
"Loh, kalian mau kemana dan kenapa?" Fikri bertanya-tanya mengenai kesiapan Karin dan Cici yang sudah berdiri dalam keadaan rapi dan berpamitan kepada Diana.
Mereka yang sedang saling berpelukan dalam keadaan menangis menoleh ke arah pintu lalu melepaskan pelukannya.
"Nak Fikri, Saya dan Cici mau pergi lagi ada urusan mendadak sehingga kami terpaksa harus meninggalkan Diana lagi. Saya menitipkan Diana pada kamu. Tolong jaga dia ketika saya sedang berada di luar kota." Pinta Karin layaknya seorang ibu yang meminta kepada menantunya untuk menjaga putri semata wayangnya.
"Tante tidak perlu khawatir, saya akan menjaga Diana sesuai kemampuan saya. Dan saya juga akan menjaganya. Saya janji itu." Fikri berkata serius menunjukan keyakinan dalam berucap.
Pastinya dia akan lebih leluasa suntuk mengambil hati Diana dan menunjukan keseriusan cintanya pada wanita pujaannya.
Karin terharu karena dia merasa sedikit tenang meninggalkan Diana dan cucunya pada orang yang ia harapkan. Dia merasa yakin kalau cinta Fikri tulus dan pastinya akan mampu membuat Diana bahagia.
Setelah berpamitan pada Diana, cucunya dan kepada Fikri, Karin dan Cici kembali pergi dengan hati yang tidak ikhlas meninggalkan Diana dalam keadaan begini.
"Diana, aku pergi dulu. Kamu di sini baik-baik, ya. Dan jangan pernah mau di bodohi oleh orang di sekitar," celetuk Cici berpamitan sekaligus memperingati Diana untuk hati-hati pada orang di sekitarnya. Matanya pun melirik Salma di toko sebelah.
Fikri yang ada di dekat Diana mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Tentunya, Ci. Aku akan ingat pesan kamu dan akan mengawasi sekitarnya." Meski tidak mengerti kemana arah pembicaraan Cici, Diana membalas perkataan sahabat.
"Bli, saya harap kamu mampu setia pada sahabat saya. Kalau tidak..."
"Cici ayo, nanti kita terlambat." pekik Karin sudah berada di taksi yang mereka pesan. Cici menengok dan mengangguk. "Iya, Tante."
"Saya harap Bli Fikri bisa setia dan bisa membahagiakan Diana. Jangan cuman bisa janji tapi buktikanlah." ujarnya kembali berpesan seraya menatap tajam lalu beralih melihat Diana. "Aku pamit dulu, Dee. Kami baik-baik saja di sini."
Diana mengangguk sambil berdiri memangku putranya. Cici dan Karin pun pergi.
__ADS_1
******
Danu sedang mencoba menghubungi no mamanya lagi setelah ponselnya sudah menyala.
Tuutt... tuut...
Dia mondar-mandir panik ingin segera mengetahui kabar lebih lanjut. "Ayo, Mah. Angkat."
Setelah menunggu beberapa saat, barulah panggilannya di di angkat. "Hallo, Mah. Bagaimana keadaan papa? Mama masih di sana?"
"Mama juga tidak tahu keadaan Papa saat ini. Tapi mama dan Cici sedang dalam perjalanan ke bandara ingin langsung ke Turki. Kamu juga ikut? Atau mau tinggal di sini dulu?"
Danu diam bingung harus berbuat apa. Tapi dia juga ingin mencari Diana dan dia juga ingin mengetahui keadaan Papanya.
"Kalau Zio tidak kesana bagaimana? Nanti mama kabarkan keadaan Papa. Ada hal yang ingin Zio cari sebelum ke sana, Mah." Dirinya di landa kebingungan namun juga khawatir secara bersamaan. Dua orang yang ingin di cari merupakan orang spesial. Fakhri orang tuanya dan Diana orang spesial dalam hidupnya.
"Mama mengerti. Kalau kamu masih memiliki urusan di sana biar mama dulu yang pergi ke Turki memastikan keadaan papa dan kalau kamu ingin ke sini juga kita bisa bareng sama-sama." Karin tidak ingin memaksakan putranya untuk ikut hari ini. Dia memberikan waktu kepada Danu dalam menghadapi dan memilih apa yang ingin dipilihnya.
