
“Semua maju!!!”
Denting pedang terdengar dari berbagai arah. Desingan peluru melesat di antara prajurit yang bertempur.
Nafasku memburu. Aku menyabetkan pedang ke pemimpin lawan yang menyerangku. Tanpa perlawanan berarti, orang itu roboh dihadapanku.
“Komandan!”
“Bunuh anak itu!”
Beberapa orang mengepungku. Aku bergerak lincah menghindari setiap senjata. Aku tidak pernah berdansa di aula istana. Medan perang adalah tempat dansaku.
“Awas di belakangmu!”
Aku berbalik tapi terlambat. Seorang prajurit menusuk perutku. Aku membeku. Pedang menusuk ke bagian dalam perutku.
“Hiyahh…”
Seseorang memenggal kepala prajurit itu.
Orang itu membawaku menjauh dari medan perang.
Tiba-tiba semua berubah. Aku berada di tempat lain. Perutku dibebat perban. Seorang anak laki-laki yang aku kenal duduk di sampingku. Dia yang menyelamatkanku di medan perang.
“Kau sudah–” Perkataannya terputus. Seorang prajurit menyeret kami berdua keluar.
“Kalian tidak berguna. Prajurit macam apa yang meninggalkan medan perang ketika berperang. Benar-benar payah!” mereka melemparkan kami ke dalam jeruji besi yang berbeda.
Darah merembes dari perban di perutku.
“Hey, jangan bawa dia ke sini. Dia sedang terluka.” Anak itu berteriak kepada prajurit untuk memindahkan aku.
Prajurit itu kembali. Dia menggenggam tanganku lalu menarikku melalui jeruji penjara. Aku berteriak kesakitan. Luka di perutku mengeluarkan darah lebih banyak, mengalir hingga membasahi pakaianku.
“Hentikan!” Anak itu menarik baju si prajurit.
Prajurit mengalihkan perhatiannya ke anak itu. Dia melepas tanganku lalu pergi mengambil sebuah tongkat.
Aku melihatnya dengan ketakutan. Jantungku berdegup kencang. Prajurit itu memuulkan tongkat pada jerujiku dan anak itu. Pukulannya menghasilkan suara yang memekakkan telinga.
“Sebaiknya kalian diam! Kalian masih beruntung diberi kesempatan untuk hidup.” Prajurit itu memukulkan kembali tongkat itu. “Yah, walaupun sebentar lagi kalian juga mati, sih.”
Pandanganku berubah. Aku terlihat lebih kotor dan kusut dari sebelumnya. Seorang prajurit memasuki penjaraku. Dia menarik keluar dari penjara.
Anak laki-laki itu masih ada. Tangannya menjulur keluar dari jeruji untuk menggapaiku. Tapi prajurit lain memukul jeruji penjara sekaligus tangannya.
“Violet!”
Keadaan kembali berubah. Jauh lebih buruk. Aku dibaringkan di kayu pasungan. Aku sudah pasrah dengan kematian yang akan menimpaku. Algojo sudah mengangkat pedangnya. Aku memejamkan mata.
Satu detik. Dua detik. Tidak terjadi apa-apa. Aku membuka mataku. Darah ada dimana-mana. Di tengah puluhan mayat, anak laki-laki itu berdiri dengan tubuh yang berlumuran darah.
Pandanganku berubah. Ini panti asuhanku dulu. Ada cairan yang menggenang di lantai. Darah. Di hadapanku tiba-tiba muncul adegan yang pernah aku lihat. Anak laki-laki itu lagi. Dia menghunuskan pedang ke pemilik panti asuhan.
“Kebahagiaan palsu lebih baik musnah, Violet.”
“Tidak!”
****
Aku terbangun dengan keringat yang membasahi tubuhku. Aku merasakan sebuah tangan menyentuhku. Aku bergerak cepat mengambil pedangku lalu mengayunkan ke orang yang menyentuhku.
“Hey, ini aku.” Aras meloncat menghindari seranganku.
“Kau.” Aku menyimpan kembali pedangku. Aku mengusap rambutku ke belakang. Aku mengatur nafas untuk menenangkan diri.
