
Aku, Aras, dan Ty tidak menghabiskan banyak waktu di Desa Trap. Kami meninggalkan desa itu tak lama setelah Ty tiba.
Kami harus sesegera mungkin pergi dari desa sebelum banyak penduduk keluar dari rumah mereka. Kami tidak bisa mengambil resiko tinggal di sana dalam waktu yang lama.
Jika klan asing sepertiku dan Aras masih berkeliaran di sekitar desa, mungkin kami akan ditangkap oleh mereka mengingat mereka sangat membenci klan asing.
Akibat badai salju lebat yang turun tadi malam, salju menumpuk sangat tebal. Kami sampai tidak bisa berjalan di atasnya. Kaki kami melesak jauh ke dalam salju hingga tubuh kami nyaris terbenam. Aras perlu menyingkirkan salju di depan kami–membuat jalan agar aku dan Ty bisa lewat.
“Nona, apa masih lama?” tanya Ty.
Aku melongokkan kepalaku ke sekeliling. Lautan salju masih membentang di depan kami. Tidak ada tanda-tanda tanah atau rerumputan. Jadi, aku menjawab pertanyaan Ty dengan anggukan.
“Aku rasa perjalanan kita di sini masih panjang, Ty,” tambahku.
Ty menghela napas lelah. Tinggi tumpukan salju lebih tinggi dari tubuhnya. Dari tadi, dia hanya bisa melihat dinding salju dan langit biru. Itu pasti sangat membosankan untuknya.
“Aku ingin sesuatu yang menyenangkan,” gumam Ty.
Aras berhenti melangkah. Dia memandang hutan pinus di depan kami.
“Ada apa, Aras?” tanyaku.
Aku ikut memandangi hutan pinus di depan kami. Aku tidak merasakan hal yang mencurigakan atau berbahaya dari sana. Hutan itu tampak biasa saja.
“Aku rasa kita bisa merubah perjalanan kita ini menjadi lebih menyenangkan,” kata Aras.
“Maksudmu?” tanya Ty.
“Ikut saja denganku,” ucap Aras.
Aras membawaku dan Ty ke hutan pinus itu. Aku dan Ty hanya mengikuti Aras tanpa tahu apa yang sebenarnya dia rencanakan. Kami berhenti di depan sebuah pohon pinus yang cukup besar.
“Violet, apa kau bisa menebangnya?” tanya Aras sambil menunjuk pohon pinus besar di depan kami.
Aku mengangguk. “Tapi untuk apa?”
Aras tersenyum lebar. “Papan seluncur.”
Aku terkesiap. Aku mengerti maksud Aras sekarang. Dia berencana membawa kami melewati salju menggunakan papan seluncur.
Ide Aras untuk membuat papan seluncur sangat bagus. Itu pasti akan sangat menyenangkan. Aku jadi ikut tersenyum lebar karena memikirkannya.
__ADS_1
“Baiklah. Kalian mundur dulu.” Aku menghunus pedangku.
Aras dan Ty mundur. Setelah mereka cukup jauh dariku, aku mulai mengayunkan pedangku. Cukup dengan dua kali tebasan, pohon di depanku tumbang.
Setelah pohon itu tumbang, aku segera memangkas dahan-dahan kecil dari batang utamanya. Aku memotong batang pinus membentuk papan seluncur salju.
“Nona, hebat sekali! Bagaimana Nona bisa membuatnya secepat ini? Dan bahkan Nona hanya menggunakan pedang! Hebat sekali!” seru Ty kagum ketika melihat papan seluncur yang aku buat.
“Kemampuan pedang Violet tidak sebatas dalam bertarung saja. Dia juga sangat terampil membuat berbagai benda seperti ini,” kata Aras sambil mengacak rambut Ty.
“Wah, Nonaku memang sangat hebat!” Ty mengacungkan dua jempolnya padaku.
Aku tertawa. Ty terlalu memujiku.
