
"Suara bayi?!"
"Mah, Mama sedang dengan siapa di sana? Kok ada suara bayi?" Danu bertanya-tanya mengenai bayi berceloteh tersebut. Dia mendadak teringat calon anaknya yang telah tiada.
"Iya, di sini memang ada bayi sangat lucu sekali. Mama juga sayang sama bayi ini dan mama ingin membawa bayi ini." Karin memancing reaksi Zio untuk mengetahui perasaan putranya di saat mendengar suara bayi akan bereaksi seperti apa.
"Mah..." suara Danu terdengar begitu lirih hampir tidak kedengaran.
"Kenapa, Zio? Mainlah ke Bali. Di sini tempatnya indah dan juga banyak wanita cantik. Mau bule ataupun lokal banyak di sini mah." Karin kembali menggoda utaranya sekaligus ingin melihat reaksi Diana seperti apa.
Ternyata Diana menunduk murung menyembunyikan wajahnya yang sudah terlihat sedih. Dan Danu mendadak diam seribu bahasa tidak merespon cepat ucapan Karin. Namun, mereka tertegun saat mendengar ucapan Zio.
"Zio hanya ingin Diana kembali, Mah. Zio tidak bisa menghilangkan Diana dari dalam hati Zio. Zio mencintainya dan ingin memperjuangkan dia kembali. Zio janji akan mencari Diana lagi."
"Bagaimana kalau Diana sudah menikah lagi? Apa yang akan kamu lakukan?" Karin kembali bersuara untuk memastikan jawaban apa yang akan Danu keluarkan. Akankah Danu bersedia menunggu atau akan mencari yang baru.
Diana berdebar menunggu jawaban Danu, pria yang masih bertahta di hatinya hingga saat ini namun mustahil baginya untuk kembali lagi setelah dirinya menjadi istri orang lain.
"Kalaupun Diana sudah menikah lagi, aku akan menunggu jandanya dia. Zio tidak bisa menghilangkan rasa cinta ini meski Diana telah pergi dan entah dimana keberadaannya saat ini."
Karin kembali melirik Diana. Wanita itu menunduk sembari memperhatikan putranya yang sedang anteng menyesap bagian nutrisinya. Di saat beginilah baby Arka baru mau menyusu pada bundanya.
"Iya, semoga saja Diana mau..." belum juga selesai bicara ada panggilan masuk dari no lain. Dan itu no suaminya.
"Bentar, Zio. Papa menelpon." Karin pun mengalihkan sambungan teleponnya lalu menggabungkan dengan panggilan Danu.
"Selamat pagi, apa benar ini dengan keluarganya Fakhri?"
"Iya, saya istrinya. Ada apa ya? Ini siapa?" Karin di landa kecemasan mengetahui suara di sebrang telpon bukanlah suara suaminya. Dia juga menatap Diana dan Cici secara silih berganti.
__ADS_1
"Kami dari kepolisian Turki ingin memberitahukan jika kendaraan yang suami Anda kendarai mengalami kecelakaan tunggal. Kini korban sedang berada di rumah sakit guna melakukan tindakan pemeriksaan dan perawatan."
"Innalilahi wainnailaihi rojiun. Papa...!" Karin syok dan sampai menjatuhkan ponselnya. Tubuhnya terduduk lesu di pinggir ranjang dalam keadaan tatapan kosong. Lalu Cici mengambil ponsel tersebut dan beralih bicara.
"Pak, apa anda serius jika mobil itu milik tuan Fakhri? Apa ada korban lain selain beliau?" Cici juga panik dan terkejut karena setahunya papanya pergi bareng bersama suaminya Karin.
"Ada dua korban dalam kecelakaan tersebut Dan keduanya sedang dalam perjalanan rumah sakit."
"Ya Allah, Papa..!" Cici pun terhunyung sama-sama syok.
Dunia Karin dan Cici bagaimana roda yang berhenti seketika tak dapat lagi bergerak. Mereka baru saja berbahagia atas kelahiran bayi mungil bernama Arkana Alzio Fakhri, kini sudah menerima berita buruk yang membuat keduanya syok lemas seketika.
Sedangkan di sebrang telpon pun tak kalah terkejut mengetahui papanya mengalami kecelakaan.
"Mama, Cici."
Brak...
