Talak Aku!

Talak Aku!
Semakin Memanas


__ADS_3

Orang yang akan menjadi saksi pertama membela Danu ialah tetangga yang memisahkan perkelahian Danu dan Fikri.


Setiap para saksi yang bersaksi, mereka di sumpah terlebih dulu di hadapan Al-Quran. Memintanya berkata jujur mengenai segalanya.


"Saya bersumpah akan berkata yang sejujur-jujurnya seperti apa yang saya lihat dan dengar," ujar seorang pria yang tengah bersiap menjadi saksi.


Fikri tersenyum sinis, "Ayo bicaralah seperti yang kau bicarakan," ucapnya dalam hati merasa jika orang itu akan berpihak kepadanya.


"Untuk Anda, kesaksian apa yang ingin Anda katakan?" tanya Iqbal kepada pria itu.


"Yang mulia, saya bersaksi jika pada hari itu pria itu," tunjuknya ke arah Danu, "Memukuli saudara Fikri secara membabi buta," ucapnya membuat Danu terbelalak.


"Karena saya punya alasan," balas Danu dalam hati masih berusaha tenang.


"Lalu, apalagi yang terjadi di sana?" tanya Iqbal dan di dengarkan oleh yang lainnya. Sedangkan Hakim Agung tengah mendengarkan dan mencatat poin penting yang di sampaikan saksi itu.


Pria itu melirik sebentar Fikri yang tengah menatap tajam seakan ingin membunuhnya. Wajah pria yang menjadi saksi menjadi pucat menelan ludah secara kasar.


"Sa-saya melihat saudara Danu terus memukul saudara Fikri ketika membela seorang wanita yang di bawanya secara paksa. Hanya ini yang saya tahu," ucapnya kembali. Hal itu membuat Fikri terbelalak mendengar suara yang keluar dari tetangga yang ada di dekat Danu.


"Brengsek, bisa-bisanya dia bilang begitu. Perjanjiannya tidak seperti itu sialan," umpatnya dalam hati merasa sia-sia membuang uang untuk menutup mulut para tetangga.


Danu mulai tersenyum tipis mendelik tajam ke arah Fikri. Dan Fikri pun menatapnya juga hingga sorot kedua mata pria itu memancarkan sebuah kebencian yang tercipta.


"Izin Yang Mulia, kami sangat keberatan atas kesaksian beliau Yang Mulia ...." sela pria yang berada di dekat Fikri dengan nada tegas sambil berdiri.


"Diterima," sahut Hakim mempersilahkan. Sedangkan Iqbal duduk kembali ke singgah sananya.


"Penjelasan saksi yang di hadirkan pihak terdakwa tidak akurat. Kejadian yang sebenarnya tidaklah seperti itu, Yang Mulia."


Kubu Danu menatap sinis dan mereka ingin mendengarkan pembelaan dari pihak Fikri. Dan saksi yang di hadirkan Danu turun dari tempat panas duduk kembali di kursi para saksi.


"Jelaskan kejadiannya!" pinta sang Hakim.


"Baik Yang Mulia, terimakasih. Saudara Fikri Rizaldy datang kesana dalam niat baik, dia ingin mengajak istrinya pulang ke rumah. Kedua, perkelahian itu terjadi di karenakan terdakwa datang tiba-tiba memukul saudara Fikri yang tengah membujuk istrinya. Padahal, saudara Fikri tidak mengetahui jika rumah itu merupakan rumah mantan suaminya saudari Diana. Lantas, dimana letak kesalahan saudara Fikri kala beliau meminta istrinya pulang tapi malah di halangi oleh terdakwa? Jadi, di sini jelas jika saudara Danu telah berusaha mencoba menculik istri saudara Fikri," ucap sang pengacara itu dengan penuh penekanan dan penuh keangkuhan jika penjelasannya akan menambahkan poin plus bagi pihak mereka.


Suara orang-orang mulai terdengar riuh di telinga membuat keadaan di sana sedikit gaduh. Ada yang mencibir Danu, ada yang membelanya dan ada yang berpihak ke kubu Fikri.

__ADS_1


Danu merasa keberadaan dan mengangkat tangannya serta bersuara, "Izin Yang Mulia."


"Di tolak." Belum apa-apa Hakim sudah menolak Danu sebelum menyuarakan pendapatnya.


"Sial, ini seperti ada kejanggalan."


"Sudah, mending kau duduk diam saja. Yakinlah semuanya baik-baik saja," ucap Iqbal menepuk-tepuk pundak Danu seakan memberikan keyakinan jika mereka akan menang.


"Saksi yang di hadirkan pihak terdakwa bisa saji saksi palsu yang sudah di bayar mereka untuk membela terdakwa ..."


"Keberatan Yang Mulia." Iqbal berdiri mulai memahami cara main dari pihak Fikri.


"Di terima, silahkan." Dan pengacara Fikri kembali duduk.


