Takdir Tujuh Ksatria

Takdir Tujuh Ksatria
BAB 78


__ADS_3

BRUKK BRAKK


Tanah berguncang hebat. Suara gemuruh memenuhi desa. Semua orang dilanda kepanikan. Mereka berlarian ricuh menyelamatkan diri.


BRUSHH


Gelombang besar menghantam daratan. Air danau membasahi Desa Jati. Api yang menjalar di bawahku padam. Sebuah golem raksasa muncul dari dalam danau. Penduduk desa tambah panik. Mereka menjerit ketakutan.


BRAKK


Tangan raksasa golem menyapu rumah penduduk. Penduduk desa berusaha menyelamatkan diri. Mereka berlari tanpa arah. Banyak di antara mereka bahkan menabrak tiangku.


Tiangku mulai miring. Jika masih ada yang tiang menabrakku lagi, tiangku akan jatuh.


BRUKK BAMM


Sekali lagi desa ini berguncang hebat. Sebagian Desa Jati amblas ke dalam danau. Air naik dengan cepat ke permukaan.


BAMM


Tiangku sudah sangat miring. Sebentar lagi aku akan terjatuh. Aku berusaha melepaskan ikatanku. Tapi mereka mengikatnya sangat kencang.


Tiba-tiba seseorang meloncat ke tiangku, membuat tiangku jatuh ke tanah. Aku kira aku akan ikut terjatuh dan mencium tanah. Tapi aku malah berada di lengan Aras.


Entah bagaimana Aras melepaskan diri dari Arnold. Dia tiba-tiba  muncul di hadapanku dan sudah menggendongku di lengannya.


Aku dan Aras mendarat mulus di tanah. Tapi Aras tidak melepaskan gendongannya sama sekali.


“Aras, turunkan aku,” pintaku.


“Kau terluka parah, Violet. Apa kau bisa berdiri?”


Aku mengangguk.


Aras menurunkanku perlahan. Dia tetap memegangiku ketika aku sudah berdiri tegak.


Sebenarnya, keadaanku tidak telalu baik. Aku hampir pingsan. Tapi aku tidak bisa membiarkan Aras menggendongku. Dia juga terluka parah. Aku bisa bekas luka cambuk di lengannya. Aku juga melihat rembesan darah di bajunya.


“Kita harus segera pergi dari sini! Aku sudah tidak bisa mengendalikan golem ataupun gempa ini lagi,” seru Aras.


Aku mengangguk.


Wusshh...


Sebuah kayu besar melayang ke arah kami. Aku dan Aras langsung menunduk. Kami menatap golem yang mengamuk. Dia sudah menghancurkan setengah desa.


“Ayo, Violet!” Aras menarikku.


Dengan kekuatan yang tersisa, kami berlari menuju jembatan penghubung desa. Dari jauh, aku sudah melihat penduduk desa berdesakan melewati jembatan. Mereka saling mendorong. Beberapa orang bahkan sampai terjatuh dari jembatan. Terjun bebas ke danau yang tiba-tiba menjadi sangat dalam seperti jurang.


Golem naik ke desa. Tanah yang diinjaknya amblas ke danau. Setengah desa sudah sepenuhnya tenggelam. Tangan golem kembali menyapu desa. Seorang perempuan tertangkap oleh golem. Dia dilemparkan begitu saja oleh golem ke danau. Orang-orang menjerit ketakutan.


Aku dan Aras berdesakan di antara penduduk desa. Aras menggenggam tanganku. Dia berjalan di depan, membuka jalan untuk kami.


Orang-orang saling mendorong. Beberapa kali aku dan Aras hampir terpisah. Tapi dia menggenggam tanganku sangat erat. Sekalipun jarinya tidak pernah lepas dari tanganku.


Golem semakin dekat. Aku dan Aras berhasil tiba di jembatan. Tapi justru ini paling menegangkan. Jembatan bergoyang hebat. Kami bisa jatuh sewaktu-waktu.


