
Aku, Aras, Tiha, dan Azuro memandang istana Klan Biru Timur dari kejauhan. Kami sudah berada di Sevilla. Setelah melewati padang rumput itu, kami tidak lagi menemukan hambatan dalam perjalanan kami.
Matahari sore sudah berada di barat, hampir tenggelam. Sebentar lagi malam tiba. Kami memutuskan untuk beristirahat di bukit dekat kota.
“Kenapa kita tidak menginap di penginapan saja?” Azuro berjongkok di dekat api unggun. Nafasnya berasap. Malam di Klan Biru Timur cukup dingin.
“Kita tidak bisa mengambil resiko yang mengancam penduduk biasa.” Aras melemparkan jubah miliknya. “Pakai itu jika kedinginan.”
Azuro menerimanya dengan enggan. Tapi dia tetap memakainya.
Kami duduk di sekeliling api unggun.
“Hey, apa kalian benar-benar ingin menjalani misi ini?” Tiha memulai pembicaraan.
“Aku hanya menjalankan tugas,” jawabku jujur. “Jika seandainya bukan aku yang mendapatkan tugas ini, aku tidak akan ikut campur.”
“Kau pasti patuh sekali dengan atasanmu,” kata Azuro. “Jangan mau dijadikan boneka seperti itu.”
“Bukan begitu. Orang yang dipilih untuk suatu tugas pasti dia adalah orang terbaik yang bisa melakukannya,” jelasku.
“Tapi bagaimana jika ternyata bukan kau yang terbaik dalam menjalankan misi ini?” Aras ganti bertanya.
“Aku tinggal melakukan yang terbaik,” jawabku mantap.
Azuro menghela nafas. “Siapa yang mengajarimu seperti itu? Dia pasti tipe orang yang selalu berbaik hati kepada orang lain.”
“Tidak juga. Kakakku malah orang yang sangat hati-hati dan pemilih,” kataku.
Tiha memeluk lututnya. “Memiliki keluarga biasa seperti orang lain pasti menyenangkan, ya?”
Aku menatap Tiha. Apa yang dia maksud?
“Aku tinggal sendiri di Klan Jingga. Tapi ada sepasang suami istri yang sering mengunjungiku. Mereka bersikap selayaknya orang tua bagiku. Tapi mereka malah dibunuh. Pemilik galur murni memang tidak ditakdirkan memiliki keluarga.” Tiha menatap api yang berpendar hangat.
Aku melihat tangannya bergetar. Air mata menggenang di matanya.
“Bagaimana dengan orang tuamu?” tanyaku.
Tiha menegakkan tubuhnya, terkejut. Aras dan Azuro juga tampak kaget mendengar pertanyaanku.
“Lho, kita kan tidak memiliki orang tua. Pemilik galur murni tidak dilahirkan, Violet,” kata Tiha.
Aku tidak paham maksud Tiha. Jika kami tidak dilahirkan lalu bagaimana caranya ada pemilik galur murni di dunia ini.
“Ada waktu ketika permata klan membelah menjadi dua. Saat itu permata klan yang baru akan berubah menjadi seorang bayi manusia. Di Klan Biru, para bangsawan akan dipilih untuk mengasuh bayi pemilik galur murni. Dengan kata lain pemilik galur murni akan menjadi anaknya. Seperti ayahku, Earl Ciel Geerginlik. Dia terpilih untuk mengasuh bayi pemilik galur murni tiga belas tahun yang lalu.” Azuro menceritakan asal usulnya.
Aku paham ceritanya. Tapi aku masih tidak percaya dengan kenyataan yang dikatakan Azuro. Jika yang dikatakan Azuro itu benar, berarti orang tuaku bukanlah orang tuaku sebenarnya. Dan Vender bukanlah saudaraku.
Aku menyandarkan tubuhku ke batang pohon. Aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar.
“Kau tidak mengetahui ini sebelumnya, Violet?” tanya Aras.
Aku menggeleng. Kenapa aku tidak tahu informasi sepenting itu? Selama ini hidupku selalu berpindah. Aku hanya tinggal sebentar dengan orang lain. Kemudian mereka pergi, mati. Tidak ada yang memberitahuku tentang hal sebenarnya. Mereka sudah mati sebelum mereka memberitahuku. Aku sadar Tiha benar. Pemilik galur murni memang tidak ditakdirkan untuk memiliki keluarga.
Aku berdiri lalu melangkah ke pergi.