Bolehkan dia egois mementingkan dirinya sendiri? Bolehkan dia memastikan lagi kegalauan hatinya dalam hal percintaan? Bolehkan dia tidak langsung melihat keadaan orangtuanya dan memilih mencari seseorang yang mungkin sudah tidak akan ia miliki lagi? Tapi inilah Danu, keputusannya seperti itu. Dia yang mencari cinta sedang berusaha mengejar cintanya yang hilang sampai menyampingkan keadaan orangtuanya yang seharusnya menjadi prioritas utamanya.
Tapi sang ibu pun tidak ingin memaksakan kehendak putranya. Dia membiarkan sang putra dengan pilihannya agar bisa bertanggung jawab atas pilihan yang di pilihnya. Karin juga meyakini kalau keadaan suaminya baik-baik saja meski hatinya tidak bisa berbohong jika dia merasakan rasa gelisah dan gundah gulana.
Sambungan teleponnya pun mereka matikan lebih tepatnya Karin yang mematikan karena bersiap untuk naik pesawat.
*******
Dentingan sendok yang beradu menggema di ruangan diisi oleh sepasang pengantin baru nikah dadakan. Makan siang bersama untuk pertama kalinya ditemani orang asing namun harus bersatu oleh fitnah yang tidak pernah di lakukannya.
__ADS_1
Meski masih ada rasa canggung antara Fikri dan Diana, namun keduanya berusaha untuk mendekatkan diri meski masih seperti ada jarak diantara keduanya.
"Dimana Salma?" Diana bertanya untuk memecahkan keheningan di antara keduanya.
Fikri heran malah Salma di tanyakan bukan keadaan dirinya yang habis pulang mengantarkan pesanan.
"Kenapa menanyakan Salma? Harusnya kamu itu menanyakan keadaan saya. Bli capek tidak sudah bekerja seharian? Kalau capek aku pijitin, begitu baru benar." Fikri mencebik kesal tidak bisa mendapatkan perhatian dari Diana. Mungkin dirinya harus lebih ekstra berusaha agar mendapatkan hati istrinya.
Diana melirik sebentar lalu kembali menunduk meneruskan suapannya. "Karena biasanya Salma jam segini suka ada di toko dan sering makan bareng aku. Jadi aku ingin tahu apakah dia udah makan siang atau belum?"
"Oh. Tinggal kamu tanya saja dianya."
Diana memberhentikan tangan yang hendak makan. Lalu mendongak. "Bli tolong panggilkan Salma, ya?"
"Ukhuk... ukhuk..." Fikri sampai tersedak. Lalu Diana memberikan segelas air minum pada Fikri. "Kalau makan tidak usah buru-buru."
Fikri pun meneguk air putih tersebut sembari menatap Diana. "Kamu nyuruh aku memanggilnya ke sini?" dan di balas anggukkan kepala oleh istrinya.
"Kamu saja lah." nampak helaan nafas lesu terlihat jelas di wajah Fikri.
"Bli, saya mohon. Kasihan sama kalau belum makan. Lagian ini makanan banyak, sayang kan Kalau dibuang?" makanan hasil masakan Karin dan Cici terpampang nyata beraneka ragam hidangan berada di atas meja. Diana pun ingin berbagi makanan tersebut daripada mubazir dibuang begitu saja.
Raut wajah memohon serta tatapan polos mata bening indah itu tidak mampu membuat Fikri menolaknya. "Baiklah, saya panggilkan dia dulu."
Fikri pun beranjak berdiri lalu meninggalkan Diana sendiri sampai dirinya tiba di toko mencari keberadaan Salma.
Salma yang sedang menyusun bunga tersenyum senang Fikri menghampirinya. "Bli pasti ingin bertemu denganku."
__ADS_1
"Ck, bukan saya tapi Diana ingin bertemu denganmu menyuruhmu untuk ikut makan bareng kita. Sebenarnya saya males tapi karena saya tidak tega menolak niat baik istri saya, jadi saya mengajak kamu untuk bergabung makan." Fikri pun langsung melengos pergi.
"Ck, Diana lagi Diana lagi, apa sih bagusnya wanita itu. Cantikkan saya kemana-mana." Meski menggerutu, Salma beranjak menghampiri mengikuti Fikri dari belakang.