
"Hmmm Diana," Fikri bingung harus berkata apa. Mana mungkin dirinya meninggalkan Diana dan baby Arka sendirian di sana. Tapi jika dia tidak datang, takut juga jika perbuatannya di masa lalu di ketahui oleh istrinya. Fikri belum siap itu terjadi. Dia belum siap kehilangan Diana lagi. Mana mungkin dirinya melepaskan wanita yang ia perjuangkan di saat kini sudah berhasil menjadi istrinya.
Mana lagi bli Fikri sudah mendaftarkan pengesahan pernikahan mereka ke pengadilan negeri agar bisa mendapatkan kartu nikah dan surat-surat resmi suami istri.
"Iya," balas Diana memandangi wajah manis pemilik lesung pipi itu. Dia mengerutkan keningnya di saat melihat raut wajah Fikri ada yang berbeda. "Kamu kenapa?"
"Hah, tidak." Fikri berusaha menetralkan kegugupannya dan ketakutannya.
"Lalu?"
"Boleh saya ke luar sebentar? Hmmm ada pekerjaan dadakan di luar. Katanya mereka ingin membenarkan mesin cuci." Fikri mencari alasan kuat agar tidak mencurigakan sekali. Dia yang notabennya tukang servis elektronik mendapatkan ide itu untuk membuat Diana percaya.
"Tapi ini sudah malam. Apa tidak bisa besok saja?" Diana pun melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan mulusnya. Meskipun baru pukul setengah sembilan malam tapi ini cukup malam buat pelanggan ingin membenarkan elektronik nya.
Fikri gelagapan harus berkata apa lagi. "Katanya ingin saat ini juga agar nanti pagi bisa di gunakan. Tidak apa kan? Kasihan dia, soalnya mereka memiliki banyak anak, jadi kasihan kalau nyuci manual." Fikri berusaha meyakinkan Diana agar percaya pada perkataannya. Dirinya cemas jika Diana menolak dan tidak mengijinkannya.
"Hmmm ya, sudah. Bli bisa pergi jika memang ini sangat darurat. Kasihan mereka," senyum tulus tanpa curiga terlihat jelas menghiasi wajah cantik di sampingnya.
Fikri menatap dalam wajah Diana merasa bersalah sudah mulai berbohong. "Maafkan aku, Diana. Saya ingin memastikan jika mereka tidak membuat ke kacauan dalam pernikahan kita. Aku pastikan itu," batin Fikri.
"Terima kasih atas pengertiannya, ya." Fikri pun berdiri mengusap pipi Diana. Lalu tanpa aba-aba dia membawa Diana ke dalam pelukannya sembari mengecup pucuk kepalanya. "Aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku di saat ada sesuatu yang membuatmu mulai goyah." hatinya hanya ingin Diana, namun masa lalunya selalu menghantui.
Dia bingung atas sikap Fikri terkesan manis dan terlihat sangat takut kehilangan. Dirinya pun mengangguk.
Lalu Fikri melepaskan pelukannya dan segera beranjak pergi sesekali menatap dalam mata Diana. Hingga dirinya hilang di balik pintu taman bunga meninggalkan Diana yang keheranan.
"Semoga semuanya baik-baik, saja." Menerima adalah keputusan terbaik untuknya. Ini pilihannya dan Diana tidak mungkin mengkhianati apa yang sudah ia pilih.
__ADS_1
*******
Fikri melajukan motornya dalam kecepatan tinggi agar segera sampai di rumah seseorang yang ia yakini pengirim pesan tersebut. Hatinya gundah gulana, jiwanya terguncang mengetahui foto kebersamaan mereka di masa lalu masih ada. Hal ini membuatnya semakin takut saja.
"Salma, tidak akan ku biarkan kau merusak rumah tanggaku."
Tiba lah Fikri di tempat kontrakan yang Salma tinggali. Jika bertanya darimana dia tahu alamat tersebut jawabnya dari pesan yang Salma kirimkan lengkap dengan alamatnya.
Di dalam kontrakan, Salma tersenyum senang bisa membuat Fikri datang ke tempatnya. Ini tidak akan pernah ia sia-sia kan buat menarik perhatian Fikri.
