ova memukul wajah Aras. “Kalau kau tidak membawa Violet pergi, mereka tidak akan mati!”
__ADS_1
Aras sangat terkejut mendengarnya. Dia menggigit bibir. Rasa bersalah menyelimutinya. Wajah anak-anak panti terbayang di kepalanya.
“Kau yang membunuh mereka!” Ova mengayunkan tangannya pada Aras.
Aras berhasil menangkisnya dan memberi Ova serangan balasan di perutnya. Dia memukul Ova sangat keras hingga Ova muntah.
Ova menyeka mulutnya. Dia menatap Aras sambil menyeringai. “Kau benar-benar menyebalkan. Gara-gara kau, aku harus menghabisi objek penelitianku sendiri.”
Aras terbakar amarah. Dia tidak percaya Ova selama ini hanya menganggap anak-anak panti asuhan sebagai objek penelitiannya. Padahal mereka sangat mempercayai Ova.
Aras mengambil pedang Ova yang tergeletak di tanah. Dia mengacungkannya ke Ova.
“Kau tahu kau payah dengan pedang. Kenapa kau malah menyerangku dengan itu.” Ova dengan mudah menghindari serangan Aras.
Aras ingin segera membunuh Ova. Dia tidak tahan lagi dengan kenyataan yang ada di depannya.
“Kau terlalu meremehkanku,” ucap Aras.
Aras maju menyerang. Dia memang payah dalam berpedang jika dibandingkan dengan Violet. Walaupun begitu Aras juga memiliki pengalaman menggunakan pedang. Di panti asuhan pun hanya Violet dan Aras yang bisa bermain pedang.
Hampir setiap hari mereka berdua berlatih pedang dengan Ova. Ova sering mengajarkan mereka berbagai cara bertarung. Selama di panti asuhan, Ova sangat baik kepada mereka. Bagi Violet Ova adalah adalah guru yang berharga baginya. Mengingat itu, hati Aras menjadi perih.
Aras menendang Ova hingga menabrak dinding panti asuhan. Ova sudah tidak bisa bergerak. Dia jatuh terduduk di sana. Aras meletakkan mata pedang di leher Ova.
“Kenapa kau belum membunuhku? Aku sudah tidak bisa bergerak. Ini kesempatanmu,” kata Ova.
Tangan Aras gemetar karena emosi. Dia sangat ingin membunuh Ova tapi Ova adalah orang yang penting bagi Violet. Jika Aras membunuh Ova, Violet pasti akan sangat sedih dan mungkin membencinya.
Aras menurunkan pedangnya dari leher Ova. Dia menghembuskan napas. “Aku tidak bisa membunuhmu. Kau sangat baik pada kami selama ini. Violet sangat percaya padamu.”
“Bodoh!” Ova tertawa keras. “Kalian hanya objek penelitianku. Dan Violet adalah yang paling berharga diantara kalian!”
Ucapan Ova membuat Aras langsung gelap mata. Dia tidak peduli lagi kebaikan apa yang telah diberikan Ova kepadanya. Dia juga tidak peduli jika Violet akan membencinya. Aras tidak bisa membiarkan orang seperti Ova hidup.
JLEB
Aras menusuk Ova tepat pada jantungnya.
Untuk terakhir kalinya Ova tersenyum kepada Aras. “Bagus, Aras. Kau bertambah kuat.”
Aras berdecak. Tubuhnya hampir tidak bisa bergerak lagi. Dia hampir pingsan. Tapi dia harus segera pergi menyusul Violet dan Mary.
Saat Aras berbalik badan, dia dihadapkan pemandangan yang paling tidak ingin dilihatnya. Violet berdiri tak jauh darinya. Wajah Violet pucat dan ketakutan.
“Apa yang kau lakukan, Aras?” tanya Violet.
Aras diam. Dia tidak mampu menjawab pertanyaan Violet.
“Jawab aku, Aras!” Air mata mengalir di pipi Violet.
Aras ingin sekali berlari kepada Violet dan membawanya pergi dari sini. Tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. Lidahnya kelu.
Violet mengeluarkan pedang kecil yang selalu dibawanya. Dia mengayunkan pedangnya kepada Aras. Dengan sisa kekuatannya, Aras menangkis serangan Violet dan mendorongnya hingga membentur dinding.
Aras merasa sangat bersalah pada Violet. Tapi dia tidak bisa menjelaskannya sekarang. Risagu dan pasukannya mungkin akan segara kembali ke sini. Violet harus segera pergi dari panti asuhan.
Tubuh Aras semakin melemah. Dia yakin sebentar lagi dia akan pingsan. Aras mengumpulkan kekuatannya yang tersisa. Setidaknya dia harus menyuruh Violet untuk pergi.
“Pergilah selagi kau bisa, Violet.”
Hanya kalimat itu yang bisa dia ucapkan.
Violet memandang Aras dengan wajah yang penuh kekecewaan sebelum dia berlari pergi meninggalkan Aras.
Aras akhirnya roboh. Dalam pandangan matanya yang kabur, dia melihat Violet berlari semakin jauh darinya.
Aku mohon, selamatlah, bisik Aras dalam hati sebelum dia menutup matanya.
__ADS_1