
Danu berdiri dengan nafas menderu dengan tangan terkepal kuat setelah melakukan tiga kali pukulan tolak di wajah Fikri. Rasa tidak terima Diana di sakiti dan di paksa orang lain membuat darahnya mendidih ingin menghajar pria gila itu.
Fikri mendongak dengan wajah berang setelah mendapatkan tiga pukulan yang membuatnya kesakitan. Sosok yang berdiri di hadapannya begitu membeku menatapnya. Fikri pun membalas tatapan tajam penuh permusuhan tanpa rasa takut sedikitpun. Untuk sesaat dirinya terkejut pria yang ia kira bakalan pergi lama ternyata kembali secepat ini.
"Kau...! Kenapa kau kembali lagi kesini? Kenapa tidak pergi lama?" tanya Fikri sudah gila menanyakan hal itu.
"Saya kembali untuk mencegah kau mengambil Diana dariku!" sentak Danu terlihat tengah menguasai dirinya yang siap kembali menyerang Fikri.
Diana masih terdiam terpaku penuh keterkejutan. Tubuhnya gemetar ketakutan menyaksikan perkelahian dua orang pria yang menjadi bagian dalam hidupnya.
"Siapa kau berani membawa istriku?"
"Saya ayah dari anaknya Diana. Kau datang ke rumahku dan dat mengganggu dianaku maka kau akan berurusan denganku," ujar Danu tajam menunjuk wajah Fikri.
Fikri terbelalak mendengar tutur kata pria itu, "Ayah anaknya Diana?" Fikri kian syok mencerna ucapan pria di hadapannya. Dan seketika ia sadar jika pria itu mungkin mantan suaminya Diana.
Fikri berdiri dan seketika wajahnya berubah marah membenci pria itu dan secepatnya menarik baju Danu dan memukul telak wajah Danu.
Bugh...
"Mas Danu...!" Diana kembali menjerit kaget.
"Brengsek kau sialan, gara-gara kau Diana tersakiti, gara-gara kau Diana tidak mau melayaniku, gara-gara kau Diana tidak membalas cintaku. Kau harus mati agar tidak ada lagi yang mengganggu kita lagi!" Fikri di kuasai amarah dan kembali ingin memukul Danu namun tinju kali ini di hadang olehnya dan menerjang perut Fikri sampai pria itu kembali tersungkur ke lantai.
"Saya emang pernah menyakiti dia tapi saya tidak pernah memukul ataupun menampar dia. Dan soal Diana enggan melayani serta tidak mencintaimu karena dia hanya akan melayani dan mencintaiku, kau dengar itu!" ucap Danu tanpa takut dengan tatapan yang kian memancarkan kemarahan dan siap menyerang.
Ucapan Danu memancing jiwa gila Fikri terpancing hingga pria itu kembali bangkit dengan amarah bertambah besar. Perkelahian pun terjadi diantara dua pria itu.
Fikri berhasil memukul perut Danu satu kali dan wajahnya satu kali lagi membuat Danu meringis kesakitan memegangi perutnya yang masih belum kering dari luka semalam. Dan darah pun kembali muncul kala luka itu kembali menganga.
__ADS_1
Tapi Danu tidak pantang menyerah, dia kembali menendang dada Fikri sangat keras sampai pria itu terbatuk meringis kesakitan.
"Lepaskan Diana sekarang juga!" sentak Danu.
"Tidak akan! Sampai kapanpun dia akan menjadi milikku. Orang yang kau buang dan ku pungut tidak akan ku buang lagi sampai saya bosan pun akan saya melihara!" balas Fikri tak kalah keras tidak akan melepaskan Diana begitu saja.
Danu yang mendengarnya terasa panas karena pria itu begitu kekeh tidak mau menceraikan Diana nya. Apalagi Fikri bilang memungut Diana. Hal itu seakan membuat hatinya tersayat sakit kala wanita yang ia cintai terkesan seperti barang yang di buang dan di pungut.
"Kau pikir aku barang sampai kau bilang memungut ku?" Diana memekik membalas ucapan Fikri.