Wanita janda itu sudah berdandan rapi mengenakan pakaian seksi buat menarik perhatian Fikri. Hal yang sering ia lakukan saat dulu masih menjadi kekasihnya Fikri. Meski hanya make out tapi itu adalah kenangan yang yang merugikan di saat masalalu datang merecoki masa depan.
Tok... tok... tok...
Fikri menunduk terus mengetuk pintu agar Salma mau membukanya. Dia ingin memberikan peringatan terhadap Salma.
Tak lama kemudian pintu terbuka lebar memperhatikan Salma yang sedang tersenyum mengenakan baju tidur seksi. Dan secepat kilat dia menarik pria berkulit manis pemilik lesung pipi itu kedalam dan langsung menyerangnya.
Untuk sesaat pria itu menikmatinya. Namun, dia tersadar atas tindakan mereka dan melepaskan Salma serta mendorongnya hingga Salma mundur.
"Kau gila, hah? Dasar murahan. Beraninya kau mengancammu menggunakan foto-foto itu." sentak Fikri menggeram kesal menunjuk wajah Salma.
Namun, Salma hanya tersenyum menyeringai sembari duduk secara erotis memperlihatkan paha warna kuning langsatnya tetapi ada beberapa bintik hitam seperti bekas koreng.
"Ayolah, bli. Bukankah dulu kita sering melakukan itu setelah kau di tinggal mati istrimu? Kita sering make out loh, sayang. Masa tidak rindu sentuhan erotis itu?"
"Itu dulu, dan saya minta kau menghapus setiap fotonya atau kau tahu akibatnya." sebuah ancaman Fikri berikan untuk menggertak Salma agar tidak main-main dalam berhadapan dengannya.
__ADS_1
Salma berdiri berlenggak lenggok bak model menggerakkan pinggulnya seraya menggigit bibir bawahnya untuk menarik perhatian Fikri. "Ah Fikri. Ayolah sayang, kau tidak ingin mencobanya. Sekali saja denganku. Ku tahu kau pasti merindukan hal itu kan? Aku janji tidak akan mengganggumu lagi jika kamu mau melayaniku satu kali ini saja." Salma memberikan penawaran buat Fikri. Penawaran yang akan membuat pria itu terjebak sendiri.
Ini triknya, ini rencananya untuk mendapatkan pria yang kini sudah berhasil dalam mendirikan servis elektronik sehingga ramai dan sudah memiliki cabang di mana-mana.
"Cuiihh, tidak sudi. Sekali lagi kau mengganggu keluargaku maka aku akan membunuhmu!" ancaman Fikri serius. Dia mendekati Salma dan berbisik. "Kau lupa jika saya ini mantan pembunuh," bisiknya membuat Salma merinding.
Namun, wanita itu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia menarik tengkuk Fikri dan sekuat tenaganya menggiring kan tubuh pria itu.
"Salma...!" teriak Fikri marah besar. Tapi Salma tidak melawan. Wanita itu menatap sedih.
"Bli, saya mencintai mu. Kali ini saja saya ingin bersamamu hanya untuk malam ini saja. Saja janji tidak akan mengganggumu lagi. Saya sedang sakit paru-paru, bli. Umur saya tidak panjang lagi." Salma menangis sedih membuat Fikri terbelalak.
"Paru-paru?! Kau bohong, kau jangan menipuku." Meski terkejut dan kasihan tapi Fikri tidak percaya sampai Salma menunjukan sebuah hasil pemeriksaan yang mengatakan ia sakit paru-paru.
"Ini buktinya. Malam ini saja temani aku." Salma sampai berlutut memohon membuat Fikri terhenyak. "Salma...!"
"Saya mohon? hiks hiks saya janji tidak akan menganggu mu setelah ini." Salma menunduk menyembunyikan senyum menyeringai.
Fikri bimbang, dia bingung tapi...
"Baiklah hanya malam ini saja. Saya ingin setelah malam ini kau menjauhi keluarga kecilku." Salma mendongak menatap Fikri tersenyum senang. "Saja janji."
*******
Beda halnya dengan Diana yang sedang gelisah memikirkan Fikri. Sudah pukul 12 malam pria itu tak kunjung pulang membuatnya khawatir.
Diana pergi ke dapur untuk mengambil minum tapi, dirinya malah tak sengaja menyenggol gelas lainnya.
__ADS_1
Pranggg...
"Astaghfirullah..."