Aku bisa mendengar suara mereka. Tiha yang berusaha mengejarku dan Aras yang menahannya.
“Violet, tunggu!” seru Tiha.
Aras menahan Tiha. “Biarkan dia sendiri dulu.”
“Tapi…”
Mereka bertiga hanya memandangiku yang menjauh, membiarkan aku untuk sendiri.
Aku menatap matahari terbenam di pinggir tebing. Sudah lama sejak terakhir kali aku melihat matahari terbenam. Seingatku terakhir kali di Klan Putih. Tapi saat itu aku tidak melihat hingga benar-benar tenggelam karena pertengkaranku dengan Aras.
Entah apa yang aku rasakan sekarang. Bingung, sedih, marah, kecewa. Semuanya menjadi satu. Aku marah dengan Aras. Dia tahu tentang hal penting itu tapi dia tidak pernah memberitahuku.
Aku menyayangi ayah, ibu, dan Vender. Setelah mengetahui bahwa mereka bukan keluarga kandungku, aku masih tetap menyayangi mereka. Tapi aku menjadi merasa bersalah. Mereka mati karena aku. Aku tidak bisa melindungi mereka. Padahal mereka telah menjagaku, seorang yang bukan siapa-siapa.
Setelah ayah, ibu, dan Vender pergi, aku merasa sendiri. Aku merasa kesepian. Dan setelah aku mengetahui siapa aku, aku menjadi sadar bahwa aku memang sendiri, benar-benar sendiri.
*****
Aku membuka mataku. Aku masih berada di tepi tebing tapi langit sudah berubah malam. Aku sepertinya tertidur karena lelah memikirkan banyak hal. Bulan hampir berada di puncaknya, pertanda akan tengah malam.
__ADS_1
Aku berdiri. Aku agak heran kenapa tidak ada yang membangunkanku. Apa mereka tidak khawatir kepadaku yang tidak kunjung kembali? Aku melangkahkan kaki ke tempat Tiha, Aras, dan Azuro. Aku rasa mereka sekarang sedang tidur.
“Kenapa tidak ada orang?”
Aku tidak mendapati siapapun di tempat istirahat kami. Api unggun telah lama padam. Aku melihat banyak jejak, selain jejak milik Aras, Azuro, dan Tiha. Apa yang terjadi pada mereka?
Aku melepas ikatan kuda. Aku segera memacunya mengikuti jejak Aras, Azuro, dan Tiha. Jejak mereka menuntunku masuk ke dalam kota Sevilla, tepatnya ke arah istana Klan Biru Timur.
Aku berhenti di dekat gerbang barat istana. Jejak mereka masuk ke dalam gerbang. Tapi aku tidak bisa mengikutinya. Ada dua empat orang penjaga di gerbang itu.
Aku memperhatikan jejak Tiha, Aras, dan Azuro. Jejak mereka masih terang. Itu berarti mereka baik-baik saja. Setidaknya aku bisa lebih lega setelah mengetahui keadaan mereka.
Aku mengeluarkan surat ratu Klan Biru Timur dari saku bajuku. Tadi ketika kami istirahat, Azuro memberikanku surat ini karena benda ini mengganjal di sakunya.
Aku menatap surat berstempel biru keemasan ini. Aku bisa memanfaatkan surat ini untuk masuk ke istana. Surat itu aku masukkan kembali ke saku. Aku ganti memandang istana. Aliran energi besar mengalir dari area istana. Aku yakin itu berasal dari sapphire. Klan Biru Timur menyembunyikan sapphire di dalam istana.
Aku memacu kudaku mendekati sumber energi sapphire. Sumber itu berada di selatan istana. Bagian selatan istana adalah bagian yang paling di jaga ketat setelah pintu utama. Selain itu bagian selatan istana memiliki pertahanan alami berupa sungai besar.
Aku kembali ke barat istana. Empat prajurit itu masih di sana. Mereka terlihat lelah karena sekarang sudah tengah malam, waktu dimana mereka seharusnya tidur dan beristirahat.
Aku turun dari kuda. Aku bisa memanfaatkan keadaan mereka untuk menyelinap ke dalam area istana. Aku memegang tali kekang kuda. Tepat ketika para prajurit itu lengah, aku memukul tali kekang, membuat kuda berlari ke arah mereka.
Mereka jelas terkejut. Selagi mereka menghindari terjangan kuda, aku meloncat masuk ke dalam area istana. Aku berhasil mendarat di area istana. Tidak ada yang berjaga di daerah ini. Aku segera mengikuti jejak Aras, Tiha, dan Azuro.
