Talak Aku!

Talak Aku!
Pengumuman Novel baru : MENGANDUNG TANPA SUAMI


__ADS_3

Alhamdulillah segala puji ku panjatkan ke ilahi Robbi atas nikmat dan kelancaran dalam menyelesaikan naskah ini.


Mohon maaf apabila endingnya kurang memuaskan karena memang seperti itu akhir dari kisahnya.


Terima kasih kepada kalian yang senantiasa mendukung dan memberikan semangat buatku terus berkarya.


Tanpa kalian aku bukanlah siapa-siapa dan tanpa kalian aku tidak akan pernah bisa seperti ini.


Semoga kalian selalu di berikan kesehatan, kelancaran rezeki, dan di berikan umur panjang. Hanya doa terbaik ku panjatkan untuk kalian semuanya.


Pokoknya kalian semua yang terbaik. Love sakebon dah. 🥰🥰


********


Eiist, jangan lupa mampir ke ceritaku yang baru ya.


Judul : MENGANDUNG TANPA SUAMI


Karya : ARION ALFATTAH. 👇👇


Jangan lupa juga mampir!!! 😅



CUPLIKAN BAB 15

__ADS_1


"Dan kau masih bertanya kenapa? Seharusnya Ayah yang bertanya kenapa kamu melemparkan sebuah kotoran ke wajah Ayah? Ayah sudah mendidik kamu sedari kecil untuk tidak pernah sampai melakukan hal zina, tapi kamu ... kamu melakukannya, kamu membuat ayah malu, Ayah kecewa sama kamu, Zahra. Ayah kecewa." Anton membentak Zahra merasa emosi dan kecewa.


Zahra menangis tersedu-sedu Karena untuk pertama kalinya melihat ayahnya benar-benar marah sampai membentak seperti itu.


"Ayah, maafkan Zahra."


"Maaf mu tiada guna, Zahra. Siapa laki-laki itu?" tanya Anton tegas ingin mengetahui siapa pria yang sudah menghamili Zahra.


"Aku," sahut Ilyas.


Deg...


"Bohong, bukan Ilyas yang menghamili tapi Zahra sering menjajakan tubuhnya di penginapan. Lihat ini!" Kiara segera menyela karena tidak mau Ilyas membela Zahra. Dia memberikan sebuah foto ke semua orang di saat Zahra terbaring tak sadarkan diri di dalam selimut. Itu di ambil ketika orang yang meniduri Zahra tengah keluar. Dan entah kenapa bisa masuk karena orang suruhan Kiara seorang pekerja penginapan itu.


Jantung Zahra berdegup kencang. Dia merasa takut dan juga gugup, tubuhnya sudah mulai berkeringat dingin, dia terus memilin baju yang ia pakai, dia begitu takut dan wajahnya terus menunduk takut.


"Cuiihh, murahan. Kita pulang Ilyas! Mama tidak mau memiliki menantu ja lang seperti dia. Buruan pulang!" Celine menarik paksa Ilyas.


"Mah, Ilyas tidak mau."


"Ilyas! Kau mau Mama mati!" sentak Celine marah dan Ilyas menggelengkan kepalanya.


"Maka turuti perintah Mama!" ancamnya begitu ampuh membuat Ilyas tak bisa menolak. Dan Celine menarik tangan Ilyas.


Zahra menunduk terisak pilu, Ilyas tak bisa berbuat apa-apa dan ucapannya hanyalah bohong belaka.

__ADS_1


"Jawab Ayah! Siapa laki-laki itu, Zahra!" tanya Anton kembali, namun kali ini suaranya lebih meninggi.


Zahra mengusap perut ratanya, ada mahluk kecil yang tidak dia inginkan tumbuh di perutnya. Pipinya terasa basah oleh air mata yang terus menerus keluar. Dia merasa sedih karena masa mudanya hancur berkeping-keping, dia merasa menyesal karena dia tidak bisa menjaga kehormatannya. Tapi, Zahra juga bingung siapa yang sudah menjebak dia?


"Maafkan aku, Ayah. Zahra tidak tahu, ini di luar kendaliku, Ayah."


"Berarti kamu sering melakukannya, iya 'kan? Dan kamu tidak tahu siapa ayahnya karena banyak, begitu?" tuduh Anton masih dengan suara tingginya.


Zahar menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ayah. Zahra tidak seperti itu, aku di perkosa. Zahra sudah berusaha menjaga kehormatan ku. Tapi, Zahra tak mampu, aku tak mampu melawannya." Tangis Zahra makin pecah, ia tak kuasa menahan air matanya. Dia sendiri merasa kotor dan jijik pada dirinya.


"Di perkosa atau memang sengaja menjual diri?" celetuk Kiara makin memanasi.


Plak...


Mala menampar wajah Kiara dengan amarah yang merasuki jiwanya. Sekarang ia mengerti kenapa waktu itu Kiara tersenyum penuh misteri. Dan Mala yakin ini adalah ulah Kiara.


"Kenapa Ibu menamparku? Aku ini anakmu, bukan dia!"


"Mulutmu dan sikapmu keterlaluan Kiara. Ibu kecewa sama kamu. Kau sungguh wanita jahat," pekik Mala.


"Ibu yang jahat terus membela pela cur itu!" tunjuk Kiara pada Zahra yang tengah menangis. "Aku membenci kalian berdua, dan aku benci kau Zahra." lalu Kiara pergi dari sana.


"Sekarang Ayah tanya sekali lagi, siapa dia?" bentak Anton sudah berdiri di hadapan Zahra dan mengguncang tubuh anaknya.


Zahra terus menggelengkan kepalanya, dia tidak mungkin memberitahukan karena tidak tahu. Nafasnya sesak, dadanya sakit mengingat apa yang ia alami.

__ADS_1


"Kalau gitu, kamu gugurkan kandungan mu! Ayo ikut Ayah," ucap Anton tanpa rasa bersalah. Ia menyeret anaknya untuk ikut dengan dia.


Deg...!


__ADS_2