Talak Aku!

Talak Aku!
Nikah Secara Paksa


__ADS_3

"Kita akan menikah hari ini juga, Diana? Saya sudah menyiapkan saksi, penghulu, dan beberapa orang yang akan menjadi saksi bisu pernikahan kita," papar Fikri tanpa rasa bersalah.


"Apa...!?" Diana kaget bukan main mendengar perkataan Fikri. Nikah dadakan membuat kepalanya terasa pusing tak mempercayai ini semua.


"Kamu jangan bicara ngawur, deh. Mana mungkin aku akan menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Kita juga tidak saling menyukai, bli Fikri." Diana protes pada Fikri mengenai semuanya. Dian tidak mungkin menikah di saat orang-orang yang di sayanginya tidak ada di sana.


"Aku tidak ngawur, Mbak Diana. Kita memang akan menikah hari ini juga setelah kamu melahirkan. Bukankah kita sering bersama dan setelah anak kamu lahir, kota akan menikah. Saya janji akan menerima anak mbak Diana dengan sepenuh hati saya." Fikri berdiri tegak menatap dalam wanita yang sedang duduk memangku putranya


"Tapi saya..."


"Sudahlah, Mbak Diana jangan mengelak lagi ataupun menolak pernikahan ini. Dari pada kalian melakukan zina mending kalian menikah saja." ujar wanita yang membantu Diana ke rumah sakit sekaligus wanita yang juga tadi sempat menuduh Diana dan Fikri bermacam-macam di depan rumah temannya Fikri.


"Tapi saya tidak..."


"Ayo pak penghulu, jangan dengarkan wanita ini. Sekarang nikahkan bli Fikri dan Diana sekarang juga," sahut wanita bertubuh gempal mendukung Diana menikah dengan Fikri karena tidak mau ada saingan lagi karena pesona Diana mampu mencuri setiap pria.


"Jangan main nikahkan saja. Saya tidak..." lagi-lagi perkataan Diana di potong oleh orang-orang. Tak sedikitpun dirinya di berikan kesempatan untuk berbicara.


"Duduk di sana, pak. Saya sudah siap untuk menikah hari ini juga." Fikri memerintahkan pak penghulu duduk di hadapannya dengan Diana duduk di atas brangkar sambil menggendong putranya.


******


"Ayo, Ci. Saya sudah tidak sabar ketemu mantu saya." Karin baru saja turun dari ojek yang di tumpanginya begitupun dengan Cici yang juga sama-sama tiba di dekat toko Diana the Florist.


"Bentar, Tante. Cici bayar ojeknya dulu." Ci i pun mengambil uang dari dalam tas sorennya kemudian memberikan uang tersebut kepada tukang ojek.


Kedua wanita berbeda usia itupun kembali melanjutkan langkahnya menuju toko bunga milik Diana. Setibanya di sana.


"Assalamualaikum Diana, Mama datang sayang." pekik Karin mencari Diana sekaligus mengagetkan wanita yang sedang duduk sambil makan.


"Innalilahi...! Jantung saya mau copot gara-gara suara berisik kaleng rombeng." Salma sampai terlonjak kaget memegangi dadanya.

__ADS_1


Cici dan Karin saling lirik tidak mengenali siapa wanita yang tengah duduk santai di kursi kerjanya Diana.


"Kami siapa berani sekali duduk di meja kerjanya Diana?" tanya Karin penasaran.


Salma mendongak menatap tajam keduanya. Dia merasa marah karena terganggu oleh dua orang yang tidak di kenallinya.


"Seharusnya yang bertanya seperti itu saya. Kalian ini siapa sudah berani sekali masuk tanpa permisi dan mengagetkan saya yang sedang tidur?" Salma membalas bertanya dengan nada yang tak bersahabat.


"Saya ingin tanya dulu kamu siapa sudah berani duduk di meja kebesaran pemilik toko ini?" kali ini Cici yang bertanya saking geramnya pada Salma.


"Hak saya dong mau duduk dimana pun, kenapa kalian yang pada sewot. Kan saya tangan kanannya mbak Diana jadi saya juga berhak duduk di sini." Salam masih duduk dengan wajah tegak menatap Karin dan Cici silih berganti.


"Jelas tidak boleh lah. Di sini itu yang boleh duduk hanya Diana seorang. Tanpa ada yang boleh lagi duduk selain Diana. Karena Diana lah pemilik toko bunga ini. Jadi Anda mending pindah ke meja yang lain saja." Cici mengusik Salma dengan cara memandanginya penuh selidik. Begitupun dengan Karin yang juga menatap tajam.


"Siapa kalian berani mengatur saya? Toh sekarang pemiknya juga sedang tidak ada di sini." Salam masih cuek bebek tak memperdulikan keduanya.


Karin tak terima atas sikap Salam yang menurutnya sombong membuat dia menggebrak meja kerja.


Brakk...


Barulah Salma tersadar atas apa yang di lakukannya. "Busyet, jadi dia itu emaknya Mbak Diana. Sialan, kenapa saya malah sok berkuasa di sini? Gawat kalau sampai Diana memecat gue. Bahaya ini mah," batin Salma panik setelah mengetahui siapa keduanya.


Cici ingin berkata lagi tapi terhenti ketika mendengar ponselnya berdering. "Diana."


Cici melirik Karin dan Karin mengangguk memintanya mengangkat panggilan tersebut.


"Assalamualaikum, ci."


"Waalaikumsalam, Diana. Gimana kabar kamu? Sekarang dimana dan lagi apa?" Cici sampai memberondong berbagai macam pertanyaan pada sahabatnya itu. Dia juga sempat melirik Karin dan Salma secara bergantian lalu mendengarkan balasan Diana. Dan matanya melotot saat mendengar sesuatu.


"Kabar aku baik, Ci. Kapan kamu kesini menengok keponakanmu? Aku sudah melahirkan loh, Ci."

__ADS_1


"Apa? Kamu sudah melahirkan? Kapan? Kamu jangan bohong Diana? Kamu seriusan?" pekikkan Cici membuat Karin dan Salma ikut terkejut. Karin mendekati Cici ingin mengetahui lebih lanjut tentang Diana yang melahirkan.


"Aku seriuslah. Mana mungkin hal sebesar ini berbohong. Saat ini aku sedang ada di rumah sakit xxx."


"Rumah sakit xxx. Ok, aku akan kesana sekarang juga berhubung baru sampai ke Bali jadi aku kesana hari ini."


"Aku tunggu ya."


"Ok, siap. Aku otw sekarang juga." Cici dan Diana pun mematikan sambungan teleponnya. Cici masih tidak percaya kalau Diana sudah melahirkan.


"Apa kata Diana, Ci? Tadi kamu bilang melahirkan? Apa Diana sudah melahirkan?" Karin begitu penasaran mengenai yang tadi di bicarakan Cici dan Diana.


"Iya, Tante. Diana sudah melahirkan. Sekarang dia berada di rumah sakit xxx. Ayo kita kesana sekarang. Kasihan Diana tidak ada siapapun yang menemaninya di sana."


"Ah iya, ayo. Ini sungguh di luar dugaan kita." Karin menjadi panik sekaligus senang kalau memang Diana beneran sudah melahirkan. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu cucu pertamanya.


Karin dan Cici pun segera pergi dari sana meninggalkan Salma sendirian dalam keadaan terbengong.


"Diana sudah melahirkan? Hmmm syukurlah. Pasti saat ini dia akan sibuk ngurus bayinya dan aku bisa mengurus toko bunganya. Lumayan buat cari duit," gumam Salma bersyukur sekaligus senang jika Diana berlama-lama di rawatnya.


******


Lain halnya dengan Diana yang sedang menunduk sedih harus menikah dadakan tanpa ada rasanya cinta. Dia tak mampu menolak desakan warga atas apa yang menimpanya.


"Saya terima nikah dan kawinan Diana Maheswari binti almarhum Bambang dengan maskawin cincin seberat 2 gram di bayar tunai." dengan lantang dan tegas Fikri mengucapkan ijab qobul di depan penghulu dan para dokter, suster dan beberapa warga yang menjadi saksi pernikahan sederhana mereka.


"Bagaimana para saksi?"


"Sah..."


"Sah..."

__ADS_1


"Saaaaahhh..." dan di saat itu pula pintu masuk terbuka.


"Diana...!"


__ADS_2