Aku masuk ke lorong yang mengarah ke bawah tanah. Jejak disini hanya sedikit. Kemungkinan penjagaan di daerah ini tidak ketat. Aku terus berjalan hingga menemukan lorong yang bercabang. Jejak Tiha, Aras,dan Azuro terpisah di sini. Tiha pergi ke kiri, sedangkan Aras dan Azuro pergi ke kanan.
Aku diam sebentar, menimbang lorong mana yang harus aku pilih.
Akhirnya aku memutuskan untuk bergerak ke lorong kanan, tempat Aras dan Azuro pergi. Aku memutuskan itu bukan karena aku lebih khawatir dengan keadaan Aras dan Azuro tapi jejak Tiha masih terang, pertanda dia baik-baik saja. Jika aku berhasil bertemu dengan Aras dan Azuro, mereka bisa membantuku untuk menyelamatkan Tiha dan mengambil sapphire.
Lorong ini sempit dan gelap. Tidak ada penerangan sama sekali. Aku menelusuri lorong hingga lorong ini berubah menjadi belasan ruang sel berjeruji, penjara. Hampir seluruh sel kosong. Aku mengikuti jejak Aras dan Azuro. Jejak itu masih ada hingga ujung penjara.
“Aduh.” Aku terkejut mendapati ada dinding di depanku.
Keistemewaanku hanya membuatku bisa melihat jejak meskipun di tempat gelap. Dinding tidak memiliki jejak yang bisa aku lihat.
Krangg…
Ada seseorang masuk ke dalam penjara. Aku masuk ke dalam salah satu sel. Aku menutup seluruh tubuhku dengan jubah.
Seorang prajurit berjalan sambil membawa lentera. Dia berhenti di depan dinding. Tangannya meraba dinding. Aku mengamatinya. Dia membentuk sebuah pola di dinding. Setelah itu dinding bergerak terbuka, menampilan ruangan lain.
Aku segera keluar dari sel. Sebelum prajurit itu menyadariku, aku memukul tengkuknya hingga pingsan. Aku meletakkan prajurit pingsan itu dalam ruangan di balik dinding.
Ruangan di balik dinding adalah penjara. Sama dengan di luar. Tapi jeruji di penjara dalam dialiri energi sapphire. Tingkat keamanan di sini jauh lebih tinggi dari penjara luar.
Aku menerangi sel penjara satu persatu. Ada beberapa sel yang terisi, ada juga yang kosong. Kebanyakan sel yang terisi hanya berisi mayat yang mati lemas. Mereka yang yang masih hidup berusaha memberontak keluar saat aku menerangi mereka. Tapi begitu mereka menyentuh jeruji, mereka langsung merosot ke bawah, kehilangan tenaga.
Jejak Aras dan Azuro masuk ke sebuah sel di kananku. Aku menerangi sel itu. Benar saja, Aras dan Azuro ada di sana. Tangan mereka diborgol. Aku melihat aliran energi Aras dan Azuro ke borgol mereka. Borgol itu berbahaya, benda itu menyerap energi pemakainya.
“Aras! Azuro!” Aku memanggil mereka.
Mereka berusaha melihatku dengan bantuan lentera yang aku bawa.
“Violet!”
Aras dan Azuro mendekatiku. Aku pun begitu.
“Hati-hati. Jeruji ini bisa menghisap energimu.” Aras memperingatkan.
Kami menjaga jarak dari jeruji sel.
“Apa yang terjadi?” tanyaku.
“Prajurit Klan Biru Timur menangkap kami. Aku sudah tahu memberitahu mereka bahwa kita adalah utusan Klan Biru Barat yang diundang ke sini tapi mereka tidak peduli. Dan sialnya, aku malah memberimu surat dari ratu Klan Biru. Aku jadi tidak bisa membuktikannya,” jelas Azuro.
“Tiha terpisah dengan kami. Aku tidak tahu dia dibawa kemana,” kata Aras.
Aku berpikir sejenak. Sekarang aku harus mengeluarkan Aras dan Azuro dari sini lalu pergi menyelamatkan Tiha. Pedang biasa tidak akan bisa memotong jeruji besi. Aku menatap spatha pemberian Azuro.
Selama ini aku sudah berkutat dengan banyak pedang. Pedang yang diberikan Azuro kuat. Pedang ini memang berat tapi di situlah titik terpentingnya. Tekanan dari berat pedang memberikan gaya lebih untuk membelah sesuatu. Itu memudahkanku jika aku mengayunkan secara vertikal tapi akan menyusahkanku ketika mengayunkan secara horinzontal.
