
“Ryza, bisa tolong ikatkan pita ini di belakang?” Aku mengulurkan sebuah pita hitam panjang kepada Ryza.
Ryza bangkit dari duduknya. “Tentu saja.”
Ryza menerima pita itu lalu mengikatnya di punggungku.
“Aku kira kau tidak ikut ke pesta, Violet.”
“Aku agak penasaran dengan penumpang kapal ini. Siapa tahu ada yang membuatku tertarik.”
Ryza tertawa. “Aku pikir Aras akan kecewa jika mendengar ucapanmu itu.”
“Hah? Memang apa hubungannya dengan dia?”
Ryza menarik bagian pita terakhir. Dia menepuk-nepuk pitanya sebagai penutup. “Sudah selesai.”
“Terima kasih, Ryza.”
Ryza mengangguk.
“Kau yakin tidak ikut pesta? Ichi, Aras, Bara, dan Tiha juga datang.” Aku memastikan.
“Aku di sini saja. Nanti kalau aku tertarik, mungkin aku akan pergi ke sana.”
“Ya sudah kalau begitu. Aku pergi dulu.”
“Bersenang-senanglah di pesta, Violet.”
Aku membuka pintu kabin lalu berjalan keluar sendirian. Ichi, Aras, Bara, dan Tiha sudah berangkat lebih dulu. Awalnya aku tidak tertarik berangkat karena masih kenyang dengan kue-kue yang aku makan tadi siang. Tapi karena mungkin aku bisa mendapat petunjuk tentang permata klan, aku memutuskan untuk menyusul mereka berempat.
Aku menuruni tangga spiral besar yang terhubung langsung dengan aula utama, tempat pesta berlangsung. Alunan musik terdengar hingga keluar ruangan. Aku turun perlahan sambil mengamati pesta yang ramai. Beberapa orang sedang mengobrol berkelompok di pinggir ruangan. Beberapa pasangan sedang berdansa di tengah. Ada juga yang memilih duduk di pinggir sambil menikmati jamuan yang tersedia.
Aku melihat Bara sedang minum sambil mengobrol di pinggir. Dia sepertinya memang berniat untuk menikmati makanan di sini karena di depannya terdapat meja yang penuh dengan makanan.
Aku melongokkan kepala sambil berjalan mengelilingi pesta. Ada kerumunan perempuan yang menarik perhatianku. Di tengah-tengah kerumunan itu, Ichi berdiri di sana. Perempuan-perempuan itu mengajaknya mengobrol tapi dia tampak tidak tertarik dan hanya menanggapi mereka dengan beberapa patah kata.
Aku sudah menemukan Ichi dan Bara tapi aku belum melihat Aras dan Tiha. Aku melihat sekitar, tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka.
Musik yang dimainkan berubah. Waktunya puncak pesta dansa. Banyak orang berkumpul di tengah aula secara berpasangan.
“Permisi, Nona. Kau sedang menunggu seseorang?” Seorang laki-laki Klan Biru mendatangiku. Dia adalah orang aku lihat tadi di geladak C. Rupanya dia juga seorang penumpang kelas satu.
“Tidak. Aku tidak menunggu siapapun.”
“Kalau begitu maukah kau berdansa denganku?” Laki-laki itu mengulurkan tangannya.
“Dengan senang hati.” Aku menerima uluran tangannya.
Laki-laki itu menarikku perlahan ke tengah ruangan. Kami mulai berdansa mengikuti irama musik.
“Namaku Elgar Orchid. Siapa namamu, Nona?”
Aku tertegun mendengarnya. Rupanya dia adalah Elgar, bangsawan mabuk yang membuat kekacauan di Jadnew. Pantas aku familiar dengan suaranya.
“Aku tahu tentangmu. Kau adalah putra pertama Marquess Orchid yang berkuasa di Jadnew. Aku pernah satu kali pergi ke sana. Itu adalah tempat yang indah. Tapi sayangnya aku mendapatkan pengalaman yang buruk di sana.” Aku mengalihkan pembicaraan agar aku tidak perlu menjawab pertanyaan mengenai namaku.
