Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 50


__ADS_3

Aku menyembulkan kepalaku dari tumpukan salju. Kepalaku terasa sangat dingin. Aku segera berdiri dan menyingkirkan salju dari kepalaku.


Aku melihat kaki Ty berayun-ayun, meminta pertolongan. Setengah tubuhnya, dari kepala hingga pinggang terbenam oleh salju.


Aku bergegas menghampiri Ty kemudian menariknya dari tumpukan salju.


“Puahh...! Hah.. hah.. hah...!”


Napas Ty terengah. Dia menarik napas panjang setelah aku berhasil mengeluarkannya. Dari tadi dia tidak bisa bernapas karena kepalanya terbenam di salju.


“Kau baik-baik saja, Ty?” tanyaku.


Ty mengangguk. “Terima kasih, Nona.”


Ty menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Tapi ini dingin sekali!”


Aras mendarat dengan keras di atas tumpukan salju hingga terbentuk cetakan tubuhnya di sana. Dia duduk kemudian membersihkan butiran salju di sekujur tubuhnya.


“Apa kau baik-baik saja?”


Perempuan yang tadi hampir kami tabrak berdiri di depan Aras sambil mengulurkan tangannya.


“Aku baik-baik saja.” Aras segera berdiri tanpa menghiraukan uluran tangan perempuan itu.


Aras menoleh ke arahku dan Ty. “Kalian baik-baik saja?”


Aku mengangguk, sedangkan Ty mengeluh kedinginan.


Aku menatap perempuan yang berada di samping Aras. Dia terlihat seperti manusia Klan Hijau pada umumnya. Rambut hijau dan mata hijau.Matanya sangat hijau dan berkilau seperti warna dedaunan di musim panas yang basah karena air hujan.


Aku memandang heran perempuan itu. Kebanyakan manusia Klan Hijau takut dan membenci klan yang asing bagi mereka. Tapi dia malah berbicara pertama kali dengan Aras, bahkan mengulurkan tangannya untuk membantu Aras.


Perempuan itu agak aneh untukku. Tapi aku tidak bisa menganggapnya begitu saja. Mungkin saja sikapnya itu terbentuk karena dia dibesarkan dengan cara yang berbeda daripada manusia Klan Hijau pada umumnya. Sikap Ty juga mirip seperti itu dan dia tidak terlalu takut dengan klan asing sepertiku dan Aras.


Namun keraguanku malah semakin menguat ketika menyadari jika perempuan itu tidak memiliki jejak yang menunjukkan bahwa dia adalah makhluk yang mendapat energi dari Zamrud, seperti makhluk hidup lainnya di Klan Hijau. Dia sama sekali tidak memiliki jejak.


Aku hanya bisa melihat jejak dari sesuatu yang mendapatkan energi dari permata klan. Dan aku tidak bisa melihat jejak perempuan itu. Padahal keadaanku sekarang sangat baik.


Aku menatap perempuan itu dengan ragu.


Tidak mungkin dia mayat hidup, kan? pikirku.


“Maaf, membuat kalian terjatuh,” kata perempuan itu. Dia membungkukkan tubuhnya kepadaku, Aras, dan Ty.


“Ini bukan salahmu. Kami yang tidak hati-hati karena berseluncur terlalu cepat,” sergah Aras.


“Apa kalian sedang melakukan perjalanan?” tanya perempuan itu.


Aras mengangguk. “Kami berencana pergi ke Pegunungan Selatan.”

__ADS_1


Perempuan itu tampak tertarik dengan tujuan kami. Dia terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi dia ragu dan menundukan kepalanya.


Aras menatapku karena bingung dengan tingkah laku perempuan di depannya. Aku menghela napas kemudian menghampiri mereka berdua bersama Ty.


“Apa kau tersesat?” tanyaku pada perempuan itu.


Perempuan itu mengangkat kepalanya dan menatapku. Sekilas aku melihat tatapan tidak suka yang terpancar dari wajahnya kepadaku.


Aku berkedip. Sekarang yang aku lihat dari adalah tatapan sedih sekaligus takut. Aku jadi agak bingung. Apa mungkin yang aku lihat sebelumnya hanya imajinasiku saja.


Perempuan itu kembali menunduk. Air matanya mulai menetes ke salju yang putih.


“A- aku... aku terpisah dari rombonganku. Kami pergi ke Pegunungan Selatan. Tapi aku malah tertinggal. Padahal aku tidak tahu jalan ke sana,” kata perempuan itu sambil menyeka air matanya.


“Oh, begitu,” kata Aras dengan datar.


Aras terlihat kaku menanggapi perempuan yang menangis di depannya. Dia tidak melakukan apapun kepada perempuan itu seperti menenangkannya atau semacamnya. Dia malah menatapku memohon pertolongan.


Aku memutar bola mataku karena kesal. Aku kira dia akan menghibur perempuan itu dengan menepuk kepalanya dan menawarkan ajakan untuk pergi bersama kami.


