
Aku diam mematung di dalam pohon. Kakiku berdenyut hebat. Seluruh tubuhku kesemutan. Aku menahan rasa sakit itu hingga tubuhku dingin.
Aku segera mengeluarkan obat yang diberikan Grante. Cairan pahit mengalir di kerongkonganku. Rasa sakit di kakiku tidak langsung menghilang. Tapi perlahan, aku mulai bisa menggerakkan kakiku kembali.
Aku diam di dalam batang pohon hingga suara orang-orang di sekitarku sudah menghilang. Suasananya menjadi lebih hening. Aku rasa mereka sudah pergi dari sini.
Aku memutuskan untuk mengecek keadaan. Tapi baru aku akan keluar dari lubang, aku mendengar suara Arnold.
“Berani sekai dia kabur dariku. Aku akan menghabisinya ketika aku menemukannya.”
Aku kembali terdiam di dalam pohon. Suara Arnold terdengar sangat jelas. Dia tepat berada di sampingku. Kami hanya dibatasi oleh kulit pohon.
Aku bersandar di kulit pohon sambil menghela napas pelan. Aku ingin segera keluar dari sini. Sampai kapan Arnold akan ada di sini dan mencariku. Lebih baik dia pergi bersama pengikut-pengikutnya. Sekali lagi aku menghela napas lelah.
Mataku tiba-tiba menangkap pergerakan aneh di kulit kayu. Aku mencoba fokus pada kulit pohon yang bergerak-gerak di depanku. Sesuatu hal aneh terjadi.
“!!!”
Aku segera membungkap mulutku. Aku hampir saja berteriak. Jika sampai Arnold mendengar teriakanku, habislah aku.
Mendadak muncul sebuah wajah dari batang pohon. Mataku terbelalak. Jantungku berdegub kencang karena terkejut.
Wajah itu menatapku lurus. Dia terlihat heran.
Aku sempat melihat jejaknya yang mirip Miya sebelum jejak itu akhirnya menghilang. Energiku yang sedikit membuatku kesulitan mengendalikan keistimewaanku.
Kemungkinan pemilik wajah ini adalah dryad. Dryad itu masih menatapku. Dia menatapku sangat lama. Rasanya benar- benar tidak nyaman dipandangi oleh wajah yang muncul dari batang pohon. Tapi aku tetap diam.
Wajah dryad itu baru menghilang setelah terdengar suara teriakan Arnold yang mencariku. Dia masuk ke dalam pohon.
Aku menghembuskan napas lega. Tapi tiba-tiba pohon tempatku bersembunyi terbelah. Batangnya mengelupas seperti kulit pisang.
“Di sana kau rupanya!” seru Arnold sambil menunjukku.
“Dryad sialan!” umpatku.
Gara-gara pohon yang mengelupas ini, aku jadi ketahuan. Aku yakin ini adalah ulah dryad yang memperlihatkan wajahnya tadi padaku. Hanya dryad yang memiliki kekuatan seperti ini.
Aku bergegas kabur. Tapi karena aku sangat lambat, Arnold berhasil mencengkram tanganku. Arnold menarikku sehingga aku berdiri tepat di hadapannya.
“Tertangkap kau.” Arnold menyeringai padaku.
Aku tidak bisa membiarkan Arnold menangkapku. Aku menendang perutnya. Arnold refleks melepaskan tangannya dariku. Dia mengaduh kesakitan sambil memegang perutnya.
__ADS_1
Aku berusaha lari lebih cepat. Rasa sakit di kakiku sudah makin memudar. Kakiku juga hampir kembali seperti sediakala. Obat yang aku minum telah bekerja.
Aku mengawasi sekitar. Beberapa orang mendekatiku. Aku terus berlari, tidak menghiraukan mereka.
SLASH
Sebuah anak panah melesat di depanku. Aku berhenti melangkah. Nyaris saja aku tertusuk oleh anak panah itu.
Aku berbalik badan. Lima manusia Klan Hijau mengepungku. Dua di antara mereka adalah Cyperus dan Rotundus. Senjata mereka teracung padaku.
Aku memposisikan belatiku. Mataku memperhatikan gerak gerik mereka. Jejak mereka timbul dan tenggelam. Aku tidak bisa memaksimalkan keistimewaanku saat ini. Tapi setidaknya, aku sudah tahu siapa saja yang di antara mereka yang merupakan pemilik galur murni.
SRATT
Sebuah sulur melesat. Aku mengayunkan belati, memotong mereka. Tiga orang lagi, Rotundus, Cyperus, dan seorang laki-laki yang belum pernah aku lihat mendekatiku selagi aku sibuk dengan pertarungan melawan sulur.
