
Semua orang tengah menunggu dokter keluar dari ruangan operasi. Mereka terlihat begitu khawatir atas kejadian yang menimpa Diana. Mereka tidak menyangka nasib hidup Diana di uji begitu besar secara berturut-turut.
Nampak keadaan di sana begitu menegangkan. Karin dan Cici tidak ikut masuk ke dalam rumah sakit di karenakan mereka menunggu di luar di tempat para orang membawa anak-anak. Rumah sakit itu tidak menganjurkan anak kecil masuk ke dalam selain dalam keadaan darurat saja.
Dan hanya para pria yang menunggu kabar penanganan Diana. Papa Fakhri dan Rio tengah duduk menyenderkan punggungnya ke kursi menunggu kegiatan operasi pengangkatan peluru selesai.
"Sungguh malang sekali nasibmu, Nak. Harus kehilangan saudara gara-gara anak saya, kerlingan Ibu di saat syok anaknya tiada, menikah tapi mendapatkan perlakuan tidak baik dari Danu, sekarang harus menikah lagi dengan orang sedikit tidak waras sampai membuat kamu seperti ini. Seandainya, seandainya Danu tidak melakukan kesalahan mungkin kamu tidak akan mengalami hal seperti ini," gumam Fakhri terpejam sedih merasa apa yang terjadi kepada Diana ada kaitannya dengan mereka. Berawal dari ketiadaan kembaran Diana.
"Saya merasa bersalah kepada Bapaknya Diana tidak bisa menjaga putrinya dengan baik. Saya yang mendapatkan amanah untuk selalu menjaga putrinya tidak bisa menjaga malah membuat Diana menderita. Jika orang tua anak masih ada pasti kejadian ini tidak akan terjadi. Saya yang diamanatkan menjadi pengganti walinya Idak bisa senantiasa ada di dekat dia. Saya merasa bersalah kepada Bapaknya dan ibunya," ujar Rio termenung menerawang kembali kejadian dulu dimana sahabatnya menitipkan Diana kala pria itu menghembuskan nafas terakhirnya.
Fakhri menoleh lalu menepuk-tepuk pundak Rio, "Bukan cuman kau yang merasa bersalah, saya juga bersalah karena tidak bisa menjaga dia dari tindakan yang dulu Danu lakukan pada dia. Apalagi kejadian putriku yang menyebabkan kembaran Diana tiada menambah rasa bersalah ku tidak bisa membuat Diana bahagia. Seandainya waktu bisa saya putar kembali, saya tidak akan membiarkan hal ini terjadi."
Fakhri menghelakan nafasnya secara kasar.
"Sekarang kita hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Diana dan kebahagiannya. Saya berharap setelah kejadian ini tidak akan ada lagi sebuah kesedihan, air mata, ketegangan, hingga tragedi menyakitkan. Semoga semuanya berubah menjadi jauh lebih baik lagi dan hanya akan ada air mata kebahagiaan untuk Diana dan keluarga kecilnya," ucap Rio memberikan doa tulus untuk Putri sahabatnya.
******
"Apa operasinya berjalan dengan lancar? Bagaimana keadaan Diana saat ini? Semoga dia baik-baik saja dan tidak terjadi hal apapun kepadanya," kata Karin sambil menggendong baby A sama-sama sedang menunggu hasil kabar dari suaminya, Fakhri.
"Kita berdoa saja semoga Diana baik-baik saja," sahul Cici yang juga nampak begitu khawatir.
"Mama." Danu sudah tiba di sana dan dia tak sengaja melihat mamanya dan Cici berada di luar rumah sakit bersama para anak yang lainnya. Mereka berdua menoleh.
"Zio, syukurlah kau sudah datang bagaimana hasil sidangnya?" tanya Karin begitu senang melihat putranya sudah ada di rumah sakit dan dia berharap jika semua sidang berjalan dengan lancar dan hasilnya memuaskan.
"Sidangnya sudah selesai dan hasilnya pun memuaskan. Tuduhan yang Fikri layangkan kepada Zio terbukti tidak akurat dan semua saksi bukti-bukti kejahatan Fikri ini berbalik menyerangnya. Hingga Fikri dinyatakan bersalah bahkan mendapatkan hukuman di penjara seumur hidup atas tindakan yang pernah ia lakukan di masa lalu dan masa sekarang," papar dan memberitahukan perihal keberhasilan sidang yang menyatakan jika dia tidak bersalah.
__ADS_1
"Alhamdulillah ... Mama bersyukur jika kamu dinyatakan bebas. Mama juga bersyukur Kalau pria gila itu kini mendapatkan hukuman yang setimpal atas kesalahan yang pernah ia lakukan. Semoga setelah kejadian ini tidak ada lagi kejadian-kejadian menimpa kepada Diana lagi. Mama berharap hanya kebahagiaan yang menghampiri untuk Diana."
Harapan indah dan harapan baik Mama Karin panjatkan kepada sang pemilik alam. Dia mendoakan yang terbaik untuk putra-putrinya dan tentunya mendoakan agar Diana maupun Danu mendapatkan kebahagiaan. Mama Karin juga berdoa semoga Danu dan Diana bisa bersama kembali setelah berbagai macam cobaan menguji cinta mereka.
"Mah, bagaimana keadaan Diana? Dia baik-baik saja 'kan? Diana sudah sadarkan?" barulah Danu menanyakan Diana.
"Mama juga tidak tahu, papa maupun papanya Cici belum mengabari kita. Kamu masuk saja guna memastikan apakah operasinya sudah selesai atau belum."
"Baik, Mah." Dan Danu kembali berlari masuk kedalam menyusuri koridor rumah sakit mencari tempat di mana Diana berada saat ini. Tentunya mencari ruangan operasi.
Setelah menemukan di mana ruangan itu, Danu juga melihat Papanya sedang duduk menunggu. Tanpa rasa sabar dia kembali berlari menghampiri kedua orang paruh baya itu.
"Papa bagaimana dengan Diana?" lagi-lagi pertanyaan itu yang dan lontarkan karena ingin mengetahui dengan pasti bagaimana keadaannya.
"Masih di tangani oleh dokter dan belum selesai," jawab Fakhri termenung mendung.
"Diana seperti ini karena menolongku, Pah. Jika dia tidak datang pasti tembakan itu menyerang tubuhku," ujar Danu begitu lirih merasa sedih sekaligus bersalah karena dirinya Diana terluka.
Ceklek ....
Suara gagang pintu terdengar di telinga ketiga pria yang sedang menunggu. Mereka bertiga sontak berdiri menghampiri seseorang yang keluar dari ruangan itu. Orang itu menggunakan pakaian berwarna hijau, memakai tutup kepala berwarna hijau, memakai masker serta memakai sarung tangan.
Danu berpikir jika itu dokter yang menangani Diana.
"Dokter," ucap mereka bertiga secara bersamaan saking mengkhawatirkan keadaan Diana.
"Bagaimana keadaan putri saya?"
__ADS_1
"Bagaimana keadaan istri saya?" tanya ketiga orang itu kembali berkata secara bersamaan.
Dokternya pun sampai heran memperhatikan 3 pria yang ada di hadapannya ini begitu kompak. Dia menurunkan maskernya lalu menghelakan nafas panjang.
"Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar. Peluru yang bersarang di punggungnya pun sudah berhasil kami keluarkan dan alhamdulillah tidak ada organ dalam yang terkena peluru tersebut," ucap sang dokter menjelaskan keadaan Diana saat ini pasca melakukan tindakan operasi.
Helaan nafas lega keluar dari mulut para pria serta rasa syukur terucapkan di bibir mereka.
"Alhamdulillah."
"Jadi Dee ku baik-baik saja? Dia bisa pulih kembali 'kan dokter?" tanya Danu memastikan lagi pendengarannya agar hatinya semakin yakin jika Diana tetap dalam keadaan baik-baik saja.
"Iya, dia baik-baik saja. Saya akan memindahkannya ke ruang rawat inap sesuai yang kalian pesan. Setelah obat biusnya habis kemungkinan dia bakalan sadar kembali."
Senyum kelegaan dan bahagia terlihat jelas di bibir Danu, "Pah ...."
Danu menatap Papanya lalu ia memeluk Fakhri dan malah menangis terharu jika ibu dari anaknya selamat.
"Dee ku baik-baik saja, Pah. Dee ku akan kembali."
Fakhri menepuk-tepuk pelan punggung putranya dengan mata yang juga berkaca-kaca merasakan bahagia serta bersyukur atas proses operasinya dan atas kabar membahagiakan ini.
"Doa akan kembali kepada kita. Kita akan pulang secepatnya."
Bersambung ....
Ayo dong mana dukungan nya? JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK VOTE, LIKE, KOMENTAR dan juga BUNGA atau KOPI biar aku makin semangat.
__ADS_1
Mungkin hanya beberapa bab lagi kisah ini bakalan selesai. Kira-kira sampai mana nih endingnya? Sampai mereka menikah? Sampai hamil lagi? Atau sampai punya anak? Tetap pantengin terus, ya.