Aku baru saja bermimpi buruk.
“Kau mimpi buruk tentang itu lagi, ya?” tanya Aras.
Aku hanya memandangnya, tidak menjawab.
“Ichi, sudah tidur?” Aku malah bertanya.
“Ya. Sekarang giliranku berjaga.”
Aku bersandar di batang pohon. Aku meraih minumku. Minum bisa membuat tubuh menjadi lebih rileks.
“Apa kau baik-baik saja jika masuk ke wilayah Klan Biru?” Aras bertanya lagi.
Aku menghela nafas. “Aku tidak apa-apa.”
“Jangan memaksakan diri.”
__ADS_1
“Bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja masuk ke sana?”
“Kau menanggung beban lebih berat daripada aku saat itu, Violet.”
Aku terdiam. Aku memiliki kenangan buruk dengan Klan Biru. Saat kecil, dulu jauh sebelum aku tinggal di panti asuhan, aku menjadi prajurit tambahan di Klan Biru. Prajurit Klan Biru Barat.
Aku prajurit budak di sana. Aku digunakan dengan seenaknya seperti alat hingga akhirnya aku tertangkap prajurit Klan Biru Timur. Aku diadili di sana karena membunuh komandan perang Klan Biru Timur.
Aku tidak sendiri. Aku bersama anak laki-laki yang ada di mimpiku. Dia adalah Aras. Kami di penjara. Di siksa. Dan akhirnya dijatuhi hukuman mati. Tapi saat itu entah apa yang dipikirkan Aras. Dia membunuh semua prajurit di tempat pemancungan. Berkat itu kami bisa pergi dari Klan Biru.
Apa yang aku alami di Klan Biru sangat keras untukku yang masih kecil. Aku terus dihantui mimpi buruk ketika mendengar nama Klan Biru.
“Kau jelas masih trauma dengan kejadian di Klan Biru. Kau akan tetap masuk ke sana?”
Aku menggenggam rapierku kuat-kuat. “Itu hanya masa lalu. Aku memiliki tugas di Klan Biru. Seburuk apapun keadaannya aku akan tetap ke sana.”
Aras tersenyum mendengarnya.
Seandainya Aras bukan orang yang membunuh orang tuaku, Vender, ataupun Ova, sekarang akan terasa lebih baik.
Tiba-tiba Aras diam. Wajahnya menunjukkan muka serius.
“Bangunkan, semuanya! Kita harus pergi dari sini,” seru Aras.
Aku tidak mengerti maksud Aras tapi aku membantunya membangunkan teman-teman yang lain.
“Ada apa?” tanya Tiha yang masih mengantuk.
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang begitu keras. Dari kejauhan kami melihat tanah amblas ke bawah.
“Cepat naik ke kuda!” Ichi berseru keras.
Kami semua melakukan perintah Ichi. Kami semua memacu kuda menjauhi tanah yang merambat runtuh. Kuda kami bergerak cepat tapi tanah yang runtuh itu bergerak lebih cepat. Tanah yang dipijak kuda kami runtuh ke bawah.
Aku mengendalikan kudaku untuk meloncat, memijak batuan yang jatuh. Di belakangku, Azuro berpegang erat padaku.
Sulit membuat kuda melocat untuk memijak batu-batu yang jatuh. Ini pertama kalinya aku berkuda sambil meluncur ke permukaan.
“Cih!”
Kudaku tergelincir dari batu terakhir yang dipijak. Kami jatuh bebas ke bawah. Aku berhasil tetap bertahan di atas kuda tapi Azuro diterbangkan angin ke atas.
“Violet!” Azuro berteriak. Tangannya berusaha menggapaiku.
Seperti keajaiban. Tiba-tiba muncul sayap yang membentang di punggung kuda. Kudaku terbang. Aku segera melesat ke Azuro. Dia lalu jatuh tepat di punggung kuda. Aku dan Azuro berhasil selamat tapi ini masih belum selesai. Banyak batuan raksasa yang jatuh. Kami harus menghindarinya.
“Pegangan, Azuro.”
“Violet, awas di depan!” Azuro memperingatkan.