"Apa kamu lupa jika kamu yang memohon-mohon padaku untuk menikah denganmu? Kamu menghasut para warga agar menyetujui pernikahan kita, kamu yang membuat sebuah fitnah jika kita berbuat disa, dan kamu juga yang berusaha menjadikanku istrimu. Tapi sekarang kamu bilang aku di pungut? Lebih baik kamu pergi dan lepas..."
Belum juga Diana selesai bicara, Fikri menarik tangan Diana dan tiba-tiba memanggilnya bagaikan karung beras di simpan di pundak.
"Akhh..." Diana memekik kaget dan Danu terbelalak. Lalu Danu mencoba menurunkan Diana dan mencegah Fikri.
Diana yang ada di atas pundak Fikri merasa pusing tubuhnya terus melayang di saat Fikri tengah mencoba menghajar Danu. Danu yang pernah menjuarai turnamen salah satu ilmu bela diri terus menyerang tanpa ampun.
Di saat itulah Diana menjerit-jerit karena saking terkejutnya atas apa yang terjadi saat ini.
"Berhentiiii...!! Berhentiiii...!!" jerit Diana dengan gusar karena tak bisa memberhentikan perkelahian yang berlangsung semakin sengit antara kubu Fikri dan kubu Danu dengan dirinya yang masih berada di pundak Fikri.
"Mas Danu... Bli Fikri... berhentiiii...!!" pekik Diana prustasi kedua pria itu terus saling memukul dengan Danu yang berusaha mengambil Diana dan Fikri berusaha mempertahankannya.
Jeritan histeris Diana mampu mengundang orang-orang yang ada di dalam rumah dan beberapa orang yang ada di komplek sana berhamburan keluar.
"Tolong... tolong saya..." jerit Diana menangis prustasi.
Para warga segera melerai perkelahian kedua pria itu. Ada yang mencekal Danu dan ada yang mencekal Fikri tengah berusaha melepaskan Diana.
__ADS_1
Baru lah perkelahian itu bisa berhenti setelah warga turun tangan. Dan Diana juga sudah di turunkan dari gendongan Fikri secara paksa oleh pria gila itu hingga Diana ingin terjatuh tapi Danu segera menghempaskan tangan warga dan menarik Diana ke dalam dekapannya agar wanita nya tidak tersungkur ke batu runcing yang kebetulan ada di dekat mereka.
"Pergi kau dari sini! Kau membuat keributan di komplek kami. Cepetan pergi!" usir para warga secara paksa mendorong tubuh Fikri untuk meninggalkan tempat itu.
Diana terus memeluk tubuh Danu menangis tersedu-sedu dalam dekapan pria itu. Dirinya merasakan pusing di kepala, sakit di sekujur tubuh dan juga beberapa kali di gunakan untuk membalas Danu. Fikri sungguh terlalu dalam hal ini.
Pria gila itu mendengus kesal masih memendam amarah.
"Lihat saja, saya akan merebut Diana dan akan memberikan perhitungan kepada kau, sialan."
Setelah berkata seperti itu, Fikri melengos pergi meninggalkan tempat itu dalam keadaan marah besar.
"Bli Zio, maafkan kami baru mengetahui keributan ini. Kami kira Bli Zio tidak sedang di sini," ujar salah satu tetangga sana yang sudah mengenal keluarga Zio.
"Tidak apa-apa, Bli." Danu membalasnya dengan senyuman tipis seraya meringis sakit.
"Bli, kau terluka?"
Baru lah Diana tersadar dan menguraikan pelukannya dan berkata, "Mas, kamu terluka?" tanya Diana merasa khawatir pada kondisi Danu. Lalu matanya menunduk melihat perut yang sempat terkena pukulan. Seketika matanya terbelalak.
"Perutmu mengeluarkan darah lagi, Mas!"
"Ya Tuhan...! Bli Zio terluka! Cepat bantu dia!" para warga yang ada di sana cukup terkejut melihatnya. Mereka kira tidak separah ini, tapi nyatanya Danu sampai berdarah begitu.
"Ada apa ngumpul di sini?" tanya seseorang.
Mereka menoleh.
"Mama, Papa...!"
__ADS_1