“Kalian mundurlah.” Aku mengangkat pedangku.
“Kau ingin menghancurkannya dengan pedang?” tanya Azuro. “Jeruji ini sangat kuat.”
“Hati-hati, Violet. Jeruji ini bisa menyerap energimu,” kata Aras.
“Tenang saja. Pedang ini tidak butuh energi permata klan.” Aku mengangkat pedangku.
Aku mengayunkan pedangku. Tumbukan pedang dengan jeruji menimbulkan percikan api, sekaligus dorongan yang besar hingga membuatku terpental, menabrak sel di belakangku.
__ADS_1
Dorongan tadi hampir meretakkan tulang rusukku. Aku tidak mengira jika jeruji ini tidak hanya menyerap energi saja tapi juga memantulkan serangan.
“Kau baik-baik saja?” tanya Aras.
Aku mengangguk.
Aku mengayunkan pedangku sekali lagi. Benturan itu membuat percikan api lagi. Aku kembali terdorong ke belakang tapi aku sudah menguatkan kuda-kudaku agar tidak terpental seperti sebelumnya.
Serangan yang aku lakukan cukup kuat. Tapi tidak berhasil memotong jeruji. Jeruji itu hanya lecet. Aku kembali mengayunkan pedangku. Aku mengulanginya berkali-kali.
Aku mengatur nafasku. Jeruji sel ini sangat kuat. Aku kehabisan tenaga setelah mencoba menghancurkannya dan menahan pantulan seranganku. Aku bertumpu pada pedangku. Bisa-bisa energiku habis hanya untuk menghancurkan sel ini. Aku memang bodoh yang mau menghancurkan jeruji sel dengan pedang. Aku tidak bisa membiarkan Aras dan Azuro terus berada di dalam sana. Tidak hanya jerujinya saja yang menyerap energi. Tapi penjara ini sendiri juga menyerap energi tahanan di dalamnya. Mereka bisa mati lemas jika terus terjebak di sana.
“Sebaiknya kau pergi saja dari sini. Jeruji ini tidak akan hancur.” Azuro menatapku yang kelelahan.
“Apa kau mau mati di sini? Tidak hanya jeruji saja yang menyerap energi kalian. Seluruh bagian penjara ini juga menyerap habis energi orang di dalamnya. Aku yakin kalian berdua juga sadar.” Aku menyiapkan pedangku lagi.
Aku mengumpulkan kekuatanku. Aku mengayunkan pedangku, menebas setiap jeruji di depanku. Beberapa jeruji mulai patah. Semangatku berkobar setelah melihatnya. Aku terus menebas jeruji itu.
Klang…
Aku berhasil membuat lubang besar di sel penjara Aras dan Azuro. Mereka segera keluar.
“Kau lama sekali.” Azuro terjatuh begitu keluar dari sel.
Energinya hampir terkuras habis. Aku memotong borgol Azuro. Borgol itu adalah benda paling banyak menyerap energinya.
Aku bisa melihat energi Aras yang tinggal sedikit. Seharusnya dia sudah pingsan seperti Azuro. Tapi dia masih bisa berdiri. Daya tahannya mengagumkan.
“Kita harus segera keluar dari sini. “Tapi kita harus membuka dinding itu.” Aku menoleh ke dinding, pintu masuk penjara.
“Serahkan padaku.”
Aras maju ke depan dinding. Dia meletakkan tangannya di sana. Dinding itu pun hancur. Tapi Aras juga ikut roboh. Dia menggunakan keistimewaannya ketika energinya tinggal sedikit. Itu sangat berbahaya.
“Kau baik-baik saja?” Aku mendekati Aras sambil menopang Azuro.
Aras mengangguk. Dia lalu berdiri. Kami keluar dari lorong penjara. Langkah Aras agak sempoyongan tapi dia masih bisa berjalan mengikutiku. Dia bahkan membantuku menopang Azuro.
Ketika berada di bagian lorong yang bercabang, aku sempat melihat jejak Tiha yang masih terang. Dia baik-baik saja.
Aku, Aras, dan Azuro berhasil keluar ke halaman istana. Tapi yang menjadi masalah besar bagi kami adalah melewati tembok istana. Jika kami bertiga dalam keadaan baik-baik saja, ini adalah hal mudah. Tapi sekarang aku membawa Azuro yang sedang pingsan.