Sebuah batu besar jatuh di depan kami. Aku menarik kudaku untuk terbang ke atas.
Kudaku meringkik. Aku tidak berhasil menghindari batu itu. Kaki belakang kuda menabrak batu itu. Kuda yang aku dan Azuro tunggangi bergerak kesakitan. Kami terlempar.
“Azuro!” Aku berusaha meraih tangan Azuro yang tidak jauh dariku.
Ini masih malam. Keadaan masih gelap dan angin dingin berhembus kencang. Aku tidak masalah dengan keadaan ini. Tapi jelas masalah untuk yang lain. Apalagi Azuro. Dia yang termuda diantara kami. Badannya kecil. Dia mudah diterbangkan angin ke manapun.
“Dapat.” Aku berhasil mendapatkan tangan Azuro.
“Azuro pegang kedua tanganku. Lalu bentang tubuhmu sepertiku,” teriakku.
Azuro mengikuti perintahku. Dia menggenggam kedua tanganku lalu membentangkan tubuhnya sepertiku. Di Klan Ungu, aku pernah beberapa kali melakukan terjun bebas dari ketinggian beberapa ribu meter dari permukaan. Aku tahu teknik-teknik yang digunakan ketika terjun bebas.
Beruntung sejauh ini tidak ada batu yang jatuh ke arah kami. Beberapa nyaris melewatiku dan Azuro.
“Bagiamana kita mendarat?” tanya Azuro sambil berteriak.
“Kita harus jatuh di air,” jawabku.
Aku menengok ke bawah. Lautan biru yang luas siap menerima kami.
“Violet, di atas!”
Aku menengok ke atas. Sebuah batu jatuh ke arah kami. Aku segera menarik Azuro menghindari batu itu. Tapi ternyata ada sebuah batu lain yang jatuh ke tempat berpindah kami.
Azuro menutup matanya. Aku mengeluarkan pedangku, bersiap untuk membelah batu itu menjadi dua. Tapi sekelebat bayangan bergerak cepat di depan kami lalu menghancurkan batu itu.
“Kau!”
Aras bergerak di atasku dan Azuro tanpa kudanya. Dia menghancurkan batu-batu yang jatuh.
Sementara itu aku dan Azuro meluncur jatuh ke sebuah batu besar. Aku menjadikan batu itu sebagai tempat mendarat.
“Azuro!”
Azuro langsung terjatuh ketika mendarat di atas batu. Dia pingsan. Aras ikut mendarat di atas batu.
“Bawa Azuro terjun ke laut. Aku akan menghancurkan batu-batu ini,” kata Aras sambil menghancurkan batu-batu yang jatuh. Dia meledakkan batu-batu itu menjadi debu.
__ADS_1
Aku mengangguk, kemudian meloncat dari batu, terjun ke laut yang jaraknya masih sekian ribu meter.
Batu-batu melesat di antaraku dan Azuro. Aku mendekap Azuro erat. Bisa-bisa dia dihantam batu atau jatuh terbawa angin. Kami meluncur dengan cepat. Kulitku terasa panas karena bergesekkan dengan udara dan batu-batu kecil.
Duakk
Sebuah batu jatuh di belakang kepalaku. Batu itu menghantamku dengan kuat hingga mataku terasa kabur. Darahku terbang ke atas. Aku mendekap tubuh Azuro lebih erat. Aku tidak boleh melepaskannya.
Sebuah batu menghalangi jalan kami. Aku mengeluarkan pedangku. Aku menebas batu itu. Serpihan batu itu menggores wajahku. Pandanganku makin menggelap. Kepalaku berdenyut hebat. Rapier lepas dari genggamanku.
Aku harus bertahan.
Laut sudah tidak jauh lagi. Aku mengerahkan tenagaku untuk terus sadar. Aku sudah seperti meteor yang jatuh. Darahku yang terbang ke belakang menjadi ekor meteorku.
Pandangku berubah menjadi gelap total tepat ketika kepalaku menyentuh air laut. Saat itu juga aku merasakan sesorang memelukku dan Azuro dari belakang. Kami bertiga jatuh ke dalam laut.
