
Burung besi yang ditumpangi Danu sudah memberikan peringatan jika kendaraan yang bisa terbang itu akan landing. Pria tampan berwajah blasteran pemilik mata indah dengan rambut sedikit gondrong itu sudah tidak sabar untuk tiba di rumah yang akan ia singgahi. Tempat di mana dirinya akan mencari Diana sampai bertemu Diana kembali.
Landing itu kebalikan dari take off. Kalau take off berarti lepas landas, landing adalah situasi yang digunakan ketika pesawat akan mendarat. Pada situasi ini, seluruh penumpang juga diminta untuk mengikuti arahan dari cabin crew.
Setelah mengikuti arahan sesuai yang diarahkan, tak lama kemudian burung besinya mendarat sempurna di sebuah lapangan luas yang sering digunakan pesawat lepas landas maupun landing.
Danu sampai rela tidak istirahat dulu hanya untuk menemui wanita pujaannya. Rasa lelah yang ia rasakan tidaklah sebanding dengan sebuah kerinduan yang ia pendam selama berbulan. Uang yang dikeluarkan pun tidak seberapa dengan rasa cinta yang ia miliki untuk Diana.
Dirinya tidak memikirkan berapa uang yang ia keluarkan, berapa lama waktu yang harus ia tempuh untuk bisa sampai di kota dengan sejuta cerita wisatawan bulenya. Terpenting baginya bisa segera bertemu.
Cinta itu memang buta, cinta luar biasa itu memang ada. Buktinya cinta yang Danu miliki membutakan segalanya hingga sampai rela melakukan penerbangan kembali di saat dirinya baru saja tiba di kota kelahirannya. Cinta yang luar biasa untuk Diana mampu membuat dia nekat segila ini tanpa memikirkan bagaimana keadaannya sekarang. Lelah pasti, ngantuk iya, lapar pun juga tak dirasa, namun semuanya demi wanita yang di puja.
"Pada akhirnya cintaku untukmu membawa ku kemari. Diana, tunggu aku," ujar Danu segera mencari kendaraan yang akan ia tumpangi selama dirinya berada di sana. Lebih tepatnya kendaraan yang akan ia sewa agar tidak harus menggunakan jasa sopir saat ingin ke sana kemari.
Langkahnya begitu tergesa keluar dari bandara seraya melihat sebuah benda penghitung waktu yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul sembilan malam dia mendarat sempurna di Bali.
******
"Diana jangan kabur kamu!" Fikri melepaskan pelukannya Salma sekuat tenaga kemudian mendorong tubuh wanita itu sangat kasar hingga Salma kembali tersungkur ke lantai. Dia tidak memperdulikan teriakan Salma yang bilang, "Fikri jangan kau mengejar Diana lagi, lepaskan dia!"
Telinganya seakan tuli oleh teriakan wanita menyebalkan yang paling tidak dirinya sukai saat ini.
Fikri terus mengejar Diana cari makan mencari kemana wanita itu perginya. Matanya pun menemukan sosok Diana yang tengah lari ke arah timur. "Diana kembali kau, kemari!"
Diana menoleh kebelakang, dia terbelalak Fikri sudah ada di belakangnya mengejar dirinya.
"Tidak! Aku tidak mau kembali padamu!" dengan suara yang lantang seraya berlari menghindari, Diana membalas teriakan Fikri sambil matanya mencari-cari kendaraan yang bisa ia tumpangi.
Sebagian tetangga yang kebetulan masih berada di luar rumah keheranan melihat pemilik toko bunga dan suaminya berkejaran.
"Itu kenapa lari-larian begitu? Mbak Diana sepertinya menghindari Fikri. Apa ada masalah?"
"Saya juga kurang tahu, karena setahu kita rumah tangga mereka adem ayem tidak ada percekcokan. Mungkin saja Bli Fikri berbuat kasar sehingga Mbak Diana tidak ingin padannya."
"Sudahlah jangan mengurusi hidup orang lain. Hidup diri sendiri aja masih banyak yang harus diurusi, ngapain harus mengurusi orang lain."
__ADS_1
Fikri yang sempat mendengar pembicaraan dua orang pria yang ada di depan jalan hanya mencebik sebal.
Diana celingukan mencari mobil atau motor yang bisa ia tumpangi. Dan untungnya ada tukang ojek lewat ke sana.
"Bli, berhenti!" Diana melambaikan tangannya seraya mencegahnya di tengah jalan. Sesekali ia nengok ke belakang melihat pergerakan Fikri sudah sampai mana.
Ckiiit...
Pria tukang ojek itu mengerem kuda besinya secara mendadak dan sempat mengumpat kesal.
"Mbak Diana, kamu mau cari mati? Untung rem kendaraanku ini pakem jadi tidak sampai menabrak tubuhmu itu," ujarnya mengomeli Diana.
Diana melihat ke belakang dan tanpa minta ijin langsung beranjak menaiki motor tukang ojek.