“Tapi bagian yang paling hebat ketika kita menaikinya,” kataku.
Ty mengangguk semangat.
Kami membawa papan seluncur keluar dari hutan pinus. Berseluncur di antara pepohon merepotkan dan berbahaya. Kami tidak mau berakhir dengan menabarak pohon. Selain itu tempat itu di luar jalur kami menuju Desa Beringin.
Aras menempatkan papan seluncur di hamparan salju. Dia naik ke papan seluncur lebih dulu. Setelah Aras duduk, aku menaikkan Ty ke papan seluncur. Aku naik paling terakhir.
“Apa kalian sudah siap?” tanya Aras.
“YAY!” sahutku dan Ty.
“Kalau begitu kita meluncur!” seru Aras.
Aras mendorong papan seluncur dengan tangannya. Papan seluncur mulai bergerak. Aku, Ty, dan Aras menuruni pegunungan dengan kecepatan tinggi.
“WOOO!!”
Aku, Ty, dan Aras berteriak senang.
Berkat badai salju tadi malam, semua permukaan tanah di pegunungan tertutup salju yang sangat tebal. Saking tebalnya, batu-batu yang banyak digunung tertutup oleh salju. Pegunungan ini sekarang seperti karpet salju super raksasa.
Angin menerpa wajahku dengan kuat. Papan kami meluncur dengan sangat cepat di atas salju. Aku berpegangan erat pada Aras sambil memegangi Ty agar dia tidak terlempar dan terbang dari papan seluncur.
Aras mengendalikan papan seluncur dengan sangat baik. Kami berkelok mengikuti bentuk tumpukan salju. Butiran salju berterbangan setiap kami lewat. Peluncuran kami berjalan mulus hingga terlihat sebuah jurang di depan.
“Aras! Awas ada jurang!” teriak Ty sambil menunjuk jurang di depan kami.
__ADS_1
Papan seluncur hampir sampai di tepi tebing dan kami masih bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Jurang terbentang lebar di depan. Tapi aku merasa papan seluncur kami malah bergerak lebih cepat.
“Aras?!” Ty berteriak takut.
“Tenang saja. Pegangan semua!” seru Aras.
Aras tidak menghiraukan Ty yang memegang erat pinggangnya. Ty memejamkan matanya sangat rapat ketika kami semakin dekat dengan jurang.
Wushhh..........
Papan meluncur melewati tebing dan terbang. Waktu seakan melambat. Aku bisa melihat butiran-butiran yang salju yang ikut terbang bersama kami.
Brukk... Fushhh....
Kami mendarat dengan sangat keras hingga salju di sekitar kami berhamburan. Tapi kami langsung bisa meluncur kembali dengan aman.
“Aras! Kau gila!” Ty menepuk punggung Aras. “Kau membuat jantungku hampir meledak.”
Aras tertawa. “Tapi menyenangkan, kan?”
“Yap!” sahut Ty.
Kami masih terus meluncur di atas salju dengan kecepatan tinggi hingga aku melihat sosok perempuan di depan kami.
“Aras! Awas!” teriakku.
Perempuan itu tidak berlari ataupun menyelamatkan diri meskipun jarak kami makin dekat. Dia hanya diam membeku di sana.
Aras berusaha mengerem papan seluncur. Kami hampir mendekati perempuan itu tapi papan seluncur belum juga berhenti.
Ty memejamkan matanya lagi. Kali ini dia sampai menyembunyikan wajahnya di punggung Aras. Dia tidak mau melihat kami menabrak perempuan itu.
“Sedikit lagi,” desis Aras.
Laju papan seluncur kami sudah melambat dari sebelumnya. Tapi laju kami tetap cepat.
Tepat di depan perempuan itu, papan seluncur kami berhenti karena menabrak batu. Aku, Ty, dan Aras terpental dari papan dan jatuh menghujam salju.
__ADS_1