Aras mendesak orang-orang yang ada di depannya. Dia berusaha membawa kami mendekati ujung jembatan.


GROWL... BRAKK


Aku dan Aras tidak menoleh ke belakang, meskipun teriakan di belakang kami semakin menggila. Yang sudah jelas kami tahu, keadaan makin memburuk.


KRAKK KRAKK


BOOMMM

__ADS_1


“KYYAAA!!!”


Jembatan bergoyang hebat. Orang-orang di jembatan berteriak ketakutan. Semua orang terpelanting di jembatan. Aku dan Aras berpegangan erat pada tali jembatan. Beberapa orang terjatuh ke danau.


Tidak hanya desa yang amblas. Tapi danau ini ikut amblas. Hutan yang ada di ujung jembatan menjadi tebing yang menjulang di depan kami. Jembatan menjadi sangat miring.


Orang-orang kembali berusaha melewati jembatan. Tapi beberapa orang putus asa dan terjun dari jembatan. Parahnya mereka juga menarik orang yang di dekat mereka untuk terjun bersama.


Greb...


Seorang laki-laki mencengkram tanganku. Dia menatapku lalu terjun bebas dari atas jembatan. Aku ikut tertarik olehnya.


“Aras!” teriakku.


Aras menarikku sehingga aku masih berada di atas jembatan. Tapi laki-laki itu masih mencengkram tanganku. Kakinya bergelantungan di udara kosong.


“Lepaskan tangannya!” teriak Aras pada laki-laki itu.


Laki-laki itu tidak bergeming.


“Lepaskan tangannya! Jika kau ingin mati, matilah sendiri!” teriak Aras.


“Aku akan membawanya ikut denganku. Pembunuh Ziben juga harus mati!”


Amarah bergelora di mata Aras. Dia mengeluarkan mengambil belati yang entah milik siapa. Tanpa ragu dia menebaskan belatinya ke tangan laki-laki itu.


“Arghh!” teriak laki-laki itu kesakitan. Dia melepaskan tanganku dan jatuh ke danau.


Begitu tangan laki-laki itu terlepas, Aras langsung mendekapku. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang berdebar sangat kencang.


“Aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi,” bisik Aras sambil mempererat pelukannya.


BRAKK


Hutan di depan kami semakin tinggi. Jembatan kian miring. Makin banyak orang yang terjatuh dari jembatan. Aku dan Aras bahkan sampai tidak bisa berdiri di jembatan.


Meskipun begitu, Aras terus mendesak hingga kami tiba di depan tebing.


“Aku akan mengangkatmu,” kata Aras.


Tangan Aras di pinggangku. Dia lalu mendorongku naik. Tapi aku masih belum mencapai tepi tebing. Aras mendorongku lebih tinggi. Aku merentangkan tanganku lebih jauh. Tepi tebing berhasil aku raih.


Aku mencengkram tepi tebing lebih kuat. Aku menarik tubuhku ke atas sambil Aras mendorongku dari bawah. Kaki kananku berhasil naik ke atas tebing. Aku berguling hingga seluruh badanku berhasil naik.


Aku kembali ke pinggir tebing. Jembatan sudah sangat miring dan hampir putus. Danau dan desa semakin jatuh ke bawah. Aku bahkan sampai tidak bisa melihat permukaan danau.


Aku mengulurkan tanganku kepada Aras. Tapi jarak kami terlalu jauh. Aras tidak bisa mencapai tanganku. Aras berusaha meloncat setinggi mungkin dan tiba-tiba,


BRAKK


Jembatan terputus tepat ketika Aras meloncat. Tangan kami hampir tidak bersentuhan. Aku segera menjulurkan badanku untuk menangkap tangan Aras.


Plung... plungg.. plung...


Suara manusia yang berjatuhan ke danau menggema. Tangan kananku menggenggam erat tangan Aras, sedangkan tangan kiriku berpegangan pada pohon kecil di dekatku.