"Kami tidak mungkin membayar saksi demi kepentingan kami pribadi. Dan saya punya bukti lain selain saksi," ujar Iqbal akan mengeluarkan bukti yang ia temukan saat melakukan penyelidikan di kediaman Danu.


"Bukti apa? Silahkan tunjukan!"


"Bukti apa yang sedang mereka bicarakan? Apa kau yakin tidak memiliki bukti-bukti lainnya?" bisik Fikri mulai khawatir.


"Saya tidak menemukan bukti apapun di sana selain para warga yang menyaksikan."


Seorang pria datang membawa sesuatu dan memberikannya kepada Iqbal. Iqbal menerima benda kecil tersebut dan berjalan mendekati Hakim.


"Yang Mulia, ini adalah rekaman Cctv yang kami temukan di salah satu rumah warga yang kebetulan merekam kejadian tersebut. Mohon di periksa Yang Mulia," kata Iqbal sedikit menundukkan kepalanya.


Fikri terbelalak, "Kau bilang tidak menemukan apapun lagi, tapi kenapa ada rekaman Cctv segala, hah? Kau mau menipuku?" bisik Fikri menatap tajam pengacaranya.


"Saya sungguh tidak tahu kalau ternyata ada rekaman Cctv di sana. Saya sudah mencari dan menyelidiki tidak ada apapun selain warga yang menjadi saksi."


"Halah, percuma saya bayar kau mahal tapi kau tidak becus mengurus perkara ini saja." Fikri menggeram kesal dan marah atas tindakan ceroboh pengacaranya yang tidak bisa menemukan rekaman tersebut.


Hakim dan Wakil Hakim menonton video yang di putar dan dimana Diana tengah terlihat ketakutan melihat Fikri. Lalu Fikri menarik paksa Diana keluar rumah hingga Danu datang memukulnya secara tiba-tiba.


Dari rekaman tersebut menunjukan jika Danu tengah menolong Diana yang hendak di seret paksa secara kasar. Lalu perkelahian terjadi membela satu sama lainnya untuk mempertahankan Diana.


"Dari rekaman tersebut menunjukan jika saudara Fikri memaksa saudari korban sekaligus saksi kunci utama. Saudara Danu mencoba membela saudara Diana karena merasa apa yang dilakukan saudara Fikri salah."

__ADS_1


Penjelasan Iqbal membuat Danu tersenyum senang sekaligus bangga pengacaranya begitu luar biasa bisa menemukan satu bukti kuat.


"Tapi itu karena dia sudah yang menculik dan sudah menghasut istri saya," sahut Fikri mulai memanas.


"Saya tidak menculik Diana tapi kaulah yang membuat Diana lari dari dirimu," balas Danu mulai bersuara karena merasa dia tidak salah.


"Tolong diam sejenak!" ujar Hakim. Barulah keributan yang di lakukan Fikri dan Danu terhenti kala Hakim melerainya.


"Untuk saudara Iqbal, silahkan lanjutkan."


"Terima kasih, Yang Mulia. Saya juga mempunyai bukti jika saudari Diana tidak di culik," ujar Iqbal memberikan lagi sebuah rekaman di ponselnya, "Ini video saudari Diana yang saat ini tengah bersembunyi dari saudari Fikri.


Hakim menonton rekaman tersebut.


"Saya disini ingin menjelaskan mengenai kenapa saya bisa berada di rumah mantan suami saya. Saya kabur dari suami saya saudara Fikri Rizaldy di karenakan beliau mengancam saya. Beliau akan membunuh putra saya jika saya tidak menurutinya. Maka dari itu saya kabur dari jeratnya dan kebetulan bertemu dengan mantan suami saya."


Rekaman itupun terhenti setelah Diana selesai menceritakan semuanya. Fikri mengepalkan tangannya merasa kalah satu langkah.


"Darimana pria itu bisa mendapatkan rekaman Diana? Kemana mereka membawa Diana pergi?" batin Fikri geram dan mulai waspada. Dia yang tadinya percaya diri akan memenangkan sidang ini perlahan mulai meredup ketika Iqbal menemukan rekaman Cctv dan video Diana.


"Izin Yang Mulia," ucap pengacara Fikri.


"Silahkan."


"Maaf Yang Mulia. Saya keberatan karena saya belum selesai. Saya punya satu kejutan untuk saudara Fikri yang mungkin bisa menambahkan poin kebebasan untuk klien kami," sela Iqbal ingin menghadirkan seseorang, "Silahkan berdiri!" pinta Iqbal pada seseorang.


Dan orang itu berdiri mengenakan kacamata serta masker. Kemudian dia membuka maskernya dan membuka kacamatanya. Seketika Fikri terkejut melotot sempurna melihat orang itu.


"Salma ...!"


*********


Assalamualaikum man teman.


Hai hai hai semuanya, aku punya rekomendasi cerita yang bagus untukmu. Ayo Mampir!!! Di jamin seru!


Ini karya terbaik milik temanku, berjudul AKU YANG KAU BUANG karya AYUZA.

__ADS_1


Buruan MAMPIR!!! di jamin seru ceritanya.



__ADS_2