"Bli, tolong aku. Bli Fikri orang jahat Dia mau membunuh aku dan juga sering sering kasar padaku. Aku mohon, Bli. Buruan jalan!" Diana sudah panik sebab Fikri semakin mendekat.
"Diana tunggu! Jangan lari kau! Kembali padaku!" Fikri mengejarnya dengan amarah masih menguasai jiwanya.
Tukang ojek yang melihat Diana begitu ketakutan. Dia merasa kasihan dan segera menjalankan motornya melewati Fikri yang hendak menangkap motor dia.
"Aakkhh sialan, jangan lari dariku Diana!" Fikri tidak diam saja. itu kembali berlari mengambil kuda besinya lalu mengejar ke mana motor yang membawa Diana pergi.
"Bli, cepetan. Dia mengejar kita, Bli. Saya tidak mau dia menangkap ku lagi. Saya takut dia membahayakan anak saya, Bli." Diana terus memantau pergerakan Fikri.
"Kau dan dia memiliki masalah apa sampai pria itu mengejar mu begitu?" tukang ojek nya juga menjadi kepo dengan mata sesekali melihat kesepian guna memperhatikan pergerakan Fikri yang sedang mengejarnya.
"Dia jahat," jawab Diana tidak ingin lebih banyak membahas pria itu karena walau bagaimanapun Ini masalah rumah tangganya.
Ada yang bilang masalah rumah tangga tidak boleh dibawa keluar rumah dan harus diselesaikan di dalam rumah. Tapi ini permasalahannya berbeda, karena nyawa lah taruhannya. Jika seseorang sudah mengancam akan membunuhnya maka perkataan itu akan terus-terusan terucap hingga suatu kesalahan fatal terjadi di saat amarah semakin menjadi. Dan Diana lebih menyayangi nyawa serta anaknya dibandingkan harus mati konyol mendapatkan sebuah siksaan yang tidak akan bisa hilang begitu saja jika sudah mengalami trauma.
Tapi setelah hampir satu jam menghindari kejaran Fikri, kendaraan yang Diana tumpangi tiba-tiba mendadak mati tepat di tengah perjalanan yang cukup sepi dan jauh dari perumahan. Hanya ada sawah terbentang luas padahal sebentar lagi jalan menuju tempat ramai.
Ccccssssttt...
"Yah, yah, mati! Mbak motor saya mati. Bagaimana ini?" tukang ojeknya terkejut motornya tiba-tiba mati.
__ADS_1
Diana turun dari motor seraya melihat Fikri yang masih saja tiada henti mengejarnya.
"Bli, saya harus bagaimana ini? Saya tidak mau Bli Fikri menangkap saya." Diana di buat kebingungan kala motor Fikri kian mendekati.
"Lari ke depan sana! Di sana sebentar lagi jalan sangat ramai." Dan Diana pun mengangguk lalu memberikan uang merah pada tukang ojek nya.
"Terima kasih atas bantuannya, Bli." Dan Diana pun kembali berusaha menghindari sambil sesekali memperhatikan putrinya yang entah kenapa terus sajaan tidur dalam gendongannya.
"Diana mau lari ke mana kau? Ke ujung dunia pun akan kucari sampai kudapatkan lagi." Fikri berteriak sambil menjalankan kencang motornya mengejar Diana. Sedangkan kakinya menerjang tukang ojek yang sudah membantu dia kabur. "Ini sedikit pelajaran buat kau."
Dug...
Pria itu terjatuh setelah mendapatkan tendangan Fikri dan mengumpat kesal, "Dasar gila. Pantas saja Mbak Diana kabur darinya."
******
Danu sudah mendapatkan mobil sewaan yang ia sewa untuk digunakan selama di kota B. Dia menjalankan mobilnya cukup tinggi dikarenakan ingin sampai ke rumah yang selama ini orang tuanya gunakan di saat berlibur ke tempat yang terkenal dengan pantai kutanya.
Matanya terus mencoba melirik kanan kiri, depan belakang lewat kaca spion berharap bisa menemukan sesuatu yang membuat dia bahagia. Siapa lagi berharap bertemu Diana malam ini juga. Namun, harapan Danu tidaklah mungkin kesampaian dikarenakan ini sudah malam hari dan tidak mungkin Diana keluar dalam waktu malam.
*****
"Ayo semangat Diana, sebentar lagi jalan raya. Kamu harus segera sampai di sana sebelum Fikri menangkap mu," ucapnya menyemangati dirinya sendiri berharap bisa lari dari kejaran pria gila.
"Hahaha kau tidak bisa lari dariku, Diana." Fikri tertawa bahagia dan memelankan laju kendaraannya di karena merasa Diana pasti di tertangkap olehnya.
"Aku lebih baik mati daripada bersamamu!" pekiknya terus berlari sambil menengok kebelakang tanpa menyadari jika dia sudah sampai di pertigaan jalan.
Tiiid...
Diana menoleh dan terbelalak ada mobil hendak menabraknya.
"Aakkkkhhh...!"
Ckiiit... dug...
__ADS_1