Orang itu tidak melepas genggamannya. Dia menarikku. Aku bisa merasakannya tapi entah kenapa aku tidak bisa melihatnya. Semuanya terlihat gelap. Benar-benar gelap. Aku tidak pernah merasakan kegelapan seperti ini. Aku hanya melihat beberapa jejak diantara kegelapan itu.
Nafasku terasa sesak. Aku harus segera keluar dari air. Tapi sebelum aku keluar ke permukaan laut, kesadaranku sudah hilang.
*****
Aku membuka mataku. Aneh. Semuanya gelap. Aku tidak melihat apapun di sini.
Apa aku telah mati?
Aku bangkit untuk duduk. Kepalaku masih terasa sakit.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu menyentuh tanganku. Aku segera menarik tanganku. Benda apa yang menyentuhku di kegelapan seperti ini.
“Hey, kau sudah sadar?”
Aku mendengar suara Aras tapi aku tidak melihat wujudnya.
“Aku mendengarmu tapi aku tidak melihatmu. Di sini gelap sekali. Kita ada dimana?”
Aras diam tidak menjawab.
“Hey, kau masih di sini, kan?”
Sekali lagi ada tangan yang menyentuhku. Kali ini dari sisi yang berlawanan. Aku segera menepisnya.
“Tidak apa-apa. Ini aku, Azuro.”
“Kau juga di sini? Kita dimana? Kenapa sangat gelap di sini? Aku juga tidak melihat jejak kalian ataupun jejak makhluk lain. Tempat ini benar-benar aneh.”
Azuro juga tidak menjawab. Semuanya diam. Aku hanya mendengar suara deburan laut. Aku bisa mencium udara yang terasa asin dan lengket.
“Apa kita ada di gua yang dekat dengan pantai? Aku bisa mendengar suara ombak.”
Azuro dan Aras tetap diam.
“Ini masih malam, ya? Pantas gelap. Apalagi di dalam gua.”
Aku bisa mendengar Azuro dan Aras bernafas dengan berat.
Tangan Aras menyentuhku. “Apa segelap itu?”
Aku mengangkat bahu. “Aku merasa di sini sangat gelap. Biasanya aku bisa melihat jejak segelap apaun tempatnya. Tapi sekarang aku tidak melihat jejak apapun. Aku tahu kalian ada di dekatku. Tapi aku tidak melihat jejak kalian.”
“Kita tidak di gua. Kita di pinggir pantai. Dan sekarang matahari bersinar sangat terang,” kata Azuro.
Aku terkejut mendengat perkataan Azuro. Dengan cepat aku mengerti dengan keadaanku.
“Aku buta?”
Tidak ada yang menjawab. Semuanya diam.
Aku masih ingat kepala belakangku dihantam batu ketika jatuh dari Klan Putih. Apa separah itu lukaku hingga aku menjadi buta? Bahkan hingga keistimewaanku menghilang.
Mataku terasa panas. Aku tidak biasa menangis. Apalagi di depan orang lain. Tapi air mataku mengalir begitu saja. Separah apa lukaku hingga aku tidak bisa melihat jejak.
Aku merasakan tangan Aras dan Azuro menyentuh bahuku.
“Violet."
Aku berdiri. Aku melangkah pergi.
“Kau mau kemana?” teriak Azuro.
Aku diam tidak menjawab. Aku terus berjalan, meskipun aku tidak melihat jalan yang aku tempuh. Meskipun kaki tertusuk batu hingga berdarah.
“Hentikan!” Aras mengehentikan langkahku. Dia berdiri di depanku, menahan bahuku.
“Kau putus asa? Kau putus asa karena kau buta?” Aras mengguncang bahuku.
“Lepaskan!” Aku berusaha melepaskan tangan Aras dari bahuku. “Kau tidak mengerti. Aku sudah tidak bisa melihat jejak. Aku hanya akan menjadi beban bagi kalian.”
Aras diam. Dia baru sadar jika aku tidak hanya kehilangan penglihatanku tapi juga kemampuanku sebagai pelacak jejak.
__ADS_1
Aras menarikku. Aku merasakan kehangatan menjalariku. Aras memelukku.
“Meskipun begitu tetaplah bersama kami.”