“Benarkah? Aku harap kau mau berkunjung ke wilayah kami lagi. Aku pastikan kau tidak akan mendapatkan pengalaman buruk untuk kedua kalinya.”
“Mungkin aku akan ke pergi ke sana lagi suatu saat.”
“Aku akan menunggumu.”
Wajahku saat ini tersenyum. Tapi dalam hati, aku sedang merutuk kesal. Aku tidak bisa melupakan kejadian beberapa minggu lalu di Jadnew. Dia sepertinya tidak ingat dengan kejadian itu karena dengan berani dia mengajakku berdansa. Padahal aku ini adalah perempuan buta yang diajaknya berkelahi.
Ditengah-tengah dansa, dengan sengaja aku menginjak kakinya. Elgar terlihat terkejut dan kesakitan. Aku menginjaknya cukup kuat.
“Maafkan aku, Tuan. Aku tidak pintar berdansa.” Aku pura-pura minta maaf, padahal dalam hati aku tertawa keras.
“Kau berdansa dengan sangat baik. Ini kesalahanku karena tidak bisa mengikutimu.”
Tapi aku terus menginjak kaki Elgar selama berdansa. Dia sekarang tampak kesal. Tapi dia berusaha mengatur wajahnya agar tetap tersenyum kepadaku.
“Aku benar-benar minta maaf, Tuan,” ucapku setelah dansa pertama selesai.
“Tidak apa-apa. Setiap wanita pasti pernah melakukan kesalahan kecil itu.”
Musik mulai dimainkan kembali. Dansa bagian kedua akan dimulai.
“Aku pamit dulu, Tuan.” Aku menunduk sambil mengangkat sedikit rokku untuk memberi salam perpisahan.
“Kau tidak mau berdansa lagi?”
Aku menggeleng. “Aku rasa pesta malam ini sudah cukup untukku.”
“Baiklah kalau begitu. Aku harap aku bisa bertemu denganmu lagi.”
Aku mengangguk lalu berjalan meninggalkan ruang pesta menuju balkon. Ada dua lantai di aula utama. Pesta berada di lantai satu. Lantai dua digunakan untuk bersantai sambil melihat orang-orang yang berdansa di pesta. Lantai dua hanya berupa koridor lebar dengan sepasang meja dan kursi di beberapa tempat. Ada juga balkon yang menghadap laut.
__ADS_1
Aku menarik napas panjang. Udara di lautan terasa lebih bersih. Mataku tertuju pada ujung geladak kapal. Ada dua orang yang sedang berdiri di sana.
“Ah, pasangan itu lagi.”
Kenapa aku sering sekali melihat dua orang itu? Sekarang mereka sedang menikmati angin yang berhembus kencang di sana. Si perempuan merentangkan tangannya dan kekasih laki-lakinya memeluk pinggangnya dari belakang. Rambut dan baju mereka berkibar dihembus angin. Suara musik di belakangku menambah kesan romantis pada adegan yang aku lihat ini.
“Apa yang sedang mereka lakukan?”
Aku menoleh. Bara tiba-tiba sudah berada di sampingku.
“Apa mereka tidak masuk angin setelah melakukan itu?” Bara masih mengomentari pasangan itu.
“Harusnya, sih, mereka masuk angin.”
Kami berdua malah memperhatikan pasangan itu. Mereka lama sekali di ujung geladak. Tiba-tiba Bara memegangi pinggangku lalu mengangkatku ke atas.
“Apa yang kau lakukan?!” pekikku terkejut.
“Mempraktikan yang mereka lakukan. Aku penasaran kenapa mereka melakukannya selama itu.”
“Laki-laki itu tidak mengangkat pasangannya seperti ini.”
“Bukankah seperti ini lebih bagus?”
Aku merasakan angin berhembus lebih kencang dari atas sini. Rasanya aku akan terbang jika Bara tidak menurunkanku sekarang juga.
“Bara, turunkan aku. Anginnya kencang. Aku bisa jatuh nanti.”
“Tenang saja, aku memegangimu dengan kuat. Dari pada itu, coba rentangkan tanganmu seperti yang perempuan itu lakukan. Setelah itu aku akan menurunkanmu.”
Aku menghela nafas. Aku merentangkan tanganku sesuai keinginan Bara. Angin menusuk kulitku. Daripada romantis, ini lebih cocok disebut penyiksaan. Asap kelabu mengepul setiap aku menghela napas. Badanku gemetar karena dingin. Aku tidak terlalu suka dingin.
“Bara, turunkanku.”
“Sebentar, aku ingin orang lain melihat kita. Adegan ini sangat menarik tahu!”
“Bara, cepat turunkan aku!” Aku mengulanginya dengan nada tajam.
“Ah, iya iya.” Bara segera menurunkanku. Dia tidak ingin berurusan denganku yang marah.
KYAAA
Itu bukan teriakanku karena Bara yang menurunkanku sembarangan. Aku menjitak dahi Bara. Dia hampir membuatku jatuh ke geladak bawah.
“Aku kira kau yang berteriak.” Bara mengusap dahinya yang memerah.
Seorang dokter dan pegawai kapal datang dengan buru-buru. Mereka memeriksa Elgar dengan cepat.
“Apa dia mati?”
“Apa yang terjadi dengannya?”
Bisik-bisik tamu pesta memenuhi ruangan. Mereka sangat ramai hingga aku dan Bara yang berada di lantai dua bisa mendengar mereka.
“Apa dia mati?” Bara juga bertanya-tanya.
Dokter itu menggeleng kepada pegawai kapal. Dua orang pelayan kapal kemudian mengangkat tubuh Elgar dan membawanya pergi.
“Sepertinya dia mati,” jawabku.
Setelah mayat Elgar dibawa pergi. Beberapa orang tampak meninggalkan pesta. Mereka tidak nyaman dengan kejadian yang baru saja terjadi. Tapi pesta tetap berlanjut seolah tidak terjadi apapun. Musik kembali dimainkan. Para tamu mulai mengobrol dan berdansa lagi.
Aku mengalihkan pandanganku dari lantai satu dan mataku bertatapan dengan Aras yang berada di seberang. Aku yakin dia juga melihat kejadian tadi. Aras tidak berekspresi apapun. Dia langsung pergi setelah melihatku.
“Bukannya laki-laki itu yang berdansa denganmu? Aku melihat kalian tadi,” kata Bara.
Aku mengangguk. “Aku memang berdansa dengannya tadi. Aku tidak menyangka itu akan menjadi dansa terakhir baginya.”
Aku masih menatap tempat Aras tadi. Jejak-jejaknya berpendar di tempat yang dia lewati. Pikiranku melayang ke kejadian tadi sore. Pikiranku mengatakan bahwa Aras yang melakukannya tapi aku tidak memiliki bukti apapun. Orang itu sering melakukan kejahatan sehingga bisa membuatku berpikir bahwa dia yang bertanggungjawab atas kejadian mengerikan ini. Kesimpulan yang tidak berdasar memang.
“Kau masih mau meneruskan pesta, Bara?” tanyaku.
Bara melipat tangan dibalik kepalanya “Setelah kejadian barusan, aku malas ke bawah lagi. Mungkin aku akan kembali. Kau sendiri bagaimana?”
“Aku ingin di sini sebentar lagi.”
“Kalau begitu aku duluan, ya.”
Aku mengangguk.
Bara melangkah pergi meninggalkanku. Aku juga bergerak pergi tapi dengan arah yang berlawanan dengannya. Aku mengikuti jejak Aras. Dia masih berada di tempat ini. Hanya ada satu tangga yang bisa dilewati untuk turun ke lantai satu dan aku belum melihat Aras melewatinya.
Jejak Aras memanduku menuju balkon di sisi lain kapal. Balkon di sini berbeda dengan yang aku tempati tadi. Balkon ini memanjang dari ujung hingga ujung lain ruangan.
Aras sedang menatap laut ketika aku datang. Dia langsung berbalik ketika menyadariku. Aku sadar dia memang menungguku.
“Kau menikmati pestanya?” tanya Aras.
__ADS_1
“Aku tidak ingin berbasa-basi, Aras. Aku tanya, apa kau yang membunuh Elgar?” Aku langsung mengatakan inti masalahnya.
“Apa kau puas jika aku bilang aku yang membunuhnya?”
Aku terdiam.
“Aku tidak ada di samping laki-laki itu seperti yang kau lihat tadi. Lagi pula dia sepertinya terkena serangan jantung. Bagaimana aku bisa membunuhnya?”
“Dari sore kau sangat mencurigakan. Kejadian malam ini terlalu aneh jika kebetulan.”
“Kau harusnya senang karena orang yang menganggumu di Jadnew itu mati.”
“Kau pikir aku akan berpikir seperti itu?”
Aku menatap Aras kecewa. “Aku tidak paham jalan pikiranmu sekarang. Aku pikir kau sudah kembali seperti dulu ternyata tidak.”
Aku berbalik meninggalkan Aras. Aku benar-benar salah paham dengan sifatnya. Selama belasan tahun, Aras hidup dengan kejahatannya. Mustahil jika dia bisa berubah secara tiba-tiba.
Aku mengambil segelas anggur di pesta sebelum kembali ke kabin. Rasanya pikiranku sedang kacau dan aku butuh sesuatu untuk melampiaskannya. Aku menghabiskan segelas anggur dengan satu kali tegukan.
Satu gelas tidak cukup. Aku duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja berbentuk lingkaran. Aku menyuruh pelayan untuk berdiri di sampingku dan mengisi gelasku dengan anggur.
Aku mengecap rasa anggur pada gelas kelimaku. Rasa pahitnya mengingatkanku pada Vender. Dia selalu memarahiku ketika aku minum anggur. Padahal dia sendiri hampir setiap malam meminumnya.
Aku memegangi gelas kesembilanku dengan lesu. Pelayan yang aku suruh masih setia menemaniku–berdiri sambil memegang sebotol anggur. Musik masih terdengar. Orang-orang juga masih berdansa. Sekarang pesta ini terasa membosankan karena tidak kunjung selesai.
Pelayan menuangkan anggur untuk gelas kesepuluh. Aku tidak akan mabuk karena aku cukup tahan dengan alkohol, meskipun aku sangat jarang meminumnya. Aku menyesap anggur sambil mendengarkan sekelompok perempuan yang sedang mengobrol di meja sebelah.
“Aku dengar ada seseorang yang sangat kaya dari Klan Hijau berada di kapal ini.”
“Aku tidak percaya ada manusia Klan Hijau yang bisa membeli tiket Titanic.”
“Rumornya dia akan mengikuti pelelangan besar yang ada di sini.”
Aku hampir tersedak mendengar ucapan salah seorang dari mereka. Pelayan di dekatku segera memberikan sapu tangan. Aku mengelap mulutku kemudian menajamkan telinga untuk mendengar percakapan mereka.
“Pelelangan yang mana? Ada banyak pelelangan besar yang akan diadakan di kapal ini.”
“Mungkin Rumah Lelang Phoenix? Aku dengar ada permata langka yang akan dilelang di sana.”
“Kau benar. Suamiku juga ikut di pelelangan Phoenix besok. Dia bilang ada permata langka yang menjadi barang utama. Kabarnya banyak orang mengincarnya. Duke Goldder, Marquess Aramco, wangsa Geerginlik, wangsa Orchid, dan perusahaan Tonnvile juga mengikutinya.”
“Wah, jangan-jangan manusia Klan Hijau itu juga mengincar permata langka. Untuk apa dia jauh-jauh kemari jika hanya untuk berlibur.”
“Aku jadi penasaran tentang permata langka itu. Pelelangannya pasti akan berjalan sengit. Mereka adalah orang-orang yang sangat memiliki kuasa.”
“Tapi bukankah tuan muda dari wangsa Orchid baru saja mati?”
Mereka terdiam dan saling melirik. Mereka sadar obrolan mereka mulai masuk ke bagian yang sensitif.
“Membicakan pelelangan membuatku pusing. Kenapa kita tidak membicarakan gaun keluaran terbaru dari Tonnvile. Aku dengar putri dari Count Serville sudah memesannya.”
“Aku kemarin sudah melihat salah satu contohnya. Gaunnya sangat cantik dan halus.”
Pembicaraan mereka pun berubah dari pelelangan menjadi gosip tentang putri Count Serville.
Entah siapa yang membunuh Elgar. Jika pembunuhnya berkaitan dengan orang-orang yang mengincar permata hijau itu, kami juga harus berhati-hati. Karena perwakilan dari wangsa Orchid yaitu Elgar sudah mati, kemungkinan mereka tidak akan mengikuti lelang. Tinggal empat orang yang menjadi saingan kami.
Aku meminum anggur terakhirku sebelum kembali ke kabin. Tiba-tiba sebuah gelombang energi mengejutkanku. Aku berhenti meminum anggur dan langsung duduk tegak. Mataku bergerak mencari sumber gelombang itu. Gelombang ini mirip dengan gelombang permata klan. Sebenarnya sama hanya saja rasanya agak sedikit aneh.
Sebuah jejak hijau menyilaukan memasuki ruangan. Dari jejaknya terlihat jelas jika permata itu adalah Zamrud. Permata itu dibawa oleh seorang laki-laki. Aku harus menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas karena jejaknya bersinar begitu terang.
Laki-laki itu mengenakan Zamrud sebagai batu permata pada cincinnya. Ketika aku hendak menghampiri laki-laki itu, tubuhku terasa lemas. Aku hampir jatuh ke lantai jika pelayan anggur itu tidak segera membantuku. Rasanya aku seperti mabuk berat. Perutku terasa mual. Aku yakin aku tidak mabuk. Keadaanku ini pasti karena Zamrud. Permata klan sebenarnya sangat merugikan pemilik galur murni yang bukan dari permata itu sendiri. Mereka mengeluarkan gelombang energi yang menyerang pemilik galur murni permata lain. Aku tidak terpengaruh sapphire karena permata itu berada di dalam kotak yang dibuat khusus oleh Geerginlik, sedangkan Zamrud dibawa terang-terangan tanpa perlindungan apapun.
Beberapa tamu pesta tumbang. Mereka para klan Biru pasti diserang juga oleh Zamrud, meskipun tidak separah galur murni sepertiku. Tapi karena daya tahan tubuh mereka yang jelek, mereka pun pingsan satu-persatu.
Pesta menjadi kacau. Banyak sekali orang yang pingsan. Mereka yang hampir pingsan, meraba-raba berbagai benda untuk dijadikan pijakan dan orang-orang yang masih “sehat”, berlari panik keluar dari lobi pesta.
“Hey, tolong...” Aku hendak meminta tolong kepada pelayan anggur itu tapi dia sudah jatuh pingsan. Beruntung dia sudah meletakkan botol anggur di meja sehingga dia tidak mengotori seragamnya dengan tumpahan anggur.
Aku berjalan tertatih mendekati laki-laki itu. Semakin mendekatinya, serangan gelombang yang aku terima semakin menyakitkan saja. Ditambah aku ditabrak oleh orang-orang yang berlari ke sana kemari. Mereka membuatku semakin sulit mendekati laki-laki itu.
BRUKK
Aku mengaduh pelan ketika sesorang menabrakku hingga jatuh. Perutku bergejolak, aku hampir muntah. Aku sudah tidak kuat untuk berjalan lagi. Dengan susah payah aku merangkak mendekati laki-laki pembawa Zamrud itu.
“Tunggu. Hey! Aku mohon!” panggilku ketika jarak kami sudah cukup dekat.
Pandanganku tertutup orang-orang yang berlarian. Mereka berlari tanpa melihat sekitar mereka. Aku hampir terinjak-injak.
Sebuah angin berhembus dari sekitarku. Angin itu bergerak melingkar, menyingkirkan orang-orang dariku. Orang-orang bertambah panik dengan kemunculan angin ini. Mereka mengira angin itu merupakan serangan lanjutan yang lain setelah gelombang zamrud tadi.
Ichi datang dari samping. Dia membantuku berdiri.
“Kau baik-baik saja?”
Aku tidak bisa menjawabnya. Sekali membuka mulut rasanya aku ingin muntah.
__ADS_1
Ichi tidak bertanya banyak lagi. Dia langsung paham dan segera membawaku pergi dari tempat pesta.