"Papa kecelakaan." Danu yang sedang berdiri bersiap ke kamar mandi pun malah terdiam mematung tak percaya atas kabar duka yang ia terima. Baru saja dirinya bebas dari jeruji besi kini harus di hadapkan kembali oleh kenyataan yang membuatnya terpuruk sekaligus panik.
Danu kembali mengambil ponselnya ingin menghubungi lagi mamanya. Tapi ponselnya malah mati.
"Papa, Dee. Dia kecelakaan." Karin menatap sedih dan seketika menangis menutupi wajahnya menggunakan telapak tangan.
"Tante, papa aku tidak kenapa-kenapa kan Tante? Om Fakhri dan papa pasti selamat kan Tante?" Cici pun tak kalah histeris mengetahui orangtuanya mengalami musibah.
Karin menatap iba gadis seusia Diana. Dia memeluk Cici dan menangis saling menguatkan serta berdoa untuk keselamatan kedua orang yang mereka sayangi.
"Kita berdoa semoga mereka baik-baik saja, Ci. Kita akan kesana secepatnya." Karin berusaha tegar meski hatinya rapuh dan pikirannya khawatir takut mereka berdua kenapa-kenapa terutama suaminya.
__ADS_1
Diana ikut sedih dan tentunya menangis merasakan kekhawatiran begitu dalam terhadap dua orang yang begitu baik kepadanya. Dia juga tengah berusaha menenangkan putranya yang kembali menangis mengetahui kabar mengejutkan ini.
"Sayang, jangan nangis, Nak. Opa pasti baik-baik saja." penuh perhatian serta ucapan lembut Diana gunakan sambil terus berbisik tentang shalawat untuk menenangkan baby Arka.
"Diana, apa kamu tidak keberatan kalau kita tinggal lagi? Mama dan Cici ingin mengetahui kabar Papa dan orang tuanya Cici. Kami harus kesana, Diana. Hiks Mama hiks hiks Mama takut sekali kehilangan papanya Zio." Karin tersedu-sedu menangis bingung diantara dua pilihan. Menemani cucunya dan suaminya. Tapi Karin harus memilih satu diantara dua tersebut.
"Aku tidak apa-apa, Mah. Papa lebih membutuhkan Mama. Lagian di sini ada bli Fikri dan Salma yang akan menemani Diana dan juga membantu merawat baby Arka." Meski hati kecilnya tidak menginginkan Karin pergi namun dia tidak boleh egois sendiri. Fakhri jauh lebih segalanya dibandingkan dia yang hanya mantan menantu.
Karin menangkup wajah Diana lalu mengecup keningnya penuh sayang. "Maafkan Mama harus pergi lagi," gumamnya seraya memeluk Diana dari samping.
"Iya, Mah. Tidak apa-apa."
******
"Aku harus hubungi siapa untuk memastikan papa? Mana ponsel habis baterai lagi." Danu sedang kebingungan sambil mengecas ponselnya.
Ingin pulang ke rumah orangtuanya tidak bisa masuk dikarenakan kuncinya tidak ada. Ingin menghubungi lagi mamanya tidak bisa. Alhasil Danu menunggu kabar selanjutnya dan menunggu ponselnya kembali menyala.
"Baru satu persen. Buruan handphone cepat penuh."
*******
Fikri baru saja pulang mengantarkan pesanan, dia juga baru turun dari mobil pick up. Dan sudah di sambut baik oleh Salma yang ada di depan toko bunga.
"Bli Fikri pasti capek, Salma bawakan air minum buat bli. Ini." Salma memberikan botolnya.
Karena haus, Fikri mengambil botol tersebut. "Terima kasih. Saya masuk dulu." Fikri pun meninggalkan Salma melewatinya setelah mengambil minuman. Lalu dia meminumnya.
Salma menghelakan nafas merasa kecewa Fikri tidak menyambut senyumannya. "Saya tidak akan menyerah begitu saja, bli. Saya akan kembali mendapatkan mu," gumamnya yakin jika Fikri akan kembali terjatuh ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Setibanya di pintu masuk rumah Diana yang memang bersebelahan dengan toko bunga, Fikri di kejutkan oleh Karin dan Cici yang sedang bersiap untuk pergi lagi sambil menangis memeluk Diana.
"Loh, kalian mau kemana dan kenapa?"