Seorang laki-laki bergelantungan di kaki Aras. Di kaki laki-laki itu terdapat seseorang yang memeganginya. Mereka membuat Aras semakin berat. Aku menarik Aras sekuat tenaga. Tapi kami nyaris tidak bergerak.


GROOO


Aku hampir melupakan keberadaan golem. Dia sekarang berada di dekat kami. Golem itu melempar rumah ke arah kami. Beruntung rumah itu tidak mengenai aku atau Aras. Tapi pecahan rumah itu tetap mengenai kami.


BRAKK


Jarak antara permukaan tebing dan danau semakin jauh. Aku memperat genggamanku pada Aras. Darah mengalir dari luka di tanganku ke lengan Aras. Aku semakin terseret keluar tebing.


“Violet, lepaskan aku!”

__ADS_1


“Tidak!”


“Kau bisa ikut jatuh jika kau tidak melepaskanku.”


Aku mengatupkan gigi lalu menarik Aras dengan sekuat tenaga. Kami hanya berhasil bergerak sedikit.


“Aku tidak akan melepaskanmu! Aku sudah hampir kehilanganmu. Aku juga susah payah menyelamatkanmu. Aku tidak mau kau mati begitu saja. Tetap pegang tanganku dengan kuat!” teriakku.


Tebing berguncang. Golem memukul tebing dengan tangan besarnya. Aku nyaris terseret jatuh.


“Violet, lepaskan aku.” Aras berkata pelan.


Aku menggeleng kuat.


“Aku tidak akan mati. Aku berjanji. Aku akan tetap hidup.”


“Kalau begitu tetap pegang erat tanganku!”


KRAKK... Srrtt...


Pohon yang aku genggam patah. Pohon itu sudah tidak kuat menahan Aras lagi. Aku makin terseret jatuh. Aku ganti memegangi tepian tebing.


“Violet!” Aras berteriak panik ketika aku hampir jatuh.


“Aku tidak apa-apa.” Aku ganti mempererat peganganku di tepi tebing.


Posisiku sangat buruk sekarang. Jika aku tidak melepaskan Aras sekarang, aku akan ikut jatuh bersama Aras. Tapi aku tidak bisa dan tidak akan melepaskannya.


“Violet, lepaskan aku! Kau harus melepaskanku!”


“Tidak!”


Aras menatapku dengan wajah yang sangat sedih.


“Aku mohon lepaskan aku.”


“Tidak akan!”


Aku tidak mau kehilangan Aras untuk kedua kalinya. Jika aku melepaskan tangannya dan dia jatuh dari ketinggian seperti ini, tidak ada jaminan jika Aras masih akan tetap hidup.


“Aku akan tetap hidup. Aku sudah berjanji padamu. Percayalah padaku!”


Aku hanya bisa menatap Aras dengan cemas. Pegangan tangan kami makin melemah. Air mataku menetes, jatuh ke wajah Aras.


“Jangan menangis, Violet. Aku akan kembali padamu. Aku akan bertahan dan kembali kepadamu.”


Air mataku mengalir lebih deras.


Aku menggelengkan kepala. “Aku tidak akan melepaskanmu.”


Golem semakin mendekati kami. Dia tampak tertarik dengan manusia yang saling berpegangan hingga menjutai di tepi tebing.


Aras menghela napas dengan sangat berat. “Maafkan, aku Violet.”


BRAKK


Sebuah batu muncul dari dalam tebing, mendorong tanganku dan Aras hingga tangan kami terlepas. Mataku terbelalak melihat tangan sudah tidak menggenggam tangan Aras.


“ARAS!!!”


Aras jatuh bebas dari tepi tebing. Tubuhnya tetap menghadapku ketika jatuh. Dia tersenyum. BibiRnya mengucapkan sesuatu yang membuat hatiku semakin sakit.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2