Aku mengamati sekitar sebelum maju ke tembok benteng istana. Ada beberapa prajurit berjaga di daerah yang akan kami lewati. Sepertinya penjagaan lebih diperketat setelah peristiwa kuda lepas tadi.
“Violet, larilah ke tembok itu ketika kau mendengar aba-abaku. Aku akan mengurus mereka,” kata Aras.
Aku agak khawatir dengan keadaannya sekarang. Dia terlihat lebih pucat setelah menghancurkan tembok tadi. Aku harap dia tidak pingsan setelah ini.
Aku dan Aras menunggu para prajurit fokus pada tempat lain. Tepat pada saat itu Aras memberitahuku untuk lari.
“Sekarang, Violet!”
Aku dan Aras berlari ke tembok benteng sambil membawa Azuro. Aku bisa merasakan tanah yang kami pijak terangkat setinggi puncak benteng. Aku mendengar para prajurit berteriak. Mereka menembaki kami dengan senapan. Aras membuat pelindung untuk menutupi serangan itu. Begitu kami sampai di puncak benteng, kami meloncat keluar. Aras sudah membuat tanah yang ada diluar benteng sejajar dengan tanah yang kami pijak sebelumnya. Dia membawa kami menjahui tembok dengan tanah yang digerakkannya.
Kami berhenti di antara rumah penduduk. Aras berlutut sambil menahan tubuhnya. Keringat bercucuran dari kepalanya. Dia sudah diambang batasnya.
Para prajurit itu masih mengejar kami. Aku bisa mendengar suara langkah kaki mereka. Aku menyandarkan Azuro ke salah satu rumah.
Aku berdiri di depan Azuro dan Aras. Pedang sudah siap di tanganku. Aku akan menghadang para prajurit yang mengejar kami.
Prajurit-prajurit itu datang. Aku bergerak menyerang. Aku mengayunkan pedang menyilang, menebas mereka. Aku menusuk, memotong semua yang ada di depanku. Aku menghindari tebasan mereka lantas membalasnya dengan cepat.
Sebuah peluru menembus perut kiriku. Aku mengernyit menahan sakit. Masih ada beberapa prajurit yang tersisa. Aku harus menghabisi mereka sebelum mereka melakukan itu pada kami.
Aku kembali menebas, menyerang mereka. Beberapa prajurit bergerak mundur. Mereka tidak ingin bernasib sama seperti teman-teman mereka. Tapi beberapa prajurit masih bertahan. Mereka adalah pemanah yang bersembunyi di atap bangunan.
Aku menekan perutku yang terluka, menahan pendarahannya agar tidak semakin parah. Pemanah-pemanah itu menarik busur mereka. Aku tidak bisa bergerak cepat menghindari serangan mereka. Lukaku membuatku sulit berlari.
Slash… slash…
Para pemanah melepas anak panahnya. Aku yang tidak sempat lari, menggunakan pedangku sebagai pelindung. Aras ternyata bergerak lebih cepat. Dia membentuk batu melengkung untuk melindungiku dari hujan panah.
Aku melihat Aras berdiri. Dia menggerakkan batu-batu melesat ke atas. Mereka menghantam para pemanah. Selagi Aras menyerang balik mereka, aku mencoba menghentikan pendarahan di perutku.
Darahku banyak keluar, membasahi hingga kakiku. Aku menguatkan diri untuk tetap bertahan. Aku bersandar pada batu. Peluru itu melukai organ vitalku. Ada banyak pembuluh di sana. Aku bisa kehilangan banyak darah.
Aras berhenti menyerang para pemanah setelah memastikan mereka sudah pergi. Dia bergegas mendekatiku. Dia merobek pakaiannya lalu memakai kainnya untuk menekan lukaku.
“Bertahanlah sebentar.”
Aras merobek kembali pakaiannya. Dia mengikatkan kain di peritku untuk menahan lukaku.
Pandanganku semakin samar. Aku bisa mendengar Aras berusaha mempertahankan kesadaranku. Dia terus memanggil namaku.
__ADS_1
Aku memejamkan mataku sejenak lalu membukanya. Pandanganku masih samar tapi sedikit lebih jelas. Aku lihat Azuro berjalan mendekati kami. Dia tampak agak bingung dengan situasinya tapi dia cepat mengerti.
Aras dan Azuro saling berbicara. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Sesaat kemudian tubuhku terangkat, Aras menggendongku. Setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi.