
Setelah berlatih beberapa kali, kami akhirnya siap untuk tampil bermain musik. Aku dan Tiha bertukar baju. Tidak mungkin aku menari dengan pakaian bertarung. Baju Tiha sangat fleksibel, bisa digunakan sesuai keinginan.
Kami memilih bermain musik di alun-alun kota yang ramai. Ada banyak orang di sini yang bisa kami tarik mejadi penonton.
Aku mendengar Azuro menghela nafas berkali-kali.
“Semoga saja tidak ada yang mengenaliku.” Azuro sepertinya sangat khawatir dengan reputasinya.
Kami menempatkan diri di tempat masing-masing. Ludwig mulai memimpin penampilan. Aku menari sesuai irama musik.
Ludwig adalah Beethoven Sang Musikus Agung. Musiknya bisa menarik setiap orang yang mendengarkannya. Banyak orang mendekati kami untuk melihat.
“Musik yang mengagumkan.”
"Wah, bagus!"
“Kakak itu cantik sekali.”
Anak kecil pun datang melihat. Kantong-kantong yang telah kami siapkan untuk menampung uang terisi dengan cepat.
Musik yang dipilih Ludwig adalah musik yang ceria. Aku mengajak seorang anak untuk berdansa denganku. Orang-orang di sekitar kami pun tertarik untuk berdansa. Kami berdansa bersama. Sungguh menyenangkan. Aku sudah lama tidak merasakan perasaan seperti ini.
Ada sepuluh lagu yang kami mainkan selama hampir dua jam. Aras, Tiha, Ludwig, bahkan Azuro yang tadinya tidak mau tampil terlihat menikmati permainan musik mereka. Alun-alun kota Brasov ramai dengan orang yang berdansa mengikuti irama musik kami.
Penampilan kami diakhiri oleh tepuk tangan meriah dari penonton. Kami membungkuk hormat untuk mengakhiri penampilan.
“Luar biasa!”
“Bagus sekali.”
“Musik yang menyenangkan.”
Kami tersenyum mendengar banyak orang memuji kami. Bermain musik di jalan tidak buruk juga.
Aku, Ludwig, Azuro, Aras, dan Tiha berjalan menuju daerah yang sepi sambil membawa kantong-kantong penuh uang yang kami dapatkan.
“Kalau begini seharusnya kita mengamen saja dari kemarin,” kataku.
Ada tiga kantong dan semuanya terisi penuh.
“Kau terlihat sangat senang tadi.” Aras mengobrol denganku sembari menghitung uang.
“Kapan terakhir kali aku segembira itu? Sudah lama sekali.”
Kami memerlukan waktu cukup lama untuk menghitung semua uang yang kami dapat.
“Semuanya sepuluh guinea tujuh shilling sepuluh pence.” Tiha mengumumkan pendapatan kami.
“Itu sudah lebih dari cukup untuk perjalanan kita ke Jadnew,” kataku.
Ludwig dan Aras mengangguk.
“Tapi itu hanya untuk kereta kelas dua,” keluh Azuro.
“Kau ingin tetap tinggal di sini?” Aku menatap tajam Azuro.
Azuro menggeleng takut. “Tidak. Aku akan ikut kalian.”
“Kalau begitu ayo kita sewa kereta.” Ludwig berlari riang ke jalan yang ramai. Dia menghentikan sebuah kereta kuda beroda dua.
“Ayo masuk!” Ludwig membukakan pintu kereta dengan semangat.
Azuro memandang kereta kuda dengan ragu. “Apa kita tidak naik kereta bangsawan saja?”
“Memang ini bukan?” tanya Tiha.
“Kereta bangsawan memiliki empat roda seperti kereta kuda yang kita temui sebelumnya. Sedangkan kereta ini hanya memiliki dua roda. Ini kereta kuda biasa,” jelas Aras.
“Walaupun sekarang kita memiliki banyak uang, kita harus tetap berhemat.” Aku menanggapi pertanyaan Ludwig.
Kami semua menaiki kereta. Kereta ini lebih kecil dan tidak senyaman kereta milik Baron Stuart. Kadang kami hampir terpental karena kereta sering mengerem mendadak.
Aras yang duduk di pinggir sedang menunduk sambil menyandarkan kepalanya ke dinding kereta.
“Kau kenapa?” tanyaku.
Aras hanya menggeleng.
“Dia pasti mual karena kereta terus berguncang dari tadi. Azuro juga begitu,” kata Ludwig.
Dari tadi Azuro sudah terlihat lemas. Dia menggenggam kantong kertas yang dipakainya untuk berjaga-jaga jika dia muntah.
Ludwig memberikan kantong kertas lain kepadaku. “Berikan ini pada Aras. Aku rasa dia akan muntah.”
Aku menerima kantong dari Ludwig. Aku lalu memberikannya kepada Aras.
“Kalian terbiasa memakai kereta kuda mewah, sih. Ini penyakit orang kaya namanya,” komentar Tiha saat melihat Azuro dan Aras yang mabuk perjalanan.
Aku meringis mendengarnya. Azuro adalah bangsawan dan Aras adalah seorang raja. Mereka biasa menaiki kereta kuda yang mewah dan nyaman. Tapi aku tidak menyangka Aras bisa mabuk kendaraan. Aku yakin dia sering naik kuda tapi kenapa dia malah mabuk di kereta yang guncangannya tidak separah ketika menaiki kuda.
Kereta kuda tiba-tiba berhenti mendadak untuk kesekian kalinya. Guncangan itu membuat Azuro dan Aras mengeluarkan semua isi perut mereka.
“Tuan dan Nona kita sudah sampai,” kata kusir.
Ludwig membuka pintu kereta. Dia menuntun Azuro turun. Disusul Tiha, Aras, dan terakhir aku.
Aku pikir Vienna adalah kota seni yang ramai dan penuh dengan gedung opera serta bangunan artistik lainnya. Tapi tempat yang aku lihat sekarang kumuh dan sepi.
“Apa ini Vienna?” Aras bertanya sambil menutup mulutnya, menahan mual.
Ludwig menggeleng. Dia beralih pada kusir kereta.
“Maaf, sepertinya kita salah tempat,” kata Ludwig kepada kusir kereta.
“Ini tempat tujuan kalian,” kata kusir kereta.
Tiba-tiba muncul banyak laki-laki di sekitar kami. Mereka jelas bukan orang yang baik. Banyak luka di tubuh mereka. Di balik baju lusuh mereka, terdapat senjata yang mereka sembunyikan.
“Maaf Tuan dan Nona bangsawan, kami hanya menginginkan harta kalian. Kalian pasti memiliki banyak harta. Apalagi setelah pertunjukan di alun-alun tadi,” kata kusir kereta. “Sebenarnya aku agak heran untuk apa bangsawan mengamen di jalan. Kalian, kan, sudah kaya. Makanya berikan uang kalian pada kami.”
Dia pasti bersekongkol dengan orang-orang yang mengepung kami.
“Serahkan harta kalian!”
Ludwig yang membawa kantong uang gemetar ketakutan. Keadaan kami sekarang tidak baik. Ada lebih dari sepuluh laki-laki bersenjata mengepung kami. Aras dan Azuro masih teler karena mabuk kendaraan. Ludwig jelas tidak bisa bertarung. Kalau bisa pun, tangannya yang berharga bisa patah atau terluka. Karir bermusiknya bisa hancur. Tinggal aku dan Tiha. Sebelumnya aku belum pernah melihat Tiha bertarung. Jika Tiha memakai keistimewaannya, mereka bisa tahu bahwa kami bukan manusia Klan Biru.
“Tiha, apa kau bisa bertarung?” tanyaku.
“Aku tidak yakin, Violet. Tapi akan berusaha.” Tiha mengambil posisi siap bertarung.
“Jangan gunakan keistimewaanmu. Tetap jaga rahasia misi kita,” pesanku.
“Heh, kenapa kalian malah bisik-bisik. Cepat serahkan harta kalian atau kalian akan mati!”
Aku meraba pisau yang ada di balik bajuku.
“Sayangnya kami terlalu miskin hingga tidak bisa memberikannya.” Tanganku sudah menggenggam pisau. Aku sudah siap jika mereka menyerang.
“Dasar bangsawan miskin!”
Sepuluh orang itu menyerang bersamaan. Aku menghindari pulukan mereka. Aku menendang, memukul, dan menyabit mereka dengan pisau. Yang paling sulit di sini adalah melindungi Ludwig, Azuro, dan Aras. Aku langsung memotong otot tangan mereka sebelum mereka sempat mengeluarkan senjata.
Tiha tidak bisa bertarung. Dia mengambil sebuah balok kayu lalu memukul musuh secara serampangan. Untungnya banyak musuh yang tumbang karena perbuatannya.
“Lepaskan!”
Aku menoleh ketika mendengar teriakan Ludwig.
Aku menendang seseorang yang berusaha mengambil kantong uang kami dari Ludwig.
Aku dan Tiha terus melawan mereka. Tapi kekuatan kami tidak sebanding. Mereka adalah pria-pria dewasa yang memakai senjata, sedangakan aku dan Tiha hanya seorang gadis bersenjata pisau dapur.
Buakk
__ADS_1
Perutku ditendang lawan. Tiha juga terbanting ke belakang. Aras dan Azuro berusaha berdiri untuk membantu tapi mereka masih terlalu lambat untuk bergerak.
“Tidak!”
Seseorang berhasil mengambil kantong uang kami.
“Berani-beraninya kalian!” Aku sudah benar-benar marah. Aku tidak rela uang hasil kerja keras kami diambil seenaknya.
Aku kembali menyerang mereka. Aku memukul, menusuk, menendang, menikam setiap musuh di depanku. Aku sudah tidak peduli dengan senjata-senjata yang melukaiku. Aku tidak ingin mereka menang.
“Hey, jangan lari!” Aku mengejar orang yang membawa kantong kami.
Aku berhasil menangkap kerah bajunya. Aku menariknya ke belakang. Laki-laki itu melemparkan kantong kami ke temannya yang sudah bersiap di atap sebuah bangunan.
Aku membanting orang yang kutarik kerah bajunya dengan kesal. Kenapa dia harus punya teman di atap sana. Aku jadi tidak bisa mengejarnya.
“Violet, sudah cukup.” Aras menghampiriku.
Aku mengatur nafasku. Darah menetes dari tangan dan wajahku. Aku selalu begini. Jika sudah bertarung, aku akan melupakan semuanya. Bahkan aku tidak peduli dengan luka-luka yang aku dapatkan. Beberapa kali aku langsung ambruk setelah bertarung karena aku tidak mempedulikan lukaku yang parah.
Aku menghampiri Ludwig, Azuro, dan Tiha. Ludwig sedang menyembuhkan Tiha. Begitu aku datang, dia langsung beralih padaku.
“Violet, lukamu!” Ludwig menempelkan tangannya ke tanganku. Lukaku perlahan-lahan menutup.
“Maafkan aku. Aku tadi tidak membantu kalian.” Aras meminta maaf.
“Aku tidak menyangka kalian akan sangat teler hanya gara-gara naik kereta kuda biasa,” kata Tiha
“Yah, sekuat-kuatnya orang mereka pasti punya kelemahan.” Aku menanggapi perkataan Tiha.
Ludwig sudah selesai mengobatiku. Luka-lukaku memang sudah tertutup tapi aku masih merasakan nyeri di tubuhku.
Kami berhasil mengalahkan para pencuri itu tapi kami kehilangan uang kami. Padahal kami sangat membutuhkannya untuk perjalanan ke Dumbrige.
Aras mendekati kereta kuda yang kami naiki tadi. Kusir kereta kabur bersama gerombolan pencuri. Dia meninggalkan kereta kudanya.
“Aku rasa kita bisa menggunakan ini.” Aras melompat ke tempat kusir. Dia memegang kendali kuda. “Ayo naik!”
Aku, Ludwig, Tiha, dan Azuro menaiki kereta kuda.
“Kau tahu dimana kita sekarang, Azuro, Ludwig?” tanya Aras.
“Kami tidak tahu. Ini daerah tempat tinggal para gelandangan,” jawab Azuro.
“Kalau begitu kita pergi dari sini dulu.” Aras memukul tali kuda. Kereta pun berjalan.
Aras bisa mengendalikan kereta kuda lebih baik dari kusir yang asli. Kereta berjalan dengan tenang. Untunglah Azuro dan Aras tidak mabuk kendaraan lagi.
Aras membawa kami ke jalan yang lebih ramai. Tempat ini hampir seramai Brasov. Aras menghentikan kereta kuda. Dia lalu turun dan bertanya kepada seorang pejalan kaki. Aku, Tiha, Azuro, dan Ludwig memperhatikan Aras dari dalam kereta.
“Kau tahu kita dimana?” Aku bertanya setelah Aras kembali.
Aras mengangguk. “Ini kota Hartberg. Jika kita bergerak ke utara, kita bisa sampai di Vienna.”
Tiha menyembulkan kepala dari jendela. Dia menengok ke sekitar.
“Bagaimana kalau kita bermain musik di sini juga. Tempat ini cukup ramai.”
“Aku rasa kita bisa melakukannya di alun-alun kota seperti tadi.” Aku memberi saran.
Azuro menghela nafas pasrah. “Terserahlah.”
Aras kembali ke posisinya. Dia membawa kami pergi ke alun-alun kota Hartberg.
Kami berputar-putar cukup lama tapi Aras belum menemukan alun-alun kota.
“Kota ini sepertinya tidak memiliki alun-alun.” Aras memperlambat jalan kereta.
Ludwig melihat keadaan sekitar melalui jendela. “Kita bermain di jalan ini saja. Di sini cukup ramai.”
Aras membawa kereta kuda menepi di bagian jalan yang sepi. Satu persatu kami turun dari kereta sambil membawa alat musik.
Kami mengambil tempat yang teduh dan strategis untuk tampil. Ludwig memilih lagu yang sama untuk dimainkan di sini.
Ludwig memulai aba-aba. Musik mulai mengalun. Aku kembali menari mengikuti alunan musik.
Penampilan kami lebih singkat dari sebelumnya. Aku mengambil kantong yang sudah disiapkan untuk menerima uang dari para penonton setelah penampilan kami selesai.
“Kita hanya pendapat sedikit.” Aku memperlihatkan koin-koin pence di kantong.
“Tidak apa-apa. Kita bisa tampil sepanjang perjalanan,” kata Ludwig.
Kami kembali ke kereta untuk melanjutkan perjalanan sekaligus mencari tempat yang strategis untuk tampil.
Kami berhenti di salah satu bagian kota yang ramai. Tempatnya agak jauh dari tempat pertama. Kami bisa mendapat penonton baru di sini. Kami kembali tampil. Tapi uang kami masih jauh dari cukup.
“Aku rasa orang-orang di kota ini tidak terlalu menyukai seni,” kata Aras ketika melihat uang yang kami dapatkan.
Ludwig mengangguk setuju.
Walaupun begitu, kami tidak menyerah. Kami berhenti berkali-kali untuk tampil.
“Tanganku sudah kram.” Azuro melemaskan jari-jarinya.
Kami memutuskan berisitirahat setelah hampir lima jam melakukan perjalanan sekaligus pertunjukkan. Aku membuka bekal yang diberikan Lisa dan Eliza. Pemberian mereka sangat membantu kami menghemat uang. Kami sudah lelah untuk tampil lagi tapi uang yang kami dapatkan masih belum cukup untuk membeli tiket kereta ke Dumbrige.
“Kita tidak boleh menyerah sekarang. Ini adalah kota Verona. Sebentar lagi kita akan masuk ke Vienna.” Ludwig menyemangati kami.
“Berikan biolamu.” Aku meminta biola Azuro.
“Kau bisa memainkannya?” tanya Azuro.
“Kalau belum dicoba kita tidak akan tahu.” Aku mengambil posisi untuk bermain biola. Dari tadi aku sudah memperhatikan bagaimana Aras dan Azuro bermain biola. Sekarang waktunya untukku mencoba.
“Ah, jangan kau lakukan, Violet,” gumam Aras.
Aku tidak menghiraukannya. Aku mulai menggesek senar biola.
Ngek… ngek…
“Hentikan, Violet!” Tiha berteriak sambil menutup telinganya.
“Kenapa kalian semua menutup telinga?”Aku menatap Azuro, Ludwig, Tiha,dan Aras yang sedang menutup telinga.
“Aku pikir biarkan Azuro yang memainkannya. Kau cukup menari saja.” Ludwig mengambil biola dariku.
“Apa permainanku sangat buruk?” tanyaku.
Mereka tertawa kaku.
“Tanganku sudah tidak kram lagi, kok.” Azuro mengambil biolanya dariku.
Aras berdiri lalu mengajak kami kembali ke kereta kuda. “Ayo kita lanjutkan perjalanan.”
Azuro, Tiha, dan Ludwig bergegas menaiki kereta kuda.
“Kenapa kalian tiba-tiba semangat begitu? Apa tidak mau latihan lagi?” Aku memandang mereka dengan heran.
*****
Kereta kuda berhenti di jalan dekat alun-alun kota Verona. Kami berjalan menuju tepi alun-alun. Tempat ini sangat ramai. Ada beberapa pengamen lain yang sedang mengadakan pertunjukan. Penampilan mereka lebih beragam dari yang aku lihat di Brasov. Ada yang berpenampilan seperti patung, bermain musik dengan banyak alat sekaligus, atraksi hewan liar, dan banyak lagi.
“Kali ini kita kan menampilkan lagu yang berbeda. Ini not lagunya.” Ludwig memberikan tiga lembar not lagu kepada Aras, Azuro, dan Tiha.
“Ini lagu ballad?” tanya Azuro.
Ludwig menganggguk.
“Berarti aku harus merubah tarianku?” Aku mulai merencanakan tarian apa yang akan aku lakukan.
“Aku menciptakan lagu ini terinspirasi dari cerita cinta tragis yang terkenal yang terjadi di Verona. Kisah ini sangat terkenal di seluruh Klan Biru. Romeo dan Juliet.” Ludwig memberitahu.
“Seperti apa ceritanya?” tanya Tiha.
__ADS_1
“Ini tentang dua orang yang saling mencintai tapi keluarga mereka bermusuhan. Juliet berpura-pura mati tapi Romeo mengira dia benar-benar mati. Romeo pun bunuh diri untuk menyusul Juliet. Ketika Juliet bangun dan mendapati Romeo mati, Juliet ikut membunuh dirinya.” Azuro menerangkan dengan wajah datar.
“Sedih sekali.” Mata Tiha berkaca-kaca.
“Hanya bodoh yang mau melakukan bunuh diri,” ujar Azuro.
“Tapi bukankah mereka romantis. Aku juga ingin jatuh cinta,” kata Tiha.
“Cinta itu bukan tentang romantis saja. Ada kalanya mencintai sesorang itu akan terasa menyakitkan. Jadi, kau harus siap.” Aras menasehati Tiha.
“Walaupun tanpa Romeo kau bisa memerankan Juliet, kan, Violet?” Ludwig menatapku penuh harap.
Aku tersenyum. “Serahkan padaku.”
Aku merubah pakaianku menjadi sebuah gaun terindah yang aku lihat selama perjalanan. Tidak hanya itu, rambutku ditata selayaknya putri bangsawan.
“Kau terlihat cantik,” puji Aras.
Aku memalingkan wajahku dari Aras. Aku tidak mau dia tahu jika wajahku memerah.
'Untuk apa dia berkata seperti itu,' batinku
“Wah, Aras benar. Kau sangat cantik, Violet.” Ludwig ikut-ikutan memujiku.
“Te… terima kasih.” Aku menjawabnya dengan malu.
“Huh, setidaknya aku masih lebih imut dari Violet.” Tiha menggembungkan pipinya kesal.
Aras tertawa. Dia mengacak rambut
Tiha. "Kau memang imut, Tiha."
"Jangan hancurkan rambutku." Tiha berusaha menyingkirkan tangan Aras dari kepalanya.
Aku ikut tertawa melihatnya.
“Hey, Azuro, Violet cantik, kan?” Ludwig menghadapkan Azuro di depanku.
“Apa-apaan kau?!” Azuro menyikut Ludwig agar Ludwig melepas tangannya dari bahu. Tapi Ludwig memegangi bahunya dengan erat.
“Nah, bagaimana?” tanya Ludwig.
Aku melihat Azuro gelagapan. Dia berusaha memalingkan wajah dariku.
“Iya... Dia cantik.” Azuro berkata lirih. Wajahnya memerah.
“Katakan yang lebih keras sambil menghadap Violet, dong!”
“Ah, sudahlah.” Azuro menyentak bahunya sambil menyikut Ludwig. Dia berhasil kabur dari cengkraman Ludwig.
“Hey, jangan pergi!” Ludwig mengejar Azuro yang berjalan pergi.
Aduh, Azuro lucu sekali. Apalagi sikap malu-malunya itu. Pantas jika Ludwig sering menggodanya.
Setelah Ludwig berhasil membawa Azuro kembali, Aku, Aras, Ludwig, Azuro, dan Tiha berjalan ke pinggir alun-alun. Kami menempati posisi masing-masing. Ludwig menyiapkan tongkatnya. Dia memberi aba-aba. Setelah itu musik mulai mengalun.
Musik yang dibuat Ludwig pada awalnya bernada ceria seperti perasaan seorang gadis yang sedang jatuh cinta. Makin lama musik itu berdentum keras, mencerminkan perasaan Juliet yang frustasi karena hubungannya dengan Romeo yang tidak direstui keluarganya. Tapi diantara musik keras itu, selalu ada musik lembut yang yang mengalir seperti cinta Juliet kepada Romeo yang terus ada bersamanya.
Aku menari selayaknya Juliet. Perasaan Juliet yang sedang jatuh cinta dan kesedihannya. Aku mendalami perasaannya. Sekarang aku memang berperan menjadi Juliet tapi aku tidak ingin berakhir seperti Juliet dalam kehidupan nyata.
Musik masuk ke bagian akhir. Ini adalah bagian yang paling sedih. Ketika Juliet mendapati Romeo mati bunuh diri karena mengira dia mudah mati. Saking mendalami peranku, aku sampai meneteskan air mata.
Adegan terakhir Juliet ketika bunuh diri untuk menyusul Romeo, aku mengeluarkan pisauku dari balik gaun. Aku berpura-pura menusuk jantungku lalu jatuh ke tanah.
Tepuk tangan meriah menyambut kami di akhir pertunjukkan. Aku bangun dari tanah. Ada banyak orang yang menonton kami. Aku tidak menyadari keberadaan mereka karena terlalu serius memerankan sosok Juliet.
Seorang laki-laki tampan berpakaian bagus maju ke depan. Dia meraih tanganku lalu menciumnya. Seketika bulu kudukku berdiri. Aku menarik tanganku.
“Pertunjukkan yang sangat indah. Aku bahkan rela turun dari balkon rumahku di sana untuk melihatmu dari dekat.” Laki-laki ini menunjuk sebuah rumah besar di pinggir alun-alun.
“Terima kasih.” Aku tidak suka dengan sikapnya tapi aku tetap tersenyum setulus mungkin. Dia pasti bangsawan kaya. Dia seharusnya bisa memberikan banyak uang kepada kami.
“Kenapa kau menunduk begitu. Coba perlihatkan wajahmu.”
Aku menepis tangannya yang mencoba menyentuh wajahku.
“Wah, galak juga. Tapi aku tetap akan baik padamu.” Dia terus mencoba melihat wajahku. “Tidak perlu malu, Nona.”
Aku sengaja tidak bertatapan dengannya agar mata unguku tidak terlihat olehnya. Jika mataku biru, aku pasti sekarang sudah memelototinya. Aku tadi berpikir untuk menerima laki-laki ini karena dia sepertinya bisa memberi banyak kami uang tapi aku sekarang berubah pikiran. Lebih baik laki-laki ini segera pergi dari hadapan kami, masa bodoh dengan uangnya yang melimpah. Aku jijik dengan sikapnya.
“Maaf, Tuan. Sepertinya dia terganggu.” Aras memperingatkan laki-laki itu baik-baik.
“Hah? Memang siapa kau ini? Kau berani denganku? Aku adalah seorang viscount, Viscount Raymond!” Viscount Raymond memandang rendah Aras.
Viscount Raymond mendekati Aras. Azuro dan Ludwig tampak berusaha menyembunyikan wajah mereka dari Viscount Raymond. Azuro seorang bangsawan bergelar tinggi pasti sangat malu jika ada bangsawan yang bergelar lebih rendah darinya mengetahui bahwa dia bermain musik di jalan. Aras menundukkan kepalanya. Dia juga menghindari Viscount Raymond melihat matanya.
“Kau sama sekali tidak gentleman. Begitu aku dekati malah takut begitu.” Viscount Raymond meremehkan Aras.
“Pukul dia.”
Orang suruhan Viscount Raymond memukul wajah Aras. Orang-orang disekitar kami menjerit terkejut. Mereka pelan-pelan meninggalkan tempat ini, tidak mau terlibat masalah.
Aras bertahan. Dia masih berdiri.
Viscount Raymond memberi isyarat kepada suruhannya untuk memukul Aras lagi. Pukulan kali ini lebih keras dari sebelumnya. Aras sampai jatuh menghantam alun-alun yang berlantai batu.
Ludwig terlihat gemas karena Aras tidak membalas pukulan mereka. Padahal Aras pasti bisa menang jika hanya melawan mereka.
Viscount Raymod berbalik menghadapku.
“Maaf Nona. Kau jadi melihat adegan yang tidak pantas begini. Mari ikut aku ke rumahku. Kita bisa mengobrol sambil menikmati cemilan.” Viscount Raymod merangkulku menuju rumahnya.
Tanpa berkata-kata aku melepaskan tangan Viscount Raymond. Tidak sudi aku dirangkul olehnya. Dia terlihat terkejut ketika aku memperlakukannya seperti itu.
“Beraninya kau mempermalukanku. Sebelumnya tidak ada perempuan yang menolak ajakanku.” Viscount Raymond berseru marah.
“Kau ini hanya perempuan jelata!” Viscount Raymond melayangkan tamparan kepadaku.
Aku bersiap untuk menahannya. Tapi Aras berhasil menahan tangan Viscount Raymond lebih dulu.
“Perlakuanmu sangat tidak sopan terhadap perempuan.”
Viscount Raymond menatap tajam Aras. Dia tidak terima dihalangi oleh Aras. Aras ganti menatapnya tajam. Raut wajah Viscount Raymond langsung berubah. Dia terlihat ketakutan. Dia berusaha melepaskan diri dari genggaman Aras.
“Klan Hitam! Tangkap dia! Panggil yard!” Viscount Raymond berseru sambil menunjuk Aras.
Orang-orang di sekitar kami menjadi ketakutan. Klan Hitam tidak dipandang baik di sini.
Dari kejauhan aku melihat orang-orang berseragam berlari mendekati kami.
“Cepat kembali ke kereta!” seru Aras.
Aku, Aras, Azuro, Ludwig, dan Tiha segera berlari menuju kereta yang diparkirkan tidak jauh dari kami. Begitu kami semua masuk, Aras langsung menjalankan kereta. Para yard itu tidak bisa mengejar kami.
“Kita selamat,” kata Ludwig setelah melihat keadaan.
“Ck… Kenapa harus orang itu.” Azuro berdecak kesal.
“Kalian mengenalnya?” Aku teringat sikap Azuro dan Ludwig tadi.
“Lebih tepatnya dia yang mengenal kami. Viscount Raymond adalah orang yang suka menyebarkan gosip. Penggila wanita. Dia jahat dengan cara yang aneh,” jawab Azuro. “Kalau Ludwig, Viscount Raymond pernah mengira dia perempuan lalu mengajaknya berkencan.”
Tiha tertawa keras mendengar itu.
“Aku baru sadar. Wajahmu cantik seperti perempuan, ya.” Tiha menatap lamat-lamat wajah Ludwig.
“Hentikan! Aku tidak suka dilihat seperti itu.” Ludwig berusaha menyembunyikan wajahnya.
“Pantas saja kau tadi menyembunyikan wajahmu. Aku kira kau malu jika ketahuan bermain musik di jalanan.” Aku sempat berpikiran seperti itu. Ludwig juga seorang bangsawan dan seorang musikus terkenal, biasanya orang seperti Ludwig akan malu melakukan hal semacam itu.
"Aku tidak masalah dengan itu. Viscount Raymond yang membuatku bermasalah."
“Kita berhasil lolos tapi setelah ini kita harus lebih waspada.” Aras ikut mengobrol dari tempat kusir kereta.
__ADS_1
Aku mengangguk, menyetujui Aras. “Mereka pasti akan melapor ke atasan mereka. Penjagaan akan diperketat atau buruknya kita akan diburu.”
“Itu tidak akan terjadi. Aku akan mengurusnya.” Azuro menyedekapkan tangannya. “Jangan remehkan kemampuan bangsawan, terutama Wangsa Geerginlik.”