Sikap Aras kali ini tidak seperti biasanya. Padahal setahuku dia adalah orang yang cukup ahli dalam hal seperti ini.


Ketika kami berdua masih tinggal di panti asuhan, dia selalu berhasil menghibur anak perempuan di panti yang sedang menangis. Dia juga bisa menangani anak perempuan yang mengamuk.


Karena sikapnya itu, dia cukup populer di kalangan perempuan sejak dulu. Di panti asuhan dia bahkan terkenal sebagai seorang “kakak” karena kedewasaannya.


Saat di Jadnew, Aras juga bisa menangani pembeli perempuan dengan mudah. Aku jadi heran kenapa dia tiba-tiba menjadi kaku dan gugup seperti ini.


“Kebetulan tujuan kita sama,” tambah Aras.


“Benarkah?” Mata perempuan itu melebar.


Aku dan Aras mengangguk.


“Terima kasih!”


Perempuan itu berseru senang dan sontak memeluk Aras.


Aku yang melihatnya langsung membeku karena sangat terkejut. Tidak hanya aku, Aras yang mengalaminya sendiri juga langsung mematung di tempat.


Berbeda denganku dan Aras yang membatu, Ty berteriak terkejut.


“Hey, apa yang kau lakukan?!” teriak Ty.


Perempuan itu menatap Ty. Dahinya mengerut. “Apa aku melakukan sesuatu yang salah?”


“Ya! Sangat salah! Kesalahan besar!”


Ty menarik perempuan itu, berusaha memisahkannya dari Aras. Tapi perempuan itu memeluk Aras dengan sangat erat. Ty sampai kewalahan memisahkan mereka. Perempuan itu sangat teguh menempel pada Aras.

__ADS_1


“Kenapa kau sangat keras kepala sekali, hah?!” teriak Ty marah.


Aku tidak mengerti kenapa Ty begitu marah. Perempuan itu tidak melakukan suatu kesalahan apapun pada Ty ataupun kepadaku dan Aras.


Ty ganti mendelik kepada Aras. Dia bertambah kesal ketika melihat Aras tidak melakukan sesuatu untuk menyingkirkan perempuan yang menempel padanya, atau setidaknya memberi jarak di antara mereka.


“Aras, bantu aku singkirkan perempuan ini darimu!” teriak Ty.


“Tidak apa-apa, Ty. Mungkin dia masih ketakutan,” kata Aras.


“HAH?!” Ty menatap Aras tidak percaya. “Aku kira kau tidak sebodoh ini!”


Ty menghentakkan kakinya dengan kesal. Dia akhirnya putus asa memisahkan Aras dan perempuan itu. Ty membiarkan perempuan itu menempel pada Aras. Sebagai gantinya, dia mengajakku pergi.


“Ayo, Nona, kita pergi! Kita tinggalkan saja mereka berdua,” Ty menarik tanganku.


“Tapi Ty–”


“Maafkan aku, Nona. Tapi demi kebaikan Nona, kita lebih baik kita pergi saja dari sini.”


Aku dan Ty berjalan lebih dulu, meninggalkan Aras dan perempuan itu di belakang.


Kami tidak lagi berseluncur menuruni pegunungan. Papan seluncur yang aku buat terlalu kecil untuk empat orang. Beruntung kami hampir tiba di daerah yang tidak bersalju. Dari kejauhan aku bisa melihat rerumputan pendek di depan kami. Kami bisa menempuh perjalanan dengan berjalan untuk sampai ke sana.


Awalnya aku dan Ty berada di depan Aras dan perempuan itu. Tapi Ty menarikku mundur hingga kami berada di belakang mereka. Mereka berdua sekarang berjalan di depanku dan Ty. Ty bilang kita lebih mudah mengawasi mereka dari belakang.


Aku tidak terlalu mengerti apa yang harus diawasi. Aras dan perempuan itu hanya mengobrol biasa. Dari obrolan mereka, aku baru tahu jika nama perempuan itu adalah Miya.


“Aku Aras,” kata Aras.


“Aras? Nama yang sangat bagus!” puji Miya sambil menepuk tangannya.


Aras menoleh ke belakang.


“Ini Violet dan dia Ty.” Aras memperkenalkanku dan Ty.


Aku tersenyum. Ty masih cemberut. Dia memalingkan wajah ketika Miya menatapnya.


“Aku Miya.” Miya ganti memperkenalkan diri.


Setelah perkenalan singkat itu, kami tidak mengobrol lagi. Miya lebih banyak berbicara dengan Aras.


Sepanjang perjalanan, aku memperhatikan Ty terus melotot kepada Miya. Dia terlihat sama sekali tidak suka dengan Miya.


“Ada apa, Ty?” tanyaku pelan.


“Nanti saja,” jawab Ty singkat.


Aku hanya menatap Ty heran setelah mendengar jawabannya. Dia menjadi aneh semenjak Miya muncul.

__ADS_1


 


 


__ADS_2