Di tengah pertarungan, tiba-tiba kalungku, kalung dari Kaisar Icus menyala ungu. Sinar itu makin terang hingga akhirnya sinar keunguan itu melesat ke atas seperti laser. Kejadian itu terjadi sangat singkat.
Selagi perhatian mereka masih teralih oleh sinar dari kalungku. Aku mengayunkan belatiku, menikam dada mereka bertiga dengan cepat.
BRUK BRUK
Satu orang jatuh, tidak sadarkan diri. Sayangnya, Rotundus dan Cyperus berhasil lolos. Mereka hannya mendapat sayatan di dada mereka, meskipun cukup dalam.
Aku mendorong salah seorang dari mereka ke tanah. Badannya aku tahan dengan lututku. Mata belatiku sudah ada di lehernya.
Orang itu menyeringai padaku. Padahal dia ketakutan. Keringat dinginnya mengucur dengan deras.
“Setelah kami mendapat Zamrud, klanmu akan binasa. Meskipun kau membunuhku masih banyak manusia Klan Hijau yang akan menghabisimu. Jangan terlalu percaya diri karena ada manusia Klan Hijau bersamamu, manusia Klan Hijau lain akan baik hati padamu.”
Aku menatap orang itu. “Yakin itu kata-kata terakhirmu?”
Orang itu terdiam. Dia menelan ludah. Wajahnya terlihat sangat gugup sekaligus ketakutan.
“Aku tahu akan banyak manusia Klan Hijau yang mengincarku. Tapi jika kalian ingin menyingkirkan Klan Ungu, aku rasa tidak akan mudah. Sangat sulit mungkin.”
SLASH
Aku mengakhiri percakapan kami dengan tebasan di lehernya.
Aku berhasil membereskan mereka. Rotundus dan Cyperus berhasil kabur. Tapi tiga orang lainnya sudah tewas di tanganku.
“Aku sepertinya terlalu mengkhawatirkanmu,” kata suara yang aku kenal.
__ADS_1
Aku menoleh. Ichi berdiri di belakangku. Tangannya menggenggam pedang yang berlumuran darah.
“Aku tadi melihat beberapa pengerat mengejarmu. Jadi, aku membereskannya.” Ichi mengayunkan pedangnya hingga pedangnya bersih dari darah. Dia lalu memasukkan kembali pedang ke sarungnya.
Aku menyingkirkan dari mayat manusia Klan Hijau yang baru saja aku bunuh, kemudian menghampiri Ichi.
“Bagaimana kau bisa di sini?” tanyaku.
Ichi menunjuk kalung yang diberikan Kaisar Icus padaku. “Kalungmu. Kalung kita ini adalah pelacak.”
Aku menyentuh kalungku. Aku baru tahu jika selain sebagian tiket kami masuk ke klan lain, kalung ini adalah pelacak.
“Siapa pengerat-pengerati ini?” Ichi menunjuk mayat-mayat manusia Klan Hijau yang bergelimpangan di tanah.
“Manusia Klan Hijau, pengikut Arnold.”
“Arnold? Dia masih hidup?”
Aku mengangguk.
Aku meremas bajuku. Aneh. Nyeri di kakiku mulai kembali dan bahkan semakin parah dari sebelumnya. Obat yang diberikan Grante tidak bertahan selama yang aku pikirkan. Rasa sakit di kaki kananku mulai menjalar ke pinggang. Aku mati-matian berusaha tetap berdiri.
“Hey, kau baik-baik saja?” Ichi menyadari ada yang salah denganku.
Aku bersandar pada batang pohon. Aku memejamkan mata beberapa saat, menahan racun monkshood. “Aku terkena racun monkshood.”
“Monkshood?!” Ichi terlihat sangat terkejut. “Kita harus segera pergi. Kita harus segera mengobatimu.”
Ichi merangkul bahuku. Dia berencana membawaku terbang bersamanya.
“Tunggu, Ichi,” kataku. Aku melepaskan tangannya dari bahuku. “Kita harus mencari seorang anak Klan Hijau dulu. Dia membawa penawar monkshood. Kita harus segera membawanya ke Desa Beringin. Aras sangat membutuhkannya di sana.”
“Kau yang membutuhkannya!” seru Ichi.
Aku menggeleng cepat. “Kita harus segera mencari anak itu.”
Ichi tidak langsung bergerak. Dia mencerna semua ucapanku lebih dulu.
“Setelah ini ceritakan semua padaku,” kata Ichi.
Aku